Rabu, 05 Juni 2013

Kematian Pasti Akan Datang



Saudara & saudari Seiman-ku, Mari kita buka mata hati Kita, sudahkah diri ini sadar, bahwa kita benar-benar sementara di dunia ini. Bisakah kita merenungkannya sedalam-dalamnya, apa yang telah kita capai, apa yang telah kita perbuat selama ini. Pernahkah kita melihat diri kita sendiri, melihat kekurangan yang kita miliki, serta dosa-dosa yang telah kita lakukan. ALLAH..........kita hanya sementara berada di dunia ini. Renungkanlah wahai saudara dan saudariku, pernahkah kita benar-benar memahami hidup ini. Jika sekejap saja kita telah lupa oleh kenikmatan dunia yang fana ini, kita terpedaya oleh duniawi ini, bahwa sesungguhnya Kita akan menghadap kehadirat ALLAH , siapkah kita?sanggupkah kita? cukupkah bekal kita??ALLAH... renungkanlah sedalam-dalamnya . Kematian datang tak menunggu taubat kita, kematian datang dengan tiba-tiba dan kematian sungguh sangat dekat. Marilah saudara dan saudariku, marilah diri ini mengajak...untuk kita selalu merenungkan hidup ini. Jadilah kita hamba-Nya yang diridhoi oleh-Nya, Iman dan takwa ini yang menentukan kita di akhirat kelak. Hidup hanya mampir sebentar, yaitu hanya untuk mencari bekal untuk kita di akhirat kelak.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati..." (Ali 'Imrân [3] : 185)

"Katakanlah 'sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu" (Al-Jumu'ah [62] : 8)

"Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu)." (Al-Alaq [96] : 8)

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkanya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukanya." (Al-A'raf [5] : 34)

Hidup di dunia ini hanyalah sementara, kehidupan di ahiratlah sebenar-benarnya hidup. Ini bukti firman Allah yang sungguh nyata.
saya teringat ucapan Bpk. H Mohammad raffi. beliau mengatakan,
Hidup itu jangan seimbang (dunia & akhirat) .beliau mengibaratkan kehidupan itu seperti halnya 2 kaki yang menaiki sebuah kapal perahu. yakni kaki kanan naik di perahu A (dunia) dan kaki kiri  naik di perahu B (Akhirat). jika kedua-duanya menaiki perahu itu kemudian ditengah laut misal terjadi arus yang sangat dasyat. apa yang akan terjadi?  kemungkinan terbesar ialah kita akan terjerumus ditengah 2 kapal itu. jadi mari kita perbanyak bekal buat kehidupan di Akhirat nanti.



Selasa, 04 Juni 2013

CINTA YANG HAKIKI


Para Khudam dan Li Yang Di Mulyakan Allah SWT. coba kita renungkan bersama,
Ketika kita memandang langit yang luas..........memandang dalamnya samudera yang tak mampu mata ini mencapainya. Pernahkah kita sejenak saja untuk memaknainya dan merenungkannya, bahwa Allah telah memberikan kita anugerah-Nya berupa kehidupan  untuk kita di dunia. Semua itu karena cinta-Nya pada kita, Allah memberikan semuanya untuk kita dunia beserta isinya. Apakah kita sadar bahwa semua ini adalah pemberian-Nya yang tidak ternilai. Cinta dari-Nya yang tak mampu kita membalasnya, mengapa semua pemberian dari-Nya kita terima, sedangkan Dia Sang Pemberi kita abaikan. Kita hanya bisa menerima tetapi kita tidak mau memberi balasan untuk-Nya. Allah mencintai kita, tetapi mengapa kita lebih mencintai  pemberian-Nya, yaitu adalah duniawi beserta isinya ini. Bukankah kita harus mencintai Sang Pemberi daripada pemberian-Nya.
      Allah selalu ada untuk kita di setiap waktu yang Dia berikan untuk kita, Allah tidak pernah meninggalkan kita di dalam keadaan apapun. Di saat kita tersenyum bahagia dan di saat kita meneteskan air mata kesedihan, Allah senantiasa ada untuk kita. Karena Allah begitu dekat dengan kita, melebihi urat leher kita sendiri,  Sungguh beruntunglah kita jika kita mampu menyadarinya. Sebenarnya diri kitalah yang menjauh dari-Nya karena kita lupa pada-Nya karena cinta kita pada dunia yang fana ini. Atas dosa yang kita perbuat, tanpa kita mau mengakuinya dan bertaubat kepada-Nya membuat diri kita semakin jauh pada-Nya, sekat dosa menjadi penghalang kedekatan diri kita ini pada-Nya.
      Mencintai dunia sehingga kita terlarut oleh nafsu yang menggelincirkan diri kita ke dalam jurang nista, sungguh sejatinya kita merugi karena dunia ini hanyalah sementara dan tak lain hanyalah sebuah fatamorgana. Jika kita mencintai dunia ini, maka sulit kita untuk mencintai Allah. Dunia ini membutakan mata hati kita, dan kemudian dunia ini akan meninggalkan serta memusnahkan kita. Tetapi jika kita mencintai Allah, dunia ini akan mendatangi kita. karena Allah sendiri yang akan memberikan dunia ini pada kita. Karena Allah yang menciptakan dunia ini beserta isinya.
       Cintailah Allah, di setiap nafas yang kita rasakan ini, Di setiap mata memandang dan kaki yang berpijak di situlah wajah Allah. Meresapi dan memaknai bagaimana Dia mencintai kita tanpa batasan, Dia-lah yang pantas kita cintai dengan sepenuh hati, dengan perjuangan dan pengorbanan yang kita miliki. Bahagialah diri kita mencintai-Nya hingga akhir hayat hidup kita.
 
       Semoga kita menyadarinya, bahwa cinta yang hakiki dan sejati itu adalah cinta kita untuk-Nya, cinta yang tak terpisahkan oleh jarak, ruang dan waktu. Mari kita bersama-sama untuk memahami arti cinta yang hakiki. Tak ada yang abadi selain Allah, maka cinta-Nya-lah yang abadi.
      Ingatlah selalu, bahwa Dia tak pernah meninggalkan kita di dalam keadaan apapun.
 


Allah .......Pada-Mu lah cinta kami berlabuh, kami tak mampu menjalani hidup, tanpa Cinta dan kasih sayang-Mu. Di saat kami bersedih dan tersenyum Engkau selalu ada menyertai kami. Sungguh malu dan tak tahu diri  kami ini pada-Mu.... Izinkanlah kami mencintai-Mu seumur hidup kami, sampai kami menghadap ke hadirat-Mu Ya Allah.


Semoga bermanfaat untuk kalian saudara-saudara Se-Imanku, bahwa cinta yang hakiki itu cinta kita pada Allah. Tulisan ini adalah suara hati yang di berikan Allah kepada saya dan adalah sebuah realita, sungguh tak berdaya diri ini tanpa-Nya. Allah adalah cinta seumur hidup saya.



sejauh mana kita bersyukur?

Para Khudam dan Li yang Budiman,

Maha Suci ALLAH .........dengan ridho dan izin-Nya kita dapat melihat dunia ini dan dengan nafas yang kita rasakan, kita dapat hidup di dunia ini. Alhamdulillah, sangat bersyukur kita kepada-Nya atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya yang sungguh tiada berbatas.
Di antara luasnya langit yang tak bertepi membuat kita takjub atas kebesaran-Nya, yang membuat mata hati kita semakin melihat dengan jelas anugerah Allah yang di berikan-Nya kepada makhluk-Nya. Hanya rasa syukur pada-Nya yang bisa kita berikan untuk membalas anugerah yang telah di berikan-Nya di dalam hidup kita. Rasa syukur yang berbentuk sebuah realisasi di dalam kehidupan yang kita jalani, adalah pengabdian penuh pada-Nya. Kebaikan serta kebenaran dari-Nya yang kita terapkan di dalam kehidupan kita.
Seringkali kita menjumpai di antara kita yang masih belum dipahamkan, apa itu syukur ?dan bagaimana cara  bersyukur yang sebenarnya? Syukur adalah memberikan pujian kepada yang memberi  kenikmatan yang telah diberikan untuk kita. Karena yang senantiasa memberikan kita kenikmatan hanyalah Allah melalui perantara hamba-Nya, adalah sebuah ungkapan rasa terima kasih kita  kepada Allah yang telah memberikan anugerah-Nya.Cara kita bersyukur yang sebenarnya adalah bagaimana kita bisa membalas atas anugerah yang telah kita dapatkan ini dengan menyenangkan atau dapat membuat senang kepada sang pemberi kenikmatan. Karena Sang pemberi kenikmatan itu adalah Allah, maka bagaimana caranya Allah senang terhadap timbal balik yang akan kita berikan atas anugerah dari-Nya. Itulah makna syukur yang sebenarnya, akan kita dapatkan ketika kita mampu memahami dan memaknai hidup ini, dengan berpikir dan merenung atas anugerah serta nikmat pemberian Allah yang kita rasakan. Mampukah kita melakukannya? bertanyalah kita, pada diri kita masing-masing, apa kita sanggup melakukannya serta melaksanakannya. Sungguh tak ada yang tak mungkin jika Allah yang berkehendak, jika kita mau berusaha untuk melaksanakannya maka Allah akan memberikan kemudahan, sangat bahagialah Allah, karena kita telah berusaha membalas nikmat dari-Nya dengan rasa syukur yang kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan kekuatan niat dan kesungguhan hati karena Allah, jiwa dan raga kita akan mampu mewujudkannya dan menerapkannya. Modal dari niat kita adalah sebuah keikhlasan dan kesabaran yang benar-benar Lillahi Ta'ala. Tak ada yang bisa menghalangi kekuatan niat kita kecuali Allah, betapa luar biasanya kekuatan niat dan kesungguhan hati karena Allah.
Sungguh indahnya hidup kita, jika kita bisa mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah di dalam hidup kita. Kita akan merasa cukup dan puas atas pemberian dari-Nya, tanpa kita mengeluh serta merasa kurang sehingga membuat kita kufur nikmat atas segala pemberian dari-Nya. Hidup di zaman modern saat ini, memanglah sulit untuk kita mendapatkan hidayah dari-Nya, karena semuanya sudah dilandasi dengan nafsu duniawi. Yang telah membutakan mata hati kita, untuk terus selalu mencari kesenangan duniawi yang tiada habisnya. Dengan Agama yang di bawa oleh Rasulullah-lah dan dibawah Murid yang sangat cinta kepada beliau yaitu Hz Mirza Ghulam Ahmad as. kita bisa menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Semoga tulisan yang saya ketik ini, menjadi manfaat bagi pembaca serta diri saya pribadi. Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai 'Hamba-Nya Yang Ahli Bersyukur' . Aamin Ya Robbal 'Alamiin. Syukron


sebuah kebenaran dan kebaikan


Bismillahirrohmanirrohiim....................................
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Saya awali semua ini dengan kalimah suci untuk Sang Maha Agung. Dialah Allah SWT, karena hidayah  dari-Nya lah saya di beri kesempatan untuk menuliskan tentang sebuah kebenaran dan kebaikan dari-Nya ( Allah Azza Wajalla )

Para khudam, Li dan semua yang membaca Tulisan ini.
Ini adalah tentang sebuah perjalanan hidup yang benar-benar dialami dan semoga menjadi hidayah serta hikmah bagi kita semua.
Ketika kita lahir ke dunia ini Allah telah menetapkan surat-Nya yang berisi Rezeki, jodoh dan kematian yang tersimpan di dalam di lauhul mahfud-Nya. Allah telah menuliskan-Nya sebelum kita lahir ke dalam dunia ini.
Allah menciptakan kita dari rahim utusan-Nya yang sangat mulia, Dialah malaikat yang penuh kasih sayang , kesabaran dan keikhlasan yang kita sebut dengan nama 'Ibu' . Dari rahim beliaulah kita di lahirkan ke dalam dunia ini. Di saat itu kita tak akan ingat dan tahu bagaimana kita bisa lahir ke dalam dunia ini. Subhanallah ...
Kita juga tak mengerti apa-apa, tak membawa apa-apa dan begitu lemah tak berdaya apa yang sedang terjadi di saat kita lahir. Sungguh Maha Agung Allah, jika di saat itu kita bisa mengerti, apa yang akan terjadi? Tak bisa kita memikirnya dengan akal logika kita, itulah sejatinya manusia. Manusia lahir ke dalam dunia dengan ketidak berdayaan, lemah dan tak memiliki apa-apa. Sungguh kesejatian manusia. Beriring dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit kita di beri akal oleh Allah untuk berpikir dan di beri hati untuk merasakan sebuah perasaan. Semuanya melalui sebuah proses dan waktu yang terus berkurang. Lewat tangan kedua malaikat-Nya kita di asuh, kita dibimbing, dituntun, dlindungi serta di beri kasih sayang yang tiada berbatas. Begitu besarnya kasih sayang mereka dan perjuangan mereka yang tak terukur sepanjang masa. Kedua malaikat itu adalah 'Ayah dan Ibu' kita. Sungguh tiada yang bisa menggantikan posisi mereka di dalam hidup serta bathin kita. Allahu Akbar.......
Akal serta pikiran yang diberikan Allah kepada kita itu adalah sebuah anugerah untuk kita berpikir bagaimana menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, itulah pilihan akan digunakan untuk apa pikiran kita ini.
Tetapi tak semuanya bisa kita pikirkan dengan akal kita, karena akal kita di beri keterbatasan oleh Allah. Apakah sanggup akal kita memikirkan kebesaran Allah? tak akan mampu kita memikirkannya. Maka dari itulah Allah memberikan kita hati nurani dan bathin agar kita bisa menerimanya, menerima tentang sebuah kebesaran Allah. Dari sinilah saya akan menyimpulkan tentang sebuah perjalanan hidup saya, perjalanan hidup yang penuh dengan sebuah perjuangan. Yang begitu terasa ketika Allah membuka mata hati saya seluas-luasnya. Dari perjalanan hidup inilah saya memperoleh banyak sekali hidayah dan ilmu yang tak tertuliskan  dari-Nya melewati sebuah peristiwa dan keajaiban yang saya dapatkan. Saya dipahamkan oleh-Nya tentang sejatinya hidup. Dan tulisan yang saya ketik ini  benar-benar adalah hidayah dari Allah.
Allah menciptakan saya ke dalam dunia ini lewat rahim seorang ibu yang sangat mulia, dan seorang ayah yang  arif dan bijaksana membimbing dan memberikan kehidupan untuk saya berupa nafkah. Merekalah kunci dari hidup saya. Karena ridho Allah terletak pada ridho mereka ,kedua orang tua kita, Apakah kita pernah memikirkannya? Apakah pernah merasakannya? Di mana akal pikiran kita? Di mana hati nurani kita? Allahu Akbar......
Perjalanan hidup yang penuh dengan makna ketika kita bisa memaknainya, penuh dengan pemahaman ketika kita bisa memahaminya. Semuanya adalah ajaran serta ilmu yang diberikan langsung oleh Allah yang di sebut dengan ilmu hikmah dan ilmu kesejatian. Allah memahamkan saya tentang dua hal yaitu ikhlas dan sabar. Dari rasa ikhlas dan sabar itu terbukalah semua ilmu yang saya dapatkan dari-Nya. Alhamdulillah ...
Jiwa dan raga saya luluh dan menyatu di dalam kekosongan di alam tiada batasan. Ujian demi ujian saya lewati dengan deraian air mata sebuah perjuangan yang penuh dengan penderitaan, yang membuat diri saya menjadi sosok insan yang benar-benar mendapatkan hidayah dari-Nya. Karena ujian serta cobaan itu adalah sebuah kasih sayang dan rasa cinta-Nya untuk kita hamba-Nya. Semakin berat ujian serta cobaan yang kita dapatkan semakin kuat pula Allah mencintai dan menyayangi kita. Derajat kita di angkat setinggi-tingginya oleh-Nya. Subhanallah ....


Maka dari ini semua saya berpesan bagi pembaca dan pada diri saya sendiri, Sayangilah penuh dengan kasih sayang, hormatilah dengan setinggi-tingginya kedua orang tua kita 'Ayah dan ibu kita'  karena ridho Allah terletak pada ridho mereka. Kasih sayang mereka yang sepanjang masa tiada bisa tergantikan oleh apapun. Sungguh sedih rasanya ketika saya harus menuliskan perjalanan ini, karena saya terpisah jarak dan waktu kepada mereka kedua orang tua saya. Berpikirlah untuk membahagiakan mereka, karena tak perlu kita menjadi kaya untuk bisa membahagiakan mereka hanya rasa ketawadhuan dan kepatuhan kita pada mereka maka hati mereka akan merasa bahagia jadilah kita anak yang bisa membanggakan mereka. Renungkanlah dalam hati kita bahwa semuanya adalah anugerah dari Allah. Rezeki, jodoh dan kematian datang tanpa kita ketahui maka persiapkanlah diri kita untuk menerimanya dengan kemantapan hati. Bersyukurlah kita kepada Allah, Cintailah Allah sepenuh hati kita dan seumur hidup kita. Karena cinta dan kasih sayang-Nya tiada berbatas.
Semoga kumpulan kata  yang  benar - benar saya dapatkan dari perjalanan Bahtera jemaat ini menjadi manfaat bagi diri pribadi dan pembaca. Jazakumullah .......


SUBHANALLAH......ALHAMDULILLAH ........ALLAHU AKBAR
Allah selalu menyertai kita dan ada untuk kita di dalam keadaan apapun


HAKIKAT HIDUP


Hz Masih Mau'ud as bersabda, Andai surga dan neraka tidak ada orang yg beriman akan tetap melakukan kebaikan karna tujuan akhir orang yang beriman itu ialah menacari keridhoan Allah SWT semata. karna  sesungguhnya surga dan neraka itu merupakan hadiah daripada keridhoan-Nya. 

ALLAH ...........Dialah Sang Maha, Maha segala-galanya. Atas kehendak-Nya lah seluruh jagat raya tertunduk dan bersujud kepada-Nya. Tak mampu akal ini menjangkaunya, karena batasan yang telah menjadi sekat dan menjadi rahasia agung atas kebesaran-Nya. Semuanya tersembunyi di balik tabir rahasia Maha Agung-Nya . ALLAHU AKBAR.


Perjalanan demi perjalanan terlewati melalui jalan yang telah dilalui, itulah sebuah kisah kehidupan. Bagaimana kita melewatinya, bagaimana kita merasakannya dan bagaimana kita bertahan untuk tetap berdiri walaupun terjatuh. ALLAH ...........Dialah segala jawaban atas semua pertanyaan yang tak mampu kita menjawabnya. Dia berdiri di atas menara logika kita, sehingga kita tak sampai untuk menggapainya.
Sejenak, marilah kita merenungkan dan merasakan apa yang telah kita lakukan di sepanjang perjalanan hidup kita, kita buka kembali lembaran yang lama yang telah banyak tertuliskan, kisah-kisah penuh duka, penuh makna, dan deraian air mata. Dengan mengingat kembali kisah perjalanan hidup kita,  maka penuh dengan harapan, kita bisa belajar, dan memahaminya. Apa sejatinya perjalanan hidup ini? itulah pertanyaan yang akan kita temukan di dalam renungan yang tersimpan di dalam hati nurani kita. Pernahkah kita memahami kejadian ataupun peristiwa yang kita alami. Apakah semuanya hanyalah sebuah kebetulan ataupun ketidak sengajaan untuk kita percaya. Ketika setangkai daun jatuh, setetes air mengalir dari mata airnya, semua ini adalah kehendak dari ALLAH, Dia yang mengatur semuanya dan hanya Dia yang mengetahuinya, sungguh Maha dari Segala Maha.
SUBHANALLAH .........di sinilah sebuah rahasia itu tersimpan, di balik akal yang tak mampu mengukurnya, itulah rahasia ALLAH. Semua kejadian ataupun peristiwa yang telah kita rasakan ini, bukanlah sebuah kebetulan, bukanlah sebuah ketidak sengajaan. Ini adalah sebuah ketetapan dan takdir dari-Nya, yang telah tertuliskan di dalam lauhul mahfud-Nya. Sungguh semua ini adalah hidayah dari-Nya untuk kita bisa memahami serta merenungkannya.
 Sejauh akal berpikir, akan menjadi sebuah malapetaka bila kita tidak menggunakan hati nurani kita untuk merenungkannya. Akal ini membuat kita tergelincir karena akal ini adalah nafsu yang akan menjerumuskan diri kita sendiri.Ibarat kita memandang ataupun melihat sebuah samudera kita tak akan mengetahui hakikat samudera itu bila kita hanya melihatnya tanpa kita menyelami dasar samudera itu. Allah memberikan kita akal pikiran untuk kita bisa mengerti dan Allah memberikan kita hati nurani untuk bisa memaknai, meresapi dan merenungkannya. Apa yang telah Allah tunjukkan kepada diri kita ini, adalah sebuah realita, bahwa kebesaran Allah dan ke Maha Agungan-Nya tidak bisa dipikirkan dengan logika kita, karena logika kita tak sampai dan tidak mampu mencapainya. jika semua ini kita resapi, kita maknai, dan kita renungkan tentu kita akan merasakan, sungguh betapa Maha-Nya Allah. Sejauh mata dunia memandang tentu mempunyai batasan, sehingga tak mampu kita melihat apa yang ada di jauh sana serta di balik materi yang menutupinya.Jika mata hati ini yang melihat dan memandang, sungguh tiada batasan jarak, waktu dan sekat yang menutupinya. Mata hati adalah sebuah mata ghaib yang yang hanyalah Allah yang bisa memberikannya kepada kita yang ada di dalam bathin kita yang tak mampu kita membahasnya karena setiap insan di berikan pemahaman berbeda-beda tentang mata hati yang di berikan Allah kepada makhluk-Nya. Jadi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, Allah itu Maha, Maha segala-galanya. Maka dari itu kita pikirkan dan kita renungkan semua ini menggunakan akal dan hati kita untuk memahaminya, untuk memaknainya serta meresapinya. Subhanallah...Alhamdulillah....Allahu Akbar...
Banyak sekali pelajaran ataupun hikmah yang harus kita resapi dan kita pahami, melewati peristiwa ataupun kejadian yang kita alami. Inilah pelajaran dan sebuah ilmu untuk kita belajar serta memahaminya, Allah memberikan kita sebuah peristiwa ataupun sebuah kejadian adalah untuk kita sadar, bahwa Allah hendak menyadarkan kita dengan kasih sayang-Nya melalui sebuah ujian dan cobaan yang diberikan-Nya ke dalam hidup kita. Sebuah ilmu yang tak tertuliskan oleh sebuah kata-kata, tak terucapkan oleh sebuah suara dan tak dapat di pahami oleh logika. Karena ilmu-Nya dapat kita terima menggunakan sebuah hati nurani yang terdalam, yang telah terbuka atas hidayah dari-Nya
Jika kita bisa menggunakan hidup kita ini dengan sebaik-baiknya, menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa pada-Nya, sungguh beruntunglah diri kita. Dan sungguh merugilah diri kita, jika hidup kita ini kita sia-siakan untuk melakukan perbuatan yang hanya untuk membuat murka Sang Pencipta ialah Allah azza Wajalla, karena Allah Maha Adil atas segala sesusatu yang diperbuat oleh makhluk-Nya
Hidup ini ibarat kita menanam sebuah pohon, Menanam dengan benih yang  baik dan menanam dengan benih yang buruk. Ketika kita bersama-sama menanamnya, apakah yang akan kita lihat? tentu tidak akan sama hasilnya.Menanam dengan benih pohon yang baik maka menghasilkan pohon yang baik pula sedangkan menanam benih pohon yang buruk, maka menghasilkan pohon yang buruk pula. Untuk menghasilkan pohon yang baik maka kita harus melihat benihnya, kemudian bagaimana cara kita menumbuhkannya, merawat serta menjaga agar benih itu tumbuh menjadi pohon yang baik. Membutuhkan sebuah perjuangan yang harus di lewati. Karena pohon yang baik, sangat istimewa dalam hal menumbuhkannya. sedangkan untuk menghasilkan pohon yang buruk ataupun kurang baik dapat kita melihat dari benih yang akan kita tanam. Jika benih itu kurang baik atau buruk, yakinlah kita, bahwa ketika kita mencoba untuk menanamnya dan  menumbuhkannya, merawat serta menjaga benih itu, hasil pohon itu tetap kurang baik ataupun buruk. Karena benih keburukan yang kita tanam tetaplah menghasilkan sebuah pohon keburukan. Inilah kehidupan, benih itu mendefinisikan sebuah perbuatan manusia. Benih itu adalah perbuatan, jika kita melakukan perbuatan yang baik, maka kita akan mendapatkan balasan yang baik pula.sedangkan jika kita melakukan perbuatan yang buruk kita akan memperoleh balasan yang buruk pula. Pahamilah semua ini dan renungkanlah,.
Allah Maha Adil, karena segala perbuatan yang kita lakukan ini. Dia-lah yang menyaksikannya. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan dan kita perbuat maka Allah akan memberikan balasan-Nya untuk kita.
Jadi kehidupan yang kita jalani saat ini, adalah sebuah pilihan. Jalan apakah yang akan kita lewati? semua jawaban berada di dalam diri kita masing-masing. Jalan kebenaran ataukah jalan kesesatan yang akan kita pilih? Semoga kita memilih jalan kebenaran yang Allah telah berikan, sehingga kita di jadikan golongan hamba-Nya yang bertakwa dan beriman pada-Nya seumur hidup kita. Aamiin Ya Robbal 'Alamiin.
(Hamba Allah - FR)

TARBIYAT


RENUNGAN
“Hati ibarat sebuah pohon, bila disiram dengan air ketaatan buahnya akan tampak jelas. Mata akan membuah kan penjagaan. Telinga akan membuahkan perhatian terhadap Alquran dan pengetahuan. Lidah akan membuahkan zikir dan ucapan yang baik. Kedua tangan dan kaki akan membuahkan amal-amal kebajikan, taat, serta sikap mau membantu orang. Sementara bila hati kering, buahnya akan rontok dan manfaatnya akan hilang.
Oleh karena itu, kalau hati sudah kering, perbanyaklah berzikir. Kunjungilah majelis orang-orang yang wara` dan bijak. Jangan seperti orang sakit yang berkata, “Saya tak mau berobat. Nanti juga akan sembuh sendiri. Pasti lama kelamaan sakitnya juga akan hilang.” Orang seperti ini harus dinasihati dengan mengatakan, “Engkau baru bisa sembuh kalau mau berobat. Tak ada jaminan penyakitnya akan hilang sebelum berusaha mencari sebab.”
Perjuangan memang tidak manis. Ia disertai oleh ujung-ujung panah dan pertumpahan darah. Berjuanglah melawan hawa nafsu agar ia mau taat. Itulah yang disebut dengan jihad terbesar.
Hati ibarat cermin, sedangkan hawa nafsu seperti asap atau uap. Setiap kali asap itu menempel di cermin, cermin itu pun akan menghitam sehingga kejernihan dan keindahannya akan pudar. Hati yang lemah tak ubahnya seperti cermin milik orang tua renta yang sudah tak punya perhatian untuk membersihkannya. Ia abaikan cermin itu dan tak pernah lagi ia pakai hingga wajahnya pun tak karuan.
Sebaliknya, hati yang mengenal Allah seperti cermin milik pengantin wanita yang cantik. Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut dan ia pakai sehingga tetap bening dan mengkilat.
Rasulullah Saw bersabda, “Hati manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api.” Betapa banyak orang mukmin yang hatinya kadang menyatu dengan Allah tetapi sebentar kemudian berpisah. Betapa banyak ahli ibadah yang menghabiskan malamnya dalam taat kepada Allah, tetapi ketika matahari menyingsing ia tak ingat lagi pada-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw berdoa, “Yaa Muqalliba al-quluub wa al-abshaar, tsabbit qalbii ‘alaa diinika wa thaa`atika.” Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu dan ketaatan kepada-Mu.

Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat. Tetapi lensanya saja. Demikian pula dengan hati. Yang dimaksud adalah bukan dagingnya. Tetapi unsur halus yang Allah hunjamkan dalamnya. Unsur itulah yang bisa memahami. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di sisi bagian kiri seperti ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani oleh lintasan takwa ia juga akan bergerak. Kadangkala lintasan hawa nafsu atau syahwat yang lebih dominan. Pada saat tertentu lintasan hawa nafsu dikalahkan oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, pada saat yang lain, lintasan takwa dikalahkan lintasan hawa nafsu sehingga hati pun mencelamu. Kedudukan hati seperti atap rumah. Bila engkau menyalakan api di dalam rumah, asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam.
Begitulah api syahwat, kalau sedang berkobar di dalam tubuh, asap-asap dosanya akan naik ke hati dan membuat hati tersbut hitam. Sehingga ia menjadi hijab yang membungkus permukaannya. Jika engkau hendak membersihkan dan membuatnya kembali bening, serta hendak mengangkat karat yang menempel padanya, engkau harus melakukan empat hal:
1) Banyak berzikir dan membaca Alquran,
2) Selalu diam dan sedikit bicara,
3) Menyendiri untuk munajat kepada Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui,
4) Sedikit makan dan sedikit minum.
Sebaliknya ada empat hal yang bisa mematikan hati:
1) Duduk bersama orang kaya,
2) Berbicara dengan wanita,
3) Jarang berzikir,
4) Banyak makan.
Bila ingin membersikah air, engkau harus menjauhkannya dari barang-barang kotor yang bisa membuatnya najis. Sementara itu anggota badan manusia ibarat saluran air yang mengalir menuju hati dan menumpahkan airnya di sana.
Oleh karena itu, janganlah engkau menyiram hatimu dengan perbuatan hina seperti ghibah, atau membincangkan orang lain, mengadu domba, berkata kotor, mendengar yang terlarang, melihat kepada yang tidak halal, memakan yang haram, dan sejenisnya. Hati tidak dikotori oleh yang keluar darinya. Tetapi, ia dikotori oleh yang masuk ke dalamnya.
Hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan membaca Alquran disertai tadabbur, duduk bersama para ulama dan orang-orang mukmin, menjaga diri dari melihat sesuatu yang mubah, memelihara diri dari yang terlarang dan makruh, serta cemas terhadap segala maksiat.
Peliharalah cahaya hatimu wahai saudaraku. Janganlah engkau membuka tatapan mata kecuali untuk menambah pengetahuan atau hikmah. Siapa yang ingin melihat kepada berbagai hati, hendaknya ia melihat berbagai jenis rumah di daerahnya. Ada rumah yang sudah rusak dan menjadi tempat kotoran sampah. Ada rumah yang rusak dan menjadi tempat ular dan macan. Ada rumah yang tak bercahaya, gelap gulita. Ada rumah yang menjadi tempat berkicaunya burung gagak dan burung hantu. Dan ada pula rumah yang ramai oleh penghuninya, menyebarkan wewangian dan bunga-bunga, serta disinari oleh kilauan bintang gemintang.
Lalu perhatikan hatimu, termasuk yang manakah ia sehingga engkau benar-benar mengetahui. Bila ketika shalat, membaca Alquran, berzikir, dan berkhalwat, hatimu tidak hadir, tangisilah dirimu! Taburilah kepalamu dengan tanah, serta berdoalah agar Allah memberi hati yang khusyu’. Ketahuilah bahwa orang yang hatinya sedang sakit, karena maksiat dan nifak, ia takkan bisa memakai baju ketakwaan. Bila hatimu terbebas dari segala penyakit hawa nafsu dan syahwat, berarti engkau telah memperoleh takwa.
Dalam Alquran, Allah menyebut syahwat sebagi penyakit. Dia berfirman,
“….. maka orang yang di dalam hatinya ada penyakit pastilah menginginkan…” (QS 33: 32 )
Di lain tempat, Allah juga menyebut sifat nifak sebagai penyakit,
“Di dalam hati mereka terdapat penyakit, Allah pun menambah penyakit tersebut…” ( QS 2: 10 )
Untuk mengobati hati yang sakit ada dua cara. Pertama, dengan mempergunakan sesuatu yang bermanfaat, yaitu ketaatan. Kedua, dengan menghindari sesuatu yang berbahaya, yaitu maksiat. Tak ubahnya seperti orang yang sedang sakit. Ia akan meminum obat dan menghindarkan makanan tertentu sampai betul-betul sehat. Bila engkau melakukan sebuah dosa, lalu kau ikuti ia dengan tobat dan penyesalan, itu bisa menjadi sebab bagi tersambungnya hubunganmu dengan Allah. Namun, bila engkau melakukan ketaatan seperti ibadah haji, lalu kau ikuti ia dengan rasa ujub, bangga dan sombong, itu bisa menjadi sebab terputusnya hubunganmu dengan Allah.
Sungguh aneh, bagaimana engkau berdoa kepada Allah agar diberi kalbu yang baik, sementara anggota badanmu melakukan dosa dan perbuatan terlarang. Jika demikian, engkau seperti orang yang sedang meminum racun atau orang yang menelan obat, tetapi ular dibiarkan menyengatnya.
Siapa yang menyibukkan hatinya dengan Allah, kemudian ia melindunginya dari rongrongan hawa nafsu dan syahwat, itu lebih baik dari orang yang banyak melakukan shalat dan puasa, sedang hatinya sakit.
Allah berfiman,
”Adapun orang-orang uang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka bertambah kufur di samping kekufuran mereka (sebelumnya)” ( QS 9 : 125 )
Orang yang hatinya sibuk dengan dunia dan diisi kecintaan padanya sama seperti orang yang membangun rumah bagus dengan kamar kecil di atas yang airnya menetes ke bawah. Demikian kondisi itu terus berlangsung sehingga bangunan rumah itu dilumuri oleh kotoran. Begitulah kondisimu di hadapan Allah. Hatimu berlumur maksiat. Engkau memakan makanan haram, melihat yang haram, dan menyembunyikan keburukan, tetapi anehnya engkau masih merasa sebagai hamba yang shalih.
Siapa yang melakukan perbuatan haram dan mengerjakan maksiat, hatinya menjadi gelap dan mata batinnya menjadi redup. Oleh karena itu, segeralah menyucikan dan membersihkan hatimu dengan bertobat, berzikir, menyesal, dan memohon ampunan. Bila engkau belum bertobat di saat sehat, bisa jadi Allah akan mengujimu dengan penyakit dan musibah agar engkau bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti pakaian yang dicuci dengan air.
Bertobatlah dan beristighfarlah selalu agar hatimu sibuk dengan zikir hingga engkau dilumuri cahaya. Jangan sekali-kali berbuat seperti penggali sumur yang mencari air. Ia menggali di sini dengan dalam sehasta, kemudaian menggali di tempat lain dengan dalam sehasta pula. Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air. Mestinya ia menggali di satu titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air ditemukan. Ketahuilah bahwa hati ini menjadi rusak karena kurangnya rasa takut dan tiadanya rasa khusyu’ terhadap Allah.
Hati yang hidup adalah hati yang tak pernah terlalaikan dari Allah, entah oleh sesuatu yang buruk maupun yang baik. Bila ingin mengobati hatimu dari keburukan dan kelalaian, jauhilah sesuatu yang syubhat, keluarlah menuju padang tobat, pakailah baju penyesalan, angkat panji kehinaan, tinggalkan tempat tidur, ubahlah kondisimu dari jauh kepada Allah dengan mendekati-Nya dan dari permainan dengan kesungguhan, berilah makan fakir miskin, biasakan hatimu untuk mengasihi dan mencinta, perbanyak menangis, dan teruslah berdoa karena harap dan cemas, dengan begitu mudah-mudahan engkau sembuh.
Namun sayangnya, engkau lebih memperhatikan makan, mencari yang ternikmat, mengisi perut dengannya, serta berbangga dengan yang indah dan gemuk. Engkau tak ubahnya seperti domba yang sengaja dibuat gemuk untuk disembelih dan dimakan. Bukankah engkau pun telah menyembelih diri sendiri secara tak sadar?
Cahaya adalah tunggangan hati. Ia merupakan tentaranya sebagaimana kegelapan merupakan tentara hawa nafsu. Bila Allah ingin menoling hamba-Nya dalam melawan syahwat, Dia akan menyokongnya dengan tentara cahaya sekaligus melenyapkan kegelapan darinya.
Cahaya bertugas menyingkap, bashiirah (mata hati) memutuskan, serta hati mendatangi atau menolak. Adapun manusia, aspek lahiriyahnya berkilau, namun aspek batinnya yang sebenarnya menjadi substansi perhatian. Hawa nafsu hanya melihat pada aspek lahiriyah, sementara hati melihat pada substansi batiniahnya.
Wahai hamba Allah, agama merupakan modal hidupmu di dunia. Bila engkau kehilangan modal tersebut, sibukkan lisanmu dengan menyebut asma-Nya, sibukkan hatimu dengan mencintai-Nya, dan anggota badanmu dengan mengabdikan diri pada-Nya. Selain itu, bersikaplah rendah hati, temui para ulama yang mengamalkan ilmunya, sampai benih datang, turun hujan, dan ia pun tumbuh.
Siapa yang memperlakukan hatinya seperti petani memperlakukan tanahnya, hatinya akan bersinar dengan cahaya iman dan hikmah.





Senin, 03 Juni 2013

RENUNGAN HATI


Dear All,
Saya coba menyuplikkan beberapa ayat suci dari Al-Qur’an, semata-mata sebagai pengingat bagi kita semua, khususnya bagi diri saya, bahwa persoalan HATI…hanya ALLAH SWT sajalah yang memiliki kewenangan. Kita sebagai manusia, hanya diminta berpikir dan mau menggunakan pikiran kita untuk semakin meningkatkan kadar keimanan kita setiap saat, dan mampu bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa kepada ALLAH SWT.
==================================
“Janganlah ikuti apa yang tiada kamu ketahui. Sungguh, pendengaran, penglihatan, dan perasaan hati, masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban”. (Q.S. Bani Isra’il: 17 : 36)
“Dan segala yang Kami ceritakan kepadamu. Kisah-kisah para Rasul, Kami kuatkan hatimu dengannya. Dan di dalamnya, datang kepadamu, kebenaran, nasehat, dan peringatan. Bagi orang yang beriman”. (Q.S. Hud: 11 : 120)
“Dan berkatalah orang yang kafir. Mengapa Qur’an tiada diturunkan kepadanya sebagai keseluruhan yang lengkap sempurna? Demikianlah (Kami lakukan) untuk menguatkan hatimu dengannya. Dan Kami membacakannya dengan terang, perlahan-lahan, dengan terang, sebagian demi sebagian”.  (Q.S. Al-Furqan: 25 : 32)
“Dalam menjalankan kisas, ada (jaminan keselamatan) hidup bagimu. Hai orang yang punya pikiran. Supaya kamu bertaqwa kepada Tuhan”. (Q.S. Al-Baqarah: 2 : 179)
“Bawalah bekal, tapi sebaik-baik bekal ialah taqwa. Bertaqwalah kepada-KU, hai orang yang menggunakan pikiran”. (Q.S. Al-Baqarah: 2 : 197)
“DIA memberi hikmah kepada siapa DIA berkenan. Dan barang siapa diberi-NYA hikmah, kepadanya telah diberikan kebaikan melimpah. Namun tiada yang mengambil peringatan, kecuali orang yang punya pikiran”. (Q.S. Al-Baqarah: 2 : 269)
“Apakah orang yang hatinya telah dibukakan ALLAH untuk (menerima) Islam, sehingga ia (berjalan) dalam cahaya Tuhannya. Maka celakalah orang yang telah mengeras hatinya, dan tiada dapat mengingat ALLAH! Mereka itu dalam kesesatan yang nyata!” (Q.S. Az-Zumar: 39 : 22)
“Hai manusia! Telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu. Dan obat bagi (penyakit) hati. (Telah datang kepadamu) petunjuk dan rahmat, bagi orang yang beriman”. (Q.S. Yunus: 10 : 57)
“Ketahuilah! Mereka melipat hatinya. Supaya (pikirannya) tersembunyi dari ALLAH. Ingatlah! Pada waktu mereka menutupi dirinya dengan bajunya, ALLAH mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka nyatakan. Sungguh, DIA menegtahui segala isi hati”. (Q.S. Hud: 11 : 5)
“Kamu mengira kamu dapat menyembunyikan diri dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit-kulitmu terhadap dirimu. Bahkan kamu mengira bahwa ALLAH tiada mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan. Dan demikianlah pikiran kamu yang kamu anut tentang Tuhanmu, telah menjerumuskan kamu. Sehingga kamu tergolong orang yang merugi”. (Q.S. Fussilat: 41 : 22-23)
“Dan ingatlah nikmat ALLAH kepadamu. Dan perjanjian-NYA yang dibuat-NYA dengan kamu, kami mendengar dan kami taat! Dan bertaqwalah kepada ALLAH. Sungguh, ALLAH tahu benar kandungan hatimu”. (Q.S. Al-Ma’idah: 5 : 7)
“Sungguh, ALLAH mengetahui (segala) yang gaib di langit dan di bumi. Sungguh, DIA mengetahui (segala) yang ada di hati (manusia)”. ( Q.S. Fatir: 35 : 38 )
“IA tahu segala yang di langit dan di bumi. IA tahu segala yang kamu sembunyikan, dan segala yang kamu nyatakan. ALLAH tahu benar isi hati sanubari”. (Q.S. At-Tagabun: 64 : 4)
“Apakah kamu rahasiakan, atau kamu nyatakan perkataanmu. Sungguh, IA tahu rahasia hati sanubarimu!” (Q.S. Al-Mulk: 67 : 13)
“Katakanlah, apakah kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu. Ataukah kamu nyatakan. ALLAH mengetahuinya”. (Q.S. Ali ‘Imran: 3 : 29)
“Dan sungguh, Tuhanmu mengetahui. Apa yang tersembunyi dalam hatinya. Dan apa yang mereka lahirkan”. (Q.S. An-Naml: 27 : 74)
“Tuhanmu mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hatinya. Dan apa yang mereka nyatakan”. (Q.S. Al-Qasas: 28 : 69)
“Hai orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan kepercayaan orang dari luar lingkunganmu. Mereka selalu menimbulkan kemudaratan bagi kamu. Mereka inginkan kesusahan kamu. Telah jelas kebencian melalui mulutnya. Dan apa yang tersembunyi dalam hatinya, lebih buruk lagi. Sungguh, telah kami terangkan ayat-ayat kepadamu, sekiranya kamu menggunakan pikiran!” ( Q.S. Ali ‘Imran: 3 : 118 )