RENUNGAN
“Hati ibarat sebuah pohon, bila disiram dengan
air ketaatan buahnya akan tampak jelas. Mata akan membuah kan penjagaan.
Telinga akan membuahkan perhatian terhadap Alquran dan pengetahuan. Lidah akan
membuahkan zikir dan ucapan yang baik. Kedua tangan dan kaki akan membuahkan
amal-amal kebajikan, taat, serta sikap mau membantu orang. Sementara bila hati
kering, buahnya akan rontok dan manfaatnya akan hilang.
Oleh karena itu, kalau hati sudah kering,
perbanyaklah berzikir. Kunjungilah majelis orang-orang yang wara` dan bijak.
Jangan seperti orang sakit yang berkata, “Saya tak mau berobat. Nanti juga akan
sembuh sendiri. Pasti lama kelamaan sakitnya juga akan hilang.” Orang seperti
ini harus dinasihati dengan mengatakan, “Engkau baru bisa sembuh kalau mau berobat.
Tak ada jaminan penyakitnya akan hilang sebelum berusaha mencari sebab.”
Perjuangan memang tidak manis. Ia disertai
oleh ujung-ujung panah dan pertumpahan darah. Berjuanglah melawan hawa nafsu
agar ia mau taat. Itulah yang disebut dengan jihad terbesar.
Hati ibarat cermin, sedangkan hawa nafsu
seperti asap atau uap. Setiap kali asap itu menempel di cermin, cermin itu pun
akan menghitam sehingga kejernihan dan keindahannya akan pudar. Hati yang lemah
tak ubahnya seperti cermin milik orang tua renta yang sudah tak punya perhatian
untuk membersihkannya. Ia abaikan cermin itu dan tak pernah lagi ia pakai
hingga wajahnya pun tak karuan.
Sebaliknya, hati yang mengenal Allah seperti
cermin milik pengantin wanita yang cantik. Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut
dan ia pakai sehingga tetap bening dan mengkilat.
Rasulullah Saw bersabda, “Hati manusia lebih
bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api.” Betapa banyak orang
mukmin yang hatinya kadang menyatu dengan Allah tetapi sebentar kemudian berpisah.
Betapa banyak ahli ibadah yang menghabiskan malamnya dalam taat kepada Allah,
tetapi ketika matahari menyingsing ia tak ingat lagi pada-Nya. Oleh karena itu,
Rasulullah Saw berdoa, “Yaa Muqalliba al-quluub wa al-abshaar, tsabbit qalbii
‘alaa diinika wa thaa`atika.” Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati,
teguhkanlah hatiku atas agamamu dan ketaatan kepada-Mu.
Hati sama seperti mata. Bukan keseluruhan mata yang bisa melihat. Tetapi
lensanya saja. Demikian pula dengan hati. Yang dimaksud adalah bukan dagingnya.
Tetapi unsur halus yang Allah hunjamkan dalamnya. Unsur itulah yang bisa
memahami. Sengaja Allah tempatkan hati bergantung di sisi bagian kiri seperti
ember. Kalau dibebani oleh syahwat, ia akan bergerak dan kalau dibebani oleh
lintasan takwa ia juga akan bergerak. Kadangkala lintasan hawa nafsu atau
syahwat yang lebih dominan. Pada saat tertentu lintasan hawa nafsu dikalahkan
oleh lintasan takwa sehingga hati pun memujimu. Tetapi, pada saat yang lain,
lintasan takwa dikalahkan lintasan hawa nafsu sehingga hati pun mencelamu.
Kedudukan hati seperti atap rumah. Bila engkau menyalakan api di dalam rumah,
asapnya akan membumbung ke atap hingga membuatnya hitam.
Begitulah api syahwat, kalau sedang berkobar
di dalam tubuh, asap-asap dosanya akan naik ke hati dan membuat hati tersbut
hitam. Sehingga ia menjadi hijab yang membungkus permukaannya. Jika engkau
hendak membersihkan dan membuatnya kembali bening, serta hendak mengangkat
karat yang menempel padanya, engkau harus melakukan empat hal:
1) Banyak berzikir dan membaca Alquran,
2) Selalu diam dan sedikit bicara,
3) Menyendiri untuk munajat kepada Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui,
4) Sedikit makan dan sedikit minum.
Sebaliknya ada empat hal yang bisa mematikan
hati:
1) Duduk bersama orang kaya,
2) Berbicara dengan wanita,
3) Jarang berzikir,
4) Banyak makan.
Bila ingin membersikah air, engkau harus
menjauhkannya dari barang-barang kotor yang bisa membuatnya najis. Sementara
itu anggota badan manusia ibarat saluran air yang mengalir menuju hati dan
menumpahkan airnya di sana.
Oleh karena itu, janganlah engkau menyiram
hatimu dengan perbuatan hina seperti ghibah, atau membincangkan orang lain,
mengadu domba, berkata kotor, mendengar yang terlarang, melihat kepada yang
tidak halal, memakan yang haram, dan sejenisnya. Hati tidak dikotori oleh yang
keluar darinya. Tetapi, ia dikotori oleh yang masuk ke dalamnya.
Hati baru bersinar dan bercahaya dengan memakan yang halal, selalu berzikir dan
membaca Alquran disertai tadabbur, duduk bersama para ulama dan orang-orang
mukmin, menjaga diri dari melihat sesuatu yang mubah, memelihara diri dari yang
terlarang dan makruh, serta cemas terhadap segala maksiat.
Peliharalah cahaya hatimu wahai saudaraku.
Janganlah engkau membuka tatapan mata kecuali untuk menambah pengetahuan atau
hikmah. Siapa yang ingin melihat kepada berbagai hati, hendaknya ia melihat
berbagai jenis rumah di daerahnya. Ada rumah yang sudah rusak dan menjadi
tempat kotoran sampah. Ada rumah yang rusak dan menjadi tempat ular dan macan.
Ada rumah yang tak bercahaya, gelap gulita. Ada rumah yang menjadi tempat
berkicaunya burung gagak dan burung hantu. Dan ada pula rumah yang ramai oleh
penghuninya, menyebarkan wewangian dan bunga-bunga, serta disinari oleh kilauan
bintang gemintang.
Lalu perhatikan hatimu, termasuk yang manakah
ia sehingga engkau benar-benar mengetahui. Bila ketika shalat, membaca Alquran,
berzikir, dan berkhalwat, hatimu tidak hadir, tangisilah dirimu! Taburilah
kepalamu dengan tanah, serta berdoalah agar Allah memberi hati yang khusyu’.
Ketahuilah bahwa orang yang hatinya sedang sakit, karena maksiat dan nifak, ia
takkan bisa memakai baju ketakwaan. Bila hatimu terbebas dari segala penyakit
hawa nafsu dan syahwat, berarti engkau telah memperoleh takwa.
Dalam Alquran, Allah menyebut syahwat sebagi
penyakit. Dia berfirman,
“….. maka orang yang di dalam hatinya ada
penyakit pastilah menginginkan…” (QS 33: 32 )
Di lain tempat, Allah juga menyebut sifat nifak sebagai penyakit,
“Di dalam hati mereka terdapat penyakit, Allah
pun menambah penyakit tersebut…” ( QS 2: 10 )
Untuk mengobati hati yang sakit ada dua cara.
Pertama, dengan mempergunakan sesuatu yang bermanfaat, yaitu ketaatan. Kedua,
dengan menghindari sesuatu yang berbahaya, yaitu maksiat. Tak ubahnya seperti
orang yang sedang sakit. Ia akan meminum obat dan menghindarkan makanan
tertentu sampai betul-betul sehat. Bila engkau melakukan sebuah dosa, lalu kau
ikuti ia dengan tobat dan penyesalan, itu bisa menjadi sebab bagi tersambungnya
hubunganmu dengan Allah. Namun, bila engkau melakukan ketaatan seperti ibadah
haji, lalu kau ikuti ia dengan rasa ujub, bangga dan sombong, itu bisa menjadi
sebab terputusnya hubunganmu dengan Allah.
Sungguh aneh, bagaimana engkau berdoa kepada
Allah agar diberi kalbu yang baik, sementara anggota badanmu melakukan dosa dan
perbuatan terlarang. Jika demikian, engkau seperti orang yang sedang meminum
racun atau orang yang menelan obat, tetapi ular dibiarkan menyengatnya.
Siapa yang menyibukkan hatinya dengan Allah,
kemudian ia melindunginya dari rongrongan hawa nafsu dan syahwat, itu lebih
baik dari orang yang banyak melakukan shalat dan puasa, sedang hatinya sakit.
Allah berfiman,
”Adapun orang-orang uang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka bertambah
kufur di samping kekufuran mereka (sebelumnya)” ( QS 9 : 125 )
Orang yang hatinya sibuk dengan dunia dan
diisi kecintaan padanya sama seperti orang yang membangun rumah bagus dengan
kamar kecil di atas yang airnya menetes ke bawah. Demikian kondisi itu terus
berlangsung sehingga bangunan rumah itu dilumuri oleh kotoran. Begitulah
kondisimu di hadapan Allah. Hatimu berlumur maksiat. Engkau memakan makanan
haram, melihat yang haram, dan menyembunyikan keburukan, tetapi anehnya engkau
masih merasa sebagai hamba yang shalih.
Siapa yang melakukan perbuatan haram dan
mengerjakan maksiat, hatinya menjadi gelap dan mata batinnya menjadi redup.
Oleh karena itu, segeralah menyucikan dan membersihkan hatimu dengan bertobat,
berzikir, menyesal, dan memohon ampunan. Bila engkau belum bertobat di saat
sehat, bisa jadi Allah akan mengujimu dengan penyakit dan musibah agar engkau
bisa keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti pakaian yang
dicuci dengan air.
Bertobatlah dan beristighfarlah selalu agar
hatimu sibuk dengan zikir hingga engkau dilumuri cahaya. Jangan sekali-kali
berbuat seperti penggali sumur yang mencari air. Ia menggali di sini dengan
dalam sehasta, kemudaian menggali di tempat lain dengan dalam sehasta pula.
Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air. Mestinya ia menggali di satu
titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air ditemukan. Ketahuilah bahwa hati
ini menjadi rusak karena kurangnya rasa takut dan tiadanya rasa khusyu’
terhadap Allah.
Hati yang hidup adalah hati yang tak pernah
terlalaikan dari Allah, entah oleh sesuatu yang buruk maupun yang baik. Bila
ingin mengobati hatimu dari keburukan dan kelalaian, jauhilah sesuatu yang
syubhat, keluarlah menuju padang tobat, pakailah baju penyesalan, angkat panji
kehinaan, tinggalkan tempat tidur, ubahlah kondisimu dari jauh kepada Allah
dengan mendekati-Nya dan dari permainan dengan kesungguhan, berilah makan fakir
miskin, biasakan hatimu untuk mengasihi dan mencinta, perbanyak menangis, dan teruslah
berdoa karena harap dan cemas, dengan begitu mudah-mudahan engkau sembuh.
Namun sayangnya, engkau lebih memperhatikan
makan, mencari yang ternikmat, mengisi perut dengannya, serta berbangga dengan
yang indah dan gemuk. Engkau tak ubahnya seperti domba yang sengaja dibuat
gemuk untuk disembelih dan dimakan. Bukankah engkau pun telah menyembelih diri
sendiri secara tak sadar?
Cahaya adalah tunggangan hati. Ia merupakan
tentaranya sebagaimana kegelapan merupakan tentara hawa nafsu. Bila Allah ingin
menoling hamba-Nya dalam melawan syahwat, Dia akan menyokongnya dengan tentara
cahaya sekaligus melenyapkan kegelapan darinya.
Cahaya bertugas menyingkap, bashiirah (mata
hati) memutuskan, serta hati mendatangi atau menolak. Adapun manusia, aspek
lahiriyahnya berkilau, namun aspek batinnya yang sebenarnya menjadi substansi
perhatian. Hawa nafsu hanya melihat pada aspek lahiriyah, sementara hati
melihat pada substansi batiniahnya.
Wahai hamba Allah, agama merupakan modal
hidupmu di dunia. Bila engkau kehilangan modal tersebut, sibukkan lisanmu
dengan menyebut asma-Nya, sibukkan hatimu dengan mencintai-Nya, dan anggota
badanmu dengan mengabdikan diri pada-Nya. Selain itu, bersikaplah rendah hati,
temui para ulama yang mengamalkan ilmunya, sampai benih datang, turun hujan,
dan ia pun tumbuh.
Siapa yang memperlakukan hatinya seperti
petani memperlakukan tanahnya, hatinya akan bersinar dengan cahaya iman dan
hikmah.