Senin, 08 Juli 2013

BERKATA YANG BAIK DAN SOPAN


 Hadirin-hadirat yang berbahagia !

“Akhlaq Fadhilah (Mawas diri, perkataan yang baik).”sebelum kepada pokok penyampaian, terlebih dahulu saya akan menyampaikan beberapa definisi berkenaan dengan akhlak dan akhlak fadhilah itu sendiri.
Sebagaimana yang kita ketahui, tanpa akhlaq manusia tidak dapat menjadi hamba Allah yang hakiki. Sejarah telah membuktikan bahwasanya akhlaq telah menjadi peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebenarnya rahasia daripada naik turunnya dan tegak jatuhnya sesuatu Negara adalah tergantung kepada baik buruknya akhlak.
Seorang penyair pernah berkata :

Artinya : “Sesungguhnya bangsa-bangsa itu berdiri karena akhlak, kalau akhlak itu baik maka baiklah seluruhnya dan kalau akhlak itu rusak, maka rusaklah seluruh bangsa itu.”

Tentang akhlak yang sempurna, nabi Besar Muhammad Saw. Bersabda :

Artinya : “Sesungguhnya aku telah diutus untuk menyempurnakan seluruh keluhuran akhlak.”
Jadi  salah satu maksud pokok Nabi Besar Muhammad Saw. Diutus oleh Allah Swt. Ialah untuk menegakkan akhlak yang baik. Islam tidak hanya menghendaki seseorang itu dapat menjadi contoh yang sempurna dalam akhlak yang baik saja, tetapi berkewajiban pula menjadikan orang lain supaya asyik dalam melakukan akhlak yang baik.
Hazrat khalifatul Masih II r.a. menerangkan dalam bukunya Minhaajut-Thaalibin: “Bahwa akhlak itu separo daripada agama.”
‘Allama Syibli menulis : “Agama Islam adalah nam kolektif dari 3 hal ialah : “Aqaid (kepercayaan/keyakinan), ibadah dan akhlak. (Alkalam bagian kedua).
Tokoh Islam kenamaan Hafizh Ibnu Qaiyim Jauzi menulis “ Akhlak adalah nama kedua dari agama Islam (Akhlak dan Falsafah Akhlak hal. 50). Mengenai akhlak, semua agama telah sepakat dan membenarkan bahwa tidak ada suatu agama pun yang mengjarkan dusta, penganiayaan, pencuruian, perampokkan, dan kejahatan-kejahatan lainnya sebagai suatu hal yang baik. Bahkan sebaliknya, intisari dari kekuatan-kekuatan akhlak adalah kesucian, mawas diri, kebijaksanaan, keadilan keberanian dan kasih sayang. Dan tidak ada satupun agama yang kosong dari hal tersebut, sehingga bangsa Arab yang jahil di masa dahulu juga tidak kosong dari akhlak yanagbaik, seperti : kemurahan hati, suka menolong, menjamu tamu dan kadangkala terdapat juga keinginan untuk menolong fakir miskain dan orang-orag terlantar. Jadi dapat kita simpulkan, bahwa secara dasar, setiap agama menampilkan peljaran tentang akhlak, tetapi perbedaannya adalah dalam penjelasan, penyampaian sebab musababnya dan cara-cara untuk memanfaatkannya. Dan dalam perbedaan inilah sebenarnya terletak keunggulan dan kelebihan pelajaran-pelajran Islam daripada pelajaran-pelajaran lain.

SUMBER AKHLAK DALAM ISLAM 
 
            Dasar suatu pendirian yang dapat dipercaya, dapat diterima dan dapat diterapkan adalah pendirian yang berdasarkan qaidah-kaidah dan undang-undang. Sejauh menyangkut akhlak yang dikemukakan Islam, pokok dan sumbernya yang paling authentic (dapat dipercaya) adalah Qur’an suci yang telah membebaskan dan mengeluarkan bangsa Arab dari kehidupan hewani, menjelma menjadi manusia berakhlak tinggi, manusia bertuhan bahkan meningkat menjadi manusia yang menzhirkan sifat-sifat Ilahi. Di dalam Alqur’an Suci telah dikemukakan baik secara pokok maupun secara terperinci untuk menjalankan akhlak yang baik dan meninggalkan akhlak yang buruk. Sumber kedua berkenaan dengan akhlak setelah Alqur’an adalah sunnah dan sabda-sabda Rasulullah Saw.  
            Penuntun dan pemimpin ruhani kita Nabi Besar Muhammad Saw.-lah yang mempunyai dan memilki akhlakyang sempurna dan sifat-sifat luhur yang diungkapkan oleh Tuhan dalam Qur’an Suci :

y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÈ      
“Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad Saw.) benar-benar memiliki akhlak yang luhur.” (Al-Qalam, surah 68 : 5)
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÈ  
Sesungguhnya bagi kamu  pada dirinya  Rasulullah Saw. adalah contoh paling baik.” (Surah 33:22)

PEMBAGIAN AKHLAK
           
Secara garis bersamanya akhlak terbagi 2:
  1. akhlak hasanah atau akhlak fadhilah atau akhlak terpuji atau disebut juga akhlakul karimah
  2. Akhlak Sayyiah atau akhlak tercela

Secara lebih khusus lagi, bagian-bagian daripada akhlak adalah :

  1. Zati akhlak (berhubungan dengan hati manusia sendiri)
  2. ‘Aili akhlak (Akhlak yang berhubungan dengan Keluarga)
  3. Umumi akhlak ( akhlak yang bersifat umum)
  4. Akhlak dalam pergaulan
  5. Akhlak yang berhubungan dengan ketatanegaraan dll.

DEFINISI AKHLAK HASANAH/AKHLAK FADHILAH

      Akhlak hasanah (akhlak yang baik), sebagian orang berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan yang ada pada manusia disalurkan dan digunakan menurut pertimbangan akal, itu adalah akhlak yag baik. Sebagian orang lagi ada yng mengomentari bahwa akhlak yang baik itu adalah semua pekerjaan yang dilakukan oleh manusia yang mendatangkan kesenangan hakiki. Adapun yang lain mengatakan ; hakikat dari pada akhlak yang baik ialah meliputi banyak berderma dan berbuat baik, menjauhkan diri dari perbuatan yang mendatangkan rasa sakit kepada orang lain.setengah orang membahas bahwa suci, bersih, dari perbuatan tercela dan memalukan dan menghias diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan berkesan dan istimewa, itulah akhlak yang baik. Dan sebagian orang suci lebih jauh menerpong bahwa semua pekerjaan yang dikerjakan menurut akal dan syari’at, baru dikatakn akhlak hasanah (Minhajuyt Thaalibin).
      Allama zubaidi mengutarakan bahwa akhlak itu adalah salah satu bentuk dari jiwa manusia, lalu beliau lebih lanjut berkata : “kalau keadaan dan  bentuk itu tetap berdiri pada jalan dan kaidah (peraturan) nya dan pekrjaan-pekerjaan yang dilakukan itu adalah baik dan terpuji menurut akal dan syari’at, maka itu adalah akhlak yang baik.” (Syarah Ahyaul – ‘Ulum jilid 7).
      Imam Ghazali menulis tentang definisi akhlak yang baik/akhlak fadhilah : “Yang dinamakn akhlak yang baik ialah meninggalakan semua adapt istiadat yang bruruk yang telah diuraikan dengan jelas oleh syari’at, dan meninggalkan seperti meninggalkan kotoran. Sebaliknya menjalankan seluruh adat kebiasaan yang baik begitu mantap sehingga tabi’at manusia selalu merasa tertarik dan menyukainya.”(Mizan : 47).
 Hakikat dari akhlak yang baik ialah semua amal yang dilakukan sesuai dengan akal yang sehat dan syareat. Pengamal akhlak hendaknya selalu bertekad dan berikhtiar untuk menunaikan perbuatan-perbuatanyang cocok dengan kehendak Allah Ta’ala dan pula sebagi manusia yang dapat menzahirkan sifat-sifat-Nya yang suci di dalam diri masing-masing dans ekaligus mempraktekkannya. Maka dengan itu, pekerjaan yang dilakukan persis berdasarkan sifat-sifat Ilahi. Nah itulah yang disebut akhlak yang baik.

AKHLAK HASANAH DALAM ISLAM

                Islam senantiasa mendorong manusia supaya sepenuhnya mewarnai dirinya dengan akhlak hasanah atau akhlak fadhilah, karena seluruh kemajuan rohani akan terwujud melalui akhlak yang baik. Qur’an Majid selalu mendorong dan menganjurkan untuk menjalankan akhlak yang baik dalam urusan-urusan keagamaan, finansiil, pemerintahan bahkan juga dalam urusan yang lain. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik bukan hany penting bagi rakyat biasa saja, tetapi sama pentingnya bagi pejabat-pejabat pemerintahan. Mawas diri, berkata benar dan sopan lagi baik tidak hany untuk orang biasa saja, tetapi juga penting dan perlu bagi siapapun.
            Pada kesempatan mulia ini yang akan sedikit saya tekankan adalah contoh akhlak yang berkaitan dengan menjaga lidah. Adapun untuk mawas diri yang sifatnya sedikit lebih umum, bisa disampaikan oleh pengurus dan kesempatan yang lain lagi.

BERKATA YANG BAIK DAN SOPAN

            Hadirin-hadirat yang mulia! Salah satu bagian akhlak fadhilah dari bermulut manis ialah bahwa di dalam setiap pembicaraan hendaknya memakai kata-kata yang baik dan sopan. Maksudnya, bahasanya halus, tidak mengandung fitnah dan hasutan, tidak bercampur dengan cacian dan makian, tidak berbentuk kata-kata ynag kotor lagi kasar, tidak pula kata-kata yang membual dan terlalu muluk-muluk serta tidak mengejek dan  menyudutkan orang lain.
            Inilah adalah akhlaq fadhilah yang kaitannya dengan bermulut manis. Jika akhlaq ini ditampilkan dengan ikhlas dan hati yang suci, maka hal ini akan menjadi pendorong utama bagi lajunya misi pertablighan. Semua halangan yang menghambat kemajuan tabligh akan tersibak, Insya Allah kebenaran akan tersebar dan seluruh permusuhan akan lenyap. Terlebih lagi bagi orang yang tadinya merasa jijik, enggan dan benci terhadap Ahmadiyah insya Allah akan merasa bahagia masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Benarlah apa yang dikatakan oleh pepatah “ Mulut manis mematahkan tulang.”
            Kalau kita baca sejarah nabi Besar Muhammad Saw. maka kita akan mendapat bagian akhlak ini yang sangat menonjol pada diri Rasululah Saw. dan unsure akhlaq ini pulalah yang mendorong bangsa Arab yang fanatic dank eras masuk dalam agama Islam. Tentang bagian akhlaq Rasulullah Saw. yang jitu  ini diungkapkan pula oleh Allah Ta’ala dalam kandungan Al-Qur’an sebagaimana Firman-Nya :
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ       
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau (Muhammad) Bersikap lemah lembut terhadap mereka. Dan jika Sekiranya engkau  bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling engkau. ( Surah 3: 160).
            Sebagimana yang saya jelaskan tadi, tanda bermulut manis ialah jangan mengeluarkan  kata-kata yang  kotor, keji dan jangan mencaci maki. Hal ini sangatlah penting, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kebenaran yang disuguhkan oleh Jemaat Ahmadiyah kepada dunia masih dirasa asing oleh orang-orang, belum dikenal, bahkan sebagian manusia mengatakan palsu, yang lebih ekstrim lagi beranggapan Ahmadiyah harus dikikis habis. Hadirin…! Tentu saja apabila kita menyampaikan kebenaran Ahmadiyah kepada khalayak ramai, terkadang ada saja dan tidak mustahil diantara mereka mengeluarkan kata-kata kotor bahkan fitnahan sebagai respon yang tidak baik. Lalu. Bagaimanakh sikap kita sewaktu mengetahui dan mendengarnya? Apakah harus kita balas dengan kata-kata yang kotor dan kasar juga? Tidak, tidak begitu.Mengapa? karena itu bukanlah bagian daripada akhlaq Fadhilah. Janganlah “air tuba dibalas dengan air tuba lagi, tetapi balaslah Air tuba itu dengan air Susu.”
            Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as. Jauh-jauh sebelumnya telah memberikan bimbingan-bimbingan kepada anggota Jema’at agar membalas semua keburukan dengan kebaikan. Dalam suatu kesempatan beliau bersabda :
“ Adalah mazhab (cara) kita bahwa berbuat kebaikan kepada orang yang berbuat keburukan terhadap kita.kalau orang yang berbuat keburukan kepadaku itu minta pertolongan kepada aku, maka aku akan senang hati menolongnya.Aku selalu menegingatkan kalian, perlihatkanlah lemah-lembut kepada manusia dan juga berdo’alah kepada Alaah Swt. Ingat ! do’a kamu tidak akan diterima oleh Allah kalau kamu tidak menjadi orang Muttaqi. Bersimpati lah kamu kepada umat manusia! Kebaikan itu bukan saja ditujukan kepada anak keturunan kalian, tetapi juga kepada semua keturunan Adam, baik itu orang Kristen, Hindu maupun yan lainnya. Sepanjang kamu memperlihatkan kerendahan sikap dan kata, selama itu pula Allah akan senang dan rindu kepada kamu. (Sinar Islam Maret 1979 h. 32).
            Hadirin………..lemah lembut dan ucapan yang baik adalah sebagai penunjang uang baik untuk lebih mencerahkan suasana masyarakat yang harmonis. Unsure penunjang ini telah difirmankan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an :

øŒÎ)ur $tRõs{r& t,»sVÏB ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) Ÿw tbrßç7÷ès? žwÎ) ©!$# Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $ZR$|¡ômÎ) ÏŒur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ6»|¡uKø9$#ur (#qä9qè%ur Ĩ$¨Y=Ï9 $YZó¡ãm (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qŸ2¨9$# §NèO óOçFøŠ©9uqs? žwÎ) WxŠÎ=s% öNà6ZÏiB OçFRr&ur šcqàÊ̍÷èB ÇÑÌÈ  
83. dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.



KEJUJURAN

            Pada  umumnya yang diartikan kejujuran adalah berkata benar, namun menurut tinjauan Islam sangat luas sekali. Perbaikan pada setiap ucapan dan amal manusia dinamakan ketulusan dan kejujuran. Yakni penyesuaian antara hati dengan lidah. Hal ini adalah poko dan penting. Agama dan falsafah kedua-duanya sama membenarkan kepentingannya. Ini adalah kejujuran apabila manusia-manusia berkata benar, selamanya berpegang teguh dan berpaut kepadanya. Tanpa kejujuran mustahil untuk menjalin hubungan baik, kerjasama atau hidup berjama’ah. Allah Ta’ala berkali-kali memerintahkan untuk berkata jujur dan benar :

$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qçRqä.ur yìtB šúüÏ%Ï»¢Á9$# ÇÈ  
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bergabung dengan  orang-orang yang benar.” (surah At-Taubah / 9:119)

Menurut Rasulullah Saw. kejujuran itu adalah sebagi pengantar masuk ke dalam surga. Beliau bersabda :



Artinya “ Sesungguhnya kejujuran dan kebenaran itu membimbing kepada kebaikan dan sesugguhnya kebaikan itu mengantar ke alam  surga.”

            Baik juga diperhatikan bahwa yang dimaksud kebenaran bukanlah mengemukakan dengan betul sesuatu kejadian atau pendapat, tetapi yang dimaksud dengan kebenaran ialah : ketulusan dalam niat, kemauan, ucapan dan amal yang benar. 

khutbah jum'at-Ku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar