Minggu, 31 Agustus 2014

Apakah dalam surga juga terdapat perjalanan menuju kesempurnaan?

Pandangan dominan di kalangan ulama adalah kesempurnaan tidak mungkin ada di surga kiamat. Kelompok ini meyakini bahwa berdasarkan sumber-sumber agama surga ada dua bentuk: satunya surga barzakhi (isthmus) dan yang lainnya surga di hari kiamat. Kesempurnaan dalam surga barzakhi adalah bersifat mungkin. Untuk informasi lebih lanjut silahkan merujuk pada jawaban 5925 (Kesempurnaan Barzakhi).
Akan tetapi kesempurnaan pada surga akhirat bersifat tidak mungkin; karena alam kiamat dan masuk ke dalam surga adalah merupakan penutup perjalanan kesempurnaan manusia sehingga masuk dalam surga itu artinya ia telah meraih kematangan (kesempurnaan) bukan untuk menjadi sempurna.
Dalam menjelaskan pendapat ini dapat dikatakan bahwa kesempurnaan dan gradasi derajat dalam surga adalah hutang dan akibat derajat-derajat iman dan amal saleh manusia di dunia. Allah Swt berfirman:
«وَ لِكُلٍّ دَرَجاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَ ما رَبُّكَ بِغافِلٍ عَمَّا یعْمَلُون»
Dan masing-masing orang ada tingkatannya,(sesuai dengan apa yang mereka kerjakan). Dan Tuhan tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Qs. Al-Maidah [5]:132)
Karena itu, sesuai dengan sabda Imam Ali As yang menyebutkan, “Hari ini (sampai ketika kalian masih hidup) adalah hari untuk beramal dan berusaha, bukan hari perhitungan amalan-amalan, tetapi hari esok kiamat adalah hari perhitungan dan tak akan ada (kesempatan untuk) beramal.” [1]
Oleh karenanya, jika pada hari akhirat laporan amalan-amalan dan perbuatan-perbuatan baik akan ditutup dan kesempurnaan adalah akibat dari amalan saleh, maka dalam surga tidak ada kesempurnaan, kecuali jika kita mengumpulkan sebelumnya di dunia ini. Di akhirat kelak tidak terdapat kesempurnaan berupa gradasi dari satu tingkatan ke tingkatan lain surga tanpa sebelumnya dikumpulkan pendahuluan dan prasyaratnya di dunia.
Dalam hal ini, Allah Swt dalam al-Quran berfirman:
«لا ینْفَعُ نَفْسًا إیمانُها لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ
فی إیمانِها خَیرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنّا مُنْتَظِرُونَ»
“Tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah,”tunggulah! maka kamipun menunggu”. (Qs. Al-An’am [6]:158)
Berlawanan dengan pendapat yang telah disebutkan, ada pandangan lain yang dikemukakan; yang meyakini adanya kesempurnaan di hari kiamat. Kelompok ini dalam menjelaskan pendapat mereka mengatakan: setelah memasuki alam pertama dari alam-alam kiamat dan bersatunya ruh dengan badan, ruh akan menempati berbagai tingkatan dan posisi-posisi serta makam-makam, dalam gerak laju manusia dimana ruh masing-masing menempati posisinya. Dalam kondisi ini, ruh melalui suatu etape kesempurnaan dalam perjalanan kembalinya manusia  menuju Tuhan. Hal itu disebabkan oleh karena pada setiap perpindahan (tingkatan) manusia semakin dekat pada bentuk aslinya dan menemukan kembali kesempurnaan yang hilang darinya ketika melakukan rangkaian perjalanan dan secara bertahap menemukan daya eksistensialnya dan akan sesuai dengan alam Ilahi.
Di samping itu setelah masuk ke dalamnya, keteraturan khusus yang menguasai tempat itu niscaya memiliki gerak dan kesempurnaan, dan pada tiap alam setelah masuk ke dalamnya akan mencapai kesempurnaan-kesempurnaan baru.
Kelompok ini menganggap bahwa ayat-ayat serta riwayat-riwayat juga menjadi penjelas perjalanan dan kesempurnaan dalam kumpulan serta alam-alam setelah itu.
Beberapa contoh dari ayat-ayat tersebut  akan kami tunjukkan sebagai berikut:
«إِنَّ الَّذينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللهِ وَ أَيْمانِهِمْ ثَمَناً قَليلاً أُولئِكَ لا خَلاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ
وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَ لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ»
Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (Qs. Ali Imran[3]:77)
Kelompok ini mengatakan: frase ayat “tidak akan menyucikan mereka” pada ayat ini, memiliki pemahaman khusus. Frase ini menjadi penjelas hakikat tersebut bahwa manusia-manusia yang berada pada jalan lurus penghambaan (shirat mustaqim ubudiyah) dan kebenaran; ada dalam rel/jamaah dan pada makam-makam serta alam-alam tersebut, yang termasuk penyucian Allah Swt, Allah Swt membuat suci mereka dari berbagai noda dan mensucikan serta membersihkan mereka dari apa yang menutupi wajah asli manusia dan dari hakikat-hakikat yang membuat mereka jengah. Tentu saja penyucian Ilahi ini tidak akan meliputi kelompok manusia yang tidak berada pada shirat ubudiah dan menantang Tuhan.
Harus diperhatikan bahwa pensucian Ilahi itulah pemenuhan dan penyempurnaan jiwa manusia; karena manusia dalam kehidupan duniawi secara lahiriah memiliki satu rangkaian kepercayaan dimana berdasarkan kepercayaan-kepercayaan tersebut ia memiliki cara dan praktik suluk yang khusus. Akan tetapi dalam perkara batiniah, jiwa manusia adalah (buah dari) akidah dan amal perbuatan tersebut. Jiwa memiliki gerak khusus dimana gerak tersebut jika berada pada jalur suluk ubudiyah dan shirat mustaqim, maka secara bertahap akan membersihkan ruh dari apa yang seharusnya (ruh) bersih (dari itu), dan membawanya kepada tahapan-tahapan kesempurnaan.
Gerak batiniah inilah yang merupakan penyucian Tuhan yang dilakukan pada jiwa manusia, di bawah kontrol suluk lahiriah (syariat) agama. Penyucian ini, melepaskan dan membebaskan ruh dari segala hijab, keterikatan, warna dan apapun yang menimpa ruh ketika berpisah dari tempat aslinya. Sebenarnya hal ini merupakan satu gerak kesempurnaan (takamuli) untuk ruh.
Gerak ruh ini tidak menjadi bagian dari penyucian, baik itu penyucian di dunia yang dilakukan dibawah kontrol suluk agama maupun penyucian di akhirat sebagai keniscayaan dari hukum-hukum khusus yaitu alam dan ‘awâlim-nya.
«إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ يُحَلَّوْنَ
فِيها مِنْ أَساوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَ لُؤْلُؤاً وَ لِباسُهُمْ فِيها حَرِيرٌ
وَ هُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَ هُدُوا إِلى‏ صِراطِ الْحَمِيدِ»
“Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan kev dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka diberi  perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka dari sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji”. (Qs.al-Hajj [22]:23-24)
Kelompok ini mengatakan: ayat ini juga mengisyaratkan bahwa setelah menempati surga, para penghuni surga dibimbing pada perkataan yang suci dan jalan yang terpuji. Jadi jelaslah bahwa baru akan dimulai jalan khusus di tempat tersebut dan jalan yang tidak ada gerak padanya adalah bukanlah jalan. Ayat ini mengatakan: Allah Swt  dengan nama “hamid” nya, orang-orang mukmin dan para pecinta dibawa pada ke tempat yang seharusnya mereka dibawa. Jadi tetap ada gerak di awâlim hasyr (alam-alam masyhar) dan di situ perjalanan kesempurnaan tetap berlanjut.[2]
Akan tetapi berdasarkan prinsip hikmah dan filsafat dalam menjawab pandangan ini, dapat dikatakan bahwa jiwa di hari kiamat telah sampai pada kesempurnaan tajarrud (non material); oleh itu di sana tidak terdapat kesempurnaan. Ayat-ayat juga telah dijelaskan atau penjelas tentang perkembangan wujud alam akhirat, atau dengan ungkapan Faidh Kasyani yang memaknainya sebagai raf’e mawâne’ (menghilangkan pelbagai halangan

Apa khasiat ayat dan surah Nur? Apakah benar seperti yang dikatakan apabila ayat ini dibaca dengan bilangan tertentu akan mendatangkan berkah yang banyak?

Quran adalah kitab amal dan membacanya merupakan permulaan untuk iman dan berfikir, dan juga perantara untuk mengamalkan isinya, dan dari sekian pahala yang besar ini terwujud dari sini disertai dengan syarat-syarat ini. Membaca setiap surah yang ada akan membuahkan pengaruh dunia dan akhirat dan para Imam Maksum As telah menjelaskan keutamaan-keutamaan dari setiap surah tersebut.
Begitu juga dengan surah dan ayat penuh berkah Nur sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat bahwa surah ini (ayat 35 surah Nur) mempunyai khasiat dan pengaruh yang beragam.
Berbicara tentang bacaan atau membaca ayat-ayat dan dzikir-dzikir, angka dan bilangan memiliki peranan yang penting dan ayat atau dzikir tersebut harus dibaca dengan bilangan tertentu sehinggah membuahkan khasiat dan pengaruh tertentu.
Akan tetapi apabila seseorang membaca ayat ini sesuai dengan bilangan yang telah ditentukan dan tidak mendapatkan hasilnya hal itu dikarenakan terdapat penghalang pada syarat-syarat pendahuluan (yang belum terpenuhi) sehingga untuk terwujudnya khasiat dan pengaruh dari ayat dan dzikir ini maka diperlukan supaya menyingkirkan penghalang tersebut sehingga ayat atau dzikir tersebut membuahkan hasil. Artinya bahwa semuanya yang telah dijelaskan hanya terhitung sebagai sebab persiapan dan pendahuluan. 
 
Jawaban Detil
Quran adalah kitab petunjuk, amal dan pembangun manusia, karena itu membacanya merupakan permulaan untuk iman dan berfikir, dan pada tahapan berikutnya perantara untuk mengamalkan isinya, dan untuk sampai pada tujuan terakhir yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan abadi. Oleh itu seluruh isi al-Quran adalah cahaya dan tak seharusnya ada orang terhalang dari mengambil berkahnya.
Tentang keutamaan surah Nur terdapat hadis-hadis dari para Imam Maksum As, di antaranya adalah:
Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa membaca surah Nur, Allah Saw akan memberikan sepuluh kebaikan kepadanya, sebesar pahala seluruh Mukmin terdahulu dan yang akan datang.”[1]
Amirul-Mukminin Ali As bersabda: “…ajarilah istri-istri kalian surah Nur yang di dalamnya terdapat nasihat-nasihat.”[2]
Dinukil dari Imam Shodiq beliau berkata: “Jagalah harta dan kemaluan kalian dengan membaca surah Nur dan dengan perantaranya tempatkanlah istri-istri kalian dalam kesucian; dikarenakan barangsiapa siang dan malam membaca surah ini maka taksatupun dari keluarganya akan berbuat zina hingga ajal menjemputnya. Dan pada saat kematian tujuh puluh ribu malaikat akan mengantarkan jenazahnya sampai ke keburannya dan mendoakan dan memintakan ampun untuknya sampai ia masuk kekuburnya.”[3]
Dan begitu juga dengan ayat Nur yang merupakan salah satu ayat dari surah ini, telah dinukil mengandung banyak sekali keutamaan. Yang dimaksud dengan ayat Nur adalah ayat berikut ini:
﴿ٱللهُ نُورُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكاةٍ فيها مِصْباحٌ الْمِصْباحُ في‏ زُجاجَةٍ الزُّجاجَةُ كَأَنَّها كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكادُ زَيْتُها يُضي‏ءُ وَلَوْلَمْ تَمْسَسْهُ نارٌ نُورٌ عَلى‏ نُورٍ يَهْدِي اللهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشاءُ وَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثالَ لِلنَّاسِ وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ عَليمٌ
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Nur [24] : 35)
Berikut ini adalah sebagian riwayat yang berkenaan dengan keutamaan ayat al-Nur ini:
1. Dari Abdullah Abbas dinukilkan bahwasanya: “Barangsiapa banyak membaca ayat Nur maka penglihatannya akan senantiasa terjaga.”[4]
2. “Barangsiapa matanya sakit maka hendaknya membacakan ayat Nur pada matanya sampai pada ayat nur ala nur dan amalan ini diulang setiap shubuh tiga kali maka sakit matanya akan hilang.”[5]
3. Syaikkh Abul-Abbas Bani berkata: “Barangsiapa mengukir ayat ini di atas kaca di malam Jumat akhir bulan dan membaca ayat ini pada kaca sebanyak empat puluh kali selama empat puluh malam  setelahnya setiap orang yang sakit yang melihat pada kaca tersebut maka penyakitnya akan hilang dan juga dinukilkan bahwa barangsiapa menulis ayat Nur dengan menggunakan zafaron dan air bungah di atas pakaian kusam dan menuliskan nama orang yang hilang dan digantungkan dirumah orang yang hilang maka orang yang hilang itu akan segera kembali.”[6]
4. “Barangsiapa memperbanyak, mengukir ayat nur di atas perak, dan mengukirnya di sekeliling perak tersebut pada hari Jumat ketika terbit matahari dan hendaknya ketika menulisnya dalam keadaan sudah mandi dan memakai pakaian yang suci dan selalu dibawah bersamanya, dan setiap harinya ayat tersebut dibaca empat ratus kali dan setelah itu mulailah melakukan segala urusan yang diinginkan; (hal ini) sangat mujarab untuk mendekatkan diri pada para penguasa, membebaskan tahanan dan tawanan serta keselamatan bagi orang yang mendapatkan hukuman mati.”[7]
5. “Membaca ayat Nur sebelum tidur dengan menghadirkan hati sebanyak jumlah bilangan Allah (66 kali) khususnya pada saat keadaan hati dan ruh bersih akan menyebabkan mimpi-mimpi yang indah.”[8]
6. “Membaca ayat mubarak Nur dengan jumlah bilangan nur (256 kali), ketika hari pertama bulan itu Jumat amalan ini selama lima belas hari dilakukan dan pada hari keenambelas membaca kalimat tayyibah lâ ilâha illâ Allâh dengan jumlah bilangan Nur dan setiap harinya dilanjutkan sampai akhir bulan dengan angka yang telah disebut guna untuk menyelesaikan urusan-urusan yang penting mujarab sekali.”[9]
7. “Membaca ayat Nur sampai bikulli syai’in ‘alim manjur digunakan untuk melihat Imam Zaman, sekali selama empatpuluh hari, antara azan shubuh sampai terbit matahari.[10]
8. “Membaca ayat Nur sebanyak 256 kali setelah salat Isya berguna untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat maknawi dan rizki.”[11]
9. “Setiap selesai salat membaca seribu kali nama Allah Allah dan lima puluh kali ayat Nur dan dipertengahan hari seharinya harus dibaca sepuluh ribu kali.”[12]
10. “Untuk mendapatkan ilmu-ilmu ketuhanan dan keutamaan khusus dari Tuhan ayat mubarak Nur harus dibaca dengan cara mengirimkan salawat pada empat puluh hari pertama disertai dengan kehadiran hati seolah berada di hadapan nabi dan Ahlulbaitnya dalam keadaan duduk dengan khusyuk dan merendahkan diri, dengan  kepala terbuka di bawah langit sambil membaca ayat Nur empat belas kali dan setelah itu mengirimkan shalawat empat puluh satu kali.[13]
Adapun jawaban bagian kedua pertanyaan; ayat Nur menurut perhitungan huruf abjad besar adalah 256. Mengenai bacaan ayat-ayat dan dzikir-dzikir angka mempunyai peranan yang sangat penting dan ayat atau dzikir tersebut wajib dibaca sesuai dengan angka yang sudah ditentukan guna mendapatkan hasil tertentu.
Angka-angka seperti hanya ruh dan huruf sebagai bayangannya dan angka seperti gigi-gigi kunci jika kurang atau lebih maka tidak bisa digunakan untuk membuka pintu dan kelebihan pada angka yang diinginkan berlebihan dan kurang dari angka yang dinginkan menyebabkan kekurangan dalam dzikir.[14] Dan bacaan ayat semacam ini dengan angka yang ditentukan semacam ini menyiratkan rahasia antara huruf-huruf dan angka-angka.
Yang paling penting untuk diingat dan diperhatikan dari semua adalah terpenuhinya syarat-syarat khusus atas bacaan ayat-ayat Qur’an dengan angka tertentu atau dzikir lain. Jadi jika seseorang membaca ayat ini sesuai dengan angka tertentu dan tidak mendapatkan hasilnya terdapat penghalang pada syarat-syarat pendahuluan yang harus disingkirkan sehingga ayat atau dzikir tersebut dapat membuahkan hasil;[15] artinya bahwa semuanya yang telah dijelaskan hanya terhitung sebagai sebab persiapan dan pendahulua

Apakah mungkin sebagian setan menjadi pelayan bagi orang-orang beriman dan menghalangi mereka untuk berbuat buruk?

Apa maksud hadis dimana Allah Swt memerintahkan dua setan untuk menjaga orang beriman dari was-was setan? Setan tetap setan. Tidak ada bedanya. Dari Abi Abdillah berkata : “Barang siapa menjelang tidur membaca tiga kali ayat kursi dan ayat yang ada di Ali Imran, “Allah bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, begitu juga malaikat, dan ahli ilmu… ayat 18 , ayat Sukhroh dan ayat Sajdah maka Allah menyuruh dua syetan untuk mengamankannya dari godaan-godaan para setan-setan jahat.” (Al Kaafi 2/392).
Jawaban Global
Dalam pembahasan filsafat disebutkan bahwa sebagaimana secara keseluruhan sistem penciptaan memiliki tingkatan, di sela-sela setiap sistem penciptaan dan keberadaan ini juga terdapat tingkatan-tingkatan makhluk. Karena itu setan-setan juga memiliki tingkatan dan boleh jadi tindakan setani sebagian setan kurang dari setan-setan lainnya; karena itu Allah Swt menjadikan setan-setan seperti ini sebagai pelayan bagi para wali Allah; karena pada peristiwa Nabi Sulaiman As terjadi:
«وَ الشَّیاطینَ کُلَّ بَنَّاءٍ وَ غَوَّاصٍ»
Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam.” (Qs. Shad [38]:37)
Dan sebagaimana juga yang disebutkan pada ayat selanjutnya:
«وَ آخَرینَ مُقَرَّنینَ فِی الْأَصْفادِ»
“Dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (Qs. Shad [38]:38)

Kedua ayat ini dengan baik menunjukkan adanya perbedaan setan-setan dimana sebagiannya tanpa belenggu dan rantai menjadi pelayan Nabi Sulaiman dan sebagian lainnya adalah setan-setan pembangkang yang terantai dan terbelenggu.
Karena itu, tidak ada halangan membaca ayat tertentu dari al-Quran sehingga sebagian setan menjadi penghalang keburukan bagi sebagian setan lainnya. Sebagaimana dalam riwayat ini disebutkan, “Imam Shadiq As bersabda, “Barang siapa menjelang tidur membaca tiga kali ayat kursi dan ayat yang ada di Ali Imran, “Allah bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, begitu juga malaikat, dan ahli ilmu[1] , ayat Sukhroh[2] dan ayat Sajdah[3] maka Allah menyuruh dua setan untuk mengamankannya dari godaan-godaan para setan-setan jahat, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, bersama dua setan itu terdapat tiga puluh malaikat yang senantiasa memuji, bertasbih dan bertakbir kepada Allah Swt ini, akan memohonkan ampunan bagi orang itu hingga ia bangun dan ganjaran tahmid, tasbih dan takbir malaikat seluruhnya menjadi miliknya.”[4] (Al-Kâfi 2/392). [iQuest]
 

[1].  (Qs Ali Imran [3]:18)
«شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ وَ الْمَلائِکَةُ وَ أُولُوا الْعِلْمِ قائِماً بِالْقِسْطِ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزیزُ الْحَکیمُ»
[2].  “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘arasy (Dia mengatur seluruh alam semesta). Dia menutupkan (tirai kegelapan) malam kepada siang; malam mengikuti siang dengan cepat, dan (Dia menciptakan pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan mengatur (alam semesta) hanyalah hak Allah. Maha Berkah (dan Kekal) Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-A’raf [7]:54)  
[3]. Yang masyhur sesuai dengan ucapan Majlisi, dua akhir ayat surah Hamim Sajdah dan sebagian lainnya ayat yang mengikut pada ayat sajadah yang disebutkan pada pada surah Alif lam mim sajdah, yaitu ayat 16 dan mengikut prinsip ihtiyath baikmya menggabungkan keduanya.  
[4]. Muhammad Yakub Kulaini, al-Kâfi, Editor Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, jil. 2, hal. 539, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, Cetakan Keempat, 1407 H.

Tolong jelaskan kisah tentang obrolan para malaikat dengan Nabi Ibrahim As terkait dengan kelahiran putranya dan juga tentang azab kaum Luth sebagaimana dikisahkan dalam al-Quran?

Al-Quran sehubungan dengan ayat-ayat yang menjelaskan penyampaian berita para malaikat kepada Nabi Ibrahim dan istrinya Sarah, yang di dalamnya terdapat beberapa persoalan penting dan menarik terkait dengan kepribadian Nabi Ibrahim As sebagaimana berikut:
  1. Tatkala para malaikat datang ke hadapan Nabi Ibrahim As, meski mula-mula beliau tidak mengenal mereka, namun beliau menyuguhkan kambing guling yang menunjukkan bahwa beliau gemar melayani tamu.
  2. Berita gembira yang diberikan oleh para malaikat kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran Ishak As merupakan sebuah perkara yang mustahil dan tidak sesuai dengan kebiasaan yang ada. Atas dasar itu, Sarah terperanjat dan menyatakan kecil kemungkinan baginya dan bagi Ibrahim As memiliki anak. Tentu saja kemungkinan kecil ini merupakan perkara natural dan dijelaskan berdasarkan kebiasaan manusia; karena itu diriwayatkan tentang Nabi Zakariyah yang juga menghadapi persoalan yang sama. Namun tidak ada satu pun nukilan yang menceitakan protes bahkan perasaan terkejut dari Nabi Ibrahim As dan hal ini merupakan pertanda iman dan kemantapan hati Nabi Ibrahim kepada Allah Swt dan makna khalilullah dapat dipahami dengan lebih baik dengan ayat-ayat ini.
  3. Nabi Ibrahim As meminta kepada para malaikat untuk menunda azab kaum Nabi Luth, dengan harapan mereka dapat beriman dan memperbaiki perbuatan mereka yang menunjukkan perasaan risau dan concern Nabi Ibrahim As bahkan bagi para pendosa.
Jawaban Detil
Nabi Ibrahim merupakan salah satu nabi yang banyak dinukil kisahnya di dalam al-Quran. Salah satu kisah ini adalah berita gembira yang disampaikan kepadanya dan kepada istrinya berupa kelahiran seorang anak bernama Ishak As dan cucu yang bernama Yakub As.
Di sela-sela ayat ini, terdapat pelajaran-pelajaran dan poin-poin yang banyak dapat diperoleh yang menunjukkan kepribadian tinggi Nabi Ibrahim As. Untuk memaparkan hal ini, kami akan membagi pelajaran-pelajaran itu ke dalam tiga poin sebagaimana berikut:
  1. Pertama-tama dalam menukil kisah ini, Allah Swt berfirman:
« وَ لَقَدْ جاءَتْ رُسُلُنا إِبْراهیمَ بِالْبُشْرى‏ قالُوا سَلاماً قالَ سَلامٌ فَما لَبِثَ
أَنْ جاءَ بِعِجْلٍ حَنیذٍ. فَلَمَّا رَأى‏ أَیْدِیَهُمْ لا تَصِلُ إِلَیْهِ نَکِرَهُمْ وَ أَوْجَسَ
مِنْهُمْ خیفَةً قالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنا إِلى‏ قَوْمِ لُوطٍ»
Dan sesungguhnya utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, “Selamat.” Ibrahim menjawab, “Selamatlah.” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala ia melihat tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.” (Qs. Al-Hud [11]:69-70)

Dari kata “rusulana” (utusan-utusan Kami) dapat disimpulkan terdapat beberapa malaikat yang datang kepada Nabi Ibrahim As. Adapun tentang berapa jumlah mereka dan siapa saja mereka, terdapat beberepa riwayat dan ucapan yang berbeda-beda dan pada kesempatan ini kami mengira tidak perlu menyebutkannya.[1]
Pada ayat di atas, terdapat pembicaraan tentang suguhan makanan dan demikian juga ketakutan Nabi Ibrahim As terhadap mereka dimana dapat disimpulkan bahwa Ibrahim As tidak mengetahui bahwa mereka itu adalah para malaikat Allah Swt.[2] Karena itu beliau meyiapkan dan menyuguhkan makanan untuk mereka.[3]
Poin menarik lainnya yang dapat disimpulkan dari ayat ini adalah bahwa Nabi Ibrahim sebelum ia mengenal tetamunya, beliau menyiapkan dan menyuguhkan makanan bagia mereka, hal ini menunjukkan bahwa perilaku mulia Nabi Ilahi ini dapat menjadi pelajaran bagi para pengikut al-Quran.
Ayat-ayat sebagai kelanjutannya, menyinggung tentang perbuatan para tamu yang tidak langsung mendatangi hidangan yang telah disediakan dan hal ini pada masa itu bukanlah sebuah perbuatan yang baik, hingga diketahui identias mereka sebagai malaikat dan tidak perlu menyantap makanan, bahkan ketika mereka tidak memiliki kemampuan untuk makan.[4]
 
  1. Pada ayat selanjutnya, sehubungan dengan sebab diutusnya para malaikat ini ke hadapan Nabi Ibrahim. Allah Swt berfirman:
«وَ امْرَأَتُهُ قائِمَةٌ فَضَحِکَتْ فَبَشَّرْناها بِإِسْحاقَ وَ مِنْ وَراءِ إِسْحاقَ یَعْقُوبَ *
قالَتْ یا وَیْلَتى‏ أَ أَلِدُ وَ أَنَا عَجُوزٌ وَ هذا بَعْلی‏ شَیْخاً إِنَّ هذا لَشَیْ‏ءٌ عَجیبٌ *
قالُوا أَ تَعْجَبینَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَ بَرَکاتُهُ عَلَیْکُمْ أَهْلَ الْبَیْتِ إِنَّهُ حَمیدٌ مَجیدٌ»
“Dan istrinya berdiri, lalu tersenyum (lantaran bahagia). Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq, Ya‘qub. Istrinya berkata, “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah yang dicurahkan atasmu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Qs. Al-Hud [11]:71-73)
Ungkapan “fadhaikat” (lalu tersenyum) dapat disimpulkan bahwa Sarah tatkala memahami mereka adalah para malaikat Ilahi dan tidak akan mencelakakan mereka maka ia kemudian senyum simpul menghias wajahnya.1 Akan tetapi terdapat ucapan lain dalam hal ini.[5]
Ayat-ayat ini kembali menunjukkan sisi lain dari makam menjulang Ibrahim As. Berita gembira yang disampaikan para malaikat kepada Nabi Ibrahim dan Sarah merupakan perkara yang hampir mustahil dan berbeda dengan kebiasaan yang ada. Atas dasar itu Sarah terperanjat dan menilai kecil kemungkinan bagi ia dan Ibrahim memiliki anak, dimana tentu saja hal ini merupakan perkara yang wajar dan natural serta dijelaska berdasarkan kebiasaan yang terjadi di kalangan masyarakat; karena itu diriwayatkan bahwa Nabi Zakariah As juga berhadapan dengan janji seperti ini.[6] Namun Ibrahim As diriwayatkan sama sekali tidak menyatakan protes apalagi terperanjat dan hal ini merupakan pertanda kekuatan iman dan kemantapan hatinya kepda Allah Swt. Makna khalilullah yang disematkan kepada Nabi Ibrahim As dapat dipahami dengan baik melalui ayat-ayat ini.
 
  1. Sebagai kelanjutan pembahasan di atas kita kembali kepada Ibrahim:
«فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْراهیمَ الرَّوْعُ وَ جاءَتْهُ الْبُشْرى‏ یُجادِلُنا فی‏ قَوْمِ لُوطٍ *
إِنَّ إِبْراهیمَ لَحَلیمٌ أَوَّاهٌ مُنیبٌ*
یا إِبْراهیمُ أَعْرِضْ عَنْ هذا إِنَّهُ قَدْ جاءَ أَمْرُ رَبِّکَ وَ إِنَّهُمْ آتیهِمْ عَذابٌ غَیْرُ مَرْدُودٍ».
“Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan kembali kepada Allah. ‘Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.’”(Qs. Al-Hud [11]:74-76)
Terkait degan ungkapan “yujadiluna fi qaumi Luthin” (dia pun bersoal jawab dengan Kami tentang kaum Luth) disebutkan bahwa Nabi Ibrahim meminta kepada para malaikat untuk mengakhirkan azab bagi kaum Nabi Luth dengan harapan mereka [7]dapat beriman dan beramal saleh. Benar, kepribadian dan kedudukan seorang nabi seperti Ibrahim adalah demikian bahwa tatkala ia menerima berita yang menyenangkan, namun pikirannya bersama kaum Luth dan memohonkan kebaikan bagi mereka dan Allah Swt dengan penjelasan ini, “Wahai Ibrahim tinggalkanlah soal jawab ini...” menunjukkan bahwa kaum ini telah sampai pada batasan sehingga tiada harapan lagi yang tersisa untuk mereka dapat kembali dan mereka lebih maslahat berada dalam azab dan kebinasaan.

tanya jawab

Apakah dalam al-Quran terdapat ungkapan «perempuan adalah budak dari laki-laki» yang oleh Nabi Saw dinyatakan bahwa ayat ini telah berubah?
Pertanyaan
  salah satu dari kebijakan Nabi SAWW mengenai penghormatan kepada kaum perempuan yaitu; beliau telah mengubah satu atau dua ungkapan atau beberapa kata dari Al-Quran yang ada di tangan kita (sekarang) dan atau beliau telah menghapusnya. Kalau tidak salah sebelum penulisan Al-Quran oleh Nabi terdapat salah satu ungkapan: “kaum perempuan adalah budak dari kaum laki-laki”.
 
Jawaban Global
Rasulullah Saw adalah murni hamba Allah Swt dan beliau tidak melakukan sesuatu apapun atas dasar keinginan sendiri; mengingat Allah Swt berfirman tentangnya,
« وَما یَنْطِقُ عَنِ الْهَوى . إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْیٌ یُوحى»
 “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)[1] (Qs. al-Najm [53]:3-4)
Menurut ayat ini, segala perkataan, perbuatan dan amalan-amalan nabi sesuai dengan perintah dan sejalan dengan wahyu Ilahi. Oleh itu, tidak ada orang yang dapat mengklaim bahwa beliau melakukan perubahan dalam al-Quran atas dasar keinginin sendiri, secara khusus Allah Swt pada satu ayat dalam al-Quran menekankan masalah ini dan berfirman:
«وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَیْنا بَعْضَ الْأَقاویلِ .لَأَخَذْنا مِنْهُ بِالْیَمینِ. ثُمَّ لَقَطَعْنا مِنْهُ الْوَتینَ
. فَما مِنْکُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حاجِزینَ»

 “Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian ucapan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan kuat, kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya. Dan sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari memotong urat nadi itu.” (Qs. al-Haqqah [69]:44-47)

Di sisi lain, Allah Swt memberikan jaminan bahwa Kitab suci-Nya yaitu al-Quran dilindungi dari segala distorsi dan perubahan. Oleh itu, segala perkataan yang menjadi alasan atas distorsi atau perubahan dalam al-Quran oleh makhluk-makhluk tidak dapat diterima dan bertentangan dengan banyak ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat Ahlubait As.
Dalam ajaran Islam perempuan tidak pernah sama sekali dianggap sebagai budak laki-laki. Dan begitupun laki-laki memiliki kewajiban terhadap pasangan (istrinya) yang mengikat mereka; perempuan yang melaksanakan kewajiban terhadap pasangan sendiri (suami) bukan berarti perempuan (tersebut) adalah budak.[2] [iQuest]