Kamis, 30 Mei 2013

ISTIGFAR DAN TAUBAT


Istighfar lebih dahulu daripada taubat

Istighfar dan Taubat adalah dua hal yang terpisah. Dari satu sudut pandang,
istighfar didahulukan sebelum pertobatan karena istighfar merupakan permohonan bantuan dan kekuatan dari Tuhan sedangkan taubat berarti berdiri di atas kakinya sendiri. Sudah menjadi Sunatullah dimana ketika seorang manusia memohon bantuan kepada-Nya, Dia akan menganugrahkan kekuatan dan dengan kekuatan itu si pemohon akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri guna melakukan suatu hal yang baik yang disebut sebagai ‘berpaling kepada Tuhan.’ Keadaan ini merupakan natijah alamiah daripada istighfar. Dianjurkan kepada para pencari agar mereka memohonkan kekuatan kepada Tuhan dalam segala keadaan. Sebelum ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan-nya, seorang pencari tidak akan bisa melakukan
apa pun. Kekuatan melakukan pertobatan didapat setelah istighfar. Tanpa adanya
istighfar maka fitrat pertobatan tidak berfungsi. Jika kalian mengikuti istighfar dengan pertobatan, maka hasilnya akan sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
Dia akan menganugrahkan barang-barang perbekalan yang baik sampai
saat yang ditentukan’ (S.11 Hud:4).
Demikian itulah cara Ilahi dimana mereka yang melakukan pertobatan setelah
istighfar akan memperoleh keluhuran derajat yang mereka dambakan. Setiap
indera mempunyai keterbatasan dalam mencapai keluhuran derajat karena
tidak setiap orang bisa menjadi Nabi, Rasul, Siddiq atau pun Shahid.
(Malfuzat, vol. II, hal. 68-69).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar