Adab & Akhlak Kepada Orang Tua
Apakah
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Mencakup Segala Hal ?
Berbakti
kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta,
bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang bakti ini dalam firmanNya.
“Artinya: Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua‐duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali‐kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kemu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” [Al‐Isra
: 23]
Demikian
ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut
usia perilakunya tidak normal, namun demikian Allah menyebutkan. “Maka sekali‐kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’” Yakni sambil merasa
tidak senang kepada keduanya. “Dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”
Bentuk perbuatan,
hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan kedua orang tuanya serta bersikap
sopan dan penuh kepatuhan karena status mereka sebagai orang tuanya, demikian berdasarkan
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya
: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah,
‘Wahai Rabbku, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik
aku waktu kecil” [Al‐Isra : 24]
Lain
dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang
tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hal yang
paling utama, sampaisampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersada.
“Artinya
: Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” [1]
Lain dari itu, juga
mengabdi dengan bentuk berbuat baik, yaitu berupa perkataan dan perbuatan seperti
umumnya yang berlaku, hanya saja mengabdi dalam perkara yang haram tidak boleh dilakukan,
bahkan yang termasuk baktin adalah menahan diri dari hal tersebut, berdasarkan
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya
: Tolonglah saudaramu baik ia dalam kondisi berbuat aniaya maupun teraniaya” Ditanyakan
kepada beliau, “Begitulah bila ia teraniaya, lalu bagaimana kami menolongnya
bila ia berbuat aniaya ?” beliau menjawab.
“Artinya : Engkau
mencegahnya dari berbuat aniaya” [2]
Jadi, mencegah orang
tua dari perbuatan haram dan tidak mematuhinya dalam hal tersebut adalah
merupakan bakti terhadapnya. Misalnya orang tua menyuruhnya untuk membelikan sesuatu
yang haram, lalu tidak menurutinya, ini tidak dianggap durhaka. Bahkan
sebaliknya, ia sesungguhnya telah berbuat baik, karena dengan begitu ia telah
mencegahnya dari yang haram.
Batasan
Taat Kepada Orang Tua
Secara
umum kita diperintahkan taat kepada orang tua. Wajib taat kepada kedua orang
tua baik yang diperintahkan itu sesuatu yang wajib, sunnah atau mubah. Demikian
pula bila orang tua melarang dari perbuatan yang haram, makruh atau sesuatu
yang mubah kita wajib mentaatinya.
Lebih
dari itu, kita juga wajib mendahulukan berbakti kepada orang tua dari pada
perbuatan wajib kifayah dan sunnah. Mengenai hal diatas para ulama telah
beristimbat dari kisah Juraij yang hidup jauh sebelum masa Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
"Artinya
: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu katanya, "Seorang yang
bernama
Juraij sedang
mengerjakan ibadah di sebuah sauma (tempat ibadah). Lalu ibunya datang memanggilnya,
"Humaid berkata, "Abu Rafi' pernah menerangkan kepadaku mengenai
bagaimana Abu Hurairah meniru gaya ibu Juraij ketika memanggil anaknya,
sebagaimana beliau mendapatkannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
yaitu dengan meletakkan tangannya di bagian kepala antara dahi dan telinga
serta mengangkat kepalanya, "Hai Juraij ! Aku ibumu, jawablah
panggilanku'. Ketika itu perempuan tersebut mendapati anaknya sedang shalat.
Dengan keraguan Juraij berkata kepada diri sendiri, 'Ya Allah, ibuku atau
shalatku'. Tetapi Juraij telah memilih untuk meneruskan shalatnya. Tidak berapa
lama selepas itu, perempuan itu pergi untuk yang kedua kalinya. Beliau
memanggil, 'Hai Juraij ! Aku ibumu, jawablah panggilanku'. Juraij bertanya lagi
kepada diri sendiri, 'Ya Allah, ibuku atau shalatku'. Tetapi beliau masih lagi
memilih untuk meneruskan shalatnya. Oleh karena terlalu kecewa akhirnya
perempuan itu berkata, 'Ya Allah, sesungguhnya Juraij adalah anakku. Aku sudah
memanggilnya berulang kali, namun ternyata ia enggan menjawabnya. Ya Allah,
janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah yang disebabkan oleh
perempuan pelacur'. Pada suatu hari seorang pengembala kambing sedang berteduh
di dekat tempat ibadah Juraij yang letaknya jauh terpencil dari orang ramai.
Tiba‐tiba datang seorang perempuan dari sebuah dusun yang juga sedang
berteduh di tempat tersebut. Kemudian keduanya melakukan perbuatan zina,
sehingga melahirkan seorang anak. Ketika ditanya oleh orang ramai, 'Anak dari
siapakah ini ?'. Perempuan itu menjawab. 'Anak dari penghuni tempat ibadah
ini'. Lalu orang ramai berduyun‐duyun datang kepada Juraij.
Mereka membawa besi perajang. Mereka berteriak memanggil Juraij, yang pada
waktu itu sedang shalat. Maka sudah tentu Juraij tidak melayani panggilan
mereka, akhirnya mereka merobohkan bangunan tempat ibadahnya. Tatkala melihat
keadaan itu, Juraij keluar menemui mereka. Mereka berkata kepada Juraij.
'Tanyalah anak ini'. Juraij tersenyum, kemudian mengusap kepala anak tersebut
dan bertanya. 'Siapakah bapakmu?'. Anak itu tiba‐tiba
menjawab, 'Bapakku adalah seorang pengembala kambing'. Setelah mendengar
jawaban jujur dari anak tersebut, mereka kelihatan menyesal, lalu berkata.
'Kami akan mendirikan tempat ibadahmu yang kami robohkan ini dengan emas dan
perak'. Juraij berkata, 'Tidak perlu, biarkan ia menjadi debu seperti asalnya'.
Kemudian Juraij meninggalkannya". [Hadits Riwayat Bukhari ‐Fathul
Baari 6/476, dan Muslim 2550 (8)].
Kisah
di atas diceritakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sedang
menjelaskan tentang tiga orang yang dapat berbicara sewaktu kecil, yang pertama
adalah Isa bin Maryam yang berbicara ketika masih bayi, kedua Ashabul Ukhdud
yang tercantum dalam surat Al‐Buruj dan ketiga adalah kisah
Juraij ini. Pada hadits ini Juraij melihat wajah pelacur karena do'a ibunya setelah
Juraij tidak memenuhi panggilannya dengan sebab tetap mengerjakan shalat
sunnah. Para ulama beristimbat dengan hadits ini bahwa shalat sunnah harus
dibatalkan untuk memenuhi panggilan ibu.
Dari
kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa taat kepada kedua orang tua harus
didahulukan dari ibadah sunnah, lebih ditekankan lagi apabila orang tua kita
menyuruh kita untuk melakukan ibadah yang bersifat sunnah atau wajib kifayah
[Bahjatun Nazhirin I/347]
Ibnu
Hazm berkata, "Tidak boleh jihad kecuali dengan izin kedua orang tua
kecuali kalau musuh itu sudah ada di tengah‐tengah
kaum muslimin maka tidak perlu lagi izin" [Al‐Muhalla
7/292 No. 922]
Kata
Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al‐Mughni, beliau mengatakan
bahwa izin itu harus didahulukan daripada jihad kecuali kalau sudah jelas
wajibnya jihad dan musuh sudah berada ditengah‐tengah
kita maka didahulukan jihad.
Para
ulama membawakan beberapa hadits bahwa selama jihad tersebut fardhu kifayah
maka harus didahulukan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagaimana dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i dari Abdullah
bin Amr bin 'Ash.
"Artinya
: Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta izin
untuk jihad. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Apakah
bapak ibumu masih hidup ?" orang itu menjawab, "Ya" maka kata
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Hendaklah kamu berbakti kepada
keduanya" [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim 5/2529 Abu Dawud 2529, Nasa'i,
Ahmad 2/165, 188, 193, 197 dan 221]
Juga
yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 2549) dari Abdullah bin Amr bin 'Ash.
"Artinya : Ada
yang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ya Rasullullah aku
berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad ingin mencari ganjaran dari
Allah". Kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, "Apakah kedua
orang tuamu masih hidup ?", kata orang tersebut "Bahkan keduanya
masih hidup". "Apakah engkau mencari ganjaran dari Allah ?.
"Orang itu menjawab, "Ya aku mencari ganjaran dari Allah".
"Kembali kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah kepada keduanya".
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruhnya pulang" [Hadits Riwayat
Muslim No. 2549]
Dalam
riwayat lain yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Nasa'i,
dikatakan :
"Artinya :
Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata,
"Ya Rasulullah saya akan berba'iat kepadamu untuk berhijrah dan aku
tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis". Kata Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kembali kepada kedua orang tuamu dan
buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis"
[Hadits Riwayat Abu Dawud 2528, Nasa'i dalam Kubra, Baihaqi dalam Hakim 4/152]
Dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa'i dengan sanad yang hasan dari Muawiyah
bin Jaa‐Himah.
"Artinya : Jaa‐Himah
Radhiyallahu 'anhu datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Ya
Rasulullah aku ingin perang dan aku datang kepadamu untuk musyawarah".
Kemudian kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah kamu masih
mempunyai ibu?". Kata orang ini, "Ibu saya masih hidup". Kata
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu
karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu" [Hadits
Riwayat Nasa'i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329]
Dikatakan
oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al‐Mughni
beliau mengatakan kenapa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang
beberapa hadits ini ketika disebutkan jihad, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menyuruh anak ini untuk meminta izin kepada kedua orang tua. Kata Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam :"Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang
tua adalah fardlu 'ain didahulukan daripada fardhu kifayah"
Bentuk‐Bentuk
Berbakti Kepada Orang Tua
Pertama
Bergaul
dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu'min
termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua
orang tua kita.
Dalam
nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri,
maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang
melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Dalam
suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad
(dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu 'ain)
dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Kembali dan buatlah keduanya
tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis" [Hadits Riwayat
Abu Dawud dan Nasa'i] Dalam riwayat lain dikatakan: "Berbaktilah kepada
kedua orang tuamu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Kedua
Yaitu
berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan
berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan
yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak
boleh mengucapkan 'ah' apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat
keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang
tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya 'udzubillah.
Kita
tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat
jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua
memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta (misalnya biaya
sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada
keduanya.
Ketiga
Tawadlu
(rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau
mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina
dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi
makan, minum, pakaian dan semuanya.
Seandainya
kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan
kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu
yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan
senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang
menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita
untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.
Keempat
Yaitu
memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah
milik orang
tua. Firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala surat Al‐Baqarah ayat 215.
"Artinya
: Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah,
"Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum
kerabat, anak‐anak yatim, orang‐orang miskin dan orang‐orang
yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat
sesungguhnya Allah maha mengetahui"
Jika
seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang
pertama
adalah kepada kedua
orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa
Ta'ala dalam surat Al‐Baqarah di atas. Kemudian
kaum kerabat, anak yatim dan orang‐orang
yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak
dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berikut.
"Artinya
: Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian
bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat" [Hadits Riwayat
Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 3, Abu Dawud No. 5139 dan Tirmidzi 1897, Hakim
3/642 dan 4/150 dari Mu'awiyah bin Haidah, Ahmad 5/3,5 dan berkata Tirmidzi,
"Hadits Hasan"]
Sebagian
orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya
karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang mengatur harta
adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki‐laki
adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban
yang utama bagi anak laki‐laki adalah berbakti kepada
ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul‐Nya.
Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada
Allah dan Rasul‐Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya
ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin
agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang
tuanya.
Kelima
Mendo'akan
orang tua. Sebagaimana dalam ayat "Robbirhamhuma kamaa rabbayaani
shagiiro" (Wahai Rabb‐ku kasihanilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil).
Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta
bid'ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada
keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo'a di malam hari,
ketika sedang shaum, di hari Jum'at dan di tempat‐tempat
dikabulkannya do'a agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Apabila
kedua orang tua telah meninggal maka :
Yang pertama : Kita
lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta'ala dengan taubat yang nasuh
(benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua orang tua sewaktu mereka
masih hidup.
Yang kedua : Adalah
mendo'akan kedua orang tua kita.
Dalam
sebuah hadits dha'if (lemah) yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban,
seseorang
pernah bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Apakah ada
suatu kebaikan yang harus aku perbuat kepada kedua orang tuaku sesudah wafat keduanya
?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya, kamu shalat atas
keduanya, kamu istighfar kepada keduanya, kamu memenuhi janji keduanya, kamu
silaturahmi kepada orang yang pernah dia pernah silaturahmi kepadanya dan memuliakan
teman‐temannya" [Hadits ini dilemahkan oleh beberapa imam ahli
hadits karena di dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah dan Syaikh Albani
Rahimahullah melemahkan hadits ini dalam kitabnya Misykatul Mashabiih dan juga
dalam Tahqiq Riyadush Shalihin (Bahajtun Nazhirin Syarah Riyadush Shalihin Juz
I hal.413 hadits No. 343)]
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Sedangkan
menurut hadits‐hadits yang shahih tentang amal‐amal
yang diperbuat untuk kedua
orang tua yang sudah
wafat, adalah :
[1] Mendo'akannya
[2] Menshalatkan
ketika orang tua meninggal
[3] Selalu memintakan
ampun untuk keduanya.
[4] Membayarkan
hutang‐hutangnya
[5] Melaksanakan
wasiat yang sesuai dengan syari'at.
[6] Menyambung tali
silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya
Sebagaimana hadits
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu
'anhuma.
"Artinya
: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali
silaturrahmi kepada teman‐teman bapaknya sesudah
bapaknya meninggal" [Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552]
Dalam
riwayat yang lain, Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma menemui seorang badui
di perjalanan menuju Mekah, mereka orang‐orang
yang sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang
tersebut dan menaikkannya ke atas keledai, kemudian sorbannya diberikan kepada
orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, "Semoga Allah
membereskan urusanmu". Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhumua
berkata, "Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar
sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya :
Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada
teman‐teman ayahnya" [Hadits Riwayat Muslim 2552 (13)]
Tidak dibenarkan
mengqadha shalat atau puasa kecuali puasa nadzar [Tamamul Minnah Takhrij Fiqih
Sunnah hal. 427‐428, cet. III Darul Rayah 1409H, lihat Ahkamul Janaiz oleh Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al‐Albani hal 213‐216, cet. Darul Ma'arif
1424H]
Berbakti
pada Kedua Orang Tua
Al
Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam
(artinya) : "Al Birr adalah baiknya akhlaq". (Diriwayatkan oleh Muslim
dalam Shahihnya Nomor 1794).
Al
Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al 'Uquuq
yaitu kejelekan dan menyia‐nyiakan haq..
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
"Al Birr adalah
mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau,
selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al 'Uquuq dan menjauhi mereka dan
tidak berbuat baik kepadanya." (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur
5/259)
Berkata
Urwah bin Zubair mudah‐mudahan Allah meridhoi mereka
berdua tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala (artinya) :
"Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (QS.
Al Isra' : 24)
Yaitu: "Jangan
sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun". (Ad Darul Mantsur 5/259)
Berkata Imam Al
Qurtubi mudah‐mudahan Allah merahmatinya :
"Termasuk
'Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang
keinginankeinginan mereka dari (perkara‐perkara)
yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa
yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau
keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara
maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah
pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara
yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami' Li Ahkamil Qur'an Jil 6 hal 238).
Berkata
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah mudah‐mudahan
Allah merahmatinya:
Berkata Abu Bakr di
dalam kitab Zaadul Musaafir "Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya
marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa
(senang) kembali". (Ghadzaul Al Baab 1/382).
Hukum
Birrul Walidain
Para
Ulama' Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua
hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat‐ibarat
(contoh pengamalan) nya. Berkata Ibnu Hazm, mudah‐mudahan
Allah merahmatinya.
"Birul Walidain
adalah fardhu (wajib bagi masing‐masing
individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad:
"Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram."
(Ghdzaul Al Baab 1/382)
Dalil‐dalil
Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:
1. Firman Allah
Subhanahu Wa Ta'ala (artinya) :
"Sembahlah Allah
dan jangan kamu mempersekutukan‐Nya dengan sesuatupun. Dan
berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An Nisa' : 36).
Dalam
ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah
disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk
beribadah dan meng‐ Esa‐kan
(tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam
ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar'iyyah 1/434).
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
2. Firman Allah
Subhanahu Wa Ta'ala (artinya) :
"Dan Rabbmu
telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik‐baiknya".
(QS. Al Isra': 23).
Adapun
makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al
Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy
Syaukaniy: "Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua
seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada‐Nya,
ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu
urusan‐urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak
bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).
3. Firman Allah
Subhanahu Wa Ta'ala (artinya) :
"Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah‐tambah
dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada‐Ku
dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepadaKu‐lah
kembalimu." (QS. Luqman : 14).
Berkata
Ibnu Abbas mudah‐mudahan Allah meridhoi mereka berdua "Tiga ayat dalam Al
Qur'an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang
lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa
Ta'ala (artinya) :
"Bersyukurlah
kepada‐Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu", Berkata beliau.
"Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak
bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan
sebab itu." (Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).
Berkaitan
dengan ini, Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wassallam bersabda (artinya) :
"Keridhaan Rabb
(Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan
orang tua" (Riwayat Tirmidzi dalam Jami'nya (1/ 346), Hadits ini Shohih,
lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).
4. Hadits Al Mughirah
bin Syu'bah ‐ mudah‐mudahan Allah meridhainya,
dari Nabi Shalallahu
'Alaihi Wasallam
beliau bersabda(artinya) :
"Sesungguhnya
Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup‐hidup
anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta‐minta
(bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si
fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang
tidak bermanfaat), dan membuang‐buang harta".
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).
Keutamaan
Birrul Walidain
Pertama : Termasuk
Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin
Mas'ud mudah‐mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?,
Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada
waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua".
Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda :
"Berjihad
di jalan Allah". (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih
keduanya).
Kedua : Merupakan
Salah Satu Sebab‐Sebab Diampuninya Dosa
Allah Subhanahu Wa
Ta'ala berfirman (artinya) :
"Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu
bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang‐orang
yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami
ampuni kesalahan‐kesalahan mereka, bersama penghuni‐penghuni
surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS.
Al Ahqaf 15‐16)
Diriwayatkan
oleh ibnu Umar mudah‐mudahan Allah meridhoi
keduanya bahwasannya seorang laki‐laki
datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai
Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih
ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi
Wasallam : "Apakah Ibumu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda
beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia berkata
: "Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam :
"Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam
Jami'nya dan berkata Al 'Arnauth : Perawi‐perawinya
tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami'ul Ushul (1/
406).
Ketiga : Termasuk
Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga :
Dari
Abu Hurairah, mudah‐mudahan Allah meridhoinya,
dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
"Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam
ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi
Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam
usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga". (Diriwayatkan oleh Imam
Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).
Dari
Mu'awiyah bin Jaahimah mudah‐mudahan Allah meridhoi
mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi
Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat)
untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih
memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya
surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa'I
dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul
Jaami No. 1248)
Keempat : Merupakan
Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman
hadits yang terdahulu: "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua
dan
kemurkaan‐Nya
ada pada kemurkaan kedua orang tua".
Kelima : Merupakan
Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya
hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah‐mudahan
Allah meridhoinya, dia
berkata, Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :A M V I R T U A L
"Barangsiapa
yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah
dia menyambung
silaturrahim".
Keenam : Merupakan
Sebab Barokahnya Rizki
Dalilnya, sebagaimana
hadits sebelumnya.
Berbakti
Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (Yang Menonjol) Dari
Para
Nabi
Dalam
surat Maryam ayat 30‐34 Allah Subhanahu wa Ta'ala
menjelaskan bahwa Isa bin Maryam
adalah anak yang
berbakti kepada ibunya.
"Artinya
: Berkata Isa, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, yang memberi Al‐Kitab
(Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi" [Maryam : 30]
"Artinya
: Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku untuk (mendirikan) shalat, (menunaikan) zakat selama aku
hidup"
[Maryam : 31]
"Artinya
: Dan Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku
seorang yang sombong lagi celaka" [Maryam : 32]
"Artinya
: Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah Isa putra Maryam, mengatakan
perkataan yang benar dan mereka berbantahan tentang kebenarannya" [Maryam
: 33]
Kemudian
Allah berfirman di dalam surat Ibrahim ayat 40‐41
"Artinya : Wahai
Rabb‐ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan
shalat, wahai Rabb‐ku perkenankanah
do'aku" [Ibrahim : 40]
"Artinya : Wahai
Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang‐orang
mukmin pada hari terjadinya hisab" [Ibrahim : 41]
Lihat
juga dalam surat Asy‐Syu'araa ayat 83‐87.
"Artinya :
(Ibrahim berdo'a), "Ya Rabb‐ku,
berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang‐orang
yang shalih" [Asy‐Syu'araa : 83]
"Artinya : Dan
jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang‐orang
(yang datang) kemudian" [Asy‐ Syu'araa
: 84]
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
"Artinya: Dan
jadikanlah aku termasuk orang‐orang yang mewarisi surga
yang penuh kenikmatan" [Asy‐Syu'araa:
85]
"Artinya : Dan
ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orangorang yang
sesat" [Asy‐Syua'araa : 86]
"Artinya : Dan
janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan" [Asy‐Syua'raa
: 87]
Demikian
juga Nabi Nuh 'Alaiahi salam mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian
Nabi Ismail 'Alaihis
salam, juga Nabi Yahya 'Alaihis Salam dalam surat Maryam ayat 12‐15.
"Artinya :
Ambillah Al‐Kitab dengan sungguh‐sungguh,
Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih kanak‐kanak"
[Maryam : 12]
"Artinya : Dan
rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah orang‐orang
yang bersih dosa dan orang‐orang bertaqwa" [Maryam
: 13]
"Artinya : Dan
banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang‐orang
yang sombong lagi durhaka" [Maryam : 14]
"Artinya :
Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari ia
diwafatkan dan pada hari ia dibangkitkan" [Maryam : 15]
Kemudian dalam An‐Naml
ayat 19 tentang Nabi Sulaiman 'Alaihis salam.
"Artinya : Maka
dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a,
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat‐Mu
yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk
mengerjakan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukanlah aku dengan rahmat‐Mu
ke dalam golongan hamba‐hamba‐Mu
yang shalih" [An‐Naml : 19]
Ayat‐ayat
di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan sifat yang
menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan
ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum.
Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke muka bumi
selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah,
metauhidkan Allah dan menjauhkan segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan
untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada kedua orang tuanya.
Bila
diperhatikan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti tercantum dalam
surat An‐ Nisaa, surat Al‐Isra dan surat‐surat
yang lainnya menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orangtua adalah masalah
kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalau selama ini yang dikaji
adalah masalah tauhid, masalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, aqidah Salaf,
untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji
masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi bagi seorang yang
bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal
iyadzubillah nas alullaha salamah wal 'afiyah. Bagi seorang muslim terutama
bagi seorang thalibul 'ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada kedua
orang tuanya.
Di
dalam ayat‐ayat Al‐Qur'an ketika disebutkan
tentang bertauhid kepada Allah selalu diiringi dengan berbakti kepada kedua
orang tua. Para ulama telah menjelaskan hikmah dari permasalahan ini, yaitu :
1. Allah Subhanahu wa
Ta'ala yang menciptakan dan Allah yang memberikan rizki, maka Allah Subhanahu
wa Ta'ala sajalah yan berhak untuk diibadahi. Sedangkan kedua orang tua adalah
sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan dengan baik. Oleh karena
itu kewajiban seorang anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harus
diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.
2. Allah lah yang
telah memberikan semua nikmat yang diperoleh hamba‐hambaNya,
maka hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang wajib di syukuri. Kemudian kedua
orang tualah yang telah memberikan segala yang kita butuhkan seperti makan,
minum, pakaian dan yang lainnya sehingga wajib bagi kita untuk berterima kasih
kepada keduanya. Oleh karena itu kewajiban seorang anak atas nikmat yang
diterimanya adalah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bersyukur
kepada kedua orang tuanya.
3. Allah adalah Rabb
manusia yang membina dan mendidik manusia di atas manhaj‐Nya,
maka Allah lah yang berhak untuk diagungkan dan dicintai. Demikian juga kedua
orang tua yang telah mendidik kita sejak kecil, maka kita harus bersikap
tawadlu' (merendahkan diri), tauqiir (menghormati), ta'addub (beradab) dan
talattuf (berlaku lemah lembut) dengan perkataan dan perbuatan kepada keduanya.
Inilah
hikmah kenapa di dalam Al‐Qur'an Allah menyebutkan
tentang berbakti kepada Allah kemudian diiringi dengan berbakti kepada kedua
orang tua. [Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadush Shalihin I hal.391, ta'lif Syaikh
Salim bin 'Id Al‐Hilaly]
Sikap
Anak Kepada Orang Tua Yang Masih Kafir
Orang
tua yang kafir harbi [kafir yang menentang dan memerangi Islam] atau bukan
kafir harbi tidak diperbolehkan mendoakannya untuk memintakan ampun dan kasih
sayang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ketika keduanya masih hidup maupun
sudah meninggal. Dasarnya adalah surat At‐Taubah
ayat 113, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya :
Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang‐orang
beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang‐orang
musyrik walaupun orang‐orang musyrik itu kaum
kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang‐orang
musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam"
Ketika
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
supaya mengampuni dosa ibunya, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengabulkannya
karena ibunya mati dalam keadaan kafir[1]. Kedua orang tua Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir[2].
Kalau ada yang
bertanya, "Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam ?". Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua
orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak masuk dalam millah Ibrahim
sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir[3].
Nabi
Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk
kedua orang tuanya yang masih kafir, karena waktu itu Ibrahim belum tahu dan
belum turun wahyu tentang adanya larangan tersebut. Setelah turun wahyu,
Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah ini bisa di lihat dalam surat At‐Taubah
ayat 114.
"Artinya : Dan
permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena
janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu maka tatkala jelas bagi
Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri
daripadanya, sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya dan
lagi menyantun".
Walaupun
tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua yang masih kafir
tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah kepada orang tua yang
masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat
bagaimana dakwahnya Ibrahim 'alaihis shalatu wasalam kepada orang tuanya.
Beliau mendakwahkan dengan kata‐kata yang lemah lembut.
Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan kata‐kata
yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak kafir tetapi masih
suka melakukan bid'ah, harus
didakwahkan dengan
kata‐kata lemah lembut lagi.
Sikap
Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam surat Maryam ayat 41‐48,
yang artinya :
[41] Ceritakanlah
wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab Al‐Qur'an,
sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. [42]
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, "Wahai bappakku, mengapa
engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak
dapat menolongmu sedikitpun juga". [43] "Wahai bapakku sesungguhnya
telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu.
Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus" [44]
"Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan sesungguhnya syaithan itu
durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah". [45] "Wahai bapakku,
sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha
Pemurah maka kamu
menjadi kawan bagi syaitan". [46] Berkata bapaknya, "Bencikah kamu
kepada tuhan‐tuhanku hai Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku
rajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama". [47] Ibrahim berkata,
"Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu aku akan meminta ampun
bagimu kepada Allah
sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku". [48] "Dan aku akan menjauhkan
diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan berdo'a
kepada Rabb‐ku mudah‐mudahan aku tidak kecewa
dengan berdo'a kepada Rabbku".
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Foote Note
[1] Hadits Riwayat
Muslim Kitabul Janaaiz 2 hal 671 No. 976‐977,
Abu Dawud 3234, Nasa'i no 4, hal 90, dll.
[2] Dalilnya, ada
seorang bertanya , "Ya Rasulullah ! Dimana Ayahku ?" Jawab Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ayahmu di Neraka", Ketika orang itu
akan pergi, dipanggil lagi, beliau bersabda, "Ayahku dan ayahmu di
neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim Kitabul Iman I/191 No. 203, Abu
Dawud No. 4718, Baihaqi dalam Sunan Al‐Kubra
7/190]. Pada riwayat yang lain, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada
kedua anak Mulaikah, "Ibu kamu di Neraka", keduanya belum bisa
menerima, lalu Nabi panggil dan beliau bersabda, "Sesungguhnya ibuku
bersama ibumu di Neraka"[Thabrani dalam Mu'jam Kabir 10/98‐99
No. 10017, Hakim 4/364.
[3] Lihat, Adillah
Mu'taqad Abi Hanifah fil A'zham fii Abawayir Rasul alaihis shalatu wa salam
ta'lif Al'Alamah Ali bin Sulthan Muhammad Al‐Qary
(wafat 1014).
Hak
Ibu Lebih Besar Dari Pada Hak Ayah
Di
dalam surat Al‐Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta'alaa berfirman :
"Artinya : Kami perintahkan
kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya
mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).
Mengandungnya
sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan
umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a, "Ya Rabb‐ku,
tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang
shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan)
kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang‐orang yang berserah
diri".
Ukuran
terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9
bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak
bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]
Dalam
ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama
adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan
kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.
Dalam hadits yang
diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
"Artinya
: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Datang seseorang
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah,
kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi
?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Ia bertanya lagi,
'Kemudian siapa lagi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!',
Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi, 'Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab, 'Bapakmu' "[Hadits Riwayat Bukhari (AL‐Ftah
10/401) No. 5971, Muslim 2548]
Imam
Adz‐Dzhabai dalam kitabnya Al‐Kabair
berkata :
"Ibumu telah
mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah‐olah
Sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja
menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia
hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan
kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan
pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan
apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang
sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang
mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia
akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Betapa
banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia
selalu mendo'akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang‐terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia
sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia
lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik
kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang
pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan
yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya
pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal
Allah telah melarangmu berkata 'ah' dan Allah telah mencelamu dengan celaan
yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak‐anakmu
kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul
'Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al‐Hajj
ayat 10 :
"Artinya
: (Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan
yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali‐kali
tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba‐hambaNya".
Demikianlah
dijelaskan oleh Imam Adz‐Dzahabi tentang besarnya
jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak
tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya
beliau mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa
riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orangtua kita
dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan
dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.K A
A N I S L A M V I R T U A L
"Artinya : Kamu
dan hartamu milik bapakmu" [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani
dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]
Haramnya
Durhaka Kepada Kedua Orang Tua
Imam
Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu
'anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya :
Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar‐besar
dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, 'Baiklah,
ya Rasulullah', bersabda Nabi. "Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada
kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong".
Maka Nabi selalu megulangi, "Dan persaksian palsu", sehingga kami
berkata, "semoga Nabi diam" [Hadits Riwayat Bukhari 3/151‐152 ‐Fathul
Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87]
Dari
hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah
syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat
lain Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa‐dosa
besar yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri,
dan sumpah palsu [Riwayat Bukhari dalam Fathul Baari 11/555].
Kemudian
diantara dosa‐dosa besar yang paling besar adalah seorang melaknat kedua orang tuanya
[Hadits Riwayat Imam Bukhari]
Dari
Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda. "Artinya: Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu,
durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan
membunuh anak hidup‐hidup, dan Allah
membencipadamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan
harta (menghamburkan kekayaan)" [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari
10/405 No. 5975) Muslim No. 1715 912)]
Hadits
ini adalah salah satu hadits yang melarang seorang anak berbuat durhaka kepada
kedua orang tuanya. Seorang anak yang berbuat durhaka berarti dia tidak masuk
surga dengan sebab durhaka kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Dari
Abu Darda bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak
masuk surga anak yang durhaka, pe,imu, khamr (minuman keras) dan orang yang
mendustakan qadar" [Hadits Riwayat Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al‐Albani
dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675]
Diantara
bentuk durhaka (uquq) adalah :
1. Menimbulkan
gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupunperbuatan
yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.U S T A K A A N I S L
A M V I R T U A L
2. Berkata 'ah' dan
tidak memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau
menghardik orang tua.
4. Bakhil, tidak
mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi
orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah
pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan
cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, 'kolot'
dan lain‐lain.
6. Menyuruh orang
tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut
sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi
jika 'Si Ibu" melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka
tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan
orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
8. Memasukkan
kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.
9. Mendahulukan taat
kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya
mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na'udzubillah.
10. Malu mengakui
orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat
tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam
ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
Semuanya
itu termasuk bentuk‐bentuk kedurhakaan kepada
kedua orang tua. Oleh karena itu kita harus berhati‐hati
dan membedakan dalam berkata dan berbuat kepada kedua orang tua dengan kepada
orang lain.
Akibat dari durhaka
kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia. Dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud dan Tirmidzi dari sahabat Abi Bakrah
dikatakan.
"Artinya : Dari
Abi Bakrah Radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata, "Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada
pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama
adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi" [Hadits Riwayat
Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 23), Abu Dawud (4902),
Tirmidzi (2511), Ibnu Majah (4211). Ahmad 5/36 & 38, Hakim 2/356 &
4/162‐163,
Tirmidzi
berkata, "Hadits Hasan Shahih", kata Al‐Hakim,
'Shahih Sanadnya", Imam Dzahabi menyetujuinya]
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Dalam hadits lain
dikatakan.
"Artinya : Dua
perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim
dan al'uquq (durhaka kepdada orang tua)" [Hadits Riwayat Hakim 4/177 dari
Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu] [1]
Keridlaan
orang tua harus kita dahulukan dari pada keridlaan istri dan anak. Karena Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam mengatakan anak yang durhaka akan diadzab di dunia dan di
akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari
kiamat.
Sedangkan dalam
lafadz yang lain diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Hakim, Ahmad dan juga yang lainnya,
dikatakan :
"Artinya : Dari
Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Telah berkata Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga
dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka
kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki‐laki
dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah
tangganya" [Hadits Riwayat Hakim, Baihaqi, Ahmad 2/134]
Jadi,
salah satu yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga adalah durhaka kepada
kedua orang tuanya. Dapat kita lihat bahwa orang yang durhaka kepada orang
tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan.
Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia.
Seandainya
ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya kemudian kedua orang tuanya
tersebut mendo'akan kejelekan, maka do'a kedua orang tua tersebut bisa
dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab dalam hadits yang shahih Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, 'Telah berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam, 'Ada tiga do'a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ‐yang
tidak diragukan tentang do'a ini‐,
yang pertama yaitu do'a kedua orang tua terhadap anaknya yang kedua do'a orang
yang musafir ‐yang sedang dalam perjalanan‐,
yang ketiga do'a orang yang dizhalimi" [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam Adabaul Mufrad, Abu Dawud, dan Tirmidzi] [2]
Banyak
sekali riwayat yang shahih yang menjelaskan tentang akibat buruk dari durhaka
kepada orang tua di dunia maupun di akhirat. Ada juga kisah‐kisah
nyata tentang adzab (siksa) dari anak yang durhaka, dari kisah tersebut ada
yang shahih ada juga yang dla'if (lemah). Diantara kisah yang dla'if yang
sering dibawakan oleh para khatib (penceramah) yaitu kisah Al‐Qamah
yang durhaka kepada ibunya sampai mau dibakar oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam hingga ibunya mema'afkannya. Akan tetapi kisah ini dla'if dilemahkan
oleh para ulama ahli hadits [3].
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
_________
Foote Note.
[1] Hadits Riwayat
Bukhari dalam tarikh dan Thabrani dalam Mu'jam Kabir dari Abu Bakrah.
Diriwayatkan oleh Al‐Hakim dalam Kitabnya Al‐Mustadrak
dari sahabat Anas. Lihat Silsilah Shahihah No. 1120 dan Shahih Jami'us Shagir
No. 137 dan 2810.
[2] Hadits Riwayat
Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 24, 372), Abu Dawud 1536,
Tirmidzi 1905, 3448, Ibnu Majah 3826, Ibnu Hibban 2406, At‐Thayalishi
2517 dan Ahmad 2/258, 348, 478, 517, 523. Lihat Silsilah Hadits As‐Shahihah
No. 596
[3] Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ahmad dengan ringkas dalam sanadnya ada
Fayid Abul Warqa' dia matruk (Majmuz Zawaaid 8/148), kata Ibnul Jauzi,
"Hadits ini tidak shah dari Rasulullah karena dalam sanadnya ada Fayid Abu
Warqa" Imam Ahmad berkata, "Ia matrukul hadits", Ibnu Hibban
berkata, "Tidak boleh berhujjah dengannya". Kata Imam Abu Hatim,
"Ia sering dusta" [Lihat Al‐Maudluu'at,
Ibnul Jauzi juz 3 hal 87]
Keutamaan
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Dan Pahalanya
Di
Antara Fadhilah (Keutamaan) Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.
1. Bahwa berbakti
kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya
yaitu hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu
'anhu.
"Artinya : Dari
Abdullah bin Mas'ud katanya, "Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam tentang amal‐amal yang paling utama dan
dicintai Allah ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat
pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua
berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah" [Hadits Riwayat
Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]
Dengan
demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal‐amal
yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua
orang tua).
2. Bahwa ridla Allah
tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah
bin Amr dikatakan.
"Artinya : Dari
Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang
tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" [Hadits Riwayat
Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026‐Mawarid‐),
Tirmidzi (1900), Hakim (4/151‐152)]
3. Bahwa berbakti
kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu
dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam dari Ibnu Umar.
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
"Artinya :
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pada suatu hari tiga
orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah
gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba‐tiba
sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada
yang lain, 'Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan'. Kemudian mereka
memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan
harapan agar Allah
menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, "Ya Allah,
sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku
mempunyai istri dan anak‐anak yang masih kecil. Aku
mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan
memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus
berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah
larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap
memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi
keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak‐anakku
merengek‐rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya.
Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini
kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun.
Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya.
Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anakanaku. Ya Allah, seandainya
perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.
"Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser" [Hadits Riwayat
Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil
Ghaar Ats Tsalatsah Wat‐Tawasul bi Shalihil A'mal]
Ini
menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita
lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah ketika kita mengalami
kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang
dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua
orang tuanya.
Kalau
kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk
kita, maka perbuatan 'Si Anak' yang 'bergadang' untuk memerah susu tersebut
belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil. 'Si
Anak' melakukan pekerjaan tersebut tiap hari dengan tidak ada perasaan bosan
dan lelah atau yang lainnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidur, dia
rela menunggu keduanya bangun di pagi hari meskipun anaknya menangis. Ini
menunjukkan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus didahulukan daripada
kebutuhan anak kita sendiri dalam rangka berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan
dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan
dari pada berbuat baik kepada istri sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin
Umar Radhiyallahu 'anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin
Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
"Ceraikan istrimuu" [Hadits Riwayat Abu Dawud No. 5138, Tirimidzi No.
1189 beliau berkata, "Hadits Hasan Shahih"]
Dalam
riwayat Abdullah bin Mas'ud yang disampaikan sebelumnya disebutkan bahwa
berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Begitu
besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti
kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Di dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah
bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di
Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu' menginginkan, orang tersebut bertanya kepada,
"Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas
jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum,
setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu" [Shahih
Al Adabul Mufrad No.9]
Orang
tua kita telah megurusi kita mulai dari kandungan dengan beban yang
dirasakannya sangat berat dan susah payah. Demikian juga ketika melahirkan, ibu
kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati. Ketika kita lahir, ibu lah
yang menyusui kita kemudian membersihkan kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh
ibu kita, bukan oleh orang lain. Ibu kita selalu menemani ketika kita terjaga
dan menangis baik di pagi, siang atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada
yang bisa menangis kecuali ibu kita. Sementara bapak kita juga berusaha
agar kita segera
sembuh dengan membawa ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau ditawarkan
antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap hidup. Itulah
jasa seorang ibu terhadap anaknya.
4. Dengan berbakti
kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur.
Sebagaimana dalam
hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas Radhiyallahu
'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya :
Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah
ia menyambung tali silaturahmi" [Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 2557,
Abu Dawud 1693]
Dalam
ayat‐ayat Al‐Qur'an atau hadits‐hadits
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dianjurkan untuk menyambung tali
silaturahmi. Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua
orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara saudara‐saudara
kita yang sering ziarah kepada teman‐temannya
tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika
masih kecil dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah dewasa, seakan‐akan
dia tidak pernah berkumpul bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit
apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua.
Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizki dan
dipanjangkan umur.
Sebagaimana
dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan silaturahmi akan diakhirkannya ajal dan
umur seseorang.[1] walaupun masih terdapat perbedaan dikalangan para ulama
tentang masalah ini, namun pendapat yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir
hadits ini bahwa umurnya memang benar‐benar
akan dipanjangkan.
5. Manfaat dari
berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari
hadits tersebut yaituLanak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala ke jannah (surga).
Dosa‐dosa
yang Allah Subhanahu wa Ta'ala segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat
zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat
baik kepada kedua orang tuanya, Allah Subahanahu wa Ta'ala akan menghindarkannya
dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah.
_________
Foote Note.
[1] Riyadlush
Shalihin, hadits No. 319
Pengertian
Tentang Berbuat Baik Dan Durhaka
Penulis
mengangkat tema ini, karena banyak sekali di masyarakat anak‐anak
yang durhaka kepada kedua orang tuanya, tidak menghargai orang tua, melecehkan
orang tua, bahkan ada yang mencaci maki dan memukul orang tuanya, na'udzubillah
min dzalik. Padahal, apabila 'Si Anak' ini menyadari, orang tua lah yang
melahirkan, mengurus, memberikan nafkah, mendidik dan membesarkan dia sampai
dia dewasa, karena itu kewajiban 'Si Anak' adalah taat kepada orang tua dan
harus memenuhi hak orang tua dengan mematuhi perintah dan taat kepadanya.
Jadi
bahasan tentang berbakti kepada kedua orang tua adalah pembahasan yang amat
penting setelah masalah tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Banyak hak
yang harus dipenuhi oleh manusia, pertama hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, kedua
hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketiga adalah hak kedua orang
tua kemudian hak‐hak lainnya.
Hak
Allah Subhanahu wa Ta'ala yang harus dipenuhi oleh hamba‐hambaNya
adalah mentauhidkanNya, beribadah kepadaNya dan meninggalkan segala bentuk
keyakinan, perkataan dan perbuatan syirik. Dari Mua'dz bin Jabal Radhiyallahu
'anhu.
"Artinya : Aku
pernah dibonceng Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diatas seekor keledai, lalu
beliau bersabda kepadaku, "Hai Mua'dz, tahukah kamu apa hak Allah yang
wajib dipenuhi oleh para hambaNya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi
Allah ?" Aku menjawab, "Allah dan RasulNya yang lebih
mengetahui". Beliaupun bersabda , "Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh
para hambanya ialah supaya mereka beribadah kepadaNya saja dan tidak berbuat syirik
sedikitpun kepadaNya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah
bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun
kepadaNya" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]
Hak‐hak
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang harus dipenuhi oleh umat Islam
adalah taat kepadanya, menjauhkan semua larangannya dan beribadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan mengikuti (ittiba') yang dicontohkannya. Karena
beliau diutus untuk ditaati dan diteladani.
"Artinya :
Katakanlah : "Jika kamu (benar‐benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa‐dosamu".
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran : 31]
"Artinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut Allah" [Al‐Ahzab
: 21]
Islam
juga sangat memperhatikan hak‐hak orang tua dan kerabat,
sehingga kita ditekankan untuk
mengamalkannya dengan
baik terutama hak‐hak orang tua, karena mereka
telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan kita sehingga kita menjadi
manusia yang berguna. Oleh karena itu kita wajib berbakti kepada kedua orang
tua degan cara mentaati, menghormati, mencintai, menyayangi, membahagiakan
serta mendo'akan keduanya ketika keduanya masih hidup maupun sudah meninggal
dunia. Taat kepada kedua orang tua adalah hak orang tua atas anak sesuai dengan
perintah Allah dan RasulNya selama keduanya tidak memerintahkan untuk melakukan
hal‐hal yang tidak sesuai dengan aturan dan syari'at Allah dan
RasulNya. Rasulullahn Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Tidak
boleh taat kepada seseorang dalam berbuat maksiat kepada Allah" [Hadits Riwayat
Ahmad]
Sebaliknya,
kita juga dilarang durhaka kepada kedua orang tua karena hal itu termasuk dosa
besar yang paling besar. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seseorang tidak
masuk surga bila durhaka kepada kedua orang tuanya.
"Artinya : Tidak
masuk surga orang yang suka mengungkit‐ungkit
kebaikan (menyebut‐nyebut kebaikan yang sudah
diberikan), anak yang durhaka dan pecandu khamr" [Hadits Riwayat Nasa'I adri
Abdullah bin Amr pada Shahih Jami'us Shaghir No. 7676]
Birrul
Walidian (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting
dalam Islam. Di dalam Al‐Qur'an, setelah
memerintahkan kepada manusia untuk bertahuid kepada‐Nya,
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang
tuanya.
Dalam
surat Al‐Isra ayat 23‐24, Allah berfirman.
"Artinya : Dan Rabb‐mu
telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya
kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik‐baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua‐duanya
telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah' dan
janganlah kamu membentak keduanya" [Al‐Isra
: 23]
"Artinya : Dan
katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap
keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabb‐ku sayangilah
keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil" [Al‐Isra
: 24]
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Al‐Hafidz
Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut :
"Allah Ta'ala
telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak
menyekutukan dengan yang lain. " Qadla" disini bermakna perintah
sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah
berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan "Wabil waalidaini ihsana"
hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik‐baiknya.
Ayat
ini mempunyai makna yang sama dengan surat Luqman ayat 14.
"Artinya : ....
hendaklah kalian bersyukur kepada‐Ku
dan kepada kedua orang tuamu dan kepada‐ Ku
lah kalian kembali"
Dan
jika salah satu dari keduanya atau keduanya berada disisimu dalam keadaan
lanjut usia, "fa laa taqul lahuma uffin" maka janganlah berkata
kepada keduanya 'ah' ('cis' atau yang lainnya). Jangan memperdengarkan kepada
keduanya perkataan yang buruk. "Wa laa tanharhuma" dan
janganlah kalian
membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa "Wa laa tanhar huma ai la
tanfudz yadaka alaihima" maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan
tangan kepada keduanya. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang perkataan dan
perbuatan yang buruk, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memerintahkan untuk
berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
" wa qul lahuma qaulan karima" dan katakanlah kepada keduanya
perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab
dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang,
hendaklah kalian bertawadlu' kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdo'a,
"Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidiku
di waktu kecil", pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya
wafat. [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39‐40,
Cet.I Maktabah Daarus Salam Riyadh, Th.1413H]
Perintah
Birrul Walidain juga tercantum dalam surat An‐Nisa
ayat 36, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan
sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah
kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat kepada anak‐anak
yatim kepada orangorang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh,
teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang‐orang yang sombong dan membanggakan dirinya" [An‐Nisa
: 36]
Para
ulama terdahulu telah membahas masalah Birrul Walidain (berbakti kepada kedua
orang tua) ini dalam kitab‐kitab mereka. Sepeti dalam
kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kitab‐kitab
hadits besar (Ummahatul Kutub) lainnya dalam pembahasan tentang berbakti kepada
kedua orang tua dan ancaman terhadap orang‐orang
yang durhaka kepada kedua orang tua.
Menururt
lughoh (bahasa), Al‐Ihsan berasal dari kata
ahsana‐yuhsinu‐ihsanan. Sedangkan yang dimaksud
dengan ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan
setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan
terhadapa keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya
dalam hal‐hal yang mubah, harus mengikuti apa‐apa
yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa‐apa
yang dilarang. Sedang 'uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu
memotong kambing). 'Uququl Walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang
anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh
gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan
yaitu dengan mengatakan 'ah' atau 'cis', berkata dengan kalimat yang keras atau
menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan
adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan
sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan,
tidak bersilaturrahmi atau tidak memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya yang
miskin.
Pada
hakekatnya seorang anak harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Meski
orang tua masih dalam keadaan musyrik mereka tetap mempunyai hak untuk
mendapatkan perlakuan yang baik dari anak‐anaknya.
Berbuat
baik kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada fardhu kifayah dan
amalanamalan
sunnah lainnya.
Berbuat baik kepada kedua orang tua didahulukan daripada berjihad dan hijrah di
jalan Allah. Berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan dari pada kepada
istri dan anak‐anak.
Berbuat
baik kepada kedua orang tua tidak berarti harus meninggalkan kewajiban terhadap
istri dan anak‐anaknya. Kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak‐anak
tetap dipenuhi walaupun kepada kedua orang tuanya harus didahulukan.
Imam
Qurthubi secara umum mengatakan bahwa dalam berbakti kepada kedua orang tua hendaknya
seorang anak menyetujui apa yang dikehendaki, diinginkan dan dimaui oleh kedua orang
tua. Fudlail bin Iyadl berkata, "Janganlah engkau mencegah apa‐apa
yang disenangi keduanya" Ketika ditanya bagaimana tentang berbakti kepada
kedua orang tua, Fudlail menjawab, "Janganlah engkau melayani kedua orang
tuamu dalam keadaan malas"
Abu
Hurairah Radhiyallahu 'anhu dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari
dalam kitabnya Al‐Adabul Mufrad. Ketika Abu
Hurairah ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata,
"Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau
berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk" [1]
Artinya, orang tua dipersilahkan duduk terlebih dahulu. Tidak boleh berbuat
baik kepada kedua orang tua dalam bermaksiat kepada Allah. Apabila orang tua menyuruh
melakukan sesuatu yang haram atau mencegah dari perbuatan yang wajib, maka tidak
boleh ditaati. Bahwa orang yang paling baik untuk kita jadikan teman dan
sahabat karib selama‐lamanya adalah orang tua
sendiri.
Harta
yang dimiliki seorang anak pada hakekatnya adalah milik orang tua. Sebagaimana
telah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ya
Rasulullah, orang tua saya telah mengambil harta saya" kemudian Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam memarahi orang tersebut dan berkata, "Kamu
dan hartamu milik bapakmu" [2]. Berikan kepada orang tua apa yang ada pada
kita yang pada hakekatnya adalah milik orang tua. Karena kita bisa berusaha,
bekerja dan mendapat gaji, mendapatkan ma'isyah (mata pencaharian), karena
sebab orang tua yang melahirkan dan mendidik kita.
Kalau
keduanya sudah meninggal, tetap berbuat baik dengan mendo'akan, menyambung tali
silaturahmi kepada teman‐teman orang tua yang
disambung oleh keduanya.
Untuk
menjadikan anak shalih berbakti kepada orang tua, bergantung dari pendidikan
orang tua terhadap anaknya. Kalau ingin memiliki anak yang berbakti kepada
kedua orang tua, tidak boleh meninggalkan pendidikan. Cara mendidiknya supaya
menjadi anak yang shalih, anak yang taat kepada Allah dan RasulNya serta taat
kepada kedua orang tuanya. Sejak kecil dididik dengan mentauhidkan Allah,
diajarkan Al‐Qur'an, sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, diajarkan cinta
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga diajarkan tentang
shalat.
Seandainya sekarang
ini ada anak yang durhaka kepada orang tuanya, kemudian orang tua ini menyesal
dan bersedih, mungkin dahulu dia pernah berbuat durhaka kepada orang tuanya sehingga
sekarang dibalas oleh anak‐anaknya. Ada riwayat yang
masih perlu diperiksa, menyebutkan, "Hendaklah kalian berbuat baik kepada
orang tua kalian niscaya anak kalian akan berbuat baik kepada kalian" Jadi
dengan berbuat baik kepada orang tua, insya Allah anak‐anak
akan berbuat baik kepadanya. Tetapi kalau durhaka kepada orang tua, anak‐anakpun
akan
durhaka kepadanya.
Hendaklah
memperhatikan kedua orang tua seumur hidup dan jangan merasa lelah, capek, maupun
letih, dalam berbakti kepada keduanya sebagaimana kita tidak capek dan letih
dalam taat kepada Allah.
Kalau
selama ini pernah durhaka kepada orang tua, segeralah minta ma'af dan berbuat
baik kepada keduanya. Jangan mengulangi lagi dan bertaubat dengan taubat yang
sesungguhnya baik laki‐laki maupun yang perempuan.
Mohon ampun dan bertaubat kepada Allah kemudian merubah sikap. Seandainya kedua
orang tua sudah meninggal mohon ampun kepada Allah dan mendo'akannya dan
bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya, menyambung silaturahmi dengan teman‐teman
kedua orang tua.
Kalau
ingin bahagia dan mendapat berkah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan diluaskan
rizki serta dipanjangkan umur dan dimudahkan segala urusan, dimasukkan ke dalam
surga maka harus terus berbuat baik kepada orang tua. Jangan lupakan semua yang
pernah diberikan kedua orang tua karena semua kebaikan mereka tidak dapat
dihitung dengan apapun juga.
_________
Foote Note.
[1]. Shahih Al‐Adabul
Mufrad no. 32
[2]. Hadits Riwayat
Ibnu Majah 2291 (Shahih Ibnu Majah no. 1855) Ath‐Thahawi
dalam Musykilul Atsar
4/277 no. 1598
(Shahih Musykilul Atsar Imam Ath‐Thahawi
tahqiq Syu'aib Al‐Arnauth
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Wajibnya
Berbakti Dan Haramnya Durhaka Kepada Kedua Orang Tua
Allah memerintahkan
dalam Al‐Qur'an agar berbakti kepada kedua orang tua. Mengenai wajibnya seorang
anak berbakti kepada orang tua, Allah berfirman di dalam surat Al‐Isra'
ayat 23‐24.
"Artinya : Dan
Rabb‐mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah
melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua
dengan sebaik‐baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua‐duanya
telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah' dan
janganlah kamu membentak keduanya" [Al‐Isra
: 23]
"Artinya : Dan
katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap
keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabb‐ku
sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil" [Al‐Isra
: 24]
Juga
An‐Nisa ayat 36.
"Artinya : Dan
sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah
kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat kepada anak‐anak
yatim kepada orangorang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh,
teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang‐orang yang sombong dan membanggakan dirinya" [An‐Nisa
: 36]
Juga
terdapat dalam surat Luqman ayat 14‐15.
"Artinya : Dan
Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam
dua tahun, bersyukurlah kalian kepada‐Ku
dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada‐Ku
lah kalian kembali" [Luqman : 14]
"Artinya : Dan
jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu
tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di
dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang‐orang
yang kembali kepada‐Ku kemudian hanya kepada‐Ku
lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan" [Luqman :
15]
Atau
seperti yang tercantum dalam surat Al‐Ankabut
ayat 8, tidak boleh mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada
kekafiran.
"Artinya : Dan
Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada‐Ku
lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan"
[Al‐Ankabut : 8]
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Serta surat Al‐Ahqaaf
ayat 15‐16.
"Artinya : Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya
mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya
sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan
umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo'a "Ya Rabb‐ku,
tunjukilah aku untuk menysukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang
shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan)
kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang‐orang yang berserah
diri" [Al‐Ahqaaf : 15]
"Artinya :
Mereka itulah orang‐orang yang Kami terima dari
mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan‐kesalahan
mereka, bersama penghuni‐penghuni surga, sebagai
janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka" [Al‐Ahqaaf
: 16]
Sedangkan tentang
anak durhaka kepada kedua orang tuanya terdapat di dalam surat Al‐Ahqaaf
ayat 17‐20.
"Artinya : Dan
orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cis (ah)' bagi kamu keduanya, apakah
kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh
telah berlalu beberapa umat sebelumku ? lalu kedua orang tua itu memohon
pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, "Celaka kamu, berimanlah !
Sesungguhnya janji Allah adalah benar" Lalu dia berkata, "Ini tidak
lain hanyalah dongengan orang‐orang dahulu" [Al‐Ahqaaf
: 17]
"Artinya : Mereka
itulah orang‐orang yang telah pasti ketetapan (adzab) atas mereka, bersamasama umat‐umat
yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah
orang‐orang yang merugi" [Al‐Ahqaaf
: 18]
"Artinya : Dan
bagi masing‐masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar
Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) apa yang telah mereka kerjakan sedang
mereka tidak dirugikan" [Al‐Ahqaaf
: 9]
"Artinya : Dan
(ingatlah) hari (ketika) orang‐orang kafir dihadapkan ke
neraka (kepada mereka dikatakan), "Kamu telah memhabiskan rizkimu dalam
kehidupan duniawi dan kamu telah bersenang‐senang
dengannya maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan. Karena
kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak, dan karena kamu telah
berbuat fasik" [Al‐Ahqaaf : 20]
Sedangkan
dalam surat Al‐Baqarah ayat 215
"Artinya :
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah,
"Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat,
anak‐anak yatim, orang‐orang miskin dan orang‐orang
yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" [Al‐Baqarah
: 215]
P E
R P U S T A K A A N I S L A M V I R T U A L
Banyak sekali ayat‐ayat
di dalam Al‐Qur'an yang menerangkan tentang wajibnya berbakti kepada kedua
orang tua. Dalam surat Luqman, Allah menyebutkan wajibnya seorang anak berbakti
kepada kedua orang tua dan bersyukur kepadanya serta disebutkan juga tentang
larangan mengikuti orang tua jika orang tua tersebut mengajak kepada syirik.
Wasiat
Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut
Berbuat
baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja
atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai
cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan
pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi
apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah.
Sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al‐Isra'
ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.
Di dalam ayat ini
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada
manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian
hendaklah manusia berbuat sebaik‐baiknya
kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau keduaduanya ada di sisinya
dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan 'uh' serta
tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena
hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya
dengan perkataan yang mulia.
Pada
ayat ini Allah mengatakan 'kibara', kibar atau kibarussin artinya berusia
lanjut, sedangkan 'indaka' berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang
menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah
dan tidak berdaya. Imam Al‐Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan
tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena
:
Pertama
Keadaaan usia lanjut
adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena
keadaannya pada saat itu sangat lemah.
Kedua
Semakin tua usia
orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan
'Si Anak' merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena
segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan 'ah' atau membentak
atau dengan ucapan, "Orang tua ini menyusahkan", atau yang lain.
Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau
benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berwasiat agar
manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.
P E
R P Banyak sekali hadits‐hadits
yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua
orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat
yaitu :
"Artinya : Dari
Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda,
"Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan
kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan
itu) dia tidak masuk syurga" [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254,
346]
Kemudian
hadits berikut ini :
"Artinya : Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin,
amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin,
amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka
seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu
dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi,
'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan
tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata :
'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi. 'Celaka
seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya
masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!'
maka kukatakan, 'Amin". [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid
10/1675‐166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz‐Dzahabi
dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad
no. 644 [Shahih Al‐Adabul Mufrad No. 500 dari
Jabir bin Abdillah]
Pada
umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua
orang tuanya yang masih
berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan
bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan
paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan
emas menuju surga.
Karena
itu sungguh rugi jika seorang anak menyia‐nyiakan
kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak‐hak
orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Jika
kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi
kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di
sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta
mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih
terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja.
Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari
mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita
memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25
tahun.
Ketika
orang tua mengurusi kita, dia mendo'akan agar si anak hidup dengan baik dan
menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do'akan
supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya
ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua
orang tuanya.
Bagaimanapun
keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh,
kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita,
bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun
keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid'ah, kita wajib mendakwahkan
kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do'akan supaya mendapatkan
hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik,
berbuat kasar atau pun yang lainnya.
_________
Foote Note
[1] Hadits Riwayat
Abu Daud dalam Al‐Buyu 3530, Ibnu Majah dalam
At‐Tijarah 2292 dari hadits Ibnu Amr,
Ibnu Majah 2291 dari
hadits Jabir
[2] Hadits Riwayat Al‐Bukhari
dalam Al‐Mazhalim 24444 dari hadits Anas, Muslim meriwayatkan seperti
dalam Al‐Birr
2584 dari hadits Jabir, Ahmad 12666 dari Anas. Lafazh di atas adalah riwayat
Ahmad
Pustaka
:
Al‐Fatawa
Asy‐Syar’iyyah Fi Al‐Masa’il
Al‐Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al‐Balad
Al‐Haram, edisi
Indonesia
Fatwa‐Fatwa Terkini‐3,
Darul Haq
Kitab
Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz
Yazid bin
Abdul
Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam – Jakarta
***
Sumber :
http://almanhaj.or.id/