Selasa, 27 Mei 2014

Meraih Takwa Dengan Puasa


Diantara tujuan puasa adalah agar seseorang mencapai tingkatan takwa sebagaimana firman Allah Ta’aala: 
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). 

Orang yang bertakwa adalah orang yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan sebagaimana sabda Nabi -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya serta kebodohan, Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya).” (HR. Bukhari).

Orang yang berpuasa apabila terlintas dalam dirinya keinginan untuk berbuat kemaksiatan, ia segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia-pun segera menghindari kemaksiatan tersebut.

Orang yang sedang berpuasa tidak akan membalas kebodohan dengan kebodohan dan caci maki dengan caci maki, ia sadar bahwa orang yang berpuasa harus sanggup menguasai diri dan emosinya.

Pada akhirnya apabila seseorang berpuasa sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, pasti ia menjadi orang yang bertakwa dan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Puasa Adalah Bukti Iman dan Cinta Kepada Allah

Puasa adalah ibadah kepada Allah, yaitu seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan perkara-perkara yang disukai, dicintai dan diinginkannya daripada makanan, minuman dan syahwat hawa nafsu sehingga tampak jelas kejujuran imannya, kesempurnaan penghambaannya kepada Allah dan kekuatan cintanya serta pengharapannya atas apa yang ada di sisiNya. Seseorang tidak mungkin meninggalkan apa yang dicintainya kecuali disebabkan sesuatu yang lebih agung baginya dari apa yang ditinggalkannya tersebut.

Seorang mukmin rela meninggalkan syahwat nafsu yang dicintainya dan sangat diinginkannya demi untuk mendapatkan ridha Rabbnya karena ia meyakini bahwasanya ridha Allah ada dalam berpuasa.

Oleh karena itu, banyak sekali orang mukmin yang dipaksa untuk berbuka pada bulan Ramadhan sebelum tiba waktunya bahkan sampai diancam dan dipukul, akan tetapi dia tetap tidak mau membatalkan puasanya tanpa alasan yang syar’i. Ini adalah diantara hikmah terbesar dan paling agung dari puasa.

Ramadhan…Membuka Lembaran Baru Yang Putih Bersinar…

Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru dalam kehidupan ini…Lembaran yang putih, bersih, jernih, bening, bersinar dan bercahaya…

Bersama Allah…Dengan Taubatan Nasuha dan memperbanyak amal saleh yang ikhlas serta kaaffah (total) dalam berIslam…
 
Bersama Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam…Dengan semakin berpegang teguh kepada Sunnah Beliau…
 
Bersama Kedua Orang Tua, Suami, Isteri, Anak-Anak, Karib Kerabat dan Sanak Famili…Dengan menyambung tali silaturrahmi dan berbuat baik kepada mereka…
 
Bersama Sesama…Dengan menjadikan hidup semakin bermanfaat…

Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadis Sahih).

Puasa Menghancurkan Kesombongan

Puasa yang dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam mampu menghancurkan nafsu-nafsu jahat dan meruntuhkan kesombongan sehingga menjadi tunduk kepada kebenaran dan rendah hati kepada sesama, karena banyak makan, minum dan berhubungan suami isteri membawa kepada sifat sombong, congkak, mau menang sendiri dan merasa tinggi atas orang lain dan tidak mau menerima kebenaran. Ketika seseorang bernafsu untuk makan, minum dan berhubungan suami isteri maka dia akan berusaha untuk memenuhinya, dan apabila telah mampu mendapatkannya dan memenuhinya maka akan timbul perasaan bangga yang tercela yaitu yang berdampak kepada kecongkaan dan kesombongan yang semua itu menjadi penyebab kebinasaannya. Jadi, diantara hikmah puasa adalah menghancurkan kesombongan sehingga seseorang menjadi tawadhu’ dan rendah hati. Allah dan juga manusia membenci orang-orang yang sombong dan mencintai orang-orang yang tawadhu’ dan rendah hati.

Puasa Latihan Menundukkan dan Menguasai Hawa Nafsu

Diantara hikmah puasa adalah latihan menundukkan dan menguasai hawa nafsu sehingga benar-benar tunduh dan patuh untuk dikendalikan dan diarahkan menuju kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan. Karena pada dasarnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan kecuali yang dirahmati Allah. Isteri Al-Aziz yang menggoda Nabi Yusuf -Alaihis Salam berkata (sebagian Ahli Tafsir mengatakan bahwa ini adalah ucapan Nabi Yusuf -Alaihis Salam) : 

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53).

Apabila nafsu dilepaskan dan tidak dikendalikan pasti akan menjerumuskan seseorang ke dalam kehinaan, kebinasaan dan kesengsaraan. Namun, apabila dikendalikan dan ditundukkan pasti seseorang akan mampu membawanya menuju derajat dan kedudukan yang tinggi lagi mulia.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”/i] (QS. An-Naazi’aat: 37-41).
[i]“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (kacau dan sia-sia).” (QS. Al-Kahfi: 28).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib -Radhiallahu ‘Anhu mengatakan: “Medan pertama yang harus kamu hadapi adalah nafsumu sendiri. Jika kamu menang atasnya maka terhadap yang lainnya kamu lebih menang. Dan jika kamu kalah dengannya maka terhadap yang lainnya kamu lebih kalah. Karena itu, cobalah kamu berjuang melawannya dahulu.”
Seseorang meminta nasehat kepada orang saleh: “Berilah aku nasehat”. Orang saleh tersebut menjawab: “Nafsumu! Jika kamu tidak menyibukkannya dengan yang positif pasti dia akan menyibukkan kamu dengan yang negatif.”

Puasa Menumbuhkan Kepedulian

Dengan berpuasa, orang kaya akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya berupa kekayaan dan kecukupan sehingga dia tidak pernah kekurangan makan, minum, menikah dan lainnya, padahal banyak orang yang tidak mendapatkan dan merasakan nikmat seperti itu. 

Dengan demikian orang kaya tersebut akan memuji Allah dan bersyukur kepadaNya atas kemudahan yang diberikan kepadanya. Orang kaya tersebut juga teringat saudaranya yang fakir miskin, yang adakalanya merasakan kelaparan sepanjang hari dan malam karena ketidakmampuannya. Hal ini menjadikan orang kaya tersebut terdorong dan termotivasi untuk membantunya dengan bershadaqah agar terpenuhi kebutuhannya berupa sandang, pangan dan papan.

Oleh karena inilah, Rasululah -Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanan Beliau bertambah ketika datang bulan Ramadhan, yaitu ketika berjumpa Malaikat Jibril -Alaihis Salam yang mengajarkan kepada Beliau Al-Qur’an.

Dengan Puasa Hati Jernih Untuk Berpikir dan Berdzikir

Diantara hikmah puasa adalah agar supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran karenanya.

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Imam Ahmad dll).

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.
Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani -Rahumahullah: “Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya.”


Ramadhan…Bulan Pendidikan Ruhaniah

Ramadhan mengantarkan kita lebih dekat kepada Allah. Dengan puasa kita menjadi orang yang paling dicintai Allah. Puasa melatih kita meninggalkan sikap egois kita dan bukan memperkuatnya. Puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan, dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita. Sebuah penelitian di Barat menyebutkan bahwa orang yang berpuasa akan lebih tajam pikirannya sehingga mampu menangkap pesan-pesan moral wahyu Ilahi. Orang dewasa adalah orang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ruhaniahnya, bukan kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya. Itulah orang yang sudah sangat dewasa…

Jumat, 16 Mei 2014

APAKAH CANDAH ADA DASARNYA DALAM ISLAM ?


Dalam menanggapi keberatan dari penanya dalam acara Rah e Huda live MTA, penanya menanyakan:”Apakah candah dalam jemaat Ahmadiyah, ada dasarnya dalam Islam atau sunnah Rasul SAW?”
Mufti Silsilah Ahmadiyah menjawab sbb:
Kenapa nabi datang di dunia ini? Mereka datang bukan untuk bersenang senang, tapi seperti halnya besi ditarik oleh daya magnet, begitu juga ketika sebagian besar umat manusia rusak, maka para nabi Allah berfungsi seperti magnet tadi dan pada saat itu, diantara orang-orang yang memiliki fitrat baik, mereka akan terus ditarik oleh kekuatan magnetis yang dipancarkan oleh nabi tersebut berdasarkan hudan lil muttaqiin. lalu untuk lebih memperkilat ketakwaan mereka dan untuk lebih menambah kualitas keindahan mereka, maka siang malam para nabi menggalakan nizam pengorbanan kepada mereka.
Lihatlah ayat pertama pada juz ke 4 Al Quran karim, berfirman : lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun artinya wahai orang-orang Islam, apapun yang kamu lakukan, tidak akan membuatmu meraih maqom kebaikan, sebelum kalian mengorbankan sesuatu yang kamu cintai dihadapan Allah Ta’ala.
 Sedemikian hebatnya para nabi menggerakkan umatnya untuk memberikan pengorbanan harta, sampai-sampai Al-Quran Karim mengatakan: Karena sering mendengarkan gerakan pengorbanan harta dalam umat Islam, sehingga orang musyrik berkata:”Innallooha faqiirun wa nahnu aghniyaaSesungguhnya Tuhan itu miskin dan kita kaya? Berarti kita memberikan pengorbanan di jalan Tuhan karena kita kaya? (sindiran dari kaum musyrikin kepada umat Islam) Kalaulah memang Rasulullah SAW tidak gencar dan dawam  memerintahkan umat muslim untuk memberikan pengorbanan harta, maka tidak akan mungkin orang-orang musyrik akan berkata seperti itu (Satu bukti bahwa Rasulullah terus menerus menggalakan umatnya untuk melakukan pengorbanan harta).
 Didalam islam candah (iuran) terbagi menjadi 2 macam, pertama candah yang hanya di terima dari orang-orang  kaya, dalam istilah syariat Islam disebut dengan istilah zakat (silahkan jelaskan sendiri pengertian zakat dan contohnya). Sedangkan Candah jenis yang kedua adalah candah yang diambil dari keduanya baik si miskin ataupun sikaya. Misalnya, jika dalam satu kesempatan ada orang mustahiqqiin datang, maka Hazrat Rasulullah saw segera mengumpulkan para sahabat di mesjid Nabawi dan memerintahkan mereka untuk memberikan candah. Jika ada sesuatu yang diperlukan untuk persiapan berperang, maka beliau saw segera mengumpulkan para sahabah dan memerintahkan untuk membayar candah berapapun, sesuai dengan kemampuan. Bahkan dalam satu kesempatan dalam menghadapi peperangan, persediaan bahan makanan yang ada pada para sahabat hari demi hari semakin menipis, bahkan pada sebagian sahabat bahan makanan benar-benar hampir habis, beliau SAW menggelar (mungkin kain) di tanah lalu bersabda:” Apapun yang kalian miliki, kumpulkan kesemuanya disini.
Jadi, pada saat diperlukan pengorbanan harta, keperluan apapun yang diperlukan oleh Islam lalu memerintahkan anggota jamaah untuk memberikan pengorbanan, hal tersebut merupakan keitaatan dan tidak bertentangan dengan suunah Rasulullah dan para sahabat. Satu hal, ada istilahnya pengaturan, apapun keperluan yang timbul, sesuai dengan kondisi, maka sang Imam dalam sebuah jamaah akan menggalakan pengorbanan untuk memenuhi keperluan tersebut. Pada zaman khulafa Rashidiin, sesuai dengan kondisi yang timbul mereka menciptakan kerangka pengaturan dengan berpedoman pada contoh dan sesuai petunjuk dari sunnah rasulullah SAW.
Sebagai contoh: masa kekhalifahan hazrat Umar adalah masa ke khalifahan yang paling lama. Dalam kehidupan beliau telah sedemikian banyak terjadi perubahan dalam hal pengaturan. Jika kita menyimak buku-buku sejarah bahwa gerakan-gerakan yang pertama kali dicetuskan oleh Hazrat umar disebut dengan istilah awwaliyyati umar yakni hal-hal yang tidak di jumpai pada zaman Hazrat Abu Bakar dan tidak juga terjadi pada zaman Rasulullah saw, tapi dasarnya ada dan dijumpai pada zaman Rasulullah.
Begitu juga Hazrat Masih mauud as dan para khulafa setelah beliau as, ketika muncul berbagai keperluan, misalnya: Jika ingin memenangkan Islam dari segi dalil-dalil di muka bumi, tentunya kita harus menyebarkan Al Quran Karim kepada orang-orang di seluruh dunia yang sudah diterjemahkan dalam bahasa mereka sendiri, jika kita tidak memiliki kekuatan harta, maka dari mana kita akan memenuhi kebutuhan orang-orang yang akan menerjemahkan Al Quran karim tersebut? lalu untuk pengeditan, pencetakan dan penyebarannya (artinya ada keperluan yang harus dipenuhi).
 Contoh lain, kita harus mendirikan mesjid di seluruh pelosok dunia, lantas berapa dana yang akan dibutuhkan, lalu menyebarkan buku-buku, mengadakan tabligh islam, tarbiyat, acara-acara, sekarang lihatlah MTA, berapa dana yang diperlukan untuk mendanai MTA ini? untuk tujuan itu telah diciptakan satu nizam tetap yang sangat terkoordinir, Walhasil, menciptakan satu pengaturan yang terkoordinir sesuai dengan petunjuk, ajaran dan sunnah Rasulullah saw, bukanlah sesuatu hal yang layak untuk diprotes.
Misalnya pengaturan pasukan perang, pada zaman Rasulullah saw tidak ada pengaturan pasukan secara tetap dan terkoordinir, tapi pada zaman khalifah Umar telah dibuat satu pengaturan tetap untuk mengatur hal itu, telah dibuat asrama pasukan, sistem pemberian cuti, jika setelah sekian lama bertugas mereka akan mendapatkan cuti, sekarang apakah ada orang yang berani mengatakan bahwa gerakan yang dicanangkan oleh khalifah Umar tadi bertentangan dengan syariat. Intinya telah diciptakan satu kerangka pengaturan Berdasarkan petunjuk dan sunnah  Rasulullah saw.

BOLEHKAH ANAK AHMADI BELAJAR NGAJI PADA ULAMA GHAIR?

BOLEHKAH ANAK AHMADI BELAJAR NGAJI PADA ULAMA GHAIR?

Dalam acara Majlis Irfan, seorang khadim bertanya kepada Hazrat Khalifatul masih Ar Rabi ra :” Jika kita  tidak bias shalat dibelakang ghair ahmadi,  apakah kita bias belajar Al-Quran karim pada ulama ghair ahmadi? Jika memang bias belajar kepada mereka, kenapa diantara kedua peraturan itu ada perbedaan (shalatdan ngaji)?”
Jawab:
Huzur:”Kenapa ahmadi tidak boleh shalat dibelakang ghair ahmadi, Anda tahu?”
Khadim:”Karena dibelakang,mereka menentang jemaat”
Huzur:”Bukan itu yang menjadi permasalahan”
Huzur:”Apakah anda mengimani Hazrat Masih Mauud as sebagai Imam mahdi atau tidak?”
Khadim:”Ya Huzur”
Huzur:”Yakin?”
Khadim:”Yakin Huzur”
Huzur:Siapa yang menjadikan Imam?
Khadim:”Allah Ta’ala”
Huzur:”Allah Ta’ala yang menjadikannya atau jadi dengan sendirinya?
Khadim:”Tidak, Allah Ta’ala”
Huzur:”Orang yang berani mengingkari imam yang telah ditunjuk oleh Allah Ta’ala lalu mengatakan bahwa orang itu (yang mendakwakan itu) adalah pendusta, apakah orang seperti itu bias menjadi imam? Simple saja masalahnya. Lain halnya dengan mengajar Al-Quran Karim, didalamnya tidak terdapat pendakwaan seperti itu. Itu (Al-Qur’an Karim) adalah kalam Ilahi, siapa saja yang memahami bahasa arab dia bisa mengajarkannya. Dalam hal ini (mengajarAl-Quran Karim) tidak ada kaitannya dengan imamat (keimaman) dan ghair imamat (bukan perkara keimaman). Sedangkan didalam perkara shalat, ada (masalah keimaman).
Tapi Didalam pengajaran Al-Quran oleh ulama ghair terdapat resiko yang membahayakan. Orang yang belajar Al-Quran kepada ulama ghair, didalamnya akan dijumpai banyak sekali terjemahan yang menyimpang dari akidah kita dan meskipun nyata-nyata terjemahannya salah, tapi tetap saja digunakan oleh para Maulwi ghair. Seperti contoh masalah kewafatan Isa al-Masih atau banyak lagi ayat-ayat lainnya yang secara sengaja diajarkan terjemahan yang salah kepada anak kita dan disisi lain orang tua si anak tidak punya waktu luang untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Selain itu,banyak sekali ayat Al-Quran yang dia sendiri (si guru ngaji itu) tidak memahami mafhumnya, memang mereka akan menerjemahkan ayat tersebut secara perkata, tapi maknanya tidak akan didapati. Jika orangtua menyuruh anak-anaknya belajar Al-Quran kepada ulama yang seperti itu lantas merasa senang karena anak saya telah belajar Al-Quran, ini merupakan perkara yang rendah. Sebenarnya, benarkah dia sudah mempelajari topik yang ada dalam al-Quran atau belum? Hal inilah yang perlu dibahas. Karena itu beberapa keluarga ahmadi merasa senang dengan perkara yang imitasi seperti itu, bahwa anak kita telah belajar Al-Quran dan telah sampai pada level berikutnya. Silahkan test anak-anak kita berkenaan dengan ayat-ayat yang sulitdan ayat ayat yang didalamnya terdapat pertentangan, lantasan dia akan mengetahui sampai dimanakah anak kita telah mempelajari Al Qur’an?
Banyak sekali ayat yang tidak direnungkan oleh para ulama kita juga, sehingga mereka tidak memahami bahasan yang terkandung didalamnya. Karena itu, sekarang sangatlah mudah, saya sendiri telah memulai kelas-kelas pelajaran terjemah  Al Quran Karim, sebagian besarayat Al Quran telah kita pelajari dan pelajaran-pelajaran itu bisa diperoleh dalam bentuk audio maupun video. Kenapa orang tua tidak mengambil manfaat dari audio video tersebut? Sehingga mereka sendiri pun bisa mempelajarinya untuk selanjutnya diajarkan pada anak-anak mereka. Karena itu, yang perlu mendapatkan pengawasan adalah mereka (orangtua) tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan pekerjaan duniawi lalu menyerahkan anak-anak nya kepada para ulama ghair sehingga mereka terbebas dari beban itu. Cara-cara seperti inilah yang sangat merugikan dan berbahaya.
Diterjemahkan bebas oleh Mahmud Ahmad Wardi

BOLEHKAN WANITA AHMADI KARATE

 BOLEHKAN WANITA AHMADI KARATE


Dalam soal jawab Huzur tahun 1991 di New Delhi, India, ada seorang ahmadi bertanya:
Penanya:Huzur!Saya adalah seorang guru karate, murid saya terdiri dari pria dan wanita. Jika ada wanita ahmadi (lajnah) yang ingin belajar karate kepada saya, bolehkah?

Huzur: Para wanita ahmadi memiliki batas-batas, mereka tidak bisa mendapatkan itu (belajar karate-pent) dengan melompati batas-batas tersebut. Untuk itu ketika diPakistan  kami perintahkan kepada para wanita (ahmadi) yang mahir beladiri untuk mengajarkan beladiri pada para wanita lagi. Cara yang terbaik untuk mengawalinya adalah ajarkan beladiri (karate/judo) kepada anak-anak perempuan ahmadi yang belum baligh dan itu juga yang dipraktekkan di Eropa.Cara demikianjustru bisa memberikan hasil yang terbaik. Apakah itu laki laki ataupun perempuan, jika mereka diberikan pelatihan beladiri sejak usia dini (anak-anak),maka akan memberikan hasil yang terbaik dibandingkan jika dilatih pada usia dewasa. Begitu juga keterampilan-keterampilan  jasmani lainnya, jika diberikan pelatihan sejak dini, makaakan memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu,silahkan anda ajarkan karate pada anak-anak perempuan ahmadi dan setelah mereka mahir nantinya, mereka bisa mengajarkannya pada kakak-kakakmereka, ibu, saudara mereka. 

Penanya:kira-kira mulai dari usia berapa diajarkannya, Huzur?
Huzur: Saya katakan tadi “ketika usia belum baligh”.
Terjemah bebas: Mahmud Wardi

BOLEHKAH ANAK AHMADI BELAJAR NGAJI PADA ULAMA GHAIR?




DalamacaraMajlisIrfan, seorangkhadimbertanyakepadaHazratKhalifatulmasihAr Rabi ra :” Jika kita tidak bisa shalat dibelakang ghair ahmadi, apakahkitabisabelajarAl-Quran karim pada ulamaghairahmadi?Jikamemangbisabelajarkepadamereka, kenapadiantarakeduaperaturanituadaperbedaan (shalatdanngaji)?”
Jawab:
Huzur:”Kenapaahmaditidakbolehshalatdibelakangghairahmadi,Andatahu?”
Khadim:”Karenadibelakang,merekamenentangjemaat”
Huzur:”Bukanitu yang menjadipermasalahan”
Huzur:”ApakahandamengimaniHazratMasihMauud as sebagai Imam mahdiatautidak?”
Khadim:”YaHuzur”
Huzur:”Yakin?”
Khadim:”Yakin Huzur”
Huzur:Siapa yang menjadikan Imam?
Khadim:”Allah Ta’ala”
Huzur:”Allah Ta’alayang menjadikannyaataujadidengansendirinya?
Khadim:”Tidak, Allah Ta’ala”
Huzur:”Orang yang beranimengingkari imam yang telahditunjukoleh Allah Ta’alalalumengatakanbahwaorangitu(yang mendakwakan itu) adalahpendusta, apakahorangsepertiitubisamenjadi imam?Simple sajamasalahnya.Lain halnyadenganmengajarAl-Quran Karim,didalamnyatidakterdapatpendakwaansepertiitu.Itu (Al-Qur’an Karim)adalahkalamIlahi, siapasajayang memahamibahasaarabdiabisamengajarkannya. Dalamhalini(mengajarAl-Quran Karim) tidakadakaitannyadenganimamat(keimaman) danghairimamat (bukanperkarakeimaman).Sedangkandidalamperkarashalat, ada (masalahkeimaman).

TapiDidalampengajaranAl-Quran olehulamaghairterdapatresikoyang membahayakan.Orang yang belajar Al-Quran kepadaulamaghair, didalamnyaakandijumpaibanyaksekaliterjemahan yang menyimpangdariakidahkitadanmeskipunnyata-nyataterjemahannyasalah,tapitetapsajadigunakanolehparaMaulwighair. Seperticontohmasalahkewafatan Isa al-Masihataubanyaklagiayat-ayatlainnya yang secarasengajadiajarkanterjemahan yang salahkepadaanakkitadandisisilainorangtuasianaktidakpunyawaktuluanguntukmemperbaikikesalahan-kesalahanitu.Selainitu,banyaksekaliayatAl-Quran yang diasendiri (si guru ngajiitu) tidakmemahamimafhumnya, memangmerekaakanmenerjemahkanayattersebutsecaraperkata, tapimaknanyatidakakandidapati. Jikaorangtuamenyuruhanak-anaknyabelajarAl-Qurankepadaulama yang sepertiitulantasmerasasenangkarenaanaksayatelahbelajarAl-Quran, inimerupakanperkara yang rendah.Sebenarnya,benarkahdiasudahmempelajari topik yang adadalam al-Quran ataubelum?Hal inilah yang perludibahas.Karenaitubeberapakeluargaahmadimerasasenangdenganperkara yang imitasisepertiitu,bahwaanakkitatelahbelajar Al-Quran dantelahsampaipada level berikutnya.Silahkantestanak-anakkitaberkenaandenganayat-ayat yang sulitdanayat ayat yang didalamnyaterdapatpertentangan, lantasandaakanmengetahuisampaidimanakahanakkitatelahmempelajariAl Qur’an?
Banyaksekaliayat yang tidakdirenungkanolehparaulamakitajuga, sehinggamerekatidakmemahamibahasanyang terkandungdidalamnya.Karenaitu, sekarangsangatlahmudah, sayasendiritelahmemulaikelas-kelaspelajaranterjemah Al Quran Karim, sebagianbesarayat Al Quran telahkitapelajaridanpelajaran-pelajaranitubisadiperolehdalambentuk audiomaupun video. Kenapaorangtuatidakmengambilmanfaatdari audio video tersebut?sehinggamerekasendiri pun bisamempelajarinyauntukselanjutnyadiajarkanpadaanak-anakmereka.Karenaitu, yang perlumendapatkanpengawasanadalahmereka(orangtua) tidakmemilikiwaktuluangkarenasibukdenganpekerjaanduniawilalumenyerahkananak-anaknyakepadaparaulamaghairsehinggamerekaterbebasdaribebanitu. Cara-carasepertiinilahyang sangatmerugikandanberbahaya.

Diterjemahkanbebasoleh Mahmud Ahmad Wardi