Beberapa contoh keteguhan jiwa wakaf
yang diambil dari riwayat hidup Hadhrat Khalifatul Masih Al Khamis, HadhratMirzaMasroor Ahmad ABA. Huzur ABA bersabda,:
1. Ketika saya (Hadhrat Khalifatul
Masih Al Khamis) masih kecil, saya pernah diajak oleh kakek saya (Hadhrat Mirza
Syarif Ahmad) untuk mulakat dengan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra. Saat itu
saya masih berumur 9,10 tahun. Saat itu Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra
sedang sakit dan terbaring di ranjang. Disana telah disediakan kursi untuk
kakek saya (Hadhrat Mirza Syarif Ahmad), tapi beliau berbincang-bincang Hadhrat
Khalifatul Masih Tsani ra sambil duduk dilantai. Beliau memperlihatkan sikap
santun dan rasa hormat kepada Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra pada saat
berbincang, lalu pamitan pulang. Hadhrat Khalifatul Masih Al Khamis bersabda,”
Dengan itu, kakek saya memberikan pelajaran kepada saya untuk bersikap santun
didepan khalifah e waqt.
2. Ketika saya masih kecil, ayah saya
selalu menekankan saya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Beliau selalu
membangunkan saya dari tidur untuk melaksanakan shalat shubuh. Apabila saya
susah bangun, beliau memercikan air diwajah saya. Setelah shalat shubuh, ayah
saya selalu menekankan kepada saya untuk berolahraga dan ayah saya sendiri pun
berolah raga setelah shalat shubuh.
3. Didalam kehidupan sehari-hari orang
tua kami selalu menerapkan kesdisiplinan. Begitu indahnya kedisiplinan yang
diterapkan, sehingga Sampai umur 16,17 tahun, sama sekali anak-anak tidak
diizinkan untuk keluar rumah setelah shalat maghrib. Kami tinggal dilingkungan
rabwah, padahal disekitar rumah kami tinggal kerabat dekat, tapi meskipun demikian
orang tua kami tidak mengizinkan kami untuk keluar rumah setelah shalat
maghrib. Dan ketika kami suduh bertambah dewasa, ayah tidak mengizinkan kami
untuk keluar rumah setelah shalat isya. Huzur Bersabda,” Anak yang selalu pergi
keluyuran setelah shalat isya, laziman dia akan rusak.
4. Ketika Mia Masroor Ahmad sedang
menempuh pendidikan MSc di bidang agriculture (pertanian), menurut
informasi disatu departemen dalam sebuah universitas bisa diperoleh
madu asli. Hadhrat Khalifatul masih Tsalits ra meminta Mia Masroor untuk
membelikan satu botol madu asli. Pada saat Mia Masroor Ahmad beranjak pergi, Hadhrat
Khalifatul masih Tsalits ra memberikan uangnya. Mia Masroor :,” Huzur! Saya
akan membeli madu itu dari uang saya pribadi. Huzur bersabda,”Setiap saya
meminta orang lain untuk membeli sesuatu saya selalu memberikan uangnya
terlebih dahulu. Akhirnya ada seorang ahmadi yang akan membelikan madu tersebut
untuk Mia Masroor. Ketika sang ahmadi itu tahu bahwa Hadhrat Khalifatul masih
Tsalits ra lah yang memesan madu itu, maka dia membelikan madu itu dengan uang
pribadinya. Ketika Mia Masroor Ahmad kembali untuk menyerahkan madu dan
mengembalikan kembali uang yang telah diberikan oleh Hadhrat Khalifatul masih
Tsalits ra, maka Huzur bersabda,” Apabila saya sudah memberikan uang kepada
seseorang, saya tidak akan mengambilnya lagi, apakah orang itu menggunakan uang
yang saya berikan tadi untuk membeli barang tersebut atau ada orang lain yang
membayarkan dengan uang pribadinya.
5. Setelah Mia Masroor menyelesaikan gelar MSc,
Beliau menyampaikan permohonan wakafnya kepada Kantor Tahrik Jadid, tapi Kantor
Tahrik Jadid menolak permohonan wakaf beliau karena melihat basic pendidikan
beliau MSc pertanian, mereka memberikan jawaban,” Saat ini kantor kami tidak
memerlukan waqif bidang pertanian, begitu juga Rabwah dan di sekolah-sekolah di
Ghana pun tidak diajarkan subject mengenai pertanian. Tapi memang Allah Ta’ala
lah yang akan menerima wakaf beliau. Begitu kuatnya keinginan Mia Masroor untuk
mewakafkan diri, Beliau terus berdoa dan akhirnya beliau mengirimkan permohonan
wakafnya kepada Hadhrat Khalifatul masih Tsalits ra, lalu Huzur III pun
meneruskan lagi permohonan Mia Masroor kepada Tahrik Jadid, lantas jawaban itu
pulalah yang diterima oleh Hadhrat Khalifatul masih Tsalits ra, yakni kami
tidak bisa menerima waqaf pemuda ini, mohon sampaikan kepadanya untuk mencari
pekerjaan lain. Ketika jawaban ini sampai kepada Hadhrat Khalifatul Masih
Tsalits ra, beliau menulis catatan,” Kalau kalian tidak memerlukan pemuda ini,
saya yang memerlukannya! lalu Hadhrat Khalifatul masih Tsalits ra menerima
waqaf dan mengutus Mia Masroor ke Afrika sebagai guru.
6. Sejak kecil saya sangat dekat dengan
Hadhrat Khalifatul Masih Ar Rabi ra sebagai sahabat yang saling mencintai.
Begitu dekatnya saya dengan beliau, sehingga Huzur selalu melimpahkan
tugas-tugas kepada saya, supaya saya yang mengerjakan tugas-tugas itu. Kapanpun
saya memberikan saran kepada Beliau, misalnya dalam suatu meeting, meskipun ada
orang lain yang memberikan pendapat yang bertentangan dengan saran saya, Beliau
pasti menerima saran saya.
7. Pada saat saya akan dikirim ke
Ghana, fikiran manusiawi saya merasa tidak suka apabila saya ditugaskan ke
suatu tempat yang fasilitasnya tidak memadai, tidak ada air, listrik. Ketika
beliau sampai di Ghana, beliau baru mengetahui bahwa keadaannya seperti apa
yang dikhawatirkan (tidak memadainya fasilitas, sebelumnya beliau tidak tahu
kalau keadaannya seperti itu. Beliau ditugaskan oleh Hadhrat Khalifatul Masih
Ar Rabi ra, ke tempat yang jauhnya sekitar 70 mil dari tempat saya tinggal,
saat itu musim panas, saya harus menjalankan traktor sendiri, di tempat itu
jalannya masih tanah yang berdebu, seharian sibuk, malam tidak bisa kembali
pulang ke rumah, saya berfikir supaya saya tinggal 3 hari sekaligus, sampai
pekerjaan selesai. Makanan di daerah itu tidak bisa dimakan, rasanya…, jika
dimakan pun bisa menyebabkan sakit, air juga kotor sehingga tidak bisa diminum.
Karena saya ditugaskan oleh Khalifah e waqt, saya harus melaksanakannya. Untuk
makan, saya membawa satu termos cae dan biscuit, selama 3 hari, itulah yang
saya makan dan minum. (Kita bisa bayangkan sebesar apa termos cae). Malam hari
pun saya harus berkali kali bangun karena lingkungannya hutan, saya khawatir
ada ular dan kalajengking. Bagaimana Mia masroor mengemban tugas wakaf yang
diberikan kepada beliau.
8. Bagi seorang wakaf waktu untuk
berkhidmat bukanlah dari jam 8 sampai jam 4 , melainkan 24 jam dalam sehari.
Jadwal kegiatan Huzur setiap harinya sbb, Huzur ABA bersabda: "Pada waktu
shubuh saya bangun untuk tahajjud, saya tidak akan beritahukan pukul berapa
saya bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud, yang pasti saya bangun cepat
untuk shalat tahajjud, setelah shalat tahajjud saya menilawatkan Al Quran, lalu
beranjak untuk shalat fajar, lalu olahraga jalan pagi, setelah itu kembali
kerumah untuk mandi, lalu sarapan, lalu saya mengambil Al Quran dan merenungkan
2,3 ayat dengan seksama, kemudian selama 4, 5 menit saya beristirahat, lalu
pergi ke kantor, dari pagi sampai tiba waktu shalat zuhur, Huzur mengerjakan
pekerjaan kantor, meeting, memberikan instruksi, petunjuk, intinya semua
pekerjaan kantor, kemudian ke mesjid untuk mengimami shalat zuhur, setelah
shalat zuhur saya pulang ke rumah, (rumah beliau tepat berada diatas kantor),
kemudian makan siang, setelah itu untuk 25, 30 menit saya istirahat, lalu ke
kantor lagi, lalu shalat ashar, kemudian ke kantor, lalu shalat magrib,
beberapa saat sebelum magrib saya ke rumah untuk minum cae, lalu pergi ke
masjid untuk shalat magrib, saya melaksanakan shalat sunat di kantor, lalu ke
kantor untuk membaca surat-surat yang datang, surat jemaat, surat kantor dan
pribadi, jika ada yang harus diberikan petunjuk. setelah itu 1 jam untuk
mulaqat, setelah itu saya pulang untuk makan malam, lalu shalat isya, setelah
shalat saya pulang kerumah untuk beberapa menit, kalau saja ada kerabat yang
datang ke rumah untuk berjumpa dengan saya, maka saya menemui mereka untuk 5,
10 menit, lalu saya kembali ke kantor sampai pukul 11, setelah itu membaca
surat kabar, bulletin jemaat, papers lain-lain atau kitab-kitab yang lain, lalu
saya tidur, dan shubuh seperti biasa bangun untuk tahajjud.
Semoga kita diberikan taufik untuk bisa
menjadikan Khalifah waqt sebagi model dalam kehidupan kita, mendengar
nasihat-nasihat beliau dengan penuh kecintaan, dan berupaya untuk memiliki
sikap-sikap itu didalam diri kita dan putra putri kita, sehingga Allah Ta’ala
ridlo kepada kita. Amin
Terjemah :MahmudWardi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar