Imam Mesjid Fazl London
dan Missionary Incharge UK, Mln. Ataul Mujeeb Rashid MA Shahib menjelaskan:Diantara keberatan-keberatan yang dilontarkan kepada
pribadi Hazrat Masih Mau’ud as diantaranya adalah ditujukan kepada kelemahan
fisik dan penyakit yang pernah dialami oleh beliau. Pada zaman ini para ulama yang bertabiat buruk melontarkan
keberatan-keberatan seperti ini disertai
dengan kedustaan dan keterangan yang dilebih lebihkan.
Berkenaan
dengan ini prinsip yang
perlu dijadikan pegangan adalah
seperti halnya
manusia pada umumnya, para nabi
Allahpun dihadapkan pada konsekwensi logis sebagai manusia biasa. Berkenaan dengan Rasulullah SAW dalam Al-Quran Majid difirmankan Qul innamaa ana basharun mitslikum yakni aku adalah seorang manusia seperi halnya
kalian. Jadi, jika
seorang nabipun bisaterjangkit suatu penyakit seperti manusia pada umumnya,maka
tidak dibenarkan sama sekali untuk melontarkan keberatan seperti itu kepada
mereka.
Silahkan
tanyakan kepada orang-orang bodoh ini:”Apakah berdasarkan
konsekwensi tersebut, junjunan kita
dan kekasih Allah Ta’ala, Hazrat Rasulullah
SAW tidak pernah terjangkit penyakit jasmani? Apakah Hazrat Ibrahim dan Hazrat Ayyub tidak pernah melalui
masa-masa terjangkit penyakit jasmani?
Mungkin banyak juga orang-orang yang jahil dan bodoh yang menjadikan hal ini
sebagai dasar keberatan
Alih-alih menjadi penyebab timbulnya keberatan justru bagi
Hazrat Mirza Shahib sendiri penyakit ini malah menjadi bukti tanda kebenaran beliau. Dalam hadits,Rasulullah SAW bersabda:” Al Masih yang akan datang nanti akan zahir disertai dengan dua kain (cadar) kuning. Menurut ilmu ta’bir, maksud dari dua kain (cadar)
kuning adalah dua penyakit dan penyakit-penyakit ini telah ditetapkan sebagai tanda bagi Masih Mau’ud yang benar. Beliau sendiri telah menjelaskan penyakit-penyakitini salah satunya adalah
skit kepala sebelah (migraine) sedangkan penyakit yang kedua adalah diabetes. Ditinjau
dari sisi hadits nabi, justru
hal tersebut menjadi dalil bukti kebenaran beliau,
maka jika hal itu tetap dijadikan
sasaran keberatan juga, berarti
apalagi
kalau bukan kebodohan?
Dalam hal ini ada satu hal yang
perlu diketahui yakni untuk menyangkal keberatan–keberatan yang dilontarkan,
kita (jemaat ahmadiyah) sering memberikan permisalan yang diambil dari peri
kehidupan suci junjunan kita Hazrat Rasululah SAW yang sangat berberkat dan
ternyata cara-cara seperti ini tidak disukai oleh para penentang jemaat. Alih alih mendengarkan permisalan itu seperti
halnya seorang Mukmin yang benar dan mengakui kesalahannya lalu tutup mulut,
justru mereka malah mengatakan :”Kenapa kalian memberikan permisalan yang
diambil dari kehidupan Rasulullah SAW? Sebagai jawabannya adalah kita akan
mengambil permisalan-permisalan itu dari contoh kehidupan wujud agung itu
(Rasulullah) dan akan memberikan referensi dari sabda-sabda beliau yang
merupakan uswah hasanah dan junjunan yang paling kita cintai, cara-cara seperti
inilah yang akan kami lakukan dan akan terus kami lakukan, walao karihal
kaafirruunn. Ya, jika mereka tidak suka kita mengambil permisalan dari
kehidupan Rasulullah SAW berarti itu merupakan kesialan mereka semata.
Terjemah bebas: Mahmud Wardi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar