Hadirin-hadirat yang berbahagia !
“Akhlaq
Fadhilah (Mawas diri, perkataan yang baik).”sebelum kepada pokok penyampaian,
terlebih dahulu saya akan menyampaikan beberapa definisi berkenaan dengan
akhlak dan akhlak fadhilah itu sendiri.
Sebagaimana yang kita ketahui,
tanpa akhlaq manusia tidak dapat menjadi hamba Allah yang hakiki. Sejarah telah
membuktikan bahwasanya akhlaq telah menjadi peranan penting dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Sebenarnya rahasia daripada naik turunnya dan
tegak jatuhnya sesuatu Negara adalah tergantung kepada baik buruknya akhlak.
Seorang penyair pernah berkata :
Artinya : “Sesungguhnya
bangsa-bangsa itu berdiri karena akhlak, kalau akhlak itu baik maka baiklah
seluruhnya dan kalau akhlak itu rusak, maka rusaklah seluruh bangsa itu.”
Tentang akhlak yang sempurna,
nabi Besar Muhammad Saw. Bersabda :
Artinya : “Sesungguhnya aku telah
diutus untuk menyempurnakan seluruh keluhuran akhlak.”
Jadi salah satu maksud pokok Nabi Besar Muhammad
Saw. Diutus oleh Allah Swt. Ialah untuk menegakkan akhlak yang baik. Islam
tidak hanya menghendaki seseorang itu dapat menjadi contoh yang sempurna dalam
akhlak yang baik saja, tetapi berkewajiban pula menjadikan orang lain supaya
asyik dalam melakukan akhlak yang baik.
Hazrat
khalifatul Masih II r.a. menerangkan dalam bukunya Minhaajut-Thaalibin: “Bahwa
akhlak itu separo daripada agama.”
‘Allama Syibli
menulis : “Agama Islam adalah nam kolektif dari 3 hal ialah : “Aqaid
(kepercayaan/keyakinan), ibadah dan akhlak. (Alkalam bagian kedua).
Tokoh Islam
kenamaan Hafizh Ibnu Qaiyim Jauzi menulis “ Akhlak adalah nama kedua dari agama
Islam (Akhlak dan Falsafah Akhlak hal. 50). Mengenai akhlak, semua agama telah
sepakat dan membenarkan bahwa tidak ada suatu agama pun yang mengjarkan dusta,
penganiayaan, pencuruian, perampokkan, dan kejahatan-kejahatan lainnya sebagai
suatu hal yang baik. Bahkan sebaliknya, intisari dari kekuatan-kekuatan akhlak
adalah kesucian, mawas diri, kebijaksanaan, keadilan keberanian dan kasih sayang.
Dan tidak ada satupun agama yang kosong dari hal tersebut, sehingga bangsa Arab
yang jahil di masa dahulu juga tidak kosong dari akhlak yanagbaik, seperti :
kemurahan hati, suka menolong, menjamu tamu dan kadangkala terdapat juga
keinginan untuk menolong fakir miskain dan orang-orag terlantar. Jadi dapat
kita simpulkan, bahwa secara dasar, setiap agama menampilkan peljaran tentang
akhlak, tetapi perbedaannya adalah dalam penjelasan, penyampaian sebab
musababnya dan cara-cara untuk memanfaatkannya. Dan dalam perbedaan inilah
sebenarnya terletak keunggulan dan kelebihan pelajaran-pelajran Islam daripada
pelajaran-pelajaran lain.
SUMBER AKHLAK DALAM ISLAM
Dasar suatu
pendirian yang dapat dipercaya, dapat diterima dan dapat diterapkan adalah
pendirian yang berdasarkan qaidah-kaidah dan undang-undang. Sejauh menyangkut
akhlak yang dikemukakan Islam, pokok dan sumbernya yang paling authentic (dapat
dipercaya) adalah Qur’an suci yang
telah membebaskan dan mengeluarkan bangsa Arab dari kehidupan hewani, menjelma
menjadi manusia berakhlak tinggi, manusia bertuhan bahkan meningkat menjadi
manusia yang menzhirkan sifat-sifat Ilahi. Di dalam Alqur’an Suci telah
dikemukakan baik secara pokok maupun secara terperinci untuk menjalankan akhlak
yang baik dan meninggalkan akhlak yang buruk. Sumber kedua berkenaan dengan
akhlak setelah Alqur’an adalah sunnah
dan sabda-sabda Rasulullah Saw.
Penuntun dan
pemimpin ruhani kita Nabi Besar
Muhammad Saw.-lah yang mempunyai dan memilki akhlakyang sempurna dan
sifat-sifat luhur yang diungkapkan oleh Tuhan dalam Qur’an Suci :
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÈ
“Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad Saw.) benar-benar memiliki akhlak
yang luhur.” (Al-Qalam, surah 68 : 5)
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÈ
“Sesungguhnya
bagi kamu pada dirinya Rasulullah Saw. adalah contoh paling baik.” (Surah 33:22)
PEMBAGIAN AKHLAK
Secara
garis bersamanya akhlak terbagi 2:
- akhlak
hasanah atau akhlak fadhilah atau akhlak terpuji atau disebut juga
akhlakul karimah
- Akhlak
Sayyiah atau akhlak tercela
Secara
lebih khusus lagi, bagian-bagian daripada akhlak adalah :
- Zati
akhlak (berhubungan dengan hati manusia sendiri)
- ‘Aili
akhlak (Akhlak yang berhubungan dengan Keluarga)
- Umumi
akhlak ( akhlak yang bersifat umum)
- Akhlak
dalam pergaulan
- Akhlak
yang berhubungan dengan ketatanegaraan dll.
DEFINISI
AKHLAK HASANAH/AKHLAK FADHILAH
Akhlak
hasanah (akhlak yang baik), sebagian orang berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan
yang ada pada manusia disalurkan dan digunakan menurut pertimbangan akal, itu
adalah akhlak yag baik. Sebagian orang lagi ada yng mengomentari bahwa akhlak
yang baik itu adalah semua pekerjaan yang dilakukan oleh manusia yang
mendatangkan kesenangan hakiki. Adapun yang lain mengatakan ; hakikat dari pada
akhlak yang baik ialah meliputi banyak berderma dan berbuat baik, menjauhkan
diri dari perbuatan yang mendatangkan rasa sakit kepada orang lain.setengah
orang membahas bahwa suci, bersih, dari perbuatan tercela dan memalukan dan
menghias diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan berkesan dan istimewa,
itulah akhlak yang baik. Dan sebagian orang suci lebih jauh menerpong bahwa
semua pekerjaan yang dikerjakan menurut akal dan syari’at, baru dikatakn akhlak
hasanah (Minhajuyt Thaalibin).
Allama
zubaidi mengutarakan bahwa akhlak itu adalah salah satu bentuk dari jiwa
manusia, lalu beliau lebih lanjut berkata : “kalau keadaan dan bentuk itu tetap berdiri pada jalan dan
kaidah (peraturan) nya dan pekrjaan-pekerjaan yang dilakukan itu adalah baik
dan terpuji menurut akal dan syari’at, maka itu adalah akhlak yang baik.”
(Syarah Ahyaul – ‘Ulum jilid 7).
Imam
Ghazali menulis tentang definisi akhlak yang baik/akhlak fadhilah : “Yang
dinamakn akhlak yang baik ialah meninggalakan semua adapt istiadat yang bruruk
yang telah diuraikan dengan jelas oleh syari’at, dan meninggalkan seperti
meninggalkan kotoran. Sebaliknya menjalankan seluruh adat kebiasaan yang baik
begitu mantap sehingga tabi’at manusia selalu merasa tertarik dan menyukainya.”(Mizan
: 47).
Hakikat dari akhlak yang baik ialah semua amal
yang dilakukan sesuai dengan akal yang sehat dan syareat. Pengamal akhlak
hendaknya selalu bertekad dan berikhtiar untuk menunaikan
perbuatan-perbuatanyang cocok dengan kehendak Allah Ta’ala dan pula sebagi
manusia yang dapat menzahirkan sifat-sifat-Nya yang suci di dalam diri
masing-masing dans ekaligus mempraktekkannya. Maka dengan itu, pekerjaan yang
dilakukan persis berdasarkan sifat-sifat Ilahi. Nah itulah yang disebut akhlak
yang baik.
AKHLAK HASANAH DALAM
ISLAM
Islam
senantiasa mendorong manusia supaya sepenuhnya mewarnai dirinya dengan akhlak
hasanah atau akhlak fadhilah, karena seluruh kemajuan rohani akan terwujud
melalui akhlak yang baik. Qur’an Majid selalu mendorong dan menganjurkan untuk
menjalankan akhlak yang baik dalam urusan-urusan keagamaan, finansiil,
pemerintahan bahkan juga dalam urusan yang lain. Lebih lanjut dapat dikatakan
bahwa akhlak yang baik bukan hany penting bagi rakyat biasa saja, tetapi sama
pentingnya bagi pejabat-pejabat pemerintahan. Mawas diri, berkata benar dan
sopan lagi baik tidak hany untuk orang biasa saja, tetapi juga penting dan
perlu bagi siapapun.
Pada
kesempatan mulia ini yang akan sedikit saya tekankan adalah contoh akhlak yang
berkaitan dengan menjaga lidah. Adapun untuk mawas diri yang sifatnya sedikit
lebih umum, bisa disampaikan oleh pengurus dan kesempatan yang lain lagi.
BERKATA YANG BAIK DAN
SOPAN
Hadirin-hadirat
yang mulia! Salah satu bagian akhlak fadhilah dari bermulut manis ialah bahwa
di dalam setiap pembicaraan hendaknya memakai kata-kata yang baik dan sopan.
Maksudnya, bahasanya halus, tidak mengandung fitnah dan hasutan, tidak
bercampur dengan cacian dan makian, tidak berbentuk kata-kata ynag kotor lagi
kasar, tidak pula kata-kata yang membual dan terlalu muluk-muluk serta tidak
mengejek dan menyudutkan orang lain.
Inilah
adalah akhlaq fadhilah yang kaitannya dengan bermulut manis. Jika akhlaq ini
ditampilkan dengan ikhlas dan hati yang suci, maka hal ini akan menjadi
pendorong utama bagi lajunya misi pertablighan. Semua halangan yang menghambat
kemajuan tabligh akan tersibak, Insya Allah kebenaran akan tersebar dan seluruh
permusuhan akan lenyap. Terlebih lagi bagi orang yang tadinya merasa jijik,
enggan dan benci terhadap Ahmadiyah insya Allah akan merasa bahagia masuk ke
dalam Jemaat Ahmadiyah. Benarlah apa yang dikatakan oleh pepatah “ Mulut manis
mematahkan tulang.”
Kalau
kita baca sejarah nabi Besar Muhammad Saw. maka kita akan mendapat bagian
akhlak ini yang sangat menonjol pada diri Rasululah Saw. dan unsure akhlaq ini
pulalah yang mendorong bangsa Arab yang fanatic dank eras masuk dalam agama
Islam. Tentang bagian akhlaq Rasulullah Saw. yang jitu ini diungkapkan pula oleh Allah Ta’ala dalam
kandungan Al-Qur’an sebagaimana Firman-Nya :
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 (
öqs9ur |MYä. $àsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym (
ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ÍöDF{$# (
#sÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4
¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ
Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah engkau (Muhammad) Bersikap lemah lembut terhadap mereka. Dan jika
Sekiranya engkau bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling engkau. ( Surah
3: 160).
Sebagimana
yang saya jelaskan tadi, tanda bermulut manis ialah jangan mengeluarkan kata-kata yang kotor, keji dan jangan mencaci maki. Hal ini
sangatlah penting, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kebenaran yang
disuguhkan oleh Jemaat Ahmadiyah kepada dunia masih dirasa asing oleh
orang-orang, belum dikenal, bahkan sebagian manusia mengatakan palsu, yang
lebih ekstrim lagi beranggapan Ahmadiyah harus dikikis habis. Hadirin…! Tentu
saja apabila kita menyampaikan kebenaran Ahmadiyah kepada khalayak ramai,
terkadang ada saja dan tidak mustahil diantara mereka mengeluarkan kata-kata
kotor bahkan fitnahan sebagai respon yang tidak baik. Lalu. Bagaimanakh sikap
kita sewaktu mengetahui dan mendengarnya? Apakah harus kita balas dengan
kata-kata yang kotor dan kasar juga? Tidak, tidak begitu.Mengapa? karena itu
bukanlah bagian daripada akhlaq Fadhilah. Janganlah “air tuba dibalas dengan
air tuba lagi, tetapi balaslah Air tuba itu dengan air Susu.”
Hazrat
Aqdas Masih Mau’ud as. Jauh-jauh sebelumnya telah memberikan
bimbingan-bimbingan kepada anggota Jema’at agar membalas semua keburukan dengan
kebaikan. Dalam suatu kesempatan beliau bersabda :
“ Adalah mazhab (cara) kita bahwa
berbuat kebaikan kepada orang yang berbuat keburukan terhadap kita.kalau orang
yang berbuat keburukan kepadaku itu minta pertolongan kepada aku, maka aku akan
senang hati menolongnya.Aku selalu menegingatkan kalian, perlihatkanlah
lemah-lembut kepada manusia dan juga berdo’alah kepada Alaah Swt. Ingat ! do’a
kamu tidak akan diterima oleh Allah kalau kamu tidak menjadi orang Muttaqi.
Bersimpati lah kamu kepada umat manusia! Kebaikan itu bukan saja ditujukan
kepada anak keturunan kalian, tetapi juga kepada semua keturunan Adam, baik itu
orang Kristen, Hindu maupun yan lainnya. Sepanjang kamu memperlihatkan
kerendahan sikap dan kata, selama itu pula Allah akan senang dan rindu kepada
kamu. (Sinar Islam Maret 1979 h. 32).
Hadirin………..lemah
lembut dan ucapan yang baik adalah sebagai penunjang uang baik untuk lebih
mencerahkan suasana masyarakat yang harmonis. Unsure penunjang ini telah
difirmankan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an :
øÎ)ur $tRõs{r& t,»sVÏB ûÓÍ_t/ @ÏäÂuó Î) w tbrßç7÷ès? wÎ) ©!$# Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $ZR$|¡ômÎ) Ïur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuø9$#ur ÈûüÅ6»|¡uKø9$#ur (#qä9qè%ur Ĩ$¨Y=Ï9 $YZó¡ãm (#qßJÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4q2¨9$# §NèO óOçFø©9uqs? wÎ) WxÎ=s% öNà6ZÏiB OçFRr&ur cqàÊÌ÷èB ÇÑÌÈ
83. dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil
(yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada
ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta
ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan
tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian
kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
KEJUJURAN
Pada umumnya yang diartikan kejujuran adalah
berkata benar, namun menurut tinjauan Islam sangat luas sekali. Perbaikan pada
setiap ucapan dan amal manusia dinamakan ketulusan dan kejujuran. Yakni penyesuaian
antara hati dengan lidah. Hal ini adalah poko dan penting. Agama dan falsafah
kedua-duanya sama membenarkan kepentingannya. Ini adalah kejujuran apabila
manusia-manusia berkata benar, selamanya berpegang teguh dan berpaut kepadanya.
Tanpa kejujuran mustahil untuk menjalin hubungan baik, kerjasama atau hidup
berjama’ah. Allah Ta’ala berkali-kali memerintahkan untuk berkata jujur dan
benar :
$pkr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qçRqä.ur yìtB úüÏ%Ï»¢Á9$# ÇÈ
“Hai
orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bergabung
dengan orang-orang yang benar.” (surah
At-Taubah / 9:119)
Menurut Rasulullah Saw. kejujuran
itu adalah sebagi pengantar masuk ke dalam surga. Beliau bersabda :
Artinya “ Sesungguhnya kejujuran
dan kebenaran itu membimbing kepada kebaikan dan sesugguhnya kebaikan itu
mengantar ke alam surga.”
Baik
juga diperhatikan bahwa yang dimaksud kebenaran bukanlah mengemukakan dengan
betul sesuatu kejadian atau pendapat, tetapi yang dimaksud dengan kebenaran
ialah : ketulusan dalam niat, kemauan, ucapan dan amal yang benar.
khutbah jum'at-Ku..
khutbah jum'at-Ku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar