Jumat, 09 Mei 2014

KEBERATAN: MIRZA SHAHIB BERPENYAKIT JASMANI




Imam Mesjid Fazl London dan Missionary Incharge UK, Mln. Ataul Mujeeb Rashid MA Shahib menjelaskan:Diantara keberatan-keberatan yang dilontarkan kepada pribadi Hazrat Masih Mauud as diantaranya adalah ditujukan kepada kelemahan fisik dan penyakit yang pernah dialami oleh beliau. Pada zaman ini para ulama yang bertabiat buruk melontarkan keberatan-keberatan seperti ini disertai dengan kedustaan dan keterangan yang dilebih lebihkan.

Berkenaan dengan ini prinsip yang perlu dijadikan pegangan adalah seperti halnya manusia pada umumnya, para nabi Allahpun dihadapkan pada konsekwensi logis sebagai manusia biasa. Berkenaan dengan Rasulullah SAW dalam Al-Quran Majid difirmankan Qul innamaa ana basharun mitslikum yakni aku adalah seorang manusia seperi halnya kalian. Jadi, jika seorang nabipun bisaterjangkit suatu penyakit seperti manusia pada umumnya,maka tidak dibenarkan sama sekali untuk melontarkan keberatan seperti itu kepada mereka.

Silahkan tanyakan kepada orang-orang bodoh ini:”Apakah berdasarkan konsekwensi tersebut, junjunan kita dan kekasih Allah Ta’ala, Hazrat Rasulullah SAW tidak pernah terjangkit penyakit jasmani? Apakah Hazrat Ibrahim dan Hazrat Ayyub tidak pernah melalui masa-masa terjangkit penyakit jasmani? Mungkin banyak juga orang-orang yang jahil dan bodoh yang menjadikan hal ini sebagai dasar keberatan

Alih-alih menjadi penyebab timbulnya keberatan justru bagi Hazrat Mirza Shahib sendiri penyakit ini malah menjadi bukti tanda kebenaran beliau. Dalam hadits,Rasulullah SAW bersabda:” Al Masih yang akan datang nanti akan zahir disertai dengan dua kain (cadar) kuning. Menurut ilmu tabir, maksud dari dua kain (cadar) kuning adalah dua penyakit dan penyakit-penyakit ini telah ditetapkan sebagai tanda bagi Masih Mauud yang benar. Beliau sendiri telah menjelaskan penyakit-penyakitini salah satunya adalah skit kepala sebelah (migraine) sedangkan penyakit yang kedua adalah diabetes. Ditinjau dari sisi hadits nabi, justru hal tersebut menjadi dalil bukti kebenaran beliau, maka jika hal itu tetap dijadikan sasaran keberatan juga, berarti apalagi kalau bukan kebodohan?

Dalam hal ini ada satu hal yang perlu diketahui yakni untuk menyangkal keberatan–keberatan yang dilontarkan, kita (jemaat ahmadiyah) sering memberikan permisalan yang diambil dari peri kehidupan suci junjunan kita Hazrat Rasululah SAW yang sangat berberkat dan ternyata cara-cara seperti ini tidak disukai oleh para penentang jemaat.  Alih alih mendengarkan permisalan itu seperti halnya seorang Mukmin yang benar dan mengakui kesalahannya lalu tutup mulut, justru mereka malah mengatakan :”Kenapa kalian memberikan permisalan yang diambil dari kehidupan Rasulullah SAW? Sebagai jawabannya adalah kita akan mengambil permisalan-permisalan itu dari contoh kehidupan wujud agung itu (Rasulullah) dan akan memberikan referensi dari sabda-sabda beliau yang merupakan uswah hasanah dan junjunan yang paling kita cintai, cara-cara seperti inilah yang akan kami lakukan dan akan terus kami lakukan, walao karihal kaafirruunn. Ya, jika mereka tidak suka kita mengambil permisalan dari kehidupan Rasulullah SAW berarti itu merupakan kesialan mereka semata.


Terjemah bebas: Mahmud Wardi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar