Jumat, 18 April 2014

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Para hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan ini marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, membiasakan diri untuk gemar bersedekah dan beriman terhadap keterangan-keterangan Allah dalam Al-Qur'an. Sebab menjadi orang bertaqwa, gemar bersedekah dan beriman akan Al-Qur'an merupakan jalan untuk mendapatkan rahmat dari Allah. Sebab dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 66, Allah berfirman:


وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ
خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ

الْمُحْسِنِينَ


Artinya:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS: Al-A'raf Ayat: 56)

Selain itu, dalam surat Al Kahfi ayat 109 juga diterangkan:


قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ
الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ

مَدَدًا


Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (QS: Al-Kahfi Ayat: 109)

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara sekalian.
Rahmat artinya kasih sayang. Adapun rahmat yang dimaksudkan dalam materi ini adalah kasih sayang atau karunia Allah yang dilimpahkan kepada segenap makhluknya.

Sesungguhnya hendaknya kita sadari bersama, bahwa setiap apa yang kita rasakan dan kita lihat di dunia ini merupakan suatu kenikmatan, kesenangan, keberuntungan, kelapangan, kelebihan, dan yang sejenis itu, merupakan kategori rahmat.

Para hadirin yang berbahagia,
Setiap nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, baik yang bersifat umum maupun khusus, semuanya adalah buah dari rahmat Allah. Kesehatan, harta benda, istri cantik, anak-anak yang baik, ilmu, petunjuk, jiwa raga yang lapang, hal-hal yang mendatangkan manfaat, kepemurahan, ketulusan, semua itu rahmat ilahi. Perhatikanlah buah rahmat tuhan itu yang meliputi seluruh kehidupan dan keadaan, di dalam ciptaan manusia, dalam anggota tubuh kita, dalam sumber rejeki, di dalam dunia dan ilmu, dan lain sebagainya.

Pada setiap detik dan di semua tempat, dalam keadaan apapun. Tuhan selalu memberi karunia rahmat-Nya. Bukan saja kepada manusia, tetapi juga kepada makhluk lain, misalnya hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Rahmat yang dicurahkan Allah tanpa memandang jenis makhluk, tidak pilih kasih, tapi adil dan merata. Orang yang membangkan dan durhaka kepadaNya juga diberi rahmat. Betapa banyak manusia yang akhlaknya buruk dan gemar bermaksiat, namun mereka juga bergelimpangan kesenangan karena karunia dari Tuhan.

Rahmat Allah yang dikaruniakan kepada makhluknya tidak ada habis-habisnya dan tak akan berakhir sebelum manusia itu berakhir hidupnya. Seandainya lautan dijadikan tinta untuk menulis rahmat, maka tak akan mencukupi. Bisa jadi air lautan habis sebelum dapat menyelesaikan tulisan itu.

Para hadirin yang terhormat,
Mungkin kita bertanya, kalau betul Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba tanpa pandang bulu, mengapa masih banyak orang yang mendapat adzabNya? baik hukuman, siksaan, penderitaan jasmani dan rohani.

Ketahuilah bahwa rahmat Allah dilimpahkan kepada segenap hambaNya. Itu memang betul. Namun jangan diartikan bahwa setelah mendapatkan rahmat kemudian Allah membiarkan suatu perbuatan yang salah tanpa mendapat hukuman.

Di dunia ini penuh dengan perbuatan buruk, misalnya perampasan, korupsi, penghianatan, zina, pembunuhan dan perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah. Seandainya tidak ada adzab atau hukuman dari Allah, maka manusia tidak akan takut untuk melaksanakan kemaksiatan atau kejahatan. Justru disinilai letak dari rahmat Allah, yaitu memberi hukuman orang yang bersalah. Dia tidak membiarkan perbuatan buruk merajalela di muka bumi.

Para hadirin yang berbahagia,
Jika kita fikirkan dengan hati jernih dan akal cerdas, maka sesungguhnya rahmat Allah itu tidak bisa kita hitung. Manusia tidak mampu menghitungnya. Pada susunan dan peralatan tubuh kita sendiri terkandung rahmat Allah yang melimpah ruah. Sejak dari ujung kaki sampai ujung rambut, semuanya mengandung rahmat yang luar biasa. Kalau misalnya salah satu tidak berfungsi, maka akan mempengaruhi pula yang lainnya.

Kemudian rahmat lainnya yang seringkali kita lupakan atau bahkan kita sama sekali tidak menghargainya ialah berupa adanya rahmat siang dan malam. Di dalam Al-Qur'an surat Al Qashas ayat 73, Allah berfirman " Di antara rahmat Tuhan, dijadikanNya untuk kamu siang dan malam, agar kamu dapat bersenang diri padanya, dan supaya kamu dapat mencari karunia Tuhan. Mudah-mudahan kamu bersyukur."

Para hadirin yang terhormat,
Tuhan menjadikan siang dan malam sebagai satu kesatuan rahmat yang saling terkait dan saling isi mengisi. Keduanya sama-sama penting untuk kehidupan semua makhluk, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Makhluk hidup tidak akan hidup tanpa adanya pergantian siang dan malam.

Seandainya di suatu tempat terjadi malam terus-menerus, maka akan terjadi kekacauan luar biasa. Semua makhluk tidak mendapatkan sinar matahari, padahal sinar matahari itu mengandung zat yang diperlukan dalam kehidupan. Hawa atau udara semakin lama semakin dingin apabila terjadi malam secara terus menerus. Dapatlah kita bayangkan, pasti semua makhluk tidak mampu bertahan terhadap hawa yang semakin lama semakin dingin dan terus membeku.Akibatnya, manusia, hewan, dan tumbuhan menjadi binasa.

Sekarang kita bayangkan yang sebaliknya, bagaimana jadinya jika Allah menjadikan suatu tempat itu siang terus menerus? tentu udara semakin panas, suhu terus meningkat dan semua yang ada di permukaan menjadi terbakar.

Allahu Akbar....

Tuhan telah mengatur keadaan dan perjalanan malam maupun siang dengan apik dan sedemikian sistematis, sehingga suhu udara silih berganti, dan makhluk hidup selamat dari bahaya kehancuran. Semua ini merupakan rahmat Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada hambaNya.

Para hadirin yang berbahagia,
Rahmat lain yang tak kalah pentingnya ialah adanya angin dan udara. Selama ini kita menikmati rahmat Allah berupa udara, namun kita jarang, atau bahkan sama sekali tidak bersyukur kepadaNya. Kita tidak pernah menghargai betapa mahal nilai udara.

Itulah contoh-contoh rahmat yang dapat kita rasakan di dunia. Betapa banyak rahmat yang telah diberikan kepada Allah. Namun sebagian saja yang saya contohkan disini.

Demikianlah sedikit apa yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya, maka hal itu semata-mata karena ilmu Allah. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Bilahit taufik wal hidayah wassalamu'alaikum Warahmatullaahi wabarakatuh.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para hadirin yang saya hormati,
Jihad merupakan tiang pancang bagi tegaknya agama. Jihad tidak pernah tenggelam atau selesai dalam kondiri rentangan sejarah umat Islam.
Firman Allah dalam surat Al-Hujurat 15:


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ

يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS: Al-Hujuraat Ayat: 15)

Para hadirin yang berbahagia,
Hendaknya disadari bahwa dalam penggolongan moralitas Islam, bahwa manusia itu dapat dikelompokan menjadi tiga macam, yaitu mereka yang beriman kepada Allah, mereka yang munafik, dan mereka yang kafir atau kufur. Dua golongan yakni munafik dan kufur tidak termasuk sebagai orang islam. Meskipun orang munafik itu seringkali menampakan ke Islamannya namun tetap bermuka dua. Secara lahiriah ia islam namun hatinya kafir.

Kemudian orang yang beriman, kadang-kadang keimanannya kuat dan kadang-kadang keimanannya lemah. Keimanan mereka mengalami pasang dan surut.

"Iman itu bisa bertambah dan berkurang"

Sekali waktu keimanan itu menipis sehingga orang yang bersangkutan nyaris tidak pantas disebut muslim. Meskipun demikian, sedikit sekali yang tertinggal di dalam hatinya tentang iman, maka masih dianggap muslim.

Namun sekali waktu tampak dan terasa kuat. Sehingga ia bersungguh-sungguh dalam memadukan keimanannya dengan amal shalih yang dikerjakan sehari-hari. Oleh karena keadaan iman yang naik turun, maka hendaknya ada usaha pembinaan dan pengembangan guna mencapai pada tangga kesempurnaan iman.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara sekalian.
Selanjutnya bagaimana caranya agar kesempurnaan iman tidak ternoda dan tidak ditumbuhi oleh penyakit keimanan? Yakni sifat yang mendekati kemunafikan, sifat ragu-ragu atas kebenaran mutlak?

Keragu-raguan di dalam hati memang membahayakan. Tidak sekedar bahaya dalam persoalan iman. Justru dalam tindakan-tindakan lainnya, bila unsur ragu-ragu telah memasuki perbuatan maka seseorang akan menjadi canggung. Lalu perbuatan itu menjadi tidak mantap. Menjadi setengah-setengah dan akhirnya terperangkap dalam bahaya.

Iman kepada Allah dan rasulNya harus bersih dari perasaan keragu-raguan. sebab sifat mental yang tidak mempunyai kepastian akan menggoyahkan seseorang dari keyakinan yang mantap. Akibatnya batal atau rusaklah semua keyakinan yang bernilai Ilaiyah.

Para hadirin yang berbahagia,
Bagi orang islam, sebenarnya untuk menghilangkan rasa rag-ragu dan bimbang terhadap keimanan itu tidaklah sulit, asalkan berpegang teguh pada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Hadis. Hanya saja kadang-kadang kita terpengaruh pada lingkungan. Dimana lingkungan tidak sepenuhnya mendukung kemantapan iman. Seringkai orang menjadi goyah imannya karena pengaruh pergaulan.

Oleh sebab itulah Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk berjihad. Di dalam Al-Qur'an seringkali kita jumpai kata-kata jihad beriringan dengan kata-kata iman.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara sekalian.
Hendaknya janganlah mengartikan secara salah tentang kata-kata jihad. Pada umumnya orang hanya mengartikan bahwa jihad selalu berhubungan dengan perang, mengangkat senjata dan kekerasan. Bisa saja diartikan perang melawan orang kafir dan menegakan kebenaran. Namun di sisi lain dapat pula diartikan sebagai pertahanan iman. Jihad mempertahankan iman di luar perang ialah bahwa kita harus memerangi hawa nafsu dan setan yang ada dalam diri kita sendiri. Kita harus memerangi rasa was-was dan keragu-raguan tentang akidah dan keyakinan kepada Allah dan rasulNya.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw, bersabda:


"Kami kembali dari perjuangan yang kecil kepada perjuangan yang besar." Kemudian Rasulullah saw bersabda pula, "Perjuangan yang besar yaitu menahan hawa nafsu."


Sekarang ini kita sadari bahwa Islam mempunyai lingkungan yang menggangu. Dan yang terganggu adalah iman di dalam dada. Maka jihad yang dikamsud adalah melindungi iman di dada dari gangguan luar. Tentu saja kita harus berjuang sekuat jiwa untuk memerangi hawa nafsu dan setan yang melemahkan iman kita. Perang kepada siapa? memerangi diri kita sendiri.
Rasulullah saw bersabda:

"Barang siapa yang tiada sedikitpun dilubuk hatinya sebeat timbangan suatu daripada jihad, maka ia akan mati sebagaimana matinya orang jahiliyah."


Wal hasil jihad juga merupakan kewajiban yang harus selalu menjadi perhatian oleh setiap mukmin. Untuk jihad di jalan Allah, orang tidak harus mengangkat senjata di medan perang, tetapi dengan harta benda atau mungkin dengan ucapan atau tindakan atau siasat pun sudah dianggap sebagai jihad.

Pintu jihad sangatlah luas dan bermacam-macam bentuknya. Tidak harus dilakukan di saat darurat perang saja. Bagi orang Islam jihad merupakan perjuangan yang harus dilakukan speanjang masa. Jihad yang mesti dilakukan dalam hal ini adalah seperti yang telah disebutkan tadi.

Demikianlah sedikit apa yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya, maka hal itu semata-mata karena ilmu Allah. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Bilahit taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara sekalian yang dirahmati Allah. Alhamdulillah dalam kesempatan ini, kita masih diberi kesehatan sehingga bisa bersilaturahmi dalam acara.....

Para hadirin yang dirahmati Allah,
Kita telah mengaku Islam. Karena itu kita harus beriman kepada Allah. Karena kita telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka tidak boleh sedikutpun mencoba menyekutukan Allah. Iman harus ada di dalam hati kita. Jika iman terlepas, maka kita akan celaka. Seseorang yang imannya lepas dan ia kebetulan mati, maka matinya menjadi suul khatimah. Naudzubillah. Jadi orang yang meneguhkan iman merupakan syarat mutlak bagi orang yang ingin mencapai khusnul khatimah.

Bapak, Ibu dan saudara sekalian!
Apakah beriman itu hanya berikrar dengan dua kalimat syahadat? Apakah hanya percaya kepada Allah sebagai Tuhan yang maha esa dan tidak menyekutukan-Nya? itu belum cukup. Belum dikatakan beriman jika seseorang enggan menjalankan perintah Allah dan ia masih suka dengan maksiat. Masih suka melanggar larangan-Nya.

Para hadirin rahimakumullah.
Tanda-tanda orang yang beriman adalah taat dan taqwa. Jika disebut nama Allah, maka hatinya menjadi bergetar dan imannya semakin kuat. Nyatanya, bahwa yang sebenar-benarnya dianggap orang beriman adalah mereka yang imannya sempurna. Manakala Asma Allah disebut-sebut maka bergetarlah jiwanya. Jika dibacakan ayat-ayat allah, ditujukan kebesaran-Nya melalui tanda-tanda di alam ini, maka iman di dadanya semakin teguh. Begitu juga mereka rajin mengerjakan shalat dan suka bersedekah dari harta yang dimilikinya. Mereka merasa takut kepada Allah jika mendekati kemaksiatan. Segala urusannya, baik masalah kehidupan dunia maupun kepentingan akhirat, selalu disandarkan kepada Allah.

Para hadirin yang berbahagia!
Kadar keimanan seseorang bisa kuat dan bisa pula lemah. Agar iman kita tetap teguh, maka harus ditopang dengan amal ibadah. sebab amal ibadah itu di samping dapat meneguhkan iman juga dapat mencegah perbuatan maksiat.

Kadar keimanan dapat juga ditingkatkan dengan cara membaca ayat-ayat Allah. Apakah ayat-ayat Allah itu? ayat-ayat Allah itu tidak sebatas Al-Qur'an. Namun selain itu ialah tanda-tanda kebesaran-Nya. Adapun tanda-tanda kebesaran itu adalah bukti yang dapat kita saksikan, berupa cipataan Allah di dunia ini. Membaca ayat-ayat Allah bisa kita lakukan dengan pengamatan dan dengan bertafakur (berpikir). Dengan demikian hilanglah keragu-raguan di hati kita. Lalu timbulah keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa Allah itu Maha Kuasa. Rasulullah saw pernah bersabda, "Memikirkan tentang bukti kebesaran Allah sesaat saja, lebih baik daripada ibadah selama tujuh puluh tahun."

Bapak, Ibu dan saudara sekalian yang saya hormati!
Beriman kepada Allah termasuk pula menerima dan membenarkan adanya firmanNya yang telah sampai ditelinga kita. Setelah menerima dan membenarkan, hendaknya dilanjutkan dengan cara mempelajari atau mengkaji. Jika firman Allah dan hadis-hadis dipelajari, maka tidak ada alasan untuk mengabaikannya. Artinya, kita harus menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, iman kepada Allah juga erat kaitannya dengan berdzikir. Makna dzikir sendiri adalah mengingat Allah, dimana dan kapan saja. Jika kita telah menyatakan beriman kepada Allah tetapi seringkali melupakan Dia, maka belumlah dianggap sempurna iman di dada ini. Orang yang benar-benar beriman ialah mereka yang merasa selalu di awasi oleh Allah dan selalu berdzikir kepadaNya.

Dzikir adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk meneguhkan iman. Diterangkan dalam hadis bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Ketahuilah, aku akan mengungkapkan kepadamu tentang amal yang terbaik dan paling bersih di sisi Allah, paling tinggi untuk menaikan kedudukanmu, dan infak emas perak yang terbaik bagimu, serta jihad yang terbaik bagimu."Sahabat bertanya, "Amalan apakah, ya Rasul?"Rasulullah saw. menjawab, "Yaitu Dzikir kepada Allah."

Para hadirin yang dirahmati Allah.
Dzikir kepada allah merupakan tingkat derajat tertinggi yang membawahi segala bentuk ibadah. Sebab ibadah hanyalah sebagai sarana untuk mencapai dzikirullah. Sedangkan kedudukan dzikirullah yang sederhana ialah lisannya menyebut Allah dan hatinya mengikuti. sedangkan dzikir yang sudah mencapai tingkat makrifat ialah lisannya tidak mengucapkan tetapi batinnya selalu ingat kepada Allah tanpa putus-putusnya.

Dzikir merupakan bentuk mengingat Allah. Kalau seseorang selalu mengingat Allah berarti ia rindu kepadaNya. Kalau sudah rindu, maka ia akan menjalankan amal ibadah secara ikhlas dan berjuang menghindarkan diri dari dosa. Dengan begitu, maka iman di dadanya menjadi semakin kuat dan teguh. Nabi saw. bersabda, "Akan keluar dari neraka, orang yang di dalam hatinya terdapat iman meskipun hanya sekecil rambut."

Para Hadirin,
Iman yang sudah kita pegang teguh dan Islam yang kita peluk sebagai agama dan pembimbing ke jalan lurus merupakan suatu hidayah dari Allah. Oleh sebab itu haruslah kedua-duanya itu kita pertahankan agar jangan sampai terlepas. Sebab kalau sampai terlepas, maka akan celaka. Tidak menutup kemungkinan kadar keimanan di dada ini menurun, tetapi jangan terlepas.

Tak sedikit orang yang imannya rontok dan menjadi murtad. Hal ini disebabkan karena dangkalnya Ilmu tentang agama Islam dan malas melakukan amal ibadah. Akibatnya ia terpengaruh dan menjadi keluar dari Islam. Bahkan keimanannya ditinggalkan. Sungguh keadaan seperti ini jangan sampai menimpa diri kita, karena merupakan bencana yang sangat besar. Naudzubillah...
Dalam Al-Qur'an diterangkan:


وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ

فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya:
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS: Al-Baqarah Ayat: 217)

Orang murtad ialah yang imannya rontok dan keluar dari agama Islam. Jika ia mati, maka menemui keadaan buruk karena amal kebaikannya tidak diperhitungkan.

Berarti ia tertutup hidayah dari Allah. Orang yang murtad sama dengan melakukan pengkhianatan yang sangat besar. Oleh karenanya ia wajib diberi hukuman yang seberat-beratnya. Murtad dari Islam berarti menginjak-injak prinsip-prinsipnya. Dan hal ini merupakan musuh bagi umat Islam. Karena itu bagi kita seorang muslim, wajiblah memegang teguh akidah dan berjalan pada prinsip-prinsip ajaran Rasulullah saw.

Bapak, Ibu dan saudara sekalian.
Pada kesempatan ini saya akan mencoba menyampaikan kata-kata Al Anbiya Hasan Al Basri. Beliau berkata, bahwa seseorang yang murtad dari Islam pada dasarnya bermaksud menjelek-jelekan Islam dan bergaung dengan golongan yang bersikap memusihi Islam. Cara yang demikian itu ditempuh oleh orang-orang yahudi di awal munculnya dakwah Islam. Dengan cara licik, mereka memasang tipu daya. Pada umumnya mereka berduyun-duyun masuk ke Dien Islam. Setelah itu mereka keluar dari Islam. Mereka mengadakan provokasi agar orang-orang yang belum masuk Islam tidak jadi memasuki Islam. Karena terbukti orang-orang yang masuk islam justru keluar untuk mengikuti ajaran agama lain. Demikianlah siasat orang yahudi dalam memusuhi Islam. Mereka menciptakan kesan negatif terhadap orang-orang yang belum masuk Islam dengan cara yang licik. Mereka sudah sepakat terhadap suatu siasat untuk masuk Islam, kemudian keluar, agar orang lain terpengaruh oleh sikap mereka. Terutama sekali bagi orang-orang yang belum masuk islam.

Para Hadirin Rahimakumullah,
Pada kesempatan ini kiranya perlu untuk saya tambahkan tentang kalimat tahuid. Sebab kalimat tauhid merupakan ikrar iman. Kalimat tauhid itu harus sering-sering kita ucapkan. Setiap mukmin hendaknya sering mengucapkan kalimat tauhid yaitu dua kalimat syahadat. Bacaan itu hendaknya dilakukan di setiap ada kesempatan. Hendaknya pula kita memohon kepada Allah agar iman jangan sampai terlepas. Di samping itu hendaknya pula kita beristiqomah dalam menghindari kemaksiatan. jangan sampai hati kita dirasuki bisikan-bisikan setan yang akan menyesatkan diri kita.

Kalimat tauhid merupakan kunci pembuka surga. Artinya bahwa dengan kalimat tauhid yang diwujudkan dengan prilaku dan amalan taat, maka seseorang akan dapat meraih kehidupan surga. Kalimat Laa Ilaaha Illaalaah tidak cukup hanya diucapkan saja. Tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan beramal taat. Karena itu Rasulullah saw. bersabda, "Kunci pembuka surga adalah kalimat Laa Ilaaha Illaallaah."

Demikian yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya, maka hal itu semata-mata karena ilmu Allah. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Billahit taufiq wal hidayat, wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bapak-bapak,ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Pertama sekali, marilah kita panjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah swt.

Karena Dia telah memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat yang sangat besar itu ialah umur yang panjang, kesehatan yang baik,dan kesempatan yang luang sehingga kita semua bisa memnghadiri acara………

Tanpa ijin dari Allah tak mungkin kita bisa hadir dan bermusyawarah di tempat ini.

Kedua kalinya, semoga keselamatan dan kesejahteraan tetap dililpahkan Allah kepada panutan kita semua,yakni Rusulullah saw. Berikut para keluarganya,para sahabatnya,para ulama dan segenap pengikutnya,umat Islam sekalian. Amin

Para hadirin yang saya hormati,
Nabi Muhammad diutus kepada umatnya dengan dibekali Al-Qur'an sebagai petunjuk dan pedoman. Tidak hanya petunjuk dalam beribadah namun juga sebagai petunjuk dalam meniti kehidupan sehari-hari.

Para hadirin yang berbahagia,
Muhammad diutus sebagai Nabi dengan membawa Al-Qur'an, semata-mata untuk membahagiakan manusia. Yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Al-Qur'an diturunkan agar dapat menjadi petunjuk jalan yang lurus, yang harus dilalui oleh setiap manusia dalam mencari kebahagiaan dan keberuntungan. Karena itu seorang muslim harus beriman kepada kitabullah Al-Qur'an.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara sekalian.
Terhadap Al-Qur'an yang telah kita imani ini, kita memiliki tiga kewajiban di antaranya ialah:

Pertama, kita harus mempercayai kebenarannya secara mutlak. Al-Qur'an bukanlah buatan Nabi Muhammad, dan bukan pula rekayasa para sahabat. Al-Qur'an merupakan wahyu yang datang dari Allah melalui malaikat Jibril. Al-Qur'an tetap terpelihara kebenarannya dan tidak akan dipalsukan sampai kelak di hari kiamat.

Kedua, kita harus membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an merpakan simber ilmu. Ayat-ayat Al-Qur'an dapatlah mendorong manusia untuk berfikir kritis dan cerdas. Al-Qur'an merupakan sumber hukum agama Islam yang harus diamalkan. Al-Qur'an merupakan pedoman hidup sehari-hari. Karena itu, tidak cukup bagi kita membaca saja sampai khatam namun tidak memahami isinya. Memahami isinya saja belumlah cukup kalau tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya kita sadari, di dalam Al-Qur'an ada pula ancaman dan janji. Ancaman merupakan peringatan dari Allah. Setiap peringatan hendaknya janganlah dilanggar. Terhadap janji-janji Allah hendaknya dilaksanakan dengan penuh harap mendapatkan pahala.

Allah berfirman:


كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ

أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS: Shaad Ayat: 29)

Demikianlah Allah menurunkan Al-Qur'an agar dijadikan oleh umat manusia untuk bisa berfikir. Karena itu orang pandai dalam hal ini adalah yang mampu memikirkan ayat-ayat Al-Qur'an dan merenungkannya. Kemudian mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan membaca, memikirkan dan merenungkan kandungan Al-Qur'an, diharapkan agar kita semakin yakin akan kebenaran firman Allah tersebut. Agar semakin yakin bahwa Al-Qur'an cocok untuk pedoman hidup dalam mencapai kehidupan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Ketiga, mengamalkan kandungan Al-Qur'an merupakan suatu kewajiban. Jangan hanya membaca dan merenungkan saja. Itu tidaklah cukup jika tidak diamalkan. Sebab Al-Qur'an diturunkan dengan tujuan sebagai pembimbing dan petunjuk menempuh jalan yang lurus. Jika kita mau menerapkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari, maka tentulah Al-Qur'an akan mampu menyelesaikan persoalan hidup, serumit apapun.

Para hadirin sekalian,
Orang Islam yang mengabaikan isi Al-Qur'an dan kehidupannya menyimpang dari anjuran Al-Qur'an, maka ia akan menemukan kebingungan. Jika mendapat masalah akan cepat putus asa. Lihatlah orang-orang yang jauh adari ajaran Al-Qur'an maka ia akan menemukan kebingungan. -Tidak mengamalkan Islam-, meskipun hidupnya tampak mewah dan semuanya serba tercukupi namun seringkali hatinya dilanda keguncangan. Kehidupan sarat dengan masalah. Jika ia menemui jalan buntu, maka mencari penyesalan dengan cara yang salah, misalnya menenggak minuman keras, lari ketempat hiburan ke diskotik, menelan ekstasi dan sebagainya. Cara yang ditempuh sungguh sangat keliru. Mereka tidak akan menemukan jalan keluar tetapi justru menambah-nambah masalah sehingga semakin runyam.

Para hadirin Rahimakumuloh,
Al-Qur'an, selain sebagai pedoman hidup menuju kebahagiaan, juga merupakan mukzijat Nabi Muhammad. Artinya dengan adanya Al-Qur'an akan semakin mendukung kebenaran Nabi Muhammad saw. sebagai utusan Allah.

Dikatakan mukjizat, karena Al-Qur'an itu menyimpan sesuatu yang agung. Jika ayat-ayat Al-Qur'an dibaca dengan benar, maka akan mampu menggetarkan hati orang beriman. Akan mengalirkan rasa damai di dalam kalbunya. Orang yang sedang gundah dan berduka jika dibacakan Ayat Al-Qur'an, maka fikiran yang suntuk menjadi cerah kembali.

Sesungguhnya kehebatan Al-Qur'an sebagai mukjizat tidak mungkin cukup diuraikan dalam kesempatan ini. Luar biasa banyaknya. Bahkan kalau ditulis sekalipun, maka akan menghasilkan berjilid-jilid buku yang tebal. Oleh karena itu hendaknya sebagai seorang muslim, Kita memanfaatkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Agar kita mendapatkan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Amin
Bilahit taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Para bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Kita telah mengaku sebagai seorang muslim yang beriman. Karena itu hendaknya setiap sikap dan prilaku mencerminkan akhlak mukmin. Adapaun salah satu akhlakul karimah seorang beriman adalah tidak sombong tetapi selalu rendah hati. Dalam bahasa Arab disebut Tawadlu.

Sifat tawadlu sangat mulia dan terpuji. Sifat ini merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang yang selalu rendah hati di setiap pergaulan, maka ia akan selamat. Dia akan disenangi orang lain. Ia akan terbebas dari dosa. Tentang orang-orang yang mempunyai sifat rendah diri, diterangkan dalam firman Allah:


وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya:
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS: Al-Furqaan Ayat: 63)

Hamba yang baik menurut ayat tersebut adalah orang-orang yang bertaqwa, beribadah secara ikhlas, merendahkan hati kepada Allah maupun kepada sesama makhluk, maka akan mendapatkan balasan surga.

Para hadirin rahimakumuloh,
Orang dikatakan tawadhu dapatlah dilihat dari tingkah laku dan ucapannya sehari-hari. Ia selalu menjaga agar jangan sampai menyakiti hati orang lain. Karena itu ia berusaha untuk tidak sombong. Lisannya dikekang agar jangan sampai mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti hati orang lain. Meskipun ia mendapatkan ejekan namun tetap memaafkannya, karena menyadari bahwa orang bodoh tidak mempunyai ilmu. Harus dimaklumi.

Lawan dari Tawadhu adalah ujub dan sombong. Ujub adalah perasaan bangga yang ada dalam hati terhadap sesuatu yang dimiliki atau dikerjakannya. Termasuk pula bangga terhadap amal taat yang dilakukannya. Orang yang merasa puas karena memanggap amalnya sempurna dan merasa dirinya dekat kepada Allah, atau menganggap sebagai wali Allah dan berbeda dengan orang awam, maka sifat itulah yang disebut ujub. Sesungguhnya ujub adalah sifat membanggakan diri atau menyombongkan diri di hadapan Allah. Sedangkan sikap congkak atau sombong, adalah membanggakan dirinya di hadapan sesama manusia. Antara ujub dan sombong, keduanya adalah tercela.

Para hadirin rahimakumuloh,
Hadis berasal dari Ibnu Abbas ra. menjelaskan tentang sabda Nabi saw. yang artinya demikian, "Setiap orang dipasangi dua buah rantai di atas kepalanya. Satu buah tembus ke langit tujuh, dan yang lainnya meluncur ke dasar tujuh bumi. Maka ketika seseorang bertadahu", Allah mengangkatnya dengan rantai yang menembus langit tujuh, sebaliknya ketika dia menyombongkan diri, Allah akan menjatuhkan dengan rantai yang meluncur ke dasar bumi ketujuh."

Sebuah hadis Qudsi menerangkan bahwa Allah berfirman, "Sifat besar adalah pakaianKu dan sifat agung adalah pakaianKu, maka siapa memungut keduanya (sombong) akan kejerumusan ke neraka dan tidak Kupedulikan."

Orang yang bertawadhu, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, maka ia akan mendapatkan kemulian. Tentu saja kemulian itu dari Allah. Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa merendahkan hati yaitu bertawadhu", maka ditinggikan derajatnya oleh Allah. Sebaliknya barangsiapa yang sombong, pasti dijatuhkan kedudukannya oleh Allah."

Para hadirin sekalian,
Nyatakanlah perbedaan orang yang sombong dan orang yang suka merendahkan hati. Orang yang sombong meskipun hanya sedikit saja dalam hatinya, maka Allah tak akan memasukan surga. Rasulullah  saw. bersabda, "Tidaklah masuk surga orang yang dalam hatinya ada rasa sombong meskipun hanya sebesar biji bayam."

Rendah hati merupakan ciri seorang muslim. Oleh sebab itu dalam pergaulan sehari-hari, terhadap orang-orang, hendaknya kita selalu bersikap ramah dan jangan menyombongkan diri. Apa artinya menyombongkan diri? Apakah kita berharap mendapatkan pujian? Tidak mungkin, justru orang-orang akan muak dan membencinya. sedangkan sikap rendah hati atau tawadhu, akan banyak mendapatkan teman dan kelak di akhirat pun akan dinaikan derajat kemuliaan. Rasulullah saw. bersabda, "Ciri-ciri orang tawadhu adalah ia suka minum dari sisa kawan sesama muslim, bahkan tiada seorang yang berlaku demikian, kecuali dicatat baginya tujuh puluh kebaikan, dan dihapus tujuh puluh keburukannya serta diangkat derajatnya pada kedudukan mulia."
Bilahit taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuhu
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Dengan memanjatkan rasa puja dan puji syukur kehadirat Allah swt, karena dengan limpahan rahmat-Nya kita ditakdirkan oleh-Nya berkumpul ditempat ditempat ini tanpa ada halangan suatu apapun.

Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw, karena beliaulah yang menyebarkan agama Islam sampai ke penjuru pelosok dunia, sehingga kita bisa membedakan mana yang haq dan bathil.

Hadirin sekalian yang kami hormati,
Dalam pergaulan sehari-hari sang anak haruslah bisa menempati posisi yang terbaik terhadap ibu, bapak, karena peran orang tua sangat menentukan terhadap putra putrinya. Besar sekali jasa orang tua terhadap putra-putrinya. sementara orang tua tak memperhatikan sama sekali imbalan jasa dari anaknya. Orang tualah sebagai tumpuan harapan. Dengan penuh kasih sayang orang tua terhadap putra-putrinya, memelihara anak mulai sejak hamil bahkan sampai usia kita sekolah ini masih terus membutuhkan berbagai macam keperluan dari orang tua.

Kalau kita merenung, akan jasa-jasa terhadap orang tua kita, maka langkah yang perlu kita terapkan kepada beliau, tiada lain hanyalah sang anak harus taat dan patuh selama perintahnya itu tidak menyimpang dari syariat Islam. dan bila perintah itu melanggar syariat Islam, maka anak boleh menolak dengan cara yang halus, dan penuh hormat.

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Berkaitan dengan hal di atas, maka Nabi saw. menjelaskan dalam hadis yang berbunyi:

"Maukah saya beritahukan tentang tiga dosa besar, sahabat menjawab: Baiklah ya, Rasulullah. Kemudia Rasulullah bersabda: Menyekutukan Allah. durhaka kepada dua ibu bapak, tadinya menyandar lalu beliau tegak duduk sambil berkata; camkan, dan saksi palsu dan perkataan bohong. Maka beliau mengulangi persaksian palsu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi beigut jelas, bahwasanya mendurhakai kepada Ibu dan Bapak merupakan dosa besar. Untuk menghindari agar supaya kita tidak termasuk anak yang durhaka kepadanya, maka dalam pergaulan sehari-hari haruslah dengan rasa sopan santun dan penuh dengan hormat, dan hal ini kita kerjakan dengan ikhlas semata-mata mencari Ridho Allah swt. Ingat! bahwasanya keridhaan Allah tergantung keridhoan kedua orang tua, dan murka Allah juga tergantung murka kedua orang tua, apa arti berbagai macam kebaikan kita lakukan, tapi sementara dengan orang tua selalu bermusuhan dalam kehidupan ini, Naudzubillah min dzaliik.

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Bila ada sang anak sampai hati berkata-kata yang kurang berkenan dalam hati orang tuanya ataupun anak itu membantah, maka harus segera insyaf, dan menyesali, dan mohon maaf atas segala perilaku yang tidak baik terhadap kedua orang tuanya. Orang yang durhaka kepada ibu bapak akan mendapatkan balasan tercepat, mulai hidup di dunia dan sesudah mati.

Rasulullah bersabda:
"Semua dosa pelaksaaannya ditangguhkan oleh Allah mana saja yang ia kehendaki nanti pada hari Kiamat, kecuali dosa durhaka terhadap Ibu Bapaknya mempercepat balasan bagi yang durhaka itu dalam hidup di dunia dan sesudah mati"

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Kiranya sampai disini dulu kata-kata yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini. Mudah-mudahan kita menjadi anak-naka yang saleh, sehingga tidak lupa mendoakan kedua orang tua pada setiap waktu. Dan mudah-mudahan pula kita bisa begaul dengan rasa penuh hormat terhdap beliau. Bilahit taufiq wal hidayat
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Para hadirin sekalian,
Semua orang di dunia ini akan mendambakan kehidupan yang tentram, aman dan damai. Mereka berharap bisa hidup berdampingan dengan nyaman. Kehidupan seperti itu bisa diwujudkan jika masing-masing kita memelihara amal shalih dan menjauhi perbuatan munkar. Sebab perbuatan munkar hanya akan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang yang berbuat keji dan munkar tidak akan diterima di tengah-tengah lingkungannya. Atau, paling tidak ia menjadi tidak disenangi. Sebaliknya orang yang selalu berbuat baik atau beramal shalih, akan disenangi karena memang bergaul denga orang semacam ini. Sangatlah menyenangkan.

Sebagai seorang muslim tidak sepatutnya kita menampakan perilaku buruk di tengah masyarakat. Namun hendaknya tekun beramal shalih dan senantiasa amalan itu semakin hari semakin kita tingkatkan. Untuk dapat mewujudkan perilaku amal shalih, maka hendaknya kita tegakan amar makruf nahi munkar. Artinya, kita berusaha mengajak orang lain kepada kebaikan dan mencegah kenunkaran.

Para hadirin rahimakumuloh,
Rasulullah saw. bersabda, "Hendaklah kalian mengajak orang pada kebaikan, sekalipun kalian belum mampu melaksanakannya, dan cegahlah orang yang berbuat keburukan, sekalipun kalian belum mampu menghentikannya."
Dalam Al-Qur'an surat At Taubah ayat 71, Allah berfirman:


وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Artinya:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar... (QS: At-Taubah Ayat: 71)

Demikianlah ciri-ciri orang beriman. Sesungguhnya jika seorang beriman hidup di tengah masyarakat, maka ia akan selalu menciptakan kesejukan. Bahkan terhadap sesama muslim akan menjadi pengayom atau pelindung dari kemungkaran. Karena itu, terhadap sesama saudara muslim atau kepada selain muslim hendaknya kita mengajak Abu Darda'mengatakan, "Barangsiapa memperingatkan saudaranya di depan banyak orang, berarti ia telah mempermalukannya. Tetapi jika memberi peringatan itu dengan empat mata (berdua), maka manfaatnya akan lebih besar. Jika peringatan itu tidak dihiraukan, maka bolehlah ia meminta bantuan orang lain. Jika kemaksiatan itu dibiarkan maka akan menjadi penyakit dan membudaya di tengah masyarakat. Akhirnya masyarakat pada umumnya akan terkena Adzab dari Allah."

Adzab Allah... Inilah yang kita takutkan.

Apabila di suatu tempat telah membudaya kemaksiatan, sedangkan para ulama enggan mengingatkan kemunkaran itu. Maka tempat itu akan menjadi buruk dan bisana. Artinya, Allah akan menimpakan Adzab kepada mereka. Adzab yang datang itu bermacam-macam, mungkin berupa bencana penyakit, bencana peperangan, bencana kelaparan dan sebagainya. Rasulullah saw. bersabda, "Demi Allah, sungguh kalian harus amar makruf dan nahi munkar. Jika tidak, pasti Allah menimpakan malapetaka kepada kalian, kemudian setelah itu kalian memanjatkan do'a dan Allah mengampuninya.

Hendaknya tujuan kita menegakan amar makruf dan membasmi nahi munkar ialah semata-mata mencari Ridho Allah, semata-mata menegakan agamaNya dan tidak ada sedikitpun unsur mementingkan diri sendiri. Misalnya ingin dipuji dan sebagainya. Insya Allah dengan tujuan itu, Allah akan memberi bantuan pertolongan dalam keperluan itu. Amar makruf nahi munkar yang kita kerjakan akan dapat dilakukan dengan mudah. Tidak ada kendala yang berat. Bukankah Allah telah berfirman.

Kemudian, Apakah syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam rangka beramar makruf dan nahi munkar? Hendaknya seseorang memiliki lima syarat, yaitu ilmu, ikhlas, menggunakan metode yang tepat dan baik, bersikap sabar dan melakukan hal-hal yang diperintahkan Allah.

Berilmu artinya kita harus memiliki ilmu agama dalam menegakan amar makruf dan nahi munkar. Di tengah masyarakat, jika kita tidak memiliki ilmu tentang agama maka kita akan dilecehkan jika mencegah kemunkaran. Kemudian didasari dengan niat ikhlas, hanya karena Allah. Bukan untuk dipuji

Syarat yang lainnya ialah memiliki metode atau cara yang tepat dan benar. Hendaknya kita memberi nasihat yang baik, Penuh dengan kasih sayang dan lemah lembut. Janganlah memberi nasihat yang memunkinkan orang menjadi tersinggung.

Lalu sayart berikutnya adalah sabar. Artinya, kita harus sabar menghadapi bermacam-macam orang. Sabar pula menunggu perubahan sikap dari mereka. Dan yang tak kalah pentingnya ialah kita jangan asal ngomong. Jika telah berani beramar makruf dan nahi munkar maka kita harus konsekuen. Artinya, kita harus melakukan perbuatan-perbuatan baik, melaksanakan perintah Allah dengan sungguh-sungguh serta menghindari kemaksiatan. Setidak-tidaknya kita memberi contoh yang baik terhadap orang yang kita peringatkan. Tanpa sikap ini, kita akan ditertawakan. Akan dituduh hanya bisa ngomong tanpa bisa melakukan.

Demikianlah apa yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka hal itu karena Khilaf dan kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya, maka hal itu semata-mata karena Ilmu Allah. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Bilahit taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Assalmu'alaikum Wr.Wb

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara sekalian yang saya hormati!
Pertama sekali, marilah kita memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT. Karena dia telah memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat itu adalah umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kesempatan yang luang sehingga kita semua bisa menghadiri acara.........Tanpa ijin dari Allah tak mungkin kita bisa hadir dan bermuwajahah di tempat ini.

Kedua kalinya, semoga keselamatan dan kesejahteraan tetap dilimpahkan Allah kepada panutan kita semua, yakni Rasulalloh saw. berikut para keluarganya, para sahabatnya, para ulama-ulama dan segenap pengikutnya, umat Islam sekalian. Aminn

Para hadirin sekalian.
Ciri seorang muslim sejati adalah jujur. Bukanlah dikatakan muslim sejati jika seseorang masih suka berbohong dan menipu. Rasulullah Muhammad saw. dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya. Karena itu jujur merupakan akhlak yang sangat baik dan indah menurut pandangan Allah.

Sesungguhnya jika kita hidup di dunia ini memelihara kejujuran, maka kedamaian akan dapatlah dirasakan oleh seluruh manusia. Orang-orang yang selalu jujur dalam setiap tindakan dan ucapan, maka ia termasuk golongan yang beruntung. Artinya, ia beruntung di dunia dan beruntung di akhirat.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara sekalian,
Kita semua setuju bahwa jujur merupakan budi pekerti yang mulia. Kejujuran dapat membimbing manusia menuju kebaikan. Apabila seseorang telah jujur dan mampu menempatkan suatu kebaikan, maka ia terbimbing menuju surga. Bukanlah Rasulullah saw. pernah bersabda:
"Sesungguhnya kejujuran membimbing kearah kebaikan. Dan kebaikan itu membimbingnya ke surga. Seseorang yang jujur, maka hingga di sisi Allah ia akan menjadi orang yang jujur dan benar. Sedangkan sifat dusta membimbing seseorang pada kejahatan. Lalu kejahatan itu menyeret ke neraka. Seseorang yang biasa berdusta, maka hingga di sisi Allah kelak tetap menjadi pendusta. (HR. Bukhari Muslim)

Para hadirin yang dirahmati Allah,
Orang yang suka berterus terang dan jujur dalam segala hal kehidupan ini, maka ia termasuk memiliki sifat kenabian. Sebab tentu saja orang-orang yang jujur ini suka sekali dengan kebenaran. Karena sukanya, maka ia selalu memelihara akhlaknya dari dusta. Karena itu ia cenderung untuk melakukan kebaikan dan menegakan kebenaran agama.
Dalam Surat Maryam ayat 41, Allah berfirman:


وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya:
Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (QS: Maryam Ayat: 41)

Kemudian di bagian lain, yaitu ayat 54 diterangkan pula:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ

الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

Artinya:
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (QS: Maryam Ayat: 54)

Para bapak, Ibu dan saudara sekalian,
Kejujuran itu dekat dengan kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang disenangi Allah. Jika Allah senang, maka pastilah Dia akan mengasihi. Dan hambaNya yang jujur, maka kelak di hari Kiamat akan disediakan tempat yang menyenangkan, yaitu surga.

Sesungguhnya kejujuran dan sikap terus terang akan membawa diri seseorang menuju ke jalan kemerdekaan jiwa. Jiwa yang merdeka bebas tanpa ikatan. Sebab orang yang selalu jujur, maka ia tidak merasa cemas dan takut kepada siapapun. Apa yang dilihatnya akan dikatakan apa adanya. Tiada tersembunyi dan terselipi kebohongan sedikit pun.

Orang yang senantiasa jujur, maka ia pun jujur terhadap dirinya sendiri, kejujuran pada diri sendiri dapat mengantarkan dirinya pada suatu kemajua. Di mana, karena jujur, akhirnya ia mengakui kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. Jika seseorang menyadari kekuarangan dan kelemahannya, pasti ia tidak mempunyai sifat sombong. Dengan demikian tentu akan terus belajar dan berusaha untuk meningkatkan diri dan memperbaiki kelemahan yang dimiliki.

Para hadirin yang saya hormati,
Sekali lagi saya katakan bahwa orang yang jujur tidak akan takut kepada siapapun juga. Jika ia harus menghadapi bahaya dari perkataannya yang jujur, maka ia tidak akan khawatir. Bahkan ia tak segan-segan mengatakan apa adanya. Tetapi terhadap diri dan hatinya sendiri ia sangat takut. Ketakutan itu ialah jangan-jangan ia memungkiri suara hatinya sendiri. Di mana suara hati mengemukakan kebenaran.

Oleh karena itu sebagai seorang muslim, hendaknya kita senantiasa bersikap jujur, di mana dan kapan saja. Dalam pergaulan sehari-hari, kejujuran perlu diterapkan. Marilah kita tunjukan kepada masyarakat bahwa seorang muslim selalu memiliki akhlak mulia.

Bilahit tayfiq wal hidayat, wassalamu'alaikum warahmatulahi wabarakatuhu.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak-bapak serta para hadirin sekalian yang dimuliakan oleh Allah!
Untuk mengawali resepsi malam walimatul khitan ini, marilah kita mengucapkan tahmid dan tasyakkur kehadirat Allah SWT. Selaku Tuhan dari seluruh Allam ini, karena dialah sumber dari segala kenikmatan dan keselamatan.

Selanjutnya ucapan SHOLAWATULLOOHI WASALAAMUHI tetap tercurahkan kepada jungjungan kepada Nabi Muhammad Saw. Keluarganya,para sahabatnya dan semua orang –orang yang mengikuti ajaran-ajarannya. Sehingga dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw. Di tengah-tengah kita umat islam kita dapat membedakan mana barang yang haq, yang diridhoi Allah, dan mana barang yang bathil yang dimurkai Allah.

Pada malam ini kami mendapat penghormatan dari bapak shohibul hajat, bapak Husnan untuk menyampaikan sepatah, dua patah kata dalam acara walimatul Khitan ini, mudah-mudahan apa yang kami sampaikan nanti berkenan dihati para hadirin sekalian.

Pertama kami atas nama keluarga bapak Husnan mengucapkan ribuan terima kasih yang telah menyempatkan waktu ditengah-tengah kesibukan tugas, untuk memenuhi undangan bapak Husnan untuk itu kami atas nama keluarga sekali lagi mengucapkan ribuan terima kasih, semoga atas jerih payah dari bapak-bapak sekalian dibalas oleh Allah dengan balasan yang setimpal.

Kedua, kami atas nama keluarga mohon do’a restu dari bapak-bapak sekalian, mudah-mudahan anak dari bapak Husnan yang insya’allah akan dikhitan besok pagi diberi keselamatan oleh Allah, dan kelak menjadi anak yang sholeh, anak-anak yang taat kepada Allah, kepada kedua orang tuanya, berguna bagi agama nusa dan bangsa.

Selanjutnya kami atas nama keluarga dari bapak shohibul hajat, mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada sesuatu hal yang kurang berkenan dihati para hadirin apakah itu berupa penyambutan tamu, penyediaan tempat duduk atau hidangan.

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Khitan itu adalah syari’at atau peraturan yng dilakukan oleh Nabi Ibrahim yang kemudian dilanjutkan oleh nabiyullah Muhammad Saw. Dengan sendirinya khitan itu menjadi ajaran islam. Di dalam al-qur’an telah ditegaskan nabi Muhammad saw. Supaya mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan Tuhan kepada Nabi Ibrahim, utamanya soal khitan ini. Misalnya dalam surat An-Nahl ayat 123, Allah berfirman:

TSUMMA AUHAINAA ILAIKA ANIT TABU MILLATA IBROOHIIMA HANIIFAN”.

Artinya:
“kemudian kami (Allah) mewahyukan kepada engkau (hai Muhammad): hendaklah engkau mengikuti kepercayaan nabi Ibrahim, dengan sebulat hati”.

Dan dalam surat Ali Imron 95 ditegaskan lagi oleh Allah:

FATTABI’UU MILLATA IBROOHIIMA HANIIFAN”.

Artinya:
“maka turutilah agama nabi ibrahim yang lurus”.

Sudah kita maklumi bersama bahwa khitan itu berawal dari bahasa Arab, yang artinya menurut ilmu tata bahasa ialah memotong sesuatu. Sedangkan pengertiannya menurut istilah syari’ah ialah memotong/membuang kulup ( praeputium glandis ) kemaluan atau dzakar anak laki-laki, sehingga kepada dzakar itu terbuka sama sekali.

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Menghitankan anak itu adalah merupakan kewajiban dari kedua orang tua muslim, karena dengan khitan berarti menghilangkan darah najis (kotoran) yang dapat menghalangi sahnya sholat. Dan khitan itu juga merupakan pokok kebersihan / kesucian islam. Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh bukhory muslim dari abu Hurairah, Rosulullah saw. Bersabda:

“KHOMSUN MINAL FITHROTI : AL-KHITAANU, WAL IS TIHDAADU, WAQOSHSHUSY SYAARIBI, WATAQLIIMUL ADHFAARI, WANATFUL IBTHI”.

Artinya:
“lima perkara termasuk kebersihan/kesucian , yaitu (1) khitan, (2) mencukur rambut di tempat yang terlindung,(3) menggunting kumis; (4) memotong kuku, (5) mencabut bulu ketiak”.

Hadirin serta para undangan sekalian yang berbahagia!
Mungkin timbul suatu pertanyaan dari para hadirin, sejak kapan anak itu harus dikhitan. Menurut ajaran Islam tidak ada sesuatu ketentuan yang pasti umur berapa anak itu harus dikhitan. Sebab rosulullah SAW sendiri menghitankan cucu-cucu beliau yang bernama hasan dan husain ketika mereka berdua berusia delapan hari.

Tetapi pada umumnya anak-anak lai disunatkan / dikhitankan ketika berumur 7 tahun. Hal ini dihubungkan orang dengan kewajiban seorang anak mengerjakan sholat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Sehingga pada saat itu anak tersebut lebih terjamin kebersihannya. Akan tetapi ada anak yang dikhitankan oleh orang tuanya sesudah berusia 10 tahun, malah ada yang lebih dari itu.

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Selanjutnya timbul pertanyaan pula dalam benak kita itu,apakah khitan itu untuk laki-laki saja, apakah perempuan juga harus dikhitan.
Menurut madzhab syafi’i, anak-anak perempuan harus juga dikhitan. Caranya lebih mudah dan sederhana daripada anak laki-laki, yaitu dengan jalan menyayat kulit saja kulit bagian sebelah atas dari vulva. Mungkin karena cara dan prosesnya yang lebih mudah itu maka anak perempuan pada umumnya di sunat pada waktu berumur antara 2-3 tahun, malah banyak juga terjadi dalam berusia beberapa bulan. Berbeda dengan penghitanan anak laki-laki, yang biasanya diberitakan kepada kepada keluarga –keluarga yang terdekat, maka penghitanan anak perempuan pada umumnya dilakukan secara diam-diam, yang hanya diketahui oleh ibu bapaknya saja. Tidak pernah orang mengadakan pesta atau selamatan karena mengkhitankan anaknya yang perempuan.

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Khitan yang sudah merupakan anjurang atau kewajiban bagi orang islam ini pasti mengandung hikmah dan manfaat. Ditinjau dari segi kebersihan, bahkan khitan itu adalah suatu perbuatan yang menuju kebersihan. Dan kebersihan itu sendiri dalam islam dianjurkan.misalnya mengambil air wudhu sebelum mengerjakan sholat, mandi jinabah sesudah melakukan hubungan seksual, atau bagi wanita-wanita yang baru selesai haid atau nifas, dan lain sebagainya yang semuannya itu adalah bermotifkan untuk memelihara kebersihan itu, dan kebersihan itu sendiri adalah sebagian dari imam:

“AN NADHOOFATU MINAL IIMAANI”.

Artinya:
“kebersihan itu adalah sebagian (separo) daripada iman”.

Dan dilihat dari segi kesehatan, maka khitan itu adalah suatu usaha pencegahan (preventif) terhadap penyakit. Para pakar kedokteran telah sepakat berpendapat, bahwa dengan melakukan khitan khitan itu maka tercegahlah tertinggalnya zat-zat dan hama-hama di ujung alat kelamin laki-laki, yang waktu persetubuhannya bisa masuk ke dalam rahim perempuan.

Demikian lah sepatah,dua patah kata sambutan kami dalam rangka walimatul khitan, semoga bermanfaat bagi kita semua, utamanya bagi bapak shohibul hajat,yang pada malam ini telah mengadakan walimahan atas khitanan anaknya besok pada hari.......................................pukul................................

Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kehilafannya. “UUSHIIKUM WA-IYYAAYA BITAQWALLOOHI, WASSALAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKAATUHU."

Assalamu’alaikum war. wab,

Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian yang saya hormati.
Pertama kali, marilah kita memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada karena dia telah memberikan kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat ituialah umur yang panjang, kesehatan yang baik,dan kesempatan yang luang sehingga kita bisa menghadiri acara……

Tanpa ijin dari Allah tak mungkin kita bisa hadir dan bermuwajah di tempat ini.

Kedua kalinya, semoga keselamatan dan kesejahteraan tetap di limpahkan Allah kepada panutan kita semua, yakni Rosulullah saw. Berikut para keluarganya, para sahabatnya, Amiin.

Para hadirin yang saya hormati,
Allah Taala memberi pedoman hidup bagi kita barupa Al-Qur’an dan sunah Rosul. Keduanya mencakup dua perkara, yaitu mengatur hubungan manusia dengan Allah, dan mengatur hubungan antara sesame manusia (antar mahluk). Hubungan antara manusia dengan Allah dapat diwujudkan dengan cara mengabdi dan beramal taat kepada sang pencipta.sedangkan hubungan antar makluk dapat diwujudkan dengan saling bergaul dengan baik, mengolah dan menjaga lingkungan serta memanfaatkan untuk kemaslahatan.

Allah berfirman:


وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا

السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. QS: Al-An'am Ayat: 153)

Jalan Allah yang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an dan As Sunnah. Adapun jalan-jalan lain adalah pedoman hidup yang didasarkan dari selain Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Istiqamah merupakan suatu jalan yang dapat menyelamatkan dunia akherat. Dengan selalu beristiqamah maka seseorang akan terpelihara imannya dan terlindung imanya dan terlindung dari dorongan hawa nafsu serta setan yang berbuat maksiat. Orang-orang yang mau berpikir, maka merakatidak akan mencari jalan lain dalam memperbaiki kehidupan kecuali jalan yang di atur oleh Allah dalam petunjukNya. Yaitu Al-Qur’an. Sebab menempuh jaran di luar tuntunan Al-Qur’an dan As Sunnah akan mendorong menjadi binasa atau rugi besar, dunia akherat.

Para hadirin yang berbahagia,
Istiqamah dapat pula diartikan teguh pendirian dalam iman orang-orang yang berteguh pendirian dan selama hidupnya tetap berpegang pada iman dan ihsan, maka ia akan menjadi orang beruntung. Kelak dihari kiamat akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan, yaitu surga, Bukanlah Allah telah berfirman: bahwa orang-orang yang berkata,”kami menyembah Allah,”lalu berlaku lurus dalam amalnya,yaitu berpendirian teguh, pasti malaikat pun turun kepada mereka seraya berkata,”janganlah merasa takut dan bersedih,sebaliknya berbahagialahdengan surge yang dijanjikan untukmu. Kamilah para walimu di dunia dan di akherat, dan untukmu di surga segala sesuatu yang menyenangkan nafsumu, dan segala macam yang kau minta sebagai rejekimu dari yang maha pengampun dan penyayang.” QS. 32:30-32.

Bertuhankan Allah yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah mengikuti bahwa Allah sebagai tuhannya dan menetapkan wahdaniahNya: bahwa Allah Maha Esa. Dan berpendirian kokoh dan berprilaku lurus dalam amalnya. Menurut sebagian ulama bahwa istiqamah adalah berpendirian kokoh pada iman, disertai secara ikhlas dan melaksanakan semua perintah wajib.

Para hadirin rahimahumullah,
Istiqamah dapatmengangkat harkat dan martabat manusia, serta membawa ke puncak kesempurnaan. Istiqamah mampu melindungi akal dan hati manusia dari kerusakan dan menyelamatkan jiwa manusia dari kebejatan moral.

Islam membingbing manusia agar istiqamah, teguh pendirian dalam menjalankan perintah Allah dan menjalankan segala laranganNya. Orang yang beristiqomah akan menjalankan keuntungan yang sangat besar.

Para hadirin yang terhormat,
Ada beberapa macam tingkatan istiqamah, di antaranya adalah istiqamatul khawash. Istiqamatul awal adalah yang umumnya dilakukan oleh orang-orang awam, termasuk kita ini. Bentuk istiqamah orang awam adalah sacara batin beriman dan membenarkan adanya Allah serta rosulNya. Kemudian di sertai dengan realisasi lahiriah berupa menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

Sedangkan istiqamah khawash adalah istiqomah yang diterapkan oleh orang-orang yang sudah mencapai makrifat. Orang-orang demikian ini tidak tertarik urusan dunia, harta benda dan kesenangan-kesenangan. Namun hatinya memadukan kenikmatan surga dan kerinduan yang sangat mendalam untuk bisa berjumpa dengan Allah.

Para hadirin yang berbahagia,
Yang disebutkan tadi adalah tingkan-tingkatan istiqamah. Sedangkan macam-macam istiqamah meliputi istiqamah lisan, istiqamah hati dan istiqamah tubuh.

Istiqamah lisan yaitu tetap dalam keadaan mudawamah.yaitu dalam keadaan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian diikuti istiqamah hati dengan istiqamah hati , yaitu hati secara terus –menerus bertekat melakukan kebenan atau selalu berkemauan untuk mengamalkan suatu kebaikan. Adapun istiqamah tubuh ialah menjalankan secara lahiriah.

Adapun pula yang berpendapat bahwa istiqamah bahwa istiqamah itu menyangkut masalah amal taat, menjauhi larangan dan mensyukuri nikmat,serta sabar menempuh jalan surga.

Para hadirin rohimahumullah,
Istiqamah dalam beramal taat terus menerus menjalankan perintah Allah secara ikhlas dan tidak tercemar riya.’amal taat itu diakukan tanpa henti dan tanpa rasa malas. Disamping itu harus melengkapi dengan istiqamah dalam menghindari larangan Allah,mengekang bahwa nafsu agar tidak membuat maksiat. Pencegahan ini harus dilakukan secara terus—menerus dan jangan sampai lalai.

Istiqamah dalam beramal taat secara ikhlas dan mencegah maksiat itu belumlah cukup jika tidak disertai dengan peryataan rasa syukur atas nikmat yang kita terima. Pernyataan syukur ini hendaknya dilakukan secara terus-menerus pula. Dan harus pula ditambah dengan istiqamah berupa sabar. Yakni terus-menerus menghadapi segala yang tidak menyenangkan dengan sabar . untuk mencapai keempat istiqamah itu, maka kita harus memberkali dengan taat yang sempurna dan iklas, kemudian taat yang sempurna dengan taubat, syukur yang sempurna dengan mengoreksi diri, serta sabar yang tidak disertai dengan tidak berputus-asa.

Para hadirin yang berbahagia,
Ada beberapa cirri orang yang selalu istiqamah,di antaranya ialah:
1. memelihara lisannya agar tidak mengadu domba dan menggunjing orang lain. Hal ini menunjukan firman Allah,”janganlah sebagian kamu menggunjing terhadap sebagian lainnya.”

2. Menghindari prasangka buruk. Menunjukan firman Allah ,”hindarilah umumnya prasangka buruk terhadap sesame muslim, sebab prasangka buruk termasuk perbuatan dosa.”Dan tunjukanlah sabda Nabi saw. “Hindarilah prasangka buruk,sebab dugaan jelek itu kata-kata dusta yang berbahaya.”

3. menghindari perbuatan yang bersifat menghina atau mengejek orang lain. Berdasarkan firman Allah ,”janganlah suatu kaum menghina kaum lainnya, karena yang dihina itu lebih baik daripada yang menghina….”

4. membatasi pandangan mata dari penglihatan yang berbau maksiat. Firman Allah,”serukanlah kepada orang-orang mukmin, agar merendahkan pandangan matanya dari melihat yang terlarang.”

5. selalu berkata benar, sesuai dengan petunjuk dalam Al-Qur’an, dan apabila kamu berkata, maka berlakula adil (benar).”

6. infaq fi sabililah, yaitu mengeluarkan hartanya untuk kepentingan agama Allah, hal ini sesuai dengan firman Allah,” pergunakanlah yang baik-baik dari harta yang kamu usahakan atau dari harta yang kamu dapatkan.”

7. tidak berlebih-lebihan, sesuai dengan perintah Allah,”janganlah berlaku terlalu boros.”

8. tidak menuntut keluhuran dan kebanggaan diri, menunjukan firman Allah,” itulah negeri akhirat, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menuntut keluhuran di dunia, dan tidak pula berbuat binasa. Akibat yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa.”

9. memelihara sholat lima waktu, menujukan firman Allah. “ peliharalah semua shalat dan shalat yang pilihan (ashar). Tegakanlah semata karena Allah dan menaatinya.”

10. istiqamah pada ahlu sunnah wal jamaah. Menunjukan firman Allah,”bahwa inilah jalanKu yang lurus,untuk itu turutilah jalanku yang itu, dan janganlah menuruti jalan-jalan yang lainNya.”

Itulah ciri-ciri orang yang beristiqamah dalam menempuh jalan lurus, yakni menempuh perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Sudahkah kita memiliki sepuluh cirri tersebut . jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Karena itu, marila kita mengoreksi diri dan meningkatkan amal ibadah kepada Allah sehinngga menjadi orang yang benar-benar istiqamah.

Demikianlah sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, jika ada kesalahan, maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya, maka hal itu semata-mata karena ilmu Allah .mohom maaf atas segala kekurangannya.
Bilahittaufiq wal hidayah, wasalamu’ alaikum warahmatulahi wabarukatuh.
 
Assalamu'alaikum Wr. Wb

Bapak-bapak, Ibu-ibu serta para hadirin sekalian yang berbahagia!
Ucapan tahmid dan tasyakur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena kita semua masih di beri kesempatan oleh Allah hidup di muka buminya, sehingga kita semua masih dapat bertemu dengan bulan Dzulhijjah, utamanya pada tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut dengan hari raya Adh-ha atau hari raya Qurban ini.

Bulan Dzulhijjah ini disebut dengan bulan haji, karena pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah semua hamba-hamba Allah yang mampu ekonomi dan fisiknya telah berkumpul di padang arofah dengan pakaian serba putih, menundukan wajahnya kehadirat Allah, dengan tujuan yang satu yaitu mengerjakan Ibadah haji untuk mengharapkan ridho dan maghfiroh-Nya.

Juga bulan Dzulhijjah ini disebut dengan Hari Raya Qur'ban atau 'Idul Adh-ha, karena seorang muslim mendapat kesempatan untuk beramal bakti dengan menyembelih hewan korban, apakah itu dengan binatang unta, kambing atau lembu. Dan juga bagi orang yang telah di anugrahi rezeki yang melimpah ruah, dia diwajibkan untuk berkorban. Menyembelih binatang kurban itu tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji di Mekkah, tetapi bagi setiap muslim dimanapun berada, kemudian daging qurbannya dibagi-bagikan kepada para fakir miskin, dan sebagainya boleh dimakan sendiri.

Dalam Al-Qur'an Surat Al Kautsar Allah memerintahkan:
"Maka sembelihlah untuk Tuhan dan Berkorbanlah"
Dan dalam hadist lain Rasulullah bersabda: "Barang siapa mempunyai kelapangan (kejembaran rezeki), mampu untuk berkorban tetapi tidak melakukannya, maka janganlah dia dekat-dekat ke Mushollah tempat kami beribadat".

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Binatang korban yang disembelih dengan hati yang ikhlas itu kelak di hari akhir akan ditimbang darahnya, tanduknya, bulunya dan semua anggota tubuhnya, sekaligus akan menjadi saksi baginya.
Rasulullah saw bersabda yang artinya:
"Sembelihlah korban dan senangkanlah hatimu, sesungguhnya seorang muslim yang menghadapkan hewan-hewan sembelihnya ke kiblat, maka darah hewan itu, tanduknya dan bulunya semuanya merupakan kebajikan yang akan ditimbang pada hari kiamat."

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Menyembelih binatang korban itu mengandung dua aspek perwujudan, yaitu:
Pertama: Aspek uhudiah (Peribadatan), yaitu berbakti dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sesuai dengan asal kata korban itu berasal dari kata "Qoroba" yang artinya mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai imbangan pendekatan itu, maka Allah dekat pula kepada orang yang berkorban, dan Tuhan akan melipatgandakan pahalanya di akhirat kelak.

Kedua: Aspek kemasyarkatan. Karena dengan melakukan korban dan membagi-bagikan daging sembelihan itu akan berkembanglah pendekatan sesama umat manusia. Dimana kaum muslimin yang sedang hidup dalam garis kemiskinan yang selama hidupnya tidak pernah makan daging sapi, kini dia merasakan bagaimana nikmatnya makan daging ikan sapi. Dengan jalan ini insya Allah akan terciptalah kemurnian sosial dalam masyarakat.

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Demikianlah pidato yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini mudah-mudahan berkenan di hati para hadirin sekalian. Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maag atas segala kekurangan dan kekhilafannya.
Akhirul kalam WABILLAAHIT TAUFIQ WALHIDAYAT WASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUHU.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Syukur alhamdulilah kita panjatkan kepada Illahi Rabbi yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian sehingga pada kesempatan yang baik ini kita masih aktif mengikuti kegiatan kultum tanpa ada halangan suatu apapun.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw, karena dengan ajaran Islam kita bisa membedakan yang haq dan bathil berkat hidayah dari Allah SWT.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Nabi saw. bersabda:
Rasulullah saw. menjadikan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa (Ramadhan) dari perbuatan sia-sia dan keji. Dan merupakan makanan bagi orang miskin. Maka barangsiapa yang menunaikan sebelum shalat idul fitri, maka ia sebagai zakat yang diterima, dan barnagsiapa yang menunaikannya sesudah shalat Idul fitri, maka ia dianggap sebagai sedekah biasa. (HR. Abu Dawud Ibnu Majah)

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Begitu wajibnya zakat fitrah untuk dikeluarkan, kecuali orang kafir yang miskin. Dab bagi orang yang melakukan puasa Ramadhan maka puasanya akan bergantung antara langit dan bumi, yakni tidak akan dilangsungkan kehadirat Allah swt. sebelum mereka mau mengeluarkan zakat fitrah.

Nabi saw, bersabda:
Puasa bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan dilangsungkan kehadirat Allah kecuali ia mengeluarkan zakat fitrahnya.

Demikian secara singkat yang bisa kami sampaikan melalui mimbar ini. Mudah-mudahan kita lebih mengerti tentang pengtingnya mengeluarkan zakat fitrah, sehingga orang-orang tidak enggan untuk mengeluarkan zakat fitrah tersebut.

Terima kasih atas perhatian hadirin sekalian. Kurang lebihnya kami mohon maaf. Wassalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh.
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Para hadirin yang saya hormati,
Kita mengaku telah beriman. Salah satu ciri orang beriman adalah menyintai Allah. Bagaimana bentuk cinta kepada Allah ini? Secara garis besar ialah melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang tidak disenangiNya. Cinta manusia kepada Allah memberikan bekas kebaikan kepada manusia itu sendiri, baik dalam kehidupan di dunia maupun dalam kehidupan di akhirat kelak. Di dunia ini, manusia yang cinta kepada Allah senantiasa mendapatkan hidayah., yaitu bimbingan dan taufiq dari Ilahi, hidupnya tenang dan mendapatkan kesenangan yang hakiki. Sedangkan di akhirat, ia akan mendapatkan balasan berupa surga.

Para hadirin rahimakumullah,
Bagaimanakah agar cinta kepada Allah di dalam hati ini menjadi tumbuh? Caranya ialah kita harus memperbanyak berdzikir. Dzikir yang dimaksudkan adalah banyak-banyak mengingat Allah. Kemudian kitapun harus berfikir, memahami isi-isi Al-Qur'an, melatih diri untuk melaksanakan ketentuan syariat, semua itu harus berangkat dari niat ihklas dan suci.

Ketika kita melihat sesuatu yang indah di Jagat Raya ini, hendaknya timbul kesadaran bahwa semua itu adalah nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada hambaNya. Ketika mendengar bunyi air mengalir atau gemuruh air terjun, desiran daun bergeser satu sama lainnya, hembusan angin yang sejuk, atau mendengar kicauan burung yang merdu, maka hendaknya kita bangkitkan ingatan, bahwa semua itu merupakan kebesaran Allah. Ingatan itu harus disertai dengan sikap jiwa penuh syukur, memuji Allah, laksanakan sikap sukur Nabi Dawud yang dapat mempengaruhi gunung-gunung dan burung-burung. Lantaran Nabi Dawud bersyukur, maka gunung dan burung-burung pun ikut bersyukur.
Dalam Al-Qur'an diterangkan:


إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ


وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ
Artinya:
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. (QS: Shaad Ayat: 18-19)

Sikap jiwa yang senantiasa membiasakan mengingat atau berdzikir kepada Allah dan memikirkan segala sesuatu keindahan dan keajaiban ciptaanNya, maka lambat laun akan membentuk pribadi yang lebih dekat dan cinta kepada Illahi. Apabila cinta manusia kepada Tuhan sudah semakin lekat maka kepatuhan dan ketaatan kepadaNya pun semakin lekat, bertambah kuat, sehingga manusia itu dengan sendirinya ikhlas mengurbankan apa saja yang dimilikinya demi memenuhi cintanya kepada Allah.

Para hadirin yang terhormat,
Cinta kepada allah itu bersumber dari iman. Semakin kuat iman seseorang maka semakin erat pula cintanya kepada Allah. Seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah,” Demikian jika membuka surat al-baqarah ayat 165.

Pada ayat tersebut digambarkan bahwa jiwa orang yang beriman itu adalah sedemikian rupa, sehingga jika nama Allah disebut, maka hatinya menjadi bergetar. Jika mendengar ayat –ayat Al-Qur’an dibacakan,maka bertambah kuat imannya.

Mukmin sejati ialah orang yang telah mencapai ketinggian dan kebesaran ilahi, merasakan penyantunaNya dan kebaikanNya. Dia tahu dengan penuh kesadaran bahwa tuhan menganugerahkan nikmat yang tidak ternilai banyaknya kepadanya. Pengetahuan atas hal itu memberikan bekas ke dalam jiwanya, yang artinya membukakan kecintaannya kepada Allah. Hatinya seenantiasa rindu kepada tuhan, segenap perbuatannya dihadapkannya suatu kenikmatan hidup.

Kecintaan kepada Allah berpengaruh pula pada ahlak seseorang sebab dengan kecintaannya kepada Allah, maka seseorang akan berusaha menghindarkan diri dari perbuatan maksiat dan mengutamakan perbuatan mulia.

Pengaruh kecintaan terhadap Allah memancarkan Sifat-sifat, sikap mental dan peranggai yang baik bagi kehidupan. Misalnya seseorang yang cinta kepada Allah maka ia Cenderung berbuat Adil.sebab Allah memerintahkan agar Allah berbuat Adil. Dan seseorang yang menyintai Allah, tentu melaksanakan perintah itu.

Pengaruh lainnya ialah bahwa seseorang akan ikhlas berjuang dalam menegakan kebenaran atau sabililah. Oleh karena Allah memerintahkan agar manusia berjuang fi sabililah , maka orang yang cinta kepada Allah akan mematuhinya.

Cinta kepada Allah juga menumbuhkan sikap dalam hal cinta dan kebaikan terhadap sesama. Seorang akan menjadi baik dan akhlaknya mulia terhadap sesamanya.
Orang yang mencintai Allah akan berbuat sabar. Karena Allah memerintahkan kepada HambaNya untuk bertaubat dari dosa, Dan orang yang mengaku cinta kepada Allah tentu akan mematuhi dan ingin mendapat ampunanNya.

Cinta kepada Allah akan mendorong seseorang bertaubat, karena Allah memerintahkan kepada HambaNya untuk bertaubat dari dosa, Dan Orang yang mengaku cinta kepada Allah tentu akan mematuhi dan ingin mendapat AmpunanNya. Sesungguhnya banyak sekali pengaruh baik dari sikap cinta kepada Allah. Di antaranya ialah seseorang cenderung untuk selalu menepati janji. Sebab janji merupakan akhlak orang-orang beriman.

Para hadirin yang berbahagia,
Adapun tanda-tanda orang-orang yang cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:

Pertama,dia tidak ragu-ragu dalam menghadapi kematian, sebab ia benar-benar menyadari bahwa dengan kematian dia akan bertemu dengan Yang dicintainya, yaitu Allah. Sikapnya dalam mamandang kematian itu seperti halnya tekad nabi Ibrahim alaihis salam yang diceritakan dalam suatu hadist, bahwa ketika malaikat maut datang untuk mencabut rohnya, maka Ibrahim berkata kepada malaikat itu, “ap akah layak engkau, mencabut nyawa seseorang yang cinta kepada kekasihnya?” kekasih yang dimaksud oleh Ibrahim adalah Allah. Pada saat itu maka turunlah wahyu kepada nabi Ibrahim, “apakah engkau melihat bahwa seorang kekasih benci untuk bertemu dengan yang dikasihi?”

Mendengar firman tersebut, maka tanpa ragu-ragu Ibrahim berkata kepada malaikat maut “sekarang, silahkan engkau mencabut nyawaku!”

Kedua, orang yang cinta kepada Allah senantiasa berusaha mengendalikan hawa nafsunya, dan memusatkan setiap perbuatannya yang lahir maupun batin untuk mematuhi perintah Allah.

Ketiga,ingatannya tidak lepas pada tuhannya, yaitu dengan jalan memperbanyak dzikriloh, membaca Al-Qur’an dan amalan-amalan yang sifatnya dapat mendekatkan diri kepada Tuhan yang dicintainya.

Keempat, dia rajin berkhalwal dan menyendiri di tempat sepi untuk menenangkan pikiran guna melihat Allah, memohon dan berdoa, mengerjakan sholat dengan khusyuk,dan bershalat malam ketika orang sedang tertidur lelap,

Kelima,senantiasa mengadakan koreksi diri dari kelalaiannya. Ia seringkali menyesali hidup dan waktunya yang dianggap terbuang sia-sia yang tidak dipergunakan untuk amal ibadah.

Keenam,merasa berbahagia sekali jika dapat mengerjakan ibadah secara tertib, tidak secara berat melakukannya.

Ketujuh bersikap ramah terhadap sesame muslim dan bersikap tegas terhadap orang yang ingkar (kafir). Benci terhadap perbuatan-berbuatan maksiat dan marah terhadap orang-orang yang melakukan kemaksiatan.

Kedelapan, mengerjakan amal ibadah bukan karena takut, melainkan dirasakan sebagai suatu kewajiban.

Kesembilan, menyembunyikan amal ibadahnya agar tidak disaksikan orang dan tidak menonjol-nonjolkan perbuatan baiknya agar dipuji orang lain.

Kesepuluh, senantiasa hatinya melekat kepada Allah dan iklash menerima cobaan yang ditimpakan Allah kepadanya.

Para hadirin Rohimahumullah,
Demikiannlah uraian tentang cinta kepada Allah. Apakah kita termasuk dalam kategori itu. Semoga kita mendapatkan petunjuk sehingga meningkatkan rasa cinta dan kepaatuhan kitakepada Allah. Amiin.

Demikianlah sedikit apa yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka hal itu karena hilaf dan kebodohan ilmu saya. Namun jika dalam matri itu dapat dipetikkebenarannya,maka hal itu semata-matakarena ilmu Allah. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Bilahit taufiq wal hidayah,wassalamu’alaikum warahmatulaahi wabarakatuh.
Assalamu'alaikum Wr.Wb

Para Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian,
Pada kesempatan ini saya mengajak kepada hadirin sekalian, terutama kepada teman-teman sejawat untuk selalu merasa takut kepada Allah. Sebab sebagai seorang muslim yang beriman telah meyakini bahwa Allah itu berkuasa memberi siksa kepada kita jika kita telah durhaka atau berbuat maksiat kepada-Nya.

Sedangkan jika di dalam hati kita sudah ada rasa takut kepada Allah, maka hal itu merupakan bekal untuk mencapai keselamatan. Artinya, dengan memiliki rasa takut kepada Allah, maka kita akan takut berbuat dosa. Jika kita takut berbuat dosa, maka akan selamat dari siksa Allah.

Seorang yang merasa takut terhadap laknat dan siksa dari Allah, maka ia mempunyai keyakinan bahwa perintah Allah jika tidak dilaksanakan maka ia akan menjadi durhaka. Kalau sudah durhaka, maka tentu Allah mengancamnya dengan siksa. Dengan demikian sedapat-dapatnya, ia menjauhi semua larangan-larangan Allah. Sebab dia menyadari bahwa suatu yang dilarang itu dibenci Allah. Segala yang dibenci Allah namun tetap saja dilaksanakan, maka Allah pasti marah dan memberi siksa.

Para hadirin yang dirahmati Allah,
Rasa takut kepada Allah hendaknya kita tanamkan di dalam hati. Begitu juga rasa harap harus pula ditanamkan dalam hati. Rasa harap ialah ada harapan pahala dan rahmatNya apabila kita menjalankan perintah-perintahNya. Kedua faktor itu jika sudah kita miliki dan berpengaruh kuat pada jiwa kita, maka akan mudahlah kita untuk menjalankan ibadah.

Orang yang merasa takut kepada Allah tentu sangat risau jika mengingat kematian. Bukan karena takut mati atau enggan meninggalkan dunia ini. Bukan pula enggan berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kerisauan yang dirasakan karena dia menyadari bahwa dirinya banyak dosa dan khawatir sewaktu-waktu ajal menjemputnya. Perasaan yang demikian itu dipengaruhi pula bahwa amal kebaikan, yaitu amal taat kepada Allah yang dilakukan masih belum sempurna. Rasa takut yang demikian itu adalah ciri-ciri orang beriman.

Sebaiknya, orang yang merasa aman dari Allah ialah mereka yang tidak mau tahu terhadap kematiannya. Ia lupa mengingat mati karena tenggelam dalam kesenangan dunia dan tenggelam dalam kemaksiatan. Dia merasa bebas berbuat apa saja sesuai dengan keinginan hatinya. Sesungguhnya orang yang di dunia merasa aman dari siksa, maka kelak di hari akhirat ia akan merasakan ketakutan yang luar biasa.

Berbeda dengan orang beriman, jika ia mengingat dosanya, meskipun dosa itu kecil, tetapi ia merasa ketakutan. Kemudian mendorong dirinya untuk memperbaiki amal ibadah dan menyegerakan taubat. Sikap yang demikian inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi saw. "Ketika hati seorang mukmin bergetar karena takut kepada Allah, maka berjatuhanlah dosa-dosanya seperti daun kering yang berguguran dari tangkainya."

Dalam hadis lain diterangkan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya, tentang siapakah yang termasuk dalam kerabatnya? Beliau saw. menjawab, "Keluargaku ialah setiap mukmin yang bertaqwa, yaitu yang memiliki rasa takut dan rasa harap sampai di hari kiamat. Sedangkan wali-waliku ialah para mutaqin, dan masing-masing mempunyai kelebihan, kecuali taqwa kepada Allah."

Para hadirin yang saya hormati,
Hendaknya kita dapat membedakan antara perasaan takut kepada Allah dengan takut kepada sesama makhluk. Kalau takut kepada sesama makhluk maka kita mempunyai kecenderungan untuk menghindari atau menjauhi. Karena menghindari terhadap yang kita takutkan akan dapat menyelamatkan diri. Namun tidak demikian makna rasa takut kepada Allah. Takut kepada Allah bukan menjauhi atau menghindariNya. Bukan berarti enggan melaksanakan perintahNya dan tak menghiraukan laranganNya. Bukan itu!

Takut kepada Allah adalah taat. Jika kita sudah taat maka tak akan pernah melanggar ketentuan Allah, tapi dengan istiqomah dan ikhlas kita selalu menunaikan perintah dan menjauhi laranganNya. Jika kita melanggar laranganNya, sama artinya dengan berbuat durhaka kepada Allah.

Hendaknya kita betul-betul menyadari bahwa setiap detik kita selalu digoda hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan musuh jiwa beragama, musuh jiwa orang-orang beriman. Sedetik saja kita terlena, maka akan diombang-ambingkan oleh hawa nafsu tersebut sehingga rasa takut kepada Allah menjadi berkurang. Bahkan menjadi sirna. Kalau sudah demikian, jalan untuk berbuat maksiat begitu lapang dan mudah untuk kita lakukan.

Hawa nafsu tidak pernah mendorong kita agar menjalankan kebaikan. Tetapi selalu menjerumuskan kepada perbuatan dosa, misalnya menghasut orang lain, dengki, bertengkar, dendam dan sebagainya. Hawa nafsu berbeda dengan kata hati, sebab hawa nafsu membuat seseorang tidak merasa takut sedikitpun kepada Allah. Sedangkan kata hati, mempunyai rasa malu dan rasa takut untuk melakukan perbuatan maksiat. Jika ada dorongan untuk berbuat maksiat, maka hati kita akan berkata perbuatan itu tercela. Tetapi jika hawa nafsu di dada kita lebih kuat, maka dorongan berbuat maksiat akan lebih kita pilih.

Orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat, karena hatinya telah dikuasai hawa nafsu. Setiap saat diombang-ambingkan pendirian dan setan pun mengambil kesempatan dengan cara membisikan sesuatu yang jahat. Jika kita hendak beramal taat dan beramal baik, maka nafsu selalu mencegah setan membisikan rasa malas. Karena itu jika hati kita telah tidak ada perasaan takut kepada Allah, maka sulitlah untuk melaksanakan ibadah dan amal taat.

Jika di dalam hati kita sudah tertanam rasa takut, maka untuk berbuat maksiat atau dosa tidak akan terjadi karena kita selalu ingat Allah. Kita selalu ingat akan siksa yang diancamkan untuk kita. Dengan demikian, kitapun mengurungkan niat untuk melakukan perbuatan dosa tersebut. Di mana saja, sendiri atau bersama orang lain, kita selalu mengekang prilaku buruk dengan alasan takut bahwa Allah melihat dan mengancam siksa.
Bilahit taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak shohibul hajat yang kami hormati. Bapak-bapak serta para hadirin undangan sekalian yang berbahagia!
Pada siang hari yang penuh dengan kebahagiaan ini marilah kita bersama-sama memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. Lantaran tidak berhenti-hentinya rohmat, hidayat serta inayat-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga dengan adanya ni’mat-ni’mat Allah itu kita semua mamsih bisa merasakan segarnya air, angin atau udara, dan masih bisa berasakan panasnya matahari.
Selanjutnya marilah kita berdoa kepada Allah semoga sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada jungjungan Nabi Muhammad Saw. Kepada keluarganya, para sahabatnya serta semua orang yang mengikuti ajaran-ajarannya.

Hadirin sekalian yang berbahagia!
Perkenankanlah kami berdiri di muka hadirin sekalian ini adalah mewakili dari rombongan pengantar penganten putra. Dalam mewakili rombongan penganten putra ini ada beberapa hal yang kami sampaikan.
Pertama : kami atas nama seluruh rombongan pengantar pengantern putra mohon maaf yang sebesar besarnya apabila ada tingkah laku yang kurang sopan atau tidak sesuai dengan adat yang berlaku disini, atau yang berupa kata-kata yang kurang berkenan di hati para hadirin atau keluarga masyarakat desa......................................................

Kedua kami atas nama keluarga dari penganten putra yaitu bapak Sapuan sekeluarga menyampaikan salam kepada keluarga penganten putri yaitu bapak kasdarani. Adapun salam yang disampaikan itu adalah salam persaudaraan ukhuwwah islamiyah, yakni ASSALAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKAATUHU.
Disamping bapak Sapuan sekeluarga menyampaikan salam kepada keluarga penganten putri disini, juga menitipkan putranya yang tidak berpengalaman dalam rumah tangga ini dianggap sebagai anaknya sendiri, untuk itu janganlah segan –segan apabila ada kesalahan atau kekeliruan dari anak marwan ini diluruskan, agar jalan yang dilaluinya dalam menempuh hidup berumah tangga ini tiada ganjalan atau rintangan yang dapat merenggangkan keakraban keluarga disini.

Ketiga, kami atas nama rombongan pengantar penganten putra sekaligus teman akrabnya menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah perkawinan ini, mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya.
Saudara marwan..........................hari ini tanggung jawabmu di hadapan Allahbertambah yaitu dengan kehadiran istri setiamu yang selalu mendampingimu. Istri yang berada disampingmu itu adalah amanat yang harus kamu jaga dengan sebaik-baiknya. Dalam al-quran telah ditegaskan oleh Allah supaya para suami itu berbuat baik kepada keluarga istrinya ( utamanya istri sendiri ).

“WA ‘AASYIRUUHUNNA BIL MA’RUFI”

Artinya:
“dan pergauilah istri-istrimu dengan baik ( wahai para suami)”.

Pada waktu haji wada’ ( haji perpisahan) Rosulullah SAW. Bersabda dihadapan para sahabatnya: ingatlah wahai kaumku , terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para istri, istri-istri itu hanyalah dapat diumpakan kawanmu yang berada di sampingmu, kamu tidak memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau istri-istri itu melakukan perbuatan keji yang jelas (misalnya membangkang/tidak mau taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur (supaya kesepian) dan pukulah mereka dengan pukulan yang tidak melukai (misalnya memukul pada bagian paha, betis, dan lain sebagainya). Kalau istri-istri itu sudah taat kepadamu maka janganlah kamu mencari alasan untuk menyusahkan mereka. Ingatlah! Sesungguhnya kami mempunyai kewajiban terhadap istri-istrimu dan sesungguhnya istri-istrimu mempunyai itu mempunyai kewajiban –kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban-kewajiban istri-istri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mempersilakan tempat tidurmu diinjak oleh orang yang kami benci, dan mereka tidak boleh mengijinkan masuk kerumahmu kepada orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajibanmu terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan. Dan tegaskan dalam hadist yang lain mengenai kewajiban seorang suami terhadap istri-istrinya yaitu:

“HAQQUL MAR-ATI’ALAZ ZAUJI AN YUTH’IMAHAA IDZAA THO’IMA WAYAKSUUHAA IDZAKTASAA WALAA YADLIRIBAL WAJHA WALAA YAQBIIHA WALAA YAHJU-RO ILLAA FIL MABAITI”.

Artinya:
“ kewajiban seorang suami terhadap istrinya ialah suami harus member makan kepadanya jika ia sendiri makan, dan member pakaian kepadanya jika ia sendiri (suami) berpakaian, dan tidak boleh memukul wajahnya dan tidak boleh memperolok-olok dia, dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika istri membangkang)”

Dengan merunjuk dari hadist-hadist Rosulullah SAW. Di atas bahwa, bahwa seorang suami itu selaku kepala keluarga dari rumah tangga yang dibinanya, haruslah dituntut untuk berahlak dengan akhlak yang mulia, sebab dengan ahklak yang mulia sebagai pertanda telah sempurna imannya. Dalam hal ini Rosululloh saw. Bersabda:

INNA MIN AKMALIL MUKMINIINA IMAANAN AHSANUHUM KHULUQON WA-ALTHOFUHUM BI-AHLIHI”.

Artinya:
Sesungguhnya yang termasuk golongan mu’min yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya,dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya(istri,anak-anaknya dan para kerabatnya)”.

“KHOIRUKUM KHOIRUKUM LI-AHLIHI WA-ANAA KHOIRUKUM LI-AHLII.

Artinya:
Orang yang terbaik dari kalian ialah mereka yang lebih baik dari kami di dalam mempergauli keluarganya, dan saya (kata Nabi) adalah orang yang terbaik dari kaum sekalian dalam mempergauli keluargaku”.

Sekali lagi kami atas nama teman akrab member pesan kepada sauadara Marwan, bahwa kini adalah telah mempunyai tanggung jawab yang baru yaitu berupa istri kamu, untuk itu jagalah ia sebaik-baiknya, tunaikanlah segala hak-haknya, dan pergauilah ia dengan pergaulan yang ma’ruf. Mudah – mudahan apa yang kami sampaikan dalam sambutan ini ada guna dan manfaatnya bagi kita semua penganten yang sudah tua-tua, khususnya bagi penganten baru yaitu saudara Marwan bersama istri………………………………………….

Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kehilafannya.
IHDINASH SHIROOTHOOL MUSTAQIIM , WABILLAHIT TAUFIK WAL HIDAYAT WASSALAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUHU.
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Bapak-bapak ibu-ibu, saudara-saudara sekalian yang saya hormati .
Pertama kali, marilah kita memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah swt. Karena Dia telah memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar.karunia dan nikmat itu ialah umur yang panjang ,kesehatan yang baik, dan kesempatan yang luang sehingga kita semua menghadiri acara……

Tanpa ijin dari Allah tak mungkin kita bisa hadir dan bermuwajahah di tempat ini.
Kedua kalinya,semoga keselamatan dan kesejahteraan tetap dilimpahkan Allah kepada panutan kita semua, yakni Rosulullah saw. Berikut para keluarganya,para sahabatnya,para ulama-ulama dan segenap pengikutnya, umat islam sekalian. Amiin.

Para hadirin yang saya hormati,
Sesame muslim adalah saudara. Karena itu menyakiti dan mencaci maki orang muslim adalah dosa besar. Sifat ini tercela sekali dan merupakan cirri-ciri orang munafik.
Kecenderungan orang munafik ialah diam-diam dia membenci orang muslim yang taat. Dibelakang, dia akan mencaci dan menggungjingnya. Meskipun tampaknya ia sendiri sebagai seorang muslim,namun muslim yang munafik.

Muslim adalah saudara ibarat satu tubuh. Salah satu bagian tubuh dicubit,maka yang lainnya ikut merasakan sakit,persaudaraan muslim sudah diikat dengan dua kalimat syahahadat,yaitu kesaksian dalam pengakuan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw adalah Rosul Allah.semua muslim menyatakan demikian.ada kesamaan dan keseragaman pandangan hidupmaupun akidah.karena itu, sebenarnya muslim itu satu saudara.

Tetapi umat muslim seringkalimenjadi terpecah-belah. Semua itu akibat ulah dari orang-orang munafikia tidak suka melihat melihat kebaikan –kebaikan yang tumbuh subur di muka bumi ini. Sudah terjadi sifatnya,bahwa ia sering menimbulkankerusakan dengan alasan perbaikan. Reka terpecah dan berkelompok-kelompok. Ditiupkan fitnah sehingga antara sesama muslim saling mendzalimi, saling membenci dan pada puncaknya saling membunuh.

Para hadirin Rohimakumullah,
Orang munafik tidak pernah menghiraukan bahwa sesame muslim tidak boleh menyakiti,baik melalui cacian,tindakan,menyebar isu bohong dan sebagainya. Bahkan sesama muslim dilarang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari. Rosulullah saw. Pernah bersabda ,”mencaci maki orang islam itu adalah fasik,yang membunuhnya adalah kufur.”
Fisik adalah perilaku yang bertolak belakang antara lahiriah dan hatinya. Itulah orang munafik. Sebab yang ditampakan terasa indah yang disimpan dalam hati terasa busuk.Ia tampaknya muslim tetapi terhadap muslim lainya sering menjelek-jelekan, menyebar fitnahdan membuka keburukan. Ia suka mengoreksi orang lain, sedikit sajakeburukan maka akan menjadi besar. Semua itu dilakukan karena kecenderungan hatinya yang berkeinginan untuk diakui sebagai orang yang taat, disanjung dan diagungkan oleh orang lain.

Para hadirin yang terhormat ,
Sebagai muslim hendaknya sadar betul, bahwa menggunjing aib dan kesalahan sesama muslim itu sangat dilarang. Meskipun orang itu benar benar bersalah atau berbuat dosa, maka kita tidak bolehmenceritakan kepada orang lain. Menceritakan kejelekan orang lain,pada hal nyata-nyata buruk,berarti membuka aib orang tersebut .oleh karena aib dan keburukannya itu kita ceritakan , maka dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut .akibatnya orang tersebut akan menanggung malu..menyebar cerita keburukan orang lain bukanlah cirri orang muslim.sebab seorang muslim senantiasa menjaga kehormatan sesama saudara muslim lainya itu haram darah, harta dan kehormatannya.”

Para hadirin yang dirahmati Allah,
Apabila kita melihat seorang muslim melakukan dosa atau kesalahan, kemudian kita mencacinya,maka sikap kita itu bukanlah mencerminkan pribadi muslim.karakter itu pantas dimiliki oleh orang-orang munafik.muslim yang beriman justru akan memperingatkan dengan nasihat-nasihat yang baik, agar yang bersangkutan sadar.kalau perlu diajak bicara empat mata sehingga tidak ada, orang lain yang mengetahuinya.
Dalam Al-Qur'an diterangkan:


وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ

مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Artinya:
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS: Al-Ahzab Ayat: 58)

Para hadirin yang berbahagia,
Islam sangat melarang seseorang menghina sesame muslim sebab kadang kala yang dihina itu belum tentu lebih buruk daripada yang menghina. Bahkan yang dihina itu tidak menutup kemungkinan lebih baik dari yang mencala.mengapa islam melarang demikian ? karena sikap saling mengejek dan mencaci sesame muslim akan menimbulkan keretakan persatuan dan kesatuan umat. Jadi tetaplah jika orang yang suka menghina dan mencaci sesama muslim itu dianggap sebagai orang munafik.

Sikap mencaci maki, menggunjing, menghina, mengolok-ngolok, dan entah apa lagi istilahnya, adalah perbuatan tercela. Hukumnya Haram.hanya orang-orang yang suka perpecahan dan permusuhan saja yang melakukan demikian itu. Ingatlah peringatan Allah dalam surat Al- Hujarat ayat 12,”Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu mengunjing sebagian yang lain!”

Para hadirin Rohimahumullah,
Mereka yang mencaci maki umat islam disebabkan oleh dorongan dari dalam hatinya. Karena dari dalam hatinya dipenuhi oleh kebusukan-kebusukan. Ia tidak suka melihat umat islam rukun dan damai. Meskipun diperingatkan dengan ancaman Allah, baik melalui Al- Qur’an maupun hadist,tetapi orang-orang munafik itu tiada takut sedikit pun. Peryataan keimanan dan amal shalih yang ditampak-tampakan hanyalah kepalsuan belaka.

Orang munafik jarang bisa mengekang lidahnya sehingga ada kecenderungan untuk mengumpat dan menggunjing. Jika melihat seseorang berbuat kesalahan atau aib, bukan main senang hatinya. Dengan demikian ia bisa menceritakan kemana-mana aib tersebut.
Sifat dan sikap orang munafik akan bertolak belakang dengan sikap muslim beriman. Bagi orang beriman, aib saudaranya justru ditutup-tutupi. Ia akan memperingatkan dan memberi nasihat secara diam-diam, yang kemungkinan masih bisa diterima.

Para hadirin rahimahumullah,
Mengungkap keburukan orang lain disebut ghibah.pernah suatu ketika para sahabat ditanya oleh Rosulullah demikian,”kalian mengerti ghibah?”para sahabat serentak menjawab,”Allah dan RosulNya yang lebih mengerti.”kamudian Rosulullah saw. Bersabda,”Ketika engkau ungkapkan keadaan kawanmu(sedangkan) ia benci tentang pengungkapanhal itu kepada orang lain, maka itulah yang disebut ghibah.”lalu para sahabat bertanya,”bagaimana kalau yang diungkapkan itu yang sebenarnya?”Rosulullah saw. Menjawab”jika hal (yang kau ungkapkan) itu sudah dengan kenyataan orang itu, berarti ghibah. Namun jika tidak sesuai dengan kenyataan, bahkan disebut buthan, yaitu memfitnah!”

Para hadirin yang berbahagia,
Hendaknya kita sadari bahwa setiap orang memiliki harga diri. Jika digunjing dan dicaci maki, meskipun ia ternyata memang bersalah,maka tentu akan marah. Paling tidak ia menjadi tersinggung. Kemudian timbullah rasa benci kepada oarng yang menjelek-jelekan dirinya. Itulah kebanyakan sifat manusia.

Menggunjing dan menjelek-jelekan orang lain lebih kejam daripada perang. Diceritakan bahwa suatu ketika sufyan bin husbain duduk bersama iyas bin muawiyah.lalu sufyan menceritakan keburukan orang lain. Maka iyas merasa tidak suka mendengarocehan sufyan.
“diam kau sufyan!”kata iyas.”Apakah engkau pernah memerangi Roma?”
Iyas menjawab,”tidak pernah. Sofyan bertanya,”Apakah engkau pernah memerangi turki?”
Jawab iyas,tidak juga.”
Kata iyas,Roma dan Turki selamat dari kekejamanmu:tetapi saudaramu sesame muslim tidak selamatdari kekejamanmu!”

Para hadirin,
Kepribadian muslim sejati beriman adalah merasa bahwa sesame muslim itu satu saudara.dengan begitu,akan terjalinlah hidup bekerja sama yang baik,saling tolong-menolong dan saling membantu, ia akan menghindari caci maki dan menjelek-jelekan orang sesame saudara muslim. Oleh sebab itu jika seseorang mengaku muslim tetapi masih suka menggunjing, maka ia bukanlah muslim sejati.

Demikianlah apa yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini. Jika, ada kesalahan, maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya. namun jika dalam materi itu dapat dipetik kebenarannya, maka hal itu semata-mata karena ilmu Allah. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Bilahit aufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh