Minggu, 15 Maret 2015

Dialog Pohon Mangga dan Imam Syibli

U-ON 
Imam Syibli adaalah salah seorang yang mampu berdialog dengan tanaman, salah satu pohon tersebut adalah pohon mangga. Menunjukkan bahwa beliau bukan orang sembarangan di dunia para sufi.
Kisah yang penuh sarat dengan makna buat kita semua sahabat.
Bagaimana kisahnya...

Pohon Mangga

Kisahnya.
Pada suatu hari Imam Syibli sedang berada di kebunnya yang subur.
Ketika sedang asyik bekerja di kebun itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggilnya.
"Syibli...!!! Syibli...!!!"

Imam Syibli segera menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya.
Ternyata, suara itu datang dari sebuah pohon mangga.
"Ada keperluan apa engkau memanggilku?" tanya Imam Syibli.
"Jadilah makhluk yang memiliki sifat sepertiku," jawab pohon mangga itu.
"Apa maksudmu..." tanya Imam Syibli yang tak mengerti.

"Jika aku dilempari orang dengan batu, aku balas melempari orang itu dengan buahku yang lezat," tutur phon mangga itu.
"Oh...engkau memang baik hati," sahut Imam Syibli.
"Tapi mengapa nasibmu tidak baik pada akhirnya?" tanya Iman Syibli.

Kini, ganti pohon mangga itu yang keheranan, dan tidak mengerti.
"Apa maksudny Syibli?" tanya pohon mangga.
"Kalau engkau sudha tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang. Daun-daunmu akan digunduli dan dirimu akan menjadi mangsa api sebagai kayu bakar," kata Imam Syibli.
"Itulah nasibku," kata pohon mangga.

"Jadi mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara itu yang di sana?" tanya Imam Syibli.
"Inilah kebangganku, memang phon cemara di sana bisa selamat dengan cara begitu, akan tetapi kalau sudah tua nanti akan roboh begitu saja dan tidak ada yang mengambil batangnya untuk dibuat kayu bakar, apalagi arang. Sedangkan aku, meskipun pada akhirnya aku akan hancur dan dimakan api, tapi dengan cara terhormat. Karena manusia tidak akan sembarangan membakarku jika tidak untuk keperluan yang jelas seperti untuk memasak dan sebagainya," jawab pohon mangga.

Pohon mangga melanjutkan penuturannya.
"Jadi aku nini masi ada gunanya sampai pada akhir hidupku," kata pohon mangga.
"Abu bekas pembakaranku juga masih diperlukan orang untuk menggosok perabotan rumah tangga, dan abuku terkenal mahal serta dapat membuat barang-barang dari logam menjadi bersih dan mengkilap. Jadi nasibku lebih baik daripada pohon cemara," tutur pohon mangga.

Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui pendapat pohon mangga.
Lebih baik mati terhormat daripada menjual harga diri dengan bersikap munafik yang bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup dia pun mengikutinya.

Wanita mau kemana?

 

Laki-laki dan wanita bagaikan siang dan malam

Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita bagaikan siang dan malam, keduanya sama pentingnya, saling melengkapi dan tolong menolong dalam menunaikan kewajibannya. Masing-masing punya kelebihan satu atas yang lainnya. Kelebihan itu diberikan oleh Allah SWT tidak lain supaya laki-laki atau wanita bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Mahasuci Allah, yang memberikan tugas tetapi sekaligus memberikan bekalnya sekalian. Sehingga tugas-tugas yang dibebankan kepada wanita tidak akan berhasil dengan baik, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali digantikan oleh seorang laki-laki. Demikian juga sebaliknya.
Tugas wanita sebagai ibu misalnya, mana mungkin seorang laki-laki bisa menggantikan tugasnya untuk hamil dan melahirkan? Walaupun dalam hal tugas seorang wanita sebagai pendidik generasi kadangkala ada yang bisa digantikan oleh seorang laki-laki, tetapi pasti hasilnya tidak optimal sebagaimana apabila tugas itu dilakukan oleh seorang ibu. Wanita sudah dibekali oleh Allah SWT, perasaan yang halus, mudah tersentuh, juga ketelatenan dan kesabaran serta kasih sayang. Bekal itu sangat dibutuhkan dalam mendidik anak-anaknya, agar mereka memiliki mental yang baja, keras dalam usaha dan semangat dalam menggapai cita-cita, tetapi di sisi lain dia juga berperasaan halus dan mudah menerima kebenaran. Sentuhan kelembutan dan kasih sayang seorang ibu Insya Allah mampu membentuk jiwa yang mulia itu. Ibaratnya memintal benang/menenun, seorang ibu akan menenun dengan cermat sabar dan teliti, sehingga hasilnya akan lebih kencang, indah dan rapi, sehingga nyaman dipakai dan tahan lama.
Demikian juga sebaliknya, saat ini banyak wanita-wanita yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada di antara mereka yang bekerja karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Tapi ada juga yang hanya untuk aktualisasi diri atau bahkan hanya untuk bersenang-senang saja agar bisa bergaul dengan banyak orang. Tentunya perlu dilihat manfaat apa yang telah diperoleh dari bekerjanya seorang wanita. Atau bisa juga dilakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and threats). Dari analisis tersebut akan diketahui, lebih banyak manfaatnya yang mana, bekerja atau tidak.
Dengan melakukan analisis SWOT, menunjukkan bahwa dia tidak memutuskan sesuatu dengan asal-asalan saja, tetapi benar-benar sudah dipikir masak-masak. Karena dasar pemikiran itu yang akan dipertanggungjawabkan di padang Mahsyar nantinya. Oleh karenanya tiap satu orang berbeda dengan yang lainnya dan tidak bisa disamakan dalam hal ini. Karena bisa jadi bekerja menjadi keharusan bagi seorang wanita, tapi belum tentu bagi wanita lainnya, bahkan bisa sebaliknya.

Skalla Prioritas.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah jangan sampai wanita melupakan tugas utama seorang wanita yaitu sebagai: istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya, juga sebagai anggota masyarakat. Seorang yang cerdas pasti akan berpikir professional dan akan membuat skalla prioritas sesuai kadar tanggung jawabnya. Sesuatu yang sifatnya wajib, maka harus dijadikan perhatian utama karena itulah yang nantinya pertama akan ditanyakan kepadanya di yaumul akhir. Jangan seperti peribahasa Jawa “Ngoyak uceng kelangan deleg” yang artinya mengejar sesuatu yang kecil tetapi kehilangan yang besar, mengejar pahala sunnah tetapi meninggalkan yang wajib.
Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda: “Al-kaisu man daana nafsahu wa ‘amila li ma ba’dal maut” yang artinya: “Orang yang pandai adalah orang yang senantiasa mengontrol hatinya (mengendalikan diri) dan beramal untuk hari setelah matinya.”
Sesuatu yang sudah menjadi kewajiban tidak akan luput dari pertanyaan Allah di yaumul mahsyar. Oleh karena itu, pastikan ketika akan menghadap Allah SWT, tugas-tugas utama sebagai wanita sudah ditunaikan.
Sudahkan kita menunaikan tugas kita sebagai ibu bagi anak-anak kita?
Sudahkan kita menunaikan tugas kita sebagai istri dari suami kita?
Walaupun wanita jaman sekarang bisa pergi kemana saja, berperan sebagai apa saja, tetapi fungsinya sebagai penegak ketahanan keluarga sangatlah penting. Keluarga yang tidak kokoh lahir dan batin, akan menjadi sumber malapetaka bagi masyarakat. Bukanlah jumlah anak yang membuat sesak bumi ini, tetapi akhlaq yang buruklah yang menyesakkan dada.

Peran Wanita

Namun demikian, dunia sangat membutuhkan sentuhan tangan-tangan wanita. Berbagai sisi dunia ini sangat membutuhkan peran wanita, seperti tenaga medis, pendidik, dan tempat-tempat tertentu yang nampaknya akan lebih baik jika dipegang oleh seorang wanita. Sehingga wanita dituntut memiliki peran ganda atau lebih. Selain sebagai ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya, wanita juga bisa berperan sesuai profesinya, seperti dokter, perawat, guru, psikolog, dll. Oleh karenanya wanita harus membekali diri dengan berbagai ilmu. Bukan seperti pemahaman kuno yang mengatakan wanita tidak perlu mendapatkan pendidikan tinggi, karena kerjanya hanya berkisar di dapur, sumur dan kasur. Semakin tinggi intelektual wanita, diharapkan  akan semakin mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya untuk berperan dengan baik.
Sebagai seorang ibu, wanita harus bisa menghantarkan anak-anaknya menjadi manusia yang bertaqwa, dan bermanfaat bagi sesama. Hal itu tidaklah mudah, sekian banyak wanita gagal berperan sebagai ibu, terlihat dari anak-anaknya yang jauh dari nilai-nilai agama, atau menjadi sampah di masyarakat. Tetapi ada juga seorang ibu yang salah sangka, dia hanya mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang tampan/cantik, sehat badannya dan kaya raya atau terkenal. Itu sama saja mendidik anaknya sebagaimana anak binatang. Bukankah peternak kambing hanya menginginkan kambingnya sehat gemuk dan mudah dipelihara sehingga menarik hati para pembeli?.. (Selanjutnya akan saya bahas dg judul tersendiri, tunggu ya…)
Sebagai seorang istri, wanita harus bisa mendampingi suaminya di kala senang maupun duka. Tugasnya adalah mendukung suami dlm melakukan amal kebaikan, dan mengingatkannya jika suami menyimpang dari syari’at. Suami dan istri harus bersinergi dalam melahirkan amal-amal kebaikan. Di balik seorang lelaki yang hebat biasanya selalu ada wanita yang kuat, entah itu ibunya atau istrinya. Karena sehebat apapun seorang lelaki, dia adalah manusia biasa. Terkadang membutuhkan dukungan moral dan spiritual dari orang lain, khususnya istrinya. Ibarat handphone, seorang suami akan men-charge dirinya di rumah, bersama istri dan anak-anaknya. Oleh karena itu, seorang istri harus mampu meyajikan nsuasana rumahnya menjadi rumah yang siap menerima kedatangan para penghuninya dalam keadaan apa adanya. Di rumahlah mereka membenahi hiri, mengobati luka, dan menyusun kekuatan baru. (Selanjutnya akan saya bahas dg judul tersendiri, tunggu ya…)
Wahai wanita,
Ukurlah potensimu, ambillah peran sesuai kemampuanmu, satu, dua, tiga, dst..
Atur skala prioritas, urutkan dari yang paling tinggi kadar hukumnya. Berperanlah sebagai ibu yang baik, istri yang baik, anggota masyarakat yang baik..
Kalau potensimu masih tersisa… ambillah peranmu lagi, sebagai dokter, guru, atau yang lain..
Tapi jangan sampai peran utamamu menjadi berantakan gara-gara peranmu yang belakangan kau ambil..
Semoga dengan demikian, wanita selamat di yaumul mahsyar
Sukses dunia akherat.
Disayangi anak, suami, lingkungan sekitar… dan juga yang terpenting mendapat kasih sayang Allah..
Amin.

10 Golongan yang Tidak Masuk Surga


Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.
Selanjutnya Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”
Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba.”
Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”
Rasulullah saw. ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”
Mu’adz bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau tentang ayat ini: yauma yunfakhu fiish-shuuri fata’tuuna afwaajaa, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok?” (An-Naba’: 18)
“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar,” jawab Rasulullah saw. Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.
“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliyahnya di dunia). Di antara mereka ada yang berwujud kera; ada yang berwujud babi; ada yang berjalan berjungkir-balik dengan muka terseret-seret; ada yang buta kedua matanya, ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa; ada yang memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jama’ah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya; ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong; ada yang disalib di atas batangan besi panas; ada yang aroma tubuhnya lebih busuk daripada bangkai; dan ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih.”
“Mereka yang berwajah kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba di antara manusia. Yang berwujud babi adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap.”
“Yang berjalan jungkir-balik adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan riba. Yang buta adalah orang-orang yang ketika di dunia suka berbuat zhalim dalam memutuskan hukum. Yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang ketika di dunia suka ujub (menyombongkan diri) dengan amalnya.”
“Yang memamah lidahnya adalah ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak-belakang dengan amal perbuatannya. Yang terpotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.”
“Yang disalib di batangan besi panas adalah orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu. Yang tubuhnya berbau busuk melebihi bangkai adalah orang yang suka bersenang-senang dengan menuruti semua syahwat dan kemauan mereka tanpa mau menunaikan hak Allah yang ada pada harta mereka.”
“Adapun orang yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih adalah orang yang suka takabur dan membanggakan diri.” (HR. Qurthubi)
Saudaraku, adakah kita di antara 10 daftar yang dipaparkan Rasulullah saw. di atas? Bertobatlah, agar selamat!
*()*

MENGATASI KEGALAUAN RUHAN


 
Manusia memiliki dua unsur penciptaan yang masing-masing memiliki kebutuhan yang harus dipenuhinya. Kedua unsur penciptaan itu adalah unsur ruh atau jiwa dan unsur jasad (materi) yang tercipta dari tanah. Jika unsur materi lebih dominan dari unsur ruh, maka jiwa kita akan dikendalikan oleh hawa nafsu yang menuntut untuk diperturutkan. Akibatnya akan lahir sikap tamak dan serakah yang tiada habis-habisnya. Hal ini berimplikasi kepada kegelisahan serta kegalauan hati. Sedangkan jika unsur ruhani lebih dominan dari materi, maka kita akan terbimbing ke jalan ketenangan dan kebahagiaan.
Kegalauan ruhani yang dibiarkan berlarut-larut dapat menjadikan hati jatuh sakit hingga berujung tragis kepada kematian jiwa atau ruhani. Oleh karenanya kita harus mencermati dan mengatasinya.

Adapun fenomena kegalauan ruhani tersebut adalah:

1.   Merasakan keras dan kasarnya hati, bagaikan batu, tak ada yang menembus dan merembes kepadanya serta yang mempengaruhinya.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (al baqarah: 74)
2.    Perangai yang tersumbat, dada yang sempit, kelelahan lelah jiwa, tampak sifat gelisah dan sering mengeluh, enggan peduli terhadap derita orang lain, tidak menyukai seseorang tanpa alasan yang benar.
3.    Tidak terpengaruh oleh ayat-ayat al Qur’an, bahkan merasa sesak dengan bacaannya. Tidak menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan al Qur’an, dengan mendengarkan dari orang lain, mentadaburi, dan ia tidak melakukannya dengan khusyu’ dan tenang.
4.    Tidak mendapat pelajaran dari peristiwa kematian.
5.    Kecintaan terhadap kesenangan duniawi semakin bertambah, syahwat semakin berkobar dalam pikiran dan hatinya hingga terobsesi untuk merealisasikannya. Ia tersiksa dengan kenikmatan dunia yang diraih oleh orang lain terlebih saudara atau sahabatnya, ia menganggap dirinya gagal hingga timbul hasad akan lenyapnya kenikmatan itu dari saudaranya.
6.   Kegelapan batin yang meliputi wajahnya dan dapat terbaca oleh mu’min yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah. Setiap mu’min memiliki nur dengan kadar keimanannya dan dapat melihat sesuatu yang tak mampu terbaca oleh orang lain. Keringkihan ruhani yang kronis dapat terbaca oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang lemah sekalipun. Namun kegelapan ruhani yang remang-remang hanya dapat terbaca oleh firasat imaniyah yang kuat.
7.   Bermalas-malasan dalam beribadah dan kebaikan yang hal itu terlihat pada kurangnya perhatian dan semangat. Shalatnya hanya sebatas gerakan dan bacaan semata, ibadahnya bagaikan penjara baginya dan ingin segera berlepas darinya.
8.   Lupa yang amat sangat kepada Allah, terlihat dengan sedikitnya dzikrullah, padahal selalu berhadapan dengan ayat Allah di sekitarnya serta enggan berdo’a kepadaNya.

Solusinya adalah:

  1. Selalu dzikrullah dengan hati, akal dan lisan berikut anggota tubuhnya.
  2. Menghadirkan potret akhirat. Wasilah (sarana) terdekat untuk dzikrul akhirat adalah qubur. Tersebut kisah seorang generasi terdahulu yang menggali qubur di rumahnya, di kala ia merasakan kekeringan ruh ia memasuki qubur tersebut seraya membaca ayat Allah:

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (Al Mu’minun: 99-100)
Setelah itu ia keluar dari “qubur” dan berkata, “Wahai jiwa, kini engkau telah kembali ke dunia, maka beramal shalih-lah”.
3.  Mengingat kematian lebih dekat kepadanya dari tali sendalnya.