TIPU
DAYA SETAN UNTUK MENGHANCURKAN KEIKHLASAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN
Hingga hari
pembalasan, setan telah berjanji untuk menyesatkan manusia, untuk mengajak
mereka ke dalam barisannya. Sebagaimana dinyatakan Allah,
"Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan
itulah golongan yang merugi." (al-Mujaadalah [58]: 19) Setan telah
berhasil membujuk mereka yang menafikan keberadaan Allah. Ia telah menjebak
manusia dari segala sisi, membuat mereka lupa kepada Allah, dan memperoleh
penghambaan yang mutlak dari mereka. Karena itulah, orang-orang ini masuk ke
dalam barisan setan, sebagai makhluk yang mengajak orang lain kepada
keingkaran, dosa, dan kejahatan.
Bagi mereka yang
dengan ikhlas percaya kepada Allah, tentu saja berbeda halnya. Setan dapat
langsung memengaruhi mereka yang menafikan Allah. Akan tetapi, terhadap mukmin
sejati yang dengan teguh meyakini Allah, setan gagal memengaruhi mereka.
Sebagai contoh, setan dengan cara apa pun tidak dapat mencegah mereka dari
berjuang di jalan Allah. Ia tidak dapat mencegah mereka untuk mengamalkan
perintah agama mereka, melaksanakan shalat, melakukan kebaikan dan berlaku
jujur, menyebut nama Allah, dan mengorbankan diri mereka untuk berjuang dengan
harta dan jiwa.
Menyadari hal itu,
setan terpaksa mencari tipu daya yang lebih sulit untuk memengaruhi para mukmin
sejati. Karena ia tidak dapat secara langsung menghalangi amal baik yang
dilakukan karena Allah, ia berusaha mencampuradukkan kejahatan dalam niat baik
mereka saat melakukan suatu perbuatan. Ini dilakukan untuk mengalihkan
pandangan mereka selain kepada keridhaan Allah dan untuk mencegah mereka
berpaling kepada Allah dengan tulus ikhlas, dengan cara menyerang keikhlasan
mereka. Di dalam Al-Qur`an, tujuan setan hingga detik ini ditegaskan dengan
kata-katanya sendiri. Ayat yang berhubungan dengan perkataan setan disebutkan
sebagai berikut.
"Dan
saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan
kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang
ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka
(mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.' Barangsiapa
yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia
menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka
dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak
menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka." (an-Nisaa` [4]:
119-120)
"Iblis
menjawab, 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan
mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat)." (al-A'raaf [7]: 16-17)
Sebagaimana
ditunjukkan di dalam ayat tersebut, setan berusaha mengendalikan mereka dengan
"membawa kepada kesesatan dan memenuhi mereka dengan harapan-harapan
palsu", dengan "menyerang mereka di jalan Allah yang lurus", dan
dengan "mendatangi mereka dari depan, belakang, dari kanan dan kiri
mereka".
Ia menggunakan
tipuan agar manusia melihat kebenaran sebagai kesalahan, kebaikan sebagai
kejahatan, yang bagus sebagai kejelekan, dan kejahatan sebagai kebaikan. Ia
berusaha mencegah manusia dari perbuatan baik karena Allah dengan menanamkan
keraguan dan keinginan yang sia-sia di dalam hati mereka. Setan berusaha keras
memikat orang-orang beriman untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
akhlaq Al-Qur`an dengan memperindah dan menghiasinya agar terlihat lebih
menarik.
Barisan Setan
Bila perlu, setan
bergantung pada pertolongan mereka yang menjadi temannya dan menafikan Allah
untuk mencapai tujuan yang disebutkan di atas. Ia menggunakan mulut mereka
untuk berbicara dan perkataan mereka untuk mengungkapkan rencana-rencananya.
Ini merupakan taktik yang lihai untuk menguasai orang-orang beriman.
Tentu saja setan
tidak dengan terang-terang mengajak mereka untuk menafikan Allah dengan
berbisik, "Jangan mengikuti Al-Qur`an, jangan memenuhi ridha Allah,
patuhilah aku." Sebaliknya, ia mencoba menipu mereka dengan tipu muslihat,
kelicikan, dan kebohongan. Ia berusaha mencegah mereka untuk berbuat ikhlas dan
menanamkan berbagai macam keinginan dan nafsu di dalam hati mereka, dan membuat
mereka lebih mencari pujian daripada mencari keridhaan Allah.
Misalnya saja, ia
berusaha untuk menyisipkan keinginan untuk mendapatkan kerelaan manusia dalam
niat seorang mukmin yang berusaha untuk melakukan perbuatan baik karena Allah.
Setan mendorongnya untuk memuji kebaikan dirinya dan melambungkan egonya.
Dengan berbangga
diri ketika melakukan perbuatan baik, ia terhalang untuk ikhlas dalam
perbuatannya itu. Seharusnya, jika ia benar-benar memilih untuk melakukan suatu
perbuatan yang mengorbankan dirinya, ia harus melakukannya untuk mendapatkan
keridhaan Allah. Karena itulah, tidak perlu ia mengumumkan perbuatannya. Dengan
cara apa pun, Allah melihat dan mendengarnya. Akan tetapi, setan menghadirkan
keinginan itu dalam bentuk yang terlihat tidak salah, seperti alasan-alasan,
"Mereka akan percaya dan lebih mencintaimu jika mereka tahu betapa
berahklaq dan lurusnya dirimu dan betapa patuhnya engkau pada Al-Qur`an.
Bagaimanapun juga, ini adalah keinginan yang benar-benar sah." Tentu saja
ini adalah keinginan yang sah-sah saja dan dijalankan sesuai dengan Al-Qur`an
jika ia mencari pengakuan Allah dan meninggalkan apa yang dikatakan masyarakat
serta berpaling kepada Allah. Jika ia berbuat sebaliknya, ia akan berisiko
untuk dikuasai oleh kesalahan yang ditolak oleh Al-Qur`an. Sikap-sikap tersebut
menjadikan ibadah terlihat dan membuat seseorang merasa berbangga diri. Semua
sikap tersebut berseberangan dengan keikhlasan dan kesucian. Sifat-sifat yang
hanya dibutuhkan saat melakukan ibadah untuk semata-mata mencari keridhaan
Allah.
Kelicikan Setan
Rencana setan
untuk mengancam keikhlasan orang-orang beriman yang akan terus ada hingga hari
pembalasan, dimulai sejak masa Adam a.s.. Ia mendekati Adam a.s. dengan
strategi yang licik dan menipu serta mencoba membuatnya melihat kebaikan
sebagai kejelekan dan kejelekan terlihat baik. Sebagaimana disebutkan di dalam
Al-Qur`an, setan berhasil membujuk Adam a.s. dan pasangannya untuk tidak
mengindahkan larangan Allah. Jadi, setan membuat mereka dikeluarkan dari surga.
Peristiwa ini dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur`an sebagai berikut.
"Dan
Kami berfirman, 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan
makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai,
dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim.'" (al-Baqarah [2]: 35)
"Kemudian
setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah
saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan
binasa?'" (Thaahaa [20]: 120)
"Maka
setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada
keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata,
'Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu
berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam
surga).' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya, saya adalah
termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.' Maka setan membujuk
keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah
merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah
keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru
mereka, 'Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku
katakan kepadamu, 'Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu
berdua?'" (al-A'raaf [7]: 20-22)
Setan tidak secara
terang-terangan mengatakan kepada Adam dan Hawa untuk menentang perintah Allah.
Bila dilakukan terang-terangan, tak ada satu pun mukmin yang mengikutinya.
Jadi, ia merencanakan alasan lain yang lebih persuasif. Setan mengatakan kepada
mereka bahwa mereka akan menjadi malaikat dan hidup abadi jika mereka memakan
buah pohon terlarang itu. Agar kebohongannya lebih meyakinkan, ia bahkan berani
bersumpah atas nama Allah. Al-Qur`an memperingatkan para mukmin sejati agar
melawan kelicikan yang dilakukan oleh setan ini.
"Hai
anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana telah
mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya
pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa
melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu
pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (al-A'raaf [7]:
27)
Mereka yang
dibimbing oleh Al-Qur`an benar-benar dipersiapkan untuk melawan masalah-masalah
yang tidak berdasar, keinginan yang semu, dan muslihat setan yang menipu.
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat, "Orang-orang yang
beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan
thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu
daya setan itu adalah lemah," (an-Nisaa` [4]: 76) strategi yang
dilancarkan setan sebenarnya lemah dan hanya terdiri atas tipuan yang palsu.
Para mukmin sejati mamahami bahwa bisikan tersebut berasal dari setan. Mereka
segera memohon perlindungan kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,
"Dan
jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.
Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya, orang-orang
yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah,
maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (al-A'raaf
[7]: 200-201)
Segera setelah
mendapatkan perlindungan dari Allah, mereka dapat mengartikan peristiwa
tersebut dengan cahaya Al-Qur`an. Mereka mendapatkan pemahaman yang menolong
mereka untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Karena itulah, tuduhan setan
yang sesat tergagalkan karena iman yang kuat dalam diri mukmin yang sejati.
Demikian pulalah,
seperti yang digarisbawahi Al-Qur`an dalam ayat berikut, setan memainkan
peranan kosong pada diri mukmin sejati yang meletakkan keyakinan dan iman
mereka kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Pelindung mereka.
"Sesungguhnya,
hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu
sebagai penjaga." (al-Israa` [17]: 65)
Sebagaimana
disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan dapat memengaruhi mereka yang dikuasai
olehnya dan mereka yang menjadikan hal lain sebagai tuhan selain Allah.
"Sesungguhnya,
setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal
kepada Tuhannya." (an-Nahl [16]: 99-100)
Dinyatakan bahwa
setan tidak dapat memengaruhi hamba-hamba yang tulus dan suci,
"Iblis
berkata, 'Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti
aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan
pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang
mukhlis di antara mereka.'" (al-Hijr [15]: 39-40)
Karena alasan
inilah, mukmin yang ikhlas dan benar tidak perlu takut menghadapi kelicikan dan
tipu daya jebakan yang dibuat oleh setan, karena mereka tahu pasti bahwa setan
tidak memiliki kekuatan atas mereka. Mereka hanya takut kepada Allah. Mereka
yang takut kepada setan adalah mereka yang berteman dengannya dan terperosok ke
dalam perangkapnya. Hal ini diungkapkan di dalam Al-Qur`an,
"Sesungguhnya,
mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan
kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut
kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang
beriman." (Ali Imran [3]: 175)
Di dalam
Al-Qur`an, Allah menyatakan bahwa setan akan meningkatkan usahanya untuk
menanamkan keinginan-keinginan palsu dan penyimpangan di hati setiap manusia,
termasuk hati para nabi. Ini adalah semacam cobaan yang diciptakan Allah untuk
membedakan antara mereka yang memiliki penyakit di hatinya dan mereka yang
beriman dengan tulus ikhlas. Mereka yang mendapatkan kesucian dan memiliki
pengetahuan tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan palsu setan.
Mereka benar-benar memahami bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. Ia sebenarnya
diciptakan dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Setan tidaklah berkuasa
untuk menyesatkan orang-orang beriman, menghalangi keikhlasan mereka, atau
membawa mereka ke jalan yang sesat tanpa seizin Allah. Ketika setan berusaha
untuk menempatkan keinginan-keinginan palsu di dalam hati mereka, seorang
muslim percaya bahwa Al-Qu`an tidak diragukan lagi merupakan sebuah keberkahan
yang nyata dari Allah sebagai penguat. Kebenaran ini ditunjukkan oleh ayat,
"Dan
Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang
nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan
oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui
lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu
sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang
kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam
permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini
bahwasanya Al-Qur`an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan
tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk
bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (al-Hajj [22]:
52-54)
CARA MEMPEROLEH KEIKHLASAN
Dalam bab-bab
sebelumnya, kami menjelaskan pentingnya keikhlasan sebagai karakter orang-orang
beriman yang tulus menurut cahaya suci Al-Qur`an. Setiap mukmin sejati yang
berharap untuk mendapatkan keridhaan Allah dan dianugerahi berkah abadi surga,
harus memberikan perhatian yang cermat sekali terhadap ayat-ayat tersebut
sepanjang hidupnya. Ia harus hidup sesuai dengan ajaran moral Al-Qur`an, untuk
menggapai keikhlasan. Hingga titik tersebut, ia harus berpaling kepada Allah
dengan hati yang murni dan ia harus berjuang hanya untuk mendapatkan keridhaan
Allah. Ia harus sangat berhati-hati melawan segala jenis pengaruh negatif yang
dapat merusak kemurniannya. Sebagaimana telah disebutkan dalam bab-bab
sebelumnya, setan juga terus-menerus berusaha dan mencari berbagai cara untuk
menyesatkan manusia dari jalan yang lurus.
Setiap orang harus
selalu waspada bahwa ia dapat merusak keikhlasannya dengan perbuatan-perbuatan
yang dilakukan di luar kebiasaan atau bentuk-bentuk tingkah laku yang didapat
dari komunitas di sekitarnya. Karena itulah, secara berkala, ia harus memeriksa
niatnya dan membisikkan setiap kata, melakukan setiap tindakan murni hanya
untuk Allah. Ia juga tidak boleh melupakan bahwa tingkatan moralitas ini tidak
sulit untuk dijalankan, tetapi sebaliknya.
Kesucian,
kejujuran, dan berpaling kepada Allah dalam sikap yang bersih dan murni, adalah
sifat-sifat yang bisa didapat tanpa usaha yang besar. Tuhan kita yang telah
memfasilitasi setiap langkah, bahkan telah membantu kita dengan para nabi-Nya
dan mukmin yang saleh. Ia telah menunjukkan cara untuk mendapatkan keikhlasan
di dalam ayat-ayat-Nya. Para cendekiawan muslim juga telah menunjukkan betapa
besar dan pentingnya keikhlasan, dan mereka menjadikan karya mereka sebagai
ajakan kepada para mukmin sejati untuk berpaling kepada Allah.
Karya-karya
Badiuzzaman Said Nursi, seorang cendekiawan muslim ternama, memainkan peranan
penting dalam membimbing orang-orang muslim yang ingin menggapai keikhlasan.
Badiuzzaman menekankan perlunya penyucian diri secara khusus dan menyajikan
saran-saran kritis kepada para mukmin sejati.
"Wahai saudara-saudaraku di hari akhir nanti!
Wahai sahabatku dalam kepatuhan kepada Allah! Engkau mesti mengetahui-dan
tahukah kalian-bahwa di dunia ini keikhlasan adalah prinsip yang paling penting
dalam perbuatan-perbuatan yang berkaitan khususnya dengan hari akhir; ia
merupakan kekuatan terbesar, perantara yang paling bisa diterima, dukungan yang
paling kokoh, cara yang paling dekat menuju kesungguhan, dan yang paling
diterima. Ia adalah alat yang paling menakjubkan untuk meraih tujuan, ia
kualitas tertinggi dan ibadah yang paling murni." 5
Sebagaimana ditekankan
oleh Badiuzzaman sendiri, keikhlasan adalah salah satu karakter terpenting yang
harus dimiliki seseorang untuk mengabdi kepada Allah sesempurna mungkin.
Seperti yang diperintahkan di dalam ayat,
"Sesungguhnya, Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`an) dengan (membawa)
kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik). Dan
orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya.' Sesungguhnya, Allah akan memutuskan di antara mereka tentang
apa yang mereka perselisihkan padanya. Sesungguhnya, Allah tidak menunjuki
orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar," (az-Zumar [39]: 2-3)
bahwa agama yang benar dapat dihidupkan hanya dengan mengabdi kepada Allah dan
tulus ikhlas mematuhi-Nya. Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa seseorang
harus mencapai keikhlasan untuk mendapatkan kebaikan dengan kebutuhannya.
"Karena di dalam keikhlasan terdapat banyak
kekuatan dan cahaya... kami tentu saja memaksa siapa pun untuk bekerja dengan
segenap kekuatan untuk mencapai keikhlasan. Kita perlu menanamkan keikhlasan di
dalam diri kita. Jika tidak, apa yang kita capai selama ini dalam amal yang
tersembunyi akan hilang sebagian dan tak akan kokoh; dan kita akan bertanggung
jawab." 6
Di dalam ayat-ayat
Al-Qur`an, Allah menjelaskan bagaimana seseorang mencapai keimanan dan
keikhlasan yang tak ternoda. Ditambah lagi, setiap manusia telah diciptakan
dengan kemampuan untuk mengerti dan merasakan keikhlasan dan kemurnian. Karena
itulah, untuk mencapai dan meningkatkan keikhlasan seseorang, sebenarnya sederhana.
Bahkan jika seseorang benar-benar bodoh, ia dapat meraih keikhlasan dengan
bersandar pada hati nuraninya. Ia dapat memahami mana yang ikhlas dan mana yang
tidak. Ia dapat membebaskan dirinya dari segala tingkah laku yang menghalangi
keikhlasan setelah berpaling kepada Allah dengan tulus hati. Karena itulah,
seseorang harus menyadari bahwa hatinya adalah petunjuk dari Tuhan. Ia tidak
boleh membodohi dirinya dengan alasan-alasan seperti, "Saya tidak tahu
cara mana yang tulus," "Saya tidak mengira bahwa sikap ini akan
mengurangi keikhlasan," "Saya kira saya orang yang ikhlas dan
tulus," dan sebagainya. Ia harus selalu ingat bahwa alasan-alasan tersebut
tidaklah tulus, hanya dicari-cari untuk menenangkan hatinya. Jadi, mudah bagi
seseorang yang menerima dengan hatinya untuk menggapai keikhlasan dan
menjaganya hingga hari pembalasan.
Di dalam bab ini,
kita akan membahas cara-cara mendapatkan keikhlasan sebagaimana yang telah
dijelaskan Al-Qur`an dan juga yang telah bersemayam di dalam hati nurani kita.
Kita akan mengambil contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, kita
akan membahas sikap-sikap atau perbuatan yang menghalangi keikhlasan. Kita akan
melihat betapa sederhana cara mencapainya.
Keikhlasan yang Menguntungkan Mukmin
Sejati
Untuk mendapatkan
keikhlasan sejati, seseorang pertama-tama harus memahami mengapa keikhlasan itu
penting. Ia harus memiliki keinginan untuk mendapatkan tingkat keikhlasan
tersebut. Hal ini karena siapa pun yang gagal memahami keikhlasan, ia dapat
selanjutnya mencari kekuatan dan kekuasaan dengan hal-hal yang bersifat
keduniawian. Ia akan mengejar dunia untuk mendapatkan martabat sosial. Orang
seperti itu mencari ketenaran, reputasi, kemuliaan, kekayaan, kecantikan,
ijazah pendidikan, dan kehormatan lainnya. Akan tetapi, tak ada satu pun hal di
atas yang dapat memberikan kekuatan dan kekuasaan yang sesungguhnya, tidak di
dunia ini ataupun di hari akhir. Demikianlah, Badiuzzaman Said Nursi
mengingatkan para mukmin sejati bahwa kekuatan di dunia dan di akhirat
itu hanya didapatkan melalui keikhlasan. Ia menyatakan, "Engkau
harus tahu bahwa semua kekuatanmu ada dalam keikhlasan dan kebenaran. Ya,
kekuatan ada di dalam kebenaran dan keikhlasan. Bahkan, bagi mereka yang salah
mendapatkan kekuatan dari keikhlasan dalam kesalahan mereka. Bukti bahwa
kekuatan ada di dalam kebenaran dan keikhlasan adalah apa yang kita kerjakan
untuk Allah ini. Sedikit keikhlasan di dalam karya kita membuktikan pernyataan
ini dan bukti keikhlasan itu sendiri." 7
Karena itulah, siapa pun yang melupakan prinsip ini dan mengejar materi-materi
yang disebutkan di atas, ia tidak murni mencari keridhaan Allah.
Sebagai cotoh,
mari kita misalkan bahwa sebuah tugas yang disangka baik oleh muslim dikerjakan
oleh empat atau lima orang. Mari juga kita bayangkan bahwa salah seorang di
antara mereka dipercayai untuk merngerjakan sebuah tugas yang pasif, tidak
penting, dan berada di balik layar, tetapi begitu sulit dikerjakan. Sementara
itu, orang yang lainnya ditugaskan dalam tugas yang aktif, tampak di depan,
yang langsung menarik perhatian dan pujian dari orang lain. Jika orang pertama
menolak untuk mengerjakan tugas tersebut hanya karena ia akan berada di
belakang dan tidak akan mendapatkan pujian, dan ia ingin menukar tugasnya
dengan kesempatan yang lebih besar dan menjanjikan untuk mendapatkan pengakuan
dan kehormatan, maka hal ini akan merusak keikhlasannya. Dalam kondisi
demikian, orang tersebut akan terbawa pada pikiran-pikiran yang tidak tulus,
seperti, "Walaupun saya berusaha keras, nama saya
tidak akan disebutkan. Terlebih lagi, orang lain akan lebih banyak mendapatkan
balasan kendati ia bekerja lebih sedikit dari saya." Maka dari itu,
cara yang paling mulia untuk diikuti dalam situasi seperti ini adalah bekerja
hanya untuk mendapatkan pengakuan dan pujian Allah, untuk mencari
keridhaan-Nya. Jika pekerjaan itu tampaknya memberikan manfaat, tidaklah
penting siapa yang ikut serta di dalamnya. Bahkan, jika ia tampaknya tidak
memperoleh pengakuan dari orang lain dan tetap tidak dikenal, ia tetap harus
mengerjakan kesempatan tersebut dengan antusias untuk mendapatkan keridhaan
Allah. Inilah yang dimaksud dengan ikhlas.
Seseorang yang
selalu melakukan sesuatu dengan ikhlas, tidak hanya akan sukses dan menikmati
kedamaian pikiran di dunia ini, tetapi juga mendapatkan balasan di hari akhir.
Hal ini karena orang yang demikian tidak bergantung pada harta duniawi,
kekuasaan, kepemilikan kekayaan, dan kehormatan sosial, tetapi hanya bergantung
pada Allah, keimanan, hati nurani, dan keikhlasannya. Sebagaimana digambarkan
di dalam ayat berikut, Allah selalu menolong mereka yang berpaling kepada-Nya
dengan pengabdian yang murni.
"...
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya, Allah
benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa." (al-Hajj [22]: 40)
Karena itu, tidak
ada suatu kekuatan pun yang dapat melawan keimanan dan keikhlasan. Melalui
keikhlasan, seseorang dipastikan akan mendapatkan bantuan, dukungan, dan
kekuatan dari Allah.
Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah
Takut kepada Allah
adalah cara yang utama untuk menumbuhkan keikhlasan seseorang. Ia harus
mendedikasikan dirinya kepada Allah dengan kecintaan yang mendalam setelah
memahami kebesaran-Nya, bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah, bahwa hanya
Allah yang menciptakan alam semesta dari tiadaan dan yang memelihara makhluk
hidup dengan penuh kasih. Dengan demikian, ia menyadari bahwa teman sejatinya
di dunia dan di akhirat hanyalah Allah. Karena itulah, keridhaan Allah adalah
satu-satunya pengakuan yang harus kita cari. Selain rasa cinta yang mendalam,
ia sangat takut kepada Allah, sebagaimana firman Allah kepada manusia di dalam
ayat-Nya untuk takut dan mengindahkan-Nya,
"...
Dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan
kepada-Nya." (al-Baqarah [2]: 203)
Rasa takut kepada
Allah muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya.
Seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah dan kekuatan abadi-Nya, akan
mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya sebagai bagian
dari keadilan Ilahi jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya sesuai dengan
keinginan Allah. Kesengsaraan yang disiapkan oleh Allah dalam kehidupan duniawi
dan akhirat untuk mereka yang menafikan-Nya, dirinci di dalam ayat-ayat
Al-Qur`an. Semua manusia diperingatkan untuk mewaspadai hal itu. Setiap mukmin
sejati selalu menyadari akan hal ini. Takut kepada Allah dilakukan agar ia
selalu ingat bahwa kehidupan dunianya cepat atau lambat akan berakhir dan bahwa
semua manusia pada akhirnya harus memperhitungkan perbuatan mereka di hadapan
Allah. Jadi, ia akan selalu menyadari murka Allah. Kesadaran ini menyebabkan
dirinya merasakan takut yang melekat saat menghadapi siksaan Allah dan karena
itu ia berusaha menghindarinya.
Menahan diri
berarti secara tegas menolak untuk melakukan hal-hal yang dilarang dan tidak
diridhai Allah, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan dalam memenuhi apa pun
yang diperintahkan oleh Allah. Seorang mukmin yang ikhlas merasa takut dan
berhati-hati akan murka Allah. Ia berhati-hati pada sikap apa pun yang tidak
diridhai oleh-Nya dan berusaha menghindarinya. Sebagai contoh, ia akan
menyadari jika sisi jahat jiwanya cenderung kepada keduniawian. Dalam kondisi
demikian, ia akan memakai kekayaan dan kekuasaannya demi kepentingan Allah
untuk mengendalikan kecenderungan batin tersebut. Ini adalah akhlaq sejati yang
paling sesuai dengan keikhlasan. Seseorang yang ingin mendapatkan keikhlasan,
harus segera mengingat perintah Allah untuk "memberikan segalanya di jalan
Allah" dan "takut kepada Allah sebanyak mungkin" untuk
menghindari dirinya dari semua tingkah laku yang tidak disukai Allah.
Sebagaimana diperintahkan oleh Allah, ia harus berbuat untuk Allah, mengabaikan
godaan sisi jahat jiwanya. Ayat berikut menyatakan,
"Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi
sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa." (al-Baqarah [2]: 177)
Allah
memerintahkan manusia untuk takut kepada-Nya, "Maka
bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta
taatlah...." (at-Taghaabun [64]: 16) Untuk menjalankan ayat
tersebut, seorang mukmin tidak pernah merasa bahwa iman dan rasa takutnya
kepada Allah telah cukup. Ia mencoba untuk meningkatkan rasa takut dalam
hatinya dan kekuatan untuk menahan diri hingga akhir hidupnya. Berikut ini
ayat-ayat Al-Qur`an yang menunjukkan mereka "yang hidup di dalam
pengabdian kepada Tuhan mereka".
"Sesungguhnya,
orang-orang yang takut kepada Tuhan-Nya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka
akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." (al-Mulk [67]: 12)
"...
dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk."
(ar-Ra'd [13]: 21)
Rasa takut dan
keikhlasan kepada Allah harus dipelihara kedua-duanya. Mukmin sejati berusaha
takut kepada Allah sebanyak mungkin untuk mengikuti ayat yang disebutkan di
atas. Usaha-usaha ini juga merupakan bagian dari keikhlasan. Jadi, orang-orang
beriman dapat menjaga diri dan rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana
ditunjukkan dalam ayat,
"Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam." (Ali Imran [3]: 102)
Kedalaman dan
kepekaan seseorang yang muncul karena rasa takut kepada Allah menyebabkan orang
tersebut menjadi lebih berhati-hati dan ikhlas. Ia akan dapat melihat apa saja
yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia akan memakai kesempatan itu
sebagai orang yang ikhlas. Ayat berikut menyatakan kebenaran itu.
"Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya...." (al-Maa`idah [5]: 35)
Orang seperti itu
memiliki rasa takut yang mendalam kepada Allah, tidak akan menyerah saat
menjalankan akhlaq Al-Quran. Ia tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk
beribadah kepada Allah. Ia tidak akan pernah lupa bahwa Allah mendengar dan
melihatnya, selalu dan di mana pun, baik sendiri maupun saat dikelilingi oleh
banyak orang. Ia melakukan sesuatu dengan memahami bahwa ia bisa saja
berhadapan dengan siksaan Allah jika ia tidak berhasil mengadopsi perbuatan dan
sikap yang baik. Ketika rasa takut kepada Allah yang dirasakan oleh seseorang
meningkat, pemahamannya terus-menerus diperkuat. Jadi, ia tidak pernah
mengorbankan keikhlasannya karena ia selalu ingat akan ancaman api neraka
sepanjang hidupnya.
Tidak Takut kepada Siapa Pun kecuali
Allah
Salah satu
tanggung jawab setiap mukmin adalah menyadari kebenaran yang ada di dalam ayat
berikut. Selain itu, mereka bertanggung jawab untuk mencapai tingkatan iman
yang cukup untuk "takut kepada Allah dengan rasa takut yang patut
kepada-Nya".
"Dan
mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi
seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan
tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan." (az-Zumar [39]: 67)
Allah dapat
dimuliakan jika seluruh sifat-Nya diketahui dengan baik dan wahyu-wahyu dari
sifat-sifat tersebut tampak dan dipahami dalam setiap detik yang diberikan-Nya.
Seseorang dapat merasa takut kepada Allah dan menahan dirinya, dan dengan
demikian ia mendapatkan keimanan yang tulus, jika ia benar-benar memahami
keluasan kebesaran-Nya.
Seseorang harus
menyadari kebenaran bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar dari Allah, agar
ia dapat memuliakan-Nya dengan sepatutnya. Mereka yang gagal menghargai Allah
dengan sepatutnya, telah tertipu oleh kulit luar kehidupan dunia dan
mendasarkan kehidupan mereka di atas tipuan ini. Mereka cenderung menghargainya
dengan uang, kehormatan, dan kekuasaan yang mereka kira penting menurut
nilai-nilai duniawi. Mereka cenderung untuk menegaskan nilai diri mereka dan
salah mengartikannya sebagai manusia yang memiliki kekuatan dan status, dengan
kemampuan untuk mengendalikan orang lain dan kehidupan. Karena itulah, mereka
berusaha untuk mendapatkan cinta dan penghargaan dari orang lain. Mereka
menghindari kegusaraan diri mereka dan takut menjadi sasaran dari bahaya yang
mungkin mengenai mereka.
Jika Anda bertanya
kepada mereka tentang iman mereka, sebagian mereka mengatakan bahwa mereka
memiliki keimanan kepada Allah. Akan tetapi, orang-orang tersebut yang
mengklaim bahwa mereka mengetahui dan mengakui Allah, cenderung menuhankan
apa-apa yang mereka takuti sebagai sesuatu yang terlepas dari Allah. Pemikiran
yang demikian menimpa keikhlasan ibadah mereka. Bahkan, membawa mereka untuk
bersikap demikian demi untuk mendapatkan ridha orang lain tersebut bahwa mereka
begitu terhormat dan dipuja-puja.
Walaupun demikian,
tidak ada kekuatan lain yang dapat memberikan kebaikan atau keburukan kepada
manusia tanpa seizing Allah. Di dalam ayat-ayat Al-Qur`an, Allah mengatakan hal
ini,
"Dan
sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan
bumi?', niscaya mereka menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Maka terangkanlah
kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak
mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat
menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku,
apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?' Katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku.'
Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri." (az-Zumar [39]:
38)
"...
Katakanlah, 'Maka sipakah (gerangan) yang dapat menghalang-menghalangi kehendak
Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki
manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'"
(al-Fat-h [48]: 11)
Untuk menguatkan
kebenaran ini, Allah mengingatkan manusia untuk tidak takut kepada apa pun
selain Dia,
"...
Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar
Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk."
(al-Baqarah [2]: 150)
Tingkatan ajaran
moral yang membantu seseorang untuk mendapatkan keimanan dan keikhlasan yang
murni ini dapat dipelajari dari diri para nabi. Dalam Al-Qur`an telah
ditekankan bahwa para nabi tidak takut kepada apa pun kecuali Allah. Ayat
berikut menggarisbawahi fakta ini.
"Yaitu
orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya
dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan
cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan." (al-Ahzab [33]: 39)
Setiap manusia
yang berhasil memberikan hak Allah akan mengetahui bahwa tidak ada kekuatan
lain selain Allah dan ia tidak pernah takut kepada siapa pun kecuali Dia. Ia
juga mengetahui bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa
seizin-Nya. Pemahaman ini membuat ia terus-menerus menyembah Allah dengan cara
yang murni, tulus, dan bersih. Jika ia melakukan perbuatan baik, ia
melakukannya bukan karena takut akan reaksi orang lain, melainkan karena ia
akan gagal memenuhi perintah Allah jika ia tidak tulus. Demikian pula, ia
melakukan perbuatan atau bersikap apa pun, bukan karena ia akan dihadapkan pada
kemarahan orang lain, melainkan karena ia ingin mendapatkan kasih sayang Allah
dan menghindari hukuman-Nya.
Sebagai contoh, ketika
orang yang bekerja pada sebuah kantor diminta menyumbang untuk sebuah yayasan
amal, sebagian orang akan melihat kesempatan tersebut sebagai kewajiban moral
Al-Qur`an dan mereka menyumbang secara murni karena takut kepada Allah.
Sementara itu, orang lain yang akan menyumbangkan uang berpikir bahwa
teman-temannya mungkin akan berkata, "Betapa pelitnya dia!", atau
jika ia tidak menyumbang, "ia satu-satunya orang yang tidak
menyumbang!," atau, "ia mungkin tidak punya uang." Mereka merasa
terpaksa melakukannya karena mereka tidak ingin disangka negatif oleh orang
lain. Sudah pasti, balasan terhadap amal orang tersebut di hadapan Allah akan
sangat jauh dari balasan terhadap amal orang-orang yang ikhlas. Mereka telah
menodai keikhlasan mereka dan telah menyimpang dari ajaran moral Al-Qur`an.
Bagaimanapun juga, mereka yang berbuat sesuatu karena takut kepada Allah,
berharap untuk dibalas hanya oleh-Nya.
Perbedaan antara
mereka yang takut kepada Allah dan mereka yang takut kepada selain-Nya dapat
dilihat pada saat kondisi yang tidak menguntungkan. Sebagai contoh, mari kita
perhatikan seseorang yang biasa memanfaatkan keuntungan yang tidak adil di
kantornya. Orang tersebut tetap tidak menggubris ketika diingatkan bahwa
perbuatannya tidak akan diterima oleh Allah, tetapi ia akan segera berhenti
berbuat demikian jika ia diingatkan bahwa perbuatan amoralnya itu akan terlihat
oleh rekan dan kerabatnya. Walaupun demikian, ia selalu memiliki kesempatan
untuk dapat membuat perubahan terhadap apa yang dilakukannya. Jika ia menyesali
dengan tulus dan mengoreksi cara berpikirnya, ia mungkin bisa ikhlas melakukan
sesuatu. Penting bagi setiap orang yang ingin berbuat ikhlas untuk
memperhatikan cara yang benar sebagaimana contoh-contoh ini. Kami telah
memberikan macam-macam kondisi yang biasanya kita hadapi dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, ia harus memantau dirinya sendiri. Jika ia takut
kepada makhluk selain Allah, ia harus membersihkan dirinya dari rasa takut
tersebut jika ia ingin mencapai keikhlasan.
Berjuang Sekuat-kuatnya Demi Keridhaan
Allah
Seseorang yang
ingin bersikap ikhlas dalam situasi apa pun, dihadapkan pada keharusan berjuang
untuk mendapatkan keridhaan Allah. Perintah Allah tentang hal ini disebutkan di
dalam ayat,
"...
maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu
semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan
itu." (al-Maa`idah [5]: 48)
Ayat lainnya
menyatakan,
"Kemudian
Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba
Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di
antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih
cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang
amat besar." (Faathir [35]: 32)
Sebagaimana
disebutkan dalam ayat ini, ada orang-orang yang "ambivalen" meski
mereka percaya kepada Allah dan ada pula orang-orang "yang saling
mengalahkan dalam kebaikan". Seorang muslim yang ikhlas akan berusaha
untuk bersegera dalam perbuatan baik. Dalam setiap detik hidupnya, ia berjuang
untuk melakukan apa-apa yang membuat Allah ridha dan senang. Ia menggunakan
semua yang ia miliki untuk menjadi salah satu hambanya yang saleh.
Perbedaan antara
mereka yang ambilaven dan mereka yang berlomba satu sama lain dalam kebaikan,
dapat dijelaskan sebagai berikut. Seseorang dihadapkan pada banyak peristiwa
sepanjang hidupnya. Ia selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Ia harus
memutuskan bagaimana berhadapan dengan masalah tersebut, apa yang harus
dilakukan, dan sikap moral apa yang harus diterapkan? Pilihannya bergantung
sepenuhnya pada kesadaran hatinya. Seorang mukmin sejati sangat berhati-hati
dan waspada terhadap pilihan-pilihan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama
tersebut. Jadi, ia menolak pilihan itu tanpa syarat dan akan mengambil yang
paling dekat dengan Allah serta mendapatkan balasan yang paling besar di dalam
surga. Kemampuannya untuk mematuhi kesadaran hatinya saat membuat keputusan
adalah apa yang membuatnya mendapatkan keikhlasan. Di dalam Al-Qur`an,
orang-orang beriman yang paling utama dalam perbuatan baik diabadikan dalam
ayat,
"Sesungguhnya,
orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang
yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak
mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena
mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka
itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang
yang segera memperolehnya." (al-Mu`minuun [23]: 57-61)
Terlebih lagi,
jika seseorang dihadapkan pada ribuan pilihan, mudah baginya untuk mengenal
pilihan mana yang membuat Allah ridha dan senang. Pilihan ini jelas dan menjadi
bukti bagi orang yang mencari cara mendekati Allah dan melihat apa yang terjadi
padanya dengan kacamata keimanan. Sebagai contoh, ketika seseorang dipaksa
untuk memilih sebuah cara untuk menghabiskan waktunya, ia akan dihadapkan pada
sejumlah alternatif. Ia dapat menghabiskan seluruh waktunya untuk kegiatan olah
raga atau menonton televisi di rumah. Ia bisa mengatakan bahwa
aktivitas-aktivitas tersebut menyenangkan Allah karena olah raga penting untuk
kesehatan, sedangkan menonton televisi itu menambah pengetahuannya. Tentu saja,
berolah raga dan menonton televisi itu bermanfaat dan penting. Akan tetapi,
menghabiskan satu hari untuk berolah raga atau menonton televisi tidak dapat
dinilai berhati-hati bagi seorang mukmin sejati jika ia menyadari bagaimana
pola hidup-pola hidup yang tidak religius menjadi semakin lazim setiap hari;
sementara perempuan, orang tua-orang tua, dan anak-anak sedang berada di bawah
bayang-bayang pembunuhan di wilayah-wilayah muslim hanya karena mereka
mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah," peperangan, pertempuran, dan
degenerasi moral terjadi di mana-mana. Tak diragukan lagi, menyebarkan
kesempurnaan ajaran moral Al-Qur`an kepada orang lain dan berusaha menjadi alat
supaya mereka bisa mendapatkan balasan di hari akhir, menjadi aktivitas yang
selalu diinginkan olehnya. Ini adalah tanggung jawab yang harus dipikirkan oleh
setiap muslim. Semua yang memilih alternatif ini akan melakukan amal saleh dan
pengabdian agama demi kehidupannya di hari kemudian. Tetapi selain itu, ia juga
akan mendapatkan balasan yang amat menyenangkan karena menjalankan agama sesuai
dengan ketetapan ayat-ayat Al-Qur`an, seperti yang menjadi alat penyelamat bagi
orang lain.
Allah menawarkan
contoh berikut.
"Apakah
(orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan
mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada
Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di
sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan
harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan
itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (at-Taubah [9]: 19-20)
Seperti yang
dinyatakan dalam ayat ini, memberi air untuk orang-orang yang sedang berhaji
atau menjaga Masjidil Haram juga merupakan perbuatan baik yang tepat untuk
mendapatkan keridhaan Allah. Bagaimanapun juga, harus ditekankan bahwa
orang-orang beriman yang membatasi tugas-tugas agama pada tugas-tugas tertentu
saja-meski memiliki tanggung jawab lainnya-tidak boleh berpikir bahwa perbuatan
itu cukup. Perbuatan ini tidak cukup jika dibandingkan dengan perbuatan orang
lain yang berjuang dengan mengorbankan harta milik mereka dan hidup karena
Allah. Bukanlah merupakan keikhlasan, memilih perbuatan yang kurang patut
dihargai saat orang lain berpikir bahwa ada yang lebih sesuai dengan nilai
moral Al-Qur`an. Ini menunjukkan bahwa ia semata-mata hanya peduli pada
kenyamanan dan keamanan dirinya saja. Bagaimanapun juga, memilih kesempatan
untuk mendapatkan keridhaan Allah atas hal-hal yang ada di dunia ini, merupakan
pilihan yang sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Kesulitan tingkat amalan yang
berseberangan dengan keinginan seseorang tidaklah penting. Pemahaman yang
demikian memberikan keikhlasan kepada seorang mukmin sejati. Demikian pula
amalan-amalan saleh, semua itu membawanya menuju keridhaan Allah, kasih sayang,
dan balasan-Nya di dalam surga.
Mengharapkan
Balasan Hanya dari Allah
Siapa pun yang
ingin mendapatkan keikhlasan harus waspada terhadap hal berikut. Ia harus
mengharapkan balasan atas amalan duniawinya hanya dari Allah. Perbuatan apa pun
yang dilakukan dengan mengharapkan balasan lain selain ridha Allah, kasih
sayang dan balasan akhirat-Nya, akan mengurangi keikhlasannya. Perbuatan baik
yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan materi dan sosial daripada
balasan dari Allah, hanya akan mendatangkan kerugian, bukan keuntungan. Bahkan,
jika seseorang bertahun-tahun mengabdi kepada Allah dengan pola pikir demikian,
ia tidak pernah dapat berharap untuk mendapatkan keikhlasan sejati sampai ia
berusaha hanya untuk mendapatkan ridha-Nya. Bagaimanapun juga, ibadah apa pun
bila dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah, pasti akan membuahkan
balasan surgawi.
Dalam ayat
berikut, Allah menyatakan bahwa orang-orang beriman yang melakukan kebaikan
akan diberi balasan yang besar.
"Sesungguhnya,
Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar." (al-Israa` [17]: 9)
Allah mengabarkan
kepada kita dalam ayat lain bahwa amal kebaikan akan diganjar berlipat ganda.
"Dan
barangsiapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah
dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan
kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang
mulia." (al-Ahzab [33]: 31)
Dalam bukunya,
Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa manusia bisa berhasil hanya dengan
mengingat keridhaan Allah,
"... Dengan kata lain, satu-satunya alat
keselamatan dan pembebasan adalah keikhlasan. Ini adalah yang paling penting
untuk mendapatkan keikhlasan. Perbuatan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan
adalah lebih baik daripada perbuatan besar yang dilakukan tanpa keikhlasan.
Seseorang harus berpikir bahwa yang membuat ikhlas dalam perbuatannya adalah
melakukannya dengan murni dan tulus karena perintah Allah, dan bahwa tujuan
mereka adalah keridhaan Allah...." 8
Badiuzzaman
menggarisbawahi fakta bahwa rasa kasih sayang kepada seseorang akan menjadi
ikhlas hanya jika kita tidak mengharapkan balasan, tetapi semata-mata karena
Allah.
"Keikhlasan ada di mana pun. Bahkan, sebuah
catatan cinta menjadi mulia dengan keikhlasan, begitu juga dengan berton-ton
cinta yang deminya balasan diharapkan. Seseorang mendeskripsikan cinta yang
tulus ini sebagai berikut. 'Saya tidak menginginkan sogokan, jasa, atau balasan
untuk cinta, karena cinta yang meminta balasan adalah lemah dan pendek
usianya." 9
Siapa pun yang
ingin mendapatkan keikhlasan harus memahami kenyataan ini dengan jelas. Jadi,
usaha-usahanya akan menjadi amal saleh dan ia kemudian dapat berharap
mendapatkan keridhaan Allah, kasih sayang, dan balasan surgawi dari-Nya.
Bagaimanapun,
setan terus-menerus berusaha untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus
dan membuat mereka mencari manfaat selain dari Allah. Alasan-alasan seperti,
"saya sudah berusaha mendapatkan keridhaan Allah, apa ruginya jika saya
mengharapkan keuntungan pribadi juga?", "Saya akan mendapatkan
keridhaan Allah dan kehormatan di masyrakat," "Saya akan melakukan
perbuatan yang baik, tetapi saya harus mendapatkan balasan," atau
"Saya akan berkorban, tetapi saya harap segalanya akan kembali kepada
saya," dan sebagainya. Semua bisikan tersebut berasal dari setan. Setiap
pikiran yang memaksa seseorang untuk mencari balasan selain ridha Allah ini
mencegahnya melakukan amal-amal saleh dan juga menghalangi keikhlasan.
Said Nursi
mengatakan bahwa keikhlasan hanya dapat dicapai jika seseorang merasa senang
dan puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Poin penting yang
ditekankan oleh Badiuzzaman di sini adalah bahwa seseorang seharusnya tidak
hanya mengungkapkan kepuasannya dalam kata-kata, tetapi jauh di dalam hatinya
juga harus menikmati kepatuhan untuk merasa senang dan bahagia dengan apa yang
diberikan Allah untuknya. Hal ini karena ia pada akhirnya bertanggung jawab di
hadapan Allah terhadap niat di dalam hatinya.
"Seseorang juga harus mengambil pedoman sifat
melebihkan orang lain daripada dirinya sendiri, sifat yang sama dengan para
sahabat yang dipuji di dalam Al-Qur`an. Sebagai contoh, saat memberi hadiah
atau berinfaq, seseorang harus selalu mendahulukan penerimanya daripada dirinya
sendiri dan tanpa meminta atau dalam hati menginginkan balasaan materi apa pun
atas perintah agama ini, karena jika tidak, keikhlasan akan sirna. Manusia
memiliki banyak hak dan tuntutan, dan bahkan mungkin berhak mendapatkan zakat.
Akan tetapi, semua itu tidak dapat diminta. Ketika seseorang menerima sesuatu,
tidak bisa dikatakan bahwa ini adalah balasan atas perbuatan yang dilakukan,
tetapi ia harus selalu mendahulukan yang lain yang lebih berhak. Jadi, dengan
menerapkan arti dari, 'Mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan,' (al-Hasyr
[59]: 9) seseorang dapat terselamatkan dari bahaya yang parah itu dan
mendapatkan keikhlasan". 10
Dalam
karya-karyanya yang lain, Badiuzzaman menekankan pentingnya menerima semua
balasan di hari akhir dengan mengatakan,
"Dunia ini diciptakan untuk penghambaan, bukan
untuk menerima upah. Pemberian upah, buah, dan cahaya amal saleh ada di hari
kemudian. Membawa buah abadi tersebut ke dunia ini dan berharap untuk
mendapatkannya di sini berarti membuat hari kemudian bergantung pada kehidupan
dunia. Jadi, keikhlasan dari amal saleh tersebut menjadi kerugian dan cahayanya
terpadamkan. Buah tersebut tidak diinginkan dan tidak diharapkan. Apa pun yang
diberikan, manusia harus bersyukur kepada Allah dengan berpikir bahwa semua itu
diberikan sebagai dorongan." 11
Sungguh, semua
balasan selain ridha Allah yang diharapkan manusia adalah milik dunia ini dan
menggambarkan pilihan antara dunia ini dan hari akhir. Orang yang demikian,
yang menikmati keuntungan duniawi ini, dapat dicabut kesenangannya di akhirat.
Sementara itu, orang yang melakukan amal saleh hanya untuk mendapatkan ridha
Allah dan mereka yang menjaga kebersihan niat, akan dianugerahi keberkahan oleh
Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Allah memberikan berita gembira bagi
orang-orang beriman,
"Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasa kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan." (an-Nahl [16]: 97)
Di dalam
Al-Qur`an, ada banyak contoh yang menekankan akhlaq mulia para nabi tentang hal
ini. Dalam ayat-ayat Al-Qur`an, juga dikatakan bahwa mereka tidak meminta balasan
apa pun kecuali ridha Allah atas penghambaan mereka.
"(Hud
berkata), 'Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidaklah
kamu memikirkan(nya)?'" (Hud [11]: 51)
"(Nuh
berkata), 'Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah)
bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan
mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya, mereka akan bertemu
dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak
mengetahui.'" (Hud [11]: 29)
Badiuzzaman Said
Nursi juga mengingatkan bahwa seseorang hanya dapat berharap untuk mendapatkan
keikhlasan dengan keinginannya untuk meneladani akhlaq mulia para nabi:
"Banyak orang dapat menjadi kandidat untuk posisi
yang sama; banyak tangan dapat mencoret setiap balasan moral dan material yang
ditawarkan. Karenanya, konflik dan perseteruan muncul; kerukunan berubah
menjadi perselisihan; dan kesepakatan menjadi percekcokan. Kini, obat bagi
penyakit yang mengerikan ini adalah keikhlasan. Keikhlasan bisa didapatkan
dengan memilih untuk menyembah Allah daripada menyembah jiwa seseorang, dengan
sebab keridhaan Allah untuk menaklukkan jiwa dan ego, dan dengan demikian
memanifestasikan arti ayat, 'Upahku hanyalah dari Allah,' (Hud [11]: 29) dengan
melepaskan balasan moral dan material dari manusia, dan memanifestasikan arti
dari ayat, 'Kewajiban rasul tidak lain hanyalah menyampaikan;' (al-Maa'idah
[5]: 99) dan dengan mengetahui hal tersebut sebagai penerimaan yang baik, dan
membuat kesan yang menyenangkan, dan mendapatkan perhatian manusia adalah
urusan Allah dan pertolongan dari-Nya, dan bahwa mereka tidak berperan dalam
membawa risalah yang menjadi tugas setiap orang itu. Mereka juga tidak merasa
penting dan tidak juga seseorang dituntut untuk memperolehnya. Dengan memahami
semua itu, seseorang akan berhasil dalam mendapatkan keikhlasan. Jika tidak,
semua itu akan sirna." 12
Membebaskan Diri dari Perkataan Orang
Lain dan Hanya Mencari Ridha Allah
Dalam
sebuah karyanya tentang keikhlasan, Badiuzzaman Said Nursi menggarisbawahi
pentingnya membersihkan diri dari kebutuhan untuk menerima dari orang lain dan
berpaling hanya untuk mendapatkan ridha Allah, "Engkau
harus mencari keridhaan Ilahiah dalam setiap tindakan. Jika Allah Yang
Mahakuasa merasa ridha, tidak ada pentingnya seluruh dunia ini disenangkan.
Jika Allah menerima sebuah perbuatan dan manusia menolak, tak ada pengaruh
baginya. Sekali keridhaan Allah diraih dan Dia menerima perbuatan kita-bahkan
tanpa kita minta kepada-Nya-Allah dan kebijaksanaan-Nya akan menginginkannya.
Allah akan membuat orang lain juga menerimanya. Ia akan membuat mereka ridha
terhadap perbuatan tersebut. Karena itulah, tujuan satu-satunya dalam
penghambaan ini adalah untuk mencari keridhaan Tuhan." 13
Contoh ini adalah konsekuensi dalam memahami arti keikhlasan. Ditekankan bahwa
sekali Allah ridha, tidak ada sesuatu pun di seluruh dunia ini yang akan
berpaling darimu. Selain itu, Allah juga mengendalikan hati-hati mereka. Jika
Allah berkenan, Dia akan membuat mereka semua ridha kepadamu.
Di sisi lain, jika
Allah tidak memberikan ridha-Nya, tidak penting apakah seluruh isi bumi in
memberikan segala milik mereka. Setiap mukmin sejati memahami dengan pasti
bahwa jika ia hanya mendapatkan ridha manusia, tiadalah artinya semua itu di
hadapan Allah dan ia tidak akan mendapatkan apa-apa untuk bekalnya di hari
kemudian kecuali Allah menginginkan sebaliknya. Mereka yang telah meridhai
mungkin banyak jumlahnya, kekayaannya, ataupun kekuasaannya. Akan tetapi, semua
itu lemah dan hanya didapatkan dengan seizin Allah. Suatu saat, semua itu akan
kehilangan kekuatannya setelah membusuk di perut bumi. Karena itulah, dukungan
jumlah yang besar tidak akan berarti di hari akhir. Hanya Allah yang abadi dan
patut kita mintai keridhaan-Nya. Hanya dengan memahami kebenaran ini, seseorang
bisa mendapatkan pemahaman keikhlasan yang abadi. Ia harus menuju keridhaan
Allah dengan membebaskan dirinya dari persepsi orang lain. Di dalam Al-Qur`an,
Allah menjelaskan hal ini dengan perumpamaan,
"Allah
membuat perumpamaan (yaitu) seorang laku-laki (budak) yang dimiliki oleh
beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang
menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama
halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Sesungguhnya, kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)."
(az-Zumar [39]: 29-30)
Di dalam
Al-Qur`an, mencari keridhaan selain kepada Allah disebut syirik atau
mempersekutukan Allah. Dalam ayat yang disebutkan di atas, Allah membandingkan
orang yang mencari ridha manusia dan mempersekutukan Allah sebagai budak yang
dimiliki oleh beberapa sekutu dalam perselisihan satu sama lain. Ia pun
membandingkan keimanan seseorang yang teguh mengabdi kepada-Nya sebagai budak
yang sepenuhnya dikuasai oleh seseorang. Allah mengingatkan kita bahwa semua
makhluk selain Allah pasti akan mati pada akhirnya. Jadi, Dia mengajak manusia
untuk memikirkan pentingnya mencari hanya keridhaan-Nya.
Karena itu,
seseorang harus mengevaluasi dirinya dengan tulus ihklas tanpa membiarkan nafsu
rendahnya menipu dirinya. Salah satu kecenderungan yang paling kuat dari nafsu
rendahnya adalah keinginan untuk mendapatkan ridha dari orang lain, sebagaimana
bertentangan dengan ajaran moral Al-Qur`an. Jika tidak, banyak orang yang melakukan
sesuatu bukan karena mereka menyukainya atau karena kebutuhan, melainkan supaya
mereka dihargai oleh kelompoknya. Dengan kata lain, mereka berusaha untuk
meningkatkan status mereka di masyarakat. Karena itu, tujuan hidup utama mereka
adalah ingin mendapat keridhaan orang lain.
Sebagian dari Anda
pasti sering mendengar perkataan orang-orang, "Apa kata orang
nanti?", "Bagaimana kita menjelaskannya kepada orang lain
nanti?", "Kita bisa menjadi bahan tertawaan di masyarakat," atau
"Kita tidak akan bisa pergi ke tempat umum lagi karena malu."
Secara umum,
reaksi-reaksi ini terlalu mementingkan apa yang dikatakan dan dipikirkan orang
lain. Terkadang orang merasakan kepedihan dalam hati nuraninya, bukan karena
mereka melakukan kesalahan, tetapi karena orang lain mengetahui hal itu.
Bagaimanapun juga, jika suatu kesalahan dilakukan dan pada kenyataannya Allah
mengetahui hal tersebut, barulah menjadi masalah yang besar. Sekali lagi,
seseorang harus berpaling hanya kepada Allah untuk bertobat ketika ia tidak merasa
bertanggung jawab kepada Allah atas sebuah kesalahan, tetapi merasa malu di
depan orang lain. Jelaslah, ia lebih mementingkan ridha manusia daripada ridha
Allah. Ketika berada di luar, sebagian orang gagal melaksanakan tugas agama
seperti saat berada di rumah. Terlalu berlebihan terhadap anggapan orang lain
membuatnya memilih untuk mendapatkan keridhaan orang lain daripada keridhaan
Allah.
Tingkah laku
mereka berbeda saat mendatangi daerah tepi pantai atau lingkungan tempat
tinggal orang yang lebih kaya. Akhlaq mereka juga berbeda saat mereka
bersama-sama dengan sesama muslim dan saat mereka mengunjungi kota-kota atau
orang-orang lain (nonmuslim). Dari waktu ke waktu, terbawa oleh pola pikir
demikian, mereka bahkan menolak untuk memperhatikan ibadahnya kepada Allah.
Bagaimanapun juga, seseorang yang ikhlas tidak pernah bersikap demikian. Ke
mana pun ia pergi atau siapa pun yang ia lihat, ia tetap berkomitmen dalam
pengabdiaannya karena rasa takut kepada Allah. Al-Qur`an menyatakan bahwa tidak
ada kondisi atau situasi yang dapat memengaruhi pemikiran para mukmin sejati,
"Laki-laki
yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan
zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan
menjadi goncang." (an-Nuur [24]: 37)
Jadi, setiap orang
beriman yang berharap untuk mendapatkan keikhlasan, harus membebaskan dirinya
dengan sempurna dari kekhawatiran terhadap apa yang akan dikatakan orang lain.
Kekhawatiran ini mengakar dalam komunitas masyarakat yang bodoh. Jadi,
seseorang tidak akan pernah dapat berbuat ikhlas dengan murni selama ia
membutuhkan pengakuan dari orang lain.
Seseorang harus
selalu ikhlas dalam niatnya dan dengan murni mencari keridhaan Allah untuk
mendapatkan keikhlasan. Kenyataan bahwa orang lain memberikan kerelaan padanya,
tidaklah bermanfat baginya kecuali Allah merelakannya juga. Adapun orang yang
mendapatkan keridhaan, bantuan, cinta, dan pengakuan Allah, ia telah
mendapatkan bantuan yang bisa didapatkan oleh semua orang. Jika ia berlaku
ikhlas, Allah akan membuatnya mampu menjalani keidupan yang paling baik di
dunia dan di akhirat. Allah memberikan fasilitas-fasilitas yang mendukung, yang
tidak didapatkan dari manusia, serta menganugerahinya persahabatan yang tidak
dapat dibandingkan dengan persahabatan dengan manusia. Dalam salah satu
karyanya, Badiuzzaman Said Nursi juga menegaskan,
"... Keridhaan Allah sudahlah cukup. Jika Dia
menjadi kekasihmu, semuanya akan menjadi kekasihmu. Jika Dia bukan kekasihmu,
pujian dari seluruh bumi tidaklah berarti. Kerelaan dan keridhaan manusia jika
dicari melalui perbuatan duniawi lainnya, akan menggagalkan perbuatan tersebut.
Jika mereka tergoda, kemurnian itu akan hilang." 14
"Hai jiwa yang rendah, jika engkau mendapatkan
ridha Tuhanmu dengan kasih dan pengabdianmu, cukuplah hal itu bagimu dan tidak
perlu lagi mencari ridha manusia. Jika manusia setuju dan menerima kepentingan
Allah, hal itu adalah baik. Jika mereka melakukan sesuatu untuk mendapatkan
keberkahan dunia, hal itu sama sekali tak ada nilainya. Karena mereka adalah
hamba-hamba yang lemah, sepertimu. Memilih pilihan kedua di atas berarti
kemusyrikan. Jika seseorang melakukan suatu pekerjaan untuk sultan, hal itu
harus diselesaikan. Jika tidak, akan muncul banyak masalah dan situasi yang
sulit. Dalam hal ini, izin sultan adalah kewajiban. Dan izin ini bergantung
pada keridhaannya." 15
Menguatkan Hati Nurani
Kata hati adalah
kekuatan yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia untuk menunjukkan jalan
yang benar kepada mereka. Kata hati mengingatkan manusia akan setan yang ada di
dalam jiwa mereka dan segala macam sikap serta tingkah laku yang tidak sesuai
dengan Al-Qur`an. Kata hati mengilhami seseorang cara untuk menyenangkan Allah
dan berbuat sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Apa pun kondisinya, seseorang yang
mendengarkan suara hatinya akan dapat mencapai keikhlasan. Keikhlasan berarti
kemampuan untuk memakai hati nurani seseorang seefektif mungkin. Ini juga
berarti seseorang tidak boleh mengabaikan kata hatinya, bahkan di bawah
pertentangan pengaruh luar atau nafsu rendahnya.
Karena alasan
inilah, seseorang yang berharap untuk mendapatkan keikhlasan, pertama-tama ia
harus menentukan apakah ia memakai hati nuraninya dengan baik atau tidak. Jika
ia menekan kata hatinya terus-menerus, tidak mendengarkan suaranya, dan secara
sengaja menuruti nafsu rendahnya, ia tidak memakai hati nuraninya sesuai dengan
Al-Qur`an. Yang lebih penting lagi, seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,
meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya," (al-Qiyaamah [75]:
14-15) setiap manusia secara naluri mengetahui bahwa bisikan yang terdengar di
telinganya adalah suara hati nuraninya dan juga alasan-alasan yang ia ajukan
untuk mengabaikan suara tersebut.
Hati nurani adalah berkah dan karunia bagi
kemanusiaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Badiuzzaman Said Nursi, "Bahkan,
jika pikiran terlena dan menolak hal itu, hati nurani tidak akan pernah
melupakan Penciptanya. Bahkan, jika ia menafikan kesadarannya, hati nurani
melihat-Nya, memikirkan-Nya, dan berjalan menuju Dia," 16
atau "... Sang Pencipta yang memiliki dua jendela dalam setiap hati nurani
akan menyebabkan kecerdasan-Nya selalu dimanifestasikan dalam hati
manusia." 17
Hati nurani tidak pernah berada dalam ketidaksadaran, bahkan sewaktu orang
tersebut tidak sadar. Hati nurani seseorang selalu tulus dan jujur, dan tidak
pernah menuruti setan, bahkan bila orang tersebut mengikuti setan sekalipun.
Singkatnya, seseorang secara disengaja ataupun tidak dapat melakukan kesalahan,
tetapi hati nuraninya tidak pernah tersesat dari jalan yang lurus dan tidak
pernah melakukan kesalahan.
Bagaimanapun juga,
kemampuan seseorang untuk mendengarkan hati nuraninya bisa saja berkurang. Jika
seseorang tidak memperhatikan suara hati nurani yang mengajaknya kepada jalan
yang lurus dan ia terbiasa menekan suara itu, ia akan melemahkan pengaruh kata
hatinya dan akan menyebabkan kemampuannya untuk mendengarkan kata hati itu
menjadi tumpul. Meskipun kata hatinya memperingatkan akan seseorang dan
mengajaknya untuk melakukan kebenaran, ia tidak lagi akan terpengaruh oleh kata
hatinya. Orang yang demikian tidak lagi merasakan kepedihan hati nuraninya saat
ia menghancurkan hukum-hukum Al-Qur`an. Ia bisa melakukan hal-hal yang
bertentangan dengan keridhaan Allah dan mengikuti setan. Ia melakukan perbuatan
yang tidak diperbolehkan Al-Qur`an tanpa perhatian sedikit pun. Sebagai contoh,
selama masa perang, banyak orang merasakan ketidaknyamanan dan kesulitan yang
luar biasa saat mereka melihat perempuan dan anak-anak tak berdaya mati begitu
saja. Mereka ingin berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Akan tetapi,
hari-hari selanjutnya, mereka membaca artikel-artikel yang sama dan melihat
pemandangan yang demikian lagi di surah kabar. Hal ini cenderung menumpulkan
hati nurani mereka. Sejak dari itu, berita kematian atau kekejaman tidak lagi
memengaruhinya. Ia tidak lagi merasa khawatir dan tidak lagi memperhatikan
tanggung jawab apa pun. Perubahan ini jelas menandai tumpulnya hati nuraninya.
Meski dalam beberapa hal, ia mungkin saja membicarakan keikhlasan yang murni.
Untuk mendapatkan
keikhlasan, yang pertama dan paling utama, seseorang harus memastikan bahwa ia
peka terhadap hati nuraninya, sebagaimana yang dituntun oleh Al-Qur`an. Ini
hanya mungkin dapat dilakukan melalui rasa takut kepada Allah yang terus
ditingkatkan. Seseorang harus menyadari sedalam mungkin bahwa Allah mendengar
dan melihatnya, di mana pun dan kapan pun. Ia terus menjaga perbuatannya; dan
suatu hari, ia akan mengingat-ingat dan memperhitungkan perbuatan itu. Ia harus
berusaha untuk memahami dengan jelas bahwa kematian mungkin datang padanya
dalam hitungan waktu. Selanjutnya, ia melihat dirinya menghitung amalannya di
hadapan Allah. Ia mungkin dihadapkan pada pedihya siksa neraka jika ia gagal
meningkatkan tingkat akhlaqnya yang ditunjukkan oleh Allah dan gagal
menggunakan hati nuraninya dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil membuat
hal-hal penting yang diperintahkan Al-Qur`an ini merasuk ke dalam hatinya,
ketumpulan hati nuraninya akan digantikan dengan kepekaan yang penuh
kehati-hatian. Hal ini karena kepekaan bisa saja membuatnya berlaku ikhlas
dengan mendengarkan suara hati nuraninya, bagaimanapun kondisinya.
Memahami bahwa Kehidupan Dunia Ini
Adalah Sementara
Di seluruh dunia,
setiap manusia tanpa terkecuali, membicarakan atau paling tidak memikirkan satu
tema pada satu titik dalam kehidupan mereka: berumur panjang dan menghindari
kematian sebisa mungkin. Hingga saat ini, para ilmuwan telah melakukan
usaha-usaha yang serius selama berabad-abad dan telah berusaha menemukan
formula-formula untuk membuat manusia hidup lebih lama. Bagaimanapun juga,
hingga saat ini, tak ada kemajuan apa pun yang dicapai. Karena itu, dengan
ayat, "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang
manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan
kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya
kepada Kamilah kamu dikembalikan," (al-Anbiyaa` [21]: 34-35) Allah
mengatakan kepada kita bahwa setiap manusia diciptakan tidak abadi (akan mati).
Sebuah kenyataan yang setiap kita pasti akan hadapi pada waktu yang telah
ditentukan.
Tanpa mengabaikan
kenyataan bahwa manusia enggan memikirkan atau menerima realitas kematian,
kenyataan bahwa manusia akan mati adalah sebuah kebenaran mutlak. Dalam hal apa
pun, kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara sifatnya. Setiap orang
diturunkan ke dunia ini untuk diuji dalam rentang waktu berkisar antara tujuh
belas sampai tujuh puluh tahun. Karena itulah, akan menjadi sebuah kesalahan
yang besar bagi seseorang untuk mendasarkan rencana hidupnya hanya untuk dunia,
untuk menerima persinggahan yang sebentar ini sebagai kehidupan sejatinya, dan
untuk melupakan akhirat di mana ia akan hidup selamanya.
Kenyataan ini
terlihat begitu jelas dan mudah hingga semua kita bisa memahaminya dengan
cepat. Akan tetapi, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat,
"Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa lagi Maha
Pengampun," (al-Mulk [67]: 2) Allah memperindah dunia ini untuk
menciptakan kondisi di mana di dalamnya manusia akan diuji. Manusia seharusnya
tidak tertipu oleh kenyataan bahwa sebagian orang berlomba-lomba satu sama lain
untuk memaksimalkan kesenangan hidup di dunia ini. Hal ini karena--seperti yang
ditunjukkan oleh Al-Qur`an--mereka yang hidup dalam kelalaian, tidak dapat
menganggap sebuah kelompok kecuali bila mereka memiliki sifat-sifat yang
dikehendakinya. Mereka yang berusaha untuk mengumpulkan dan menimbun harta
kekayaan, mengorbankan kepercayaan mereka untuk mendapatkan kekuasaan.
Mereka yang
memainkan peran sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan atau
penerimaan dari orang lain, sebenarnya mencari cita-cita yang khayali. Menganggap
bahwa kehidupan dunia ini adalah nyata dan mengejar keuntungan serta balasan
duniawi tanpa harapan, adalah ketidaklogisan, kelucuan, dan kehinaan, seperti
menyalahkan adegan dari sebuah sandiwara nyata.
Bagaimanapun juga,
haruslah diingat bahwa yang tertipu itu bukan hanya mereka yang mengabdikan
dirinya pada kehidupan dunia ini, melainkan juga mereka yang berusaha
mendapatkan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia ini diciptakan sebagai berkah
bagi manusia. Sementara mereka di dunia, manusia harus memakainya sebaik
mungkin atas segala pesonanya dan menikmati anugerahnya yang berlimpah. Akan
tetapi, kita tidak boleh mengidealkan dan tidak juga mengejar anugerah ini
dengan keinginan atau ambisi yang berlebihan. Ia harus menjadikannya alat untuk
hidup sesuai dengan agama dalam sikap sebaik mungkin, untuk menghargai Allah,
dan bersyukur setelah menyadari bahwa semua itu dilimpahkan Allah kepadanya.
Berbuat sesuai dengan alasan-alasan seperti, "Saya dapat membawa hidup
saya dalam keridhaan Allah dan menggunakan keuntungan-keuntungan duniawi ini
sebaik-baiknya," akan menjadi pola pikir yang merusak keikhlasan
seseorang.
Di dalam ayat
berikut, mengacu pada para nabi-Nya, Allah mengingatkan umat manusia bahwa
tingkah laku mereka yang hanya mengingat hari akhir saja adalah yang terbaik
dalam kebaikan bersama Allah.
"Dan
ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai
perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami
telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang
tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan
sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan
yang paling baik." (Shaad [38]: 45-47)
Meskipun demikian,
Allah melimpahkan anugerah duniawi yang luar biasa atas mereka yang dengan
ikhlas berpaling kepada-Nya dan menginginkan hari akhirat. Jadi, seseorang yang
mengambil jarak dengan keikhlasan dengan mengatakan, "Biarkan aku memiliki
dunia ini dan akhirat," pada akhirnya akan kehilangan kedua-duanya. Orang
yang selalu hanya mencari akhirat akan mendapatkan keberkahan dunia dan
akhirat.
Demikian
pula, Badiuzzaman Said Nursi berkata, "Rahasianya adalah keikhlasan.
Kesenangan dunia yang sementara ini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang tidak
berhasil mendapatkan kemurnian spiritual. Jadi, perbuatan yang dilakukan oleh
mereka untuk hari akhirat dipengaruhi oleh kesenangan-kesenangan tersebut, dan
keikhlasan mereka ternodai. Karena hal-hal yang bersifat duniawiah, kesenangan
tidak dapat dicari bersama dengan perbuatan untuk mendapatkan balasan duniawi
lainnya. Jika demikian, keikhlasan akan terancam." 18 Ia
menggarisbawahi bahwa tujuan untuk mendapatkan dua keuntungan dunia dan akhirat
muncul dari jiwa yang kurang terdidik. Pemikiran demikian mengurangi keikhlasan
dan mencegah seseorang dari melakukan amal saleh untuk hari akhirat.
Dalam karyanya
yang lain, Said Nursi mencatat bahwa hanya mereka "yang menganggap bahwa
dunia adalah rumah persinggahan" yang dapat berharap untuk mendapatkan
kehidupan terbaik dan paling berbahagia. Karena itu, pola pikir demikian
membawa seseorang pada keridhaan Allah dan untuk berbuat ikhlas.
"Saya melihat bahwa orang yang paling beruntung
di dunia ini adalah dia yang melihat dunia ini sebagai rumah persinggahan
militer, menyerahkan dirinya, dan bersikap sebaik mungkin. Dengan berpikir
demikian, ia dapat meningkat cepat pada tingkatan keridhaan Allah, tingkatan
tertinggi. Karena, orang tidak akan memberikan harga intan untuk sesuatu yang
senilai dengan kaca yang bisa pecah. Ia akan menjalani hidupnya dengan lurus
dan penuh kebahagiaan. Benar, materi yang ada di dunia ini adalah seperti
serpihan kaca yang hancur, sedangkan materi yang abadi di akhirat memiliki
nilai intan yang sempurna. Keingintahuan yang besar, rasa cinta yang hebat,
keserakahan yang parah, keinginan yang keras, dan emosi-emosi lainnya yang kuat
dalam naluri manusia diberikan untuk mendapatkan hal-hal yang ada di akhirat.
Menjadikan emosi-emosi yang kuat terhadap hal-hal duniawi yang bersifat
sementara ini sebagai tujuan, berarti memberikan harga intan yang abadi untuk
serpihan kaca yang hancur." 19
Dalam istilah ini,
Badiuzzaman membandingkan kehidupan dunia ini sebagai sebuah botol yang mudah
pecah, sedangkan hari akhirat sebagai intan. Siapa pun yang berbuat tidak
ikhlas, dengan larut dalam kehidupan dunia ini, akan kehilangan balasan yang
amat menyenangkan, seperti orang yang mengorbankan intan untuk sebuah botol
kaca yang tak bernilai. Di sisi lain, orang yang memahami bahwa dunia ini
adalah rumah persinggahan, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan akan
mendesak dirinya untuk berusaha sekuatnya di dunia ini untuk akhirat.
Memikirkan Kematian dan Hari Pembalasan
Sebagian orang
salah menilai arti kematian. Mereka mengira kematian adalah terminal akhir,
merupakan akhir dari karunia kehidupan dunia ini, dan membuat mereka
mengucapkan kata perpisahan kepada kehidupan. Ia mengira dirinya tidak akan
pernah kembali dan sirna ditelan bumi. Pemikiran-pemikiran seperti ini berawal
dari kegagalannya memahami keberadaan Allah dengan sebenar-benarnya, seperti
alasan penciptaan diri mereka sendiri dan penciptaan kehidupan dunia ini.
Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ujian
untuk menentukan tujuan kehidupan sebenarnya setelah mereka mati. Mereka menganggap
dunia ini sebagai kenyataan dan hari akhir sebagai khayalan. Karena alasan ini,
mereka mengira kematianlah yang mengakhiri kehidupan dunia dan memulai
kehidupan dunia yang lain sebagai terminal akhir.
Karena anggapan
tersebut, "kematian" atau bahkan "memikirkan kematian"
adalah hal yang menakutkan dan mengganggu. Mereka percaya bahwa mereka tidak
akan menemukan kesenangan apa pun dalam kehidupan duniawi ini dan semua
keceriaan akan hilang jika mereka memikirkan kematian. Maka dari itu, mereka
ingin mendapatkan kesenangan yang paling besar atas karunia kehidupan di bumi
ini dan mereka ingin lebih menikmati kehidupan ini dengan mengabaikan kematian.
Akan tetapi,
apakah seseorang berpikir tentang kematian ataupun tidak, pada akhirnya
hasilnya tidak berubah. Sebagaima disebutkan di dalam ayat yang dikutip di
bawah ini, setiap manusia pasti akan bertemu dengan kematian,
"Katakanlah,
'Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu
akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah
kamu kerjakan.'" (al-Jumu'ah [62]: 8)
Karena itulah,
cara yang bijaksana adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal yang tak
dapat dielakkan ini, bukan mengabaikannya dalam keingkaran dan kelalaian. Jika
seseorang mengarahkan hidupnya untuk mendapatkan keridhaan Allah, kematian
tidak akan merugikan dan mengancam dirinya. Sebaliknya, kematian akan menjadi
jalan baginya untuk memulai kehidupan abadi yang lebih mulia. Jika orang ini
berpaling kepada Allah dengan hati yang ikhlas, kematian tidak akan
menyakitkan, tanpa menghiraukan artinya. Di dalam Al-Qur`an, Allah menujukkan
malaikat yang, "... mencabut (nyawa) dengan keras, dan
(malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut." (an-Naazi'aat
[79]: 1-2) Karena itulah, jika seseorang beriman dan ikhlas, kematian tidak
akan menjadi akhir yang menyakitkan baginya.
Di sisi lain,
berpikir tentang kematian adalah cara penting yang memungkinkan seseorang
menemukan kesenangan dan kebahagiaan yang besar dari berkah kehidupan ini.
Menurut yang disalahartikan oleh orang banyak, kematian itu menghapus
kesenangan dunia ini, padahal seseorang dapat menikmati berkah kehidupan dengan
baik hanya jika ia memahami bahwa semua itu semata hanyalah sementara. Dalam
salah satu haditsnya, Nabi saw. telah menandai pentingnya berpikir tentang
kematian,
"Banyaklah mengingat kematian karena ia
membersihkan seseorang dari dunia dan membebaskannya dari dosa." 20
Selain itu,
kematian bukanlah akhir kehidupan, bukan akhir karunia ataupun kesenangan,
seperti yang cenderung diyakini orang awam. Sebaliknya, kematian adalah awal
dari kehidupan sebenarnya; merupakan transisi menuju dunia yang sebenarnya, di
mana manusia akan hidup abadi sesuai dengan pilihan-pilihan yang mereka buat
selama mereka hidup di dunia. Jika seseorang menghargai kebesaran Allah dan
hidup dengan pengetahuan akan hal ini, ia akan menghabiskan kehidupan abadinya
di surga. Bagaimanapun juga, jika ia telah membenamkan dirinya dalam kehidupan
dunia ini dan melupakan kematian dan hari pembalasan, tempat tinggal abadinya
adalah neraka. Mereka tidak ingin memikirkan kematian sementara di bumi ini,
tetapi ia pasti bertemu dengan takdirnya.
Seseorang Dapat Menghadapi Kematian di
Mana Pun dan Kapan Pun
Memikirkan
kematian dan mendefinisikan kebenaran ini adalah hal penting yang perlu
dipertimbangkan jika seseorang ingin selalu berlaku ikhlas dan penuh kesadaran.
Seseorang yang ikhlas beriman pada keberadaan Allah dan hari akhir, ia
mengetahui dengan jelas bahwa Allah tidak hanya mengendalikan kehidupannya,
tetapi juga kematiannya. Tak ada satu pun yang dapat menunda ataupun mempercepat
kematiannya. Kematian akan datang saat Allah mengizinkan dan dalam kondisi yang
Ia ridhai. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat,
"Tiap-tiap umat mempuyai batas waktunya; maka apabila telah datang
waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikit pun dan tidak dapat
(pula) memajukannya," (al-A'raaf [7]: 34) seseorang yang menyadari
kebenaran ini, bersikap atas dasar pikiran yang jernih, karena ia tahu bahwa ia
dapat berhadapan dengan kematian kapan saja. Sebagaimana telah disebutkan,
kematian tentu saja akan datang dengan izin Allah. Kematian tidak bergantung
pada umur dan usia seseorang ataupun apakah ia melakukan perbuatan yang
berbahaya atau tidak. Dengan izin Allah, kecelakaan yang tiba-tiba, penyakit
yang tidak terantisipasi, atau bahkan penyebab yang sangat kecil sekalipun
dapat membawa seseorang pada akhir kehidupannya.
Siapa pun yang
mampu memahami arti kematian dalam berbagai seginya, ia menyadari bahwa dirinya
dapat bertemu dengan kematian di mana pun dan kapan pun. Kehidupannya dapat
berakhir dengan tiba-tiba. Karena memahami hal tersebut, ia selalu berbuat
ikhlas dan berusaha sebaik mungkin menggunakan kebijaksanaan, hati nurani, dan
kemampuannya. Ia bertindak dengan penuh kesadaran bahwa bahkan dalam waktu
selanjutnya, ia dapat menemukan dirinya harus menghitung amalannya di hadapan
Allah. Jadi, kapan pun, ia bisa saja menempati surga ataupun neraka. Ia
menghabiskan hidupnya di dunia ini dengan iman dan keikhlasan, seperti ia
pernah melihat surga atau neraka saja. Ia juga memastikan bahwa semua itu
adalah nyata dan dekat. Ia melewati setiap waktu dengan rasa takut yang
mendalam kepada Allah, seperti pernah bertemu malaikat maut yang datang untuk
mengambil nyawanya. Ia merasa buku yang berisi amalannya terbuka dan ia merasa
seperti saat menanti keputusan apakah ia akan dikirim ke surga atau ke neraka.
Ia menuntun sikapnya dengan selalu mengingat akan dekat dan pedihnya siksaan
api neraka. Ia selalu memelihara rasa takut akan jatuh ke dalam derita itu
selamanya. Di sisi lain, ia juga berharap terbebas dari neraka dan hidup abadi
si surga sebagai hamba yang ditemani oleh Allah. Ia bertindak dengan mengetahui
pasti bahwa alasan-alasan yang sia-sia seperti, "saya tidak tahu",
"saya tidak mengerti", "saya tidak sadar", "saya
lupa", "saya bingung seperti orang-orang yang tidak sadar",
"saya tidak bertanggung jawab", "saya mengikuti setan",
atau "saya kira Allah pasti memaafkan saya", "saya melakukan
tugas-tugas agama saya dan saya kira itu cukup", semua itu sia-sia jika
diucapkan di hadapan Allah di hari pembalasan.
Sungguh, kesadaran
muncul dalam hati nurani yang kuat, pemahaman yang kokoh, kebijaksanaan yang
unggul, dan keikhlasan yang konsisten. Karena seseorang mengetahui bahwa
datangnya kematian hanyalah masalah waktu, ia tidak pernah berhenti melakukan
perbuatan baik apa pun. Ia tidak pernah menangguhkannya, bermalas-malasan, dan
selalu antusias dalam kondisi apa pun. Ia menyadari bahwa kehidupannya tidak
cukup panjang untuk melakukan perbuatan yang ia coba realisasikan dalam waktu
dekat, beberapa jam atau hari ke depan. Ia menyadari bahwa ia bisa saja
menyesal di hari akhir karena perbuatan-perbuatan yang belum terselesaikan dan
tertunda itu.
Ia tahu bahwa ia
hars berbuat sesuai dengan pemahaman seperti para nabi. Ia berusaha untuk tidak
menyesal di hari akhir dan mengatakan, "Saya telah melakukan amal saleh,
menolong banyak orang, bersikap dengan akhlaq yang mulia, dan memimpin
orang-orang saleh dan orang-orang muslim. Saya harus mengabdikan diri saya
lebih kokoh kepada Allah, berusaha lebih gigih untuk mengabarkan manusia akan
akhlaq Islam, mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka
dari kesalahan dan dosa, tidak menunda kesiapan untuk hari akhir daripada
terbawa oleh kehidupan duniawi, saat saya memiliki kesempatan untuk menjadi salah
satu dari mereka yang telah sukses."
Karena ia bisa
saja menghadapi kematian begitu cepat, semakin baik perbuatan yang dilakukannya
dengan ikhlas, semakin menguntungkan apa yang ia dapat. Ia menyadari bahwa
bersikap ragu-ragu, malas untuk melakukan sesuatu, atau memilih alternatif yang
kurang baik akan menyebabkan dirinya sangat menyesal di hari akhir. Kesadaran
dan keikhlasannya yang mendalam bersinar dalam kondisi apa pun. Ia mengadopsi
sikap yang tulus dalam pendekatannya kepada Allah dan dalam rasa hormat, kasih
sayang dan ketulusannya kepada orang-orang muslim, akhlaq yang baik,
pengorbanan diri, kerja keras, pengabdian dan do'anya yang ia berikan dengan
kekayaan, kata-kata, antusiasme, dan tenaganya.
Seseorang hanya
dapat berharap untuk mendapatkan pemahaman keikhlasan yang mulia jika ia hidup
dengan terus memikirkan kematian. Dalam risalahnya, Badiuzzaman Said Nursi
menekankan perlunya memikirkan kematian.
"Hai
sahabatku dalam pelayanan Al-Qu`an! Salah satu cara yang paling efektif untuk
mendapatkan dan memelihara keikhlasan adalah memikirkan kematian. Benar, karena
ambisi duniawi yang merusak keikhlasan dan membawa seseorang pada kemunafikan
dan dunia, maka perenungan akan kematian yang menyebabkan kemuakan pada
kemunafikan dan hal itu akan mengantarkan kita pada keikhlasan. Yaitu, untuk
memikirkan kematian dan menyadari bahwa dunia ini adalah sementara, dan dengan
demikian, kita terselamatkan dari tipuan-tipuan jiwa. Benar, melalui petunjuk
ayat Al-Qur`an dan orang-orang yang benar, 'Setiap jiwa akan mati,' (Ali Imran
[3]: 185) mereka membuat perenungan akan kematian menjadi penting bagi
perjalanan spiritual dan menghilangkan ilusi keabadian dan sumber ambisi
duniawi. Mereka membayangkan dirinya sebagai orang mati dan ditempatkan di
dalam kubur. Melalui pemikiran yang panjang, jiwa yang diperintah oleh
kejahatan disedihkan dan dipengaruhi oleh khayalan yang demikian dan sampai
pada tingkat memberikan semua ambisi dan harapan jiwanya. Ada sejumlah
keuntungan dalam perenungan ini. Hadits, "Sering-seringlah mengingat
kematian yang menghilangkan kesenangan dan membuatnya begitu pahit,"
mengajarkan perenungan ini.
Bagaimanapun
juga, karena jalan kita bukanlah jalan sufi, melainkan jalan realitas, kita
tidak mendorong untuk melakukan perenungan dalam khayalan dan hipotesis seperti
yang dilakukan kaum sufi. Jalan yang demikian, bagaimanapun, tidak sesuai
dengan realitas (kenyataan). Jalan kita bukanlah untuk membawa masa depan ke
masa kini dengan memikirkan akhir hidup kita, melainkan memikirkan masa depan dari
masa kini dalam penghormatan akan realitas dan menatap masa depan. Benar,
dengan tidak membutuhkan khayalan atau gambaran, seseorang dapat melihat
jenazahnya, buah pohon kehidupannya yang singkat. Dengan cara seperti ini,
seseorang dapat melihat pada kematiannya, dan jika ia lihat lebih jauh, ia akan
melihat kematian abad ini, dan jika ia lihat lebih jauh lagi dengan mengamati
kematian dunia ini, ia akan membuka jalan menuju keikhlasan yang sempurna. 21
Dengan kalimat di
atas, Badiuzzaman menyarankan kepada kita untuk mengevaluasi kematian dengan
kejernihan dan kematangan pikiran, layaknya kita telah dimasukkan ke dalam
kubur, melihat kematian dan penguburan diri sendiri, serta mengamati kematian
dunia dari akhirat. Ia juga menekankan kenyataan bahwa memikirkan kematian
dapat menjadi cara yang penting untuk memurnikan seseorang dari segala macam
kelemahan moral dan bertingkah laku tepat dalam kehidupan dunia ini.
MENGHINDARI SIKAP-SIKAP YANG MENGURANGI KEIKHLASAN
Pada
bab sebelumnya, kita telah menggarisbawahi sifat-sifat dari orang-orang yang
berharap untuk memperoleh keikhlasan. Sampai poin ini, yang merupakan persoalan
penting yang kedua adalah menyucikan diri dari segala sikap yang muncul dari
pemikiran "menghalangi keikhlasan" atau "sama sekali mengaburkan
makna keikhlasan". Sebagaimana yang ditegaskan Badiuzzaman Said Nursi, "Saudaraku! Ada banyak rintangan sebelum amalan-amalan
saleh dikerjakan. Iblis akan berusaha sekuat tenaga menggoda setiap insan yang
melakukan amal kebaikan tersebut. Setiap insan seharusnya menyandarkan diri
pada kekuatan ikhlas untuk menghadapi rintangan-rintangan dan godaan setan.
Anda harus menjauhkan diri dari perbuatan yang mengurangi nilai keikhlasan,
sama halnya seperti Anda menghindari ular dan kalajengking. Sebagaimana
perkataan Yusuf as., "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan)
karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu
yang diberi rahmat oleh Tuhanku," (Yusuf [12]: 53) bisikan jahat dalam
jiwa seharusnya tidak dipercaya. Jangan biarkan keegoisan dan nafsu
menipumu!" 22 Setan adalah musuh utama kita dalam memperoleh keikhlasan
dan mencapai kesucian yang sejati. Iblis hanya ingin menjerumuskan mereka ke
dalam kesesatan dan mengacaubalaukan niat ikhlas dengan cara menumbuhkan
dorongan hati yang jahat dari nafsu mereka. Untuk melawan segala daya dan upaya
iblis, setiap mukmin sejati seharusnya mencontoh akhlaq Nabi Yusuf sebagai suri
teladan. Ia tidak tunduk pada hawa nafsunya dan dengan penuh semangat berusaha
menjauhkan diri dari segala rayuan setan. Pada bab-bab berikutnya, kita akan
lebih mendalami makna mukmin sejati dengan membahas perilaku-perilaku yang
merusak keikhlasan dan cara untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tersebut.
Menghilangkan Kejahatan Hawa Nafsu
Sebagai
ujian yang meliputi kehidupan--kecuali sebaliknya yang merupakan kehendak
Allah--hawa nafsu diciptakan dengan terus-menerus mengajak manusia untuk
berbuat kejahatan. Salah satu di antara amalan buruk tersebut adalah beramal
dengan niat tidak ikhlas. Untuk mematikan keikhlasan, hawa nafsu cenderung
mengarahkan dirinya sendiri melalui cara yang akan menumbuhkan segala macam
pikiran buruk. Seperti dinyatakan dalam kutipan ayat di bawah ini, sisi buruk
jiwa adalah terdiri atas "dosa yang tak terputus dan kejahatan".
"Dan
jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya." (asy-Syams [91]: 7-8)
Selain
itu, Allah juga mengilhami manusia cara-cara menjauhkan diri dari kejahatan
yang tiada hentinya ini serta cara untuk membersihkan serta menyucikan jiwanya.
Ayat
berikutnya menerangkan bahwa orang-orang yang mengotori jiwanya akan merugi dan
orang-orang yang menyucikan jiwanya akan termasuk di antara orang-orang yang
beruntung, sebagaimana firman Allah,
"Sesungguhnya,
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang
yang mengotorinya." (asy-Syams [91]: 9-10)
Tentu
saja, seseorang yang ingin memperoleh keikhlasan dan menjadi di antara
hamba-hamba Allah yang taat, harus membuat semacam pilihan. Allah meminta
perhatian atas usaha-usaha suci yang dilakukan oleh orang-orang beriman
sebagaimana firman-Nya,
"Dan
di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan
Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (al-Baqarah [2]:
207)
Namun
demikian, yang penting adalah setiap insan harus membimbing dirinya sendiri
dengan kejujuran dan keikhlasan, dan seharusnya tidak mengasihani atau tidak
menopang sisi jahat dari jiwanya. Jadi, pada hakikatnya, ia harus melatih
dirinya sendiri untuk menyucikan jiwanya dari keburukan dan menyatakan
ketundukannya. Maka dari itu, ia tidak akan pernah merasa bingung dan mendukung
sisi buruk jiwanya. Ia harus tahu bahwa sisi jahat jiwanya tidak pernah benar,
bertentangan dengan Al- Qur`an, dan berlaku seperti seruan iblis. Setiap orang
hendaknya mengevaluasi dan menilai segala sesuatu yang diterima dengan
pemahaman seperti ini.
Sama
halnya seperti orang yang merasa tidak kasihan terhadap hawa nafsu orang lain
atau merasa diwajibkan untuk mempertahankan atau membuktikan bahwa hawa nafsu
tersebut berada dalam posisi yang benar, ia pun akan bertindak demikian dalam
menghormati dirinya sendiri. Ia akan memperlakukan sisi jahat jiwanya seperti
sesuatu yang asing dan menentangnya. Ia akan mengingatkan jiwanya ketika nafsu
tersebut tumbuh menjadi jahat. Ia harus mendengarkan suara dari dalam batinnya,
tanpa harus patuh kepada rayuan setan. Hanya dengan cara inilah, ia mampu
mendeteksi segala cara yang digunakan hawa nafsunya untuk menipu dirinya
sendiri. Ia menilainya berdasarkan kenyataan dan menarik dalil berdasarkan
Al-Qur`an. Hanya dengan begitu, ia mampu memperoleh keikhlasan dan menggapai
ridha Allah. Allah menerangkan kepada kita tentang kebenaran ini dalam ayat,
"Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya."
(an-Naazi'aat [79]: 40-41)
Lebih Menyukai Jiwa Mukmin Lainnya daripada Jiwanya Sendiri
Salah
satu dari sekian sifat yang mengurangi keikhlasan adalah kekikiran dan keegoisan
yang ada dalam tiap diri manusia. Allah menerangkan kecenderungan ini dalam
firman-Nya,
"Sesungguhnya,
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa
kesulitan, ia akan berkeluh kesah, dan apabila kebaikan datang kepadanya, ia amat
kikir." (al-Ma'aarij [70]: 19-21)
Untuk
mendapatkan nilai keikhlasan, seseorang harus mampu melawan segala sisi negatif
jiwanya, kemudian menggantikannya dengan pengorbanan dan penafian diri. Untuk
mendapatkan keberuntungan, seseorang harus mampu menyucikan dirinya sendiri
dari kekikiran jiwanya, sebagaimana Allah jelaskan kepada kita dalam ayat,
"...
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung." (ath-Thaghaabun [64]: 16)
Ini
merupakan langkah mudah bagi seseorang untuk melatih jiwanya, untuk tidak
memercayai dirinya sebagai pribadi yang berkecukupan. Selalu merasa curiga pada
sisi jahat jiwa manusia adalah bagian terpenting, namun keburukan dari sifat
egois dan kikir seharusnya tidak disalahartikan. Di dalam masyarakat awam, di
mana masyarakatnya tidak memiliki rasa takut dan tidak yakin kepada Allah serta
hari kiamat, ego dan kekikiran adalah sebuah falsafah hidupnya. Orang-orang
seperti ini memahaminya sebagai suatu kewaspadaan dalam menempatkan
kebutuhan-kebutuhannya di atas kebutuhan orang lain dan hanya membela keinginan
dan harapan-harapan diri sendiri serta menganggap ini sebagai sebuah perbuatan
yang baik. Karena itu, mereka tidak pernah mempertimbangkan apa yang akan
mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Diterangkan oleh ayat-ayat
suci Al-Qur`an bahwa ini adalah suatu kekeliruan, menghubungkan nafsu kikir dan
ego hanya kepada orang-orang seperti ini serta membatasi perkara ini kepada
orang-orang jahil (bodoh) saja. Mereka mempraktikkan ajaran moral tersebut
dalam tingkat yang ekstrem. Akan tetapi, bagi sebagian orang yang tidak biasa
berpikir tentang kekikiran dan egois, bisa secara sembunyi ataupun
terang-terangan melabuhkan kecenderungan ini dalam diri mereka. Seperti halnya
kecenderungan mencegah diri dari amalan yang dilakukan dengan ikhlas dalam
setiap situasi, dan berbuat ikhlas. Sesungguhnya, merupakan hal yang sederhana
bagi seseorang untuk menyucikan jiwanya dari kejahatan. Untuk mencapai tujuan
ini, ia hanya harus mempraktikkan nilai ajaran moral Al-Qur`an sepenuhnya dalam
tingkatan yang paling sempurna.
Badiuzzaman
Said Nursi meminta kita memperhatikan pemecahan masalah yang diungkapkan ayat
Al-Qur`an,
"Mencapai
keikhlasan yang serasi dengan ayat, '... dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang
mereka berikan itu)...." (al-Hasyr [59]: 9) 23
Dalam
ayat-Nya, Allah menegaskan bahwa orang-orang beriman mengutamakan saudara
mereka daripada diri mereka sendiri, walaupun mereka sendiri lapar dan
menderita, dan mereka selalu berada di dekat saudaranya, melawan diri mereka
sendiri, ketika saatnya harus membuat sebuah pilihan. Umat Islam yang menetap
di Madinah tidak merasa keberatan menolong saudaranya dari Mekah. Mereka
menyediakan perlindungan dan makanan untuk saudara mereka tanpa menghiraukan
keterbatasan harta milik mereka. Malah sebaliknya, mereka berbahagia dan senang
mampu mengalahkan dorongan sifat egois dan kikir yang muncul dari dalam jiwa.
Mereka mengutamakan saudara mereka demi kepentingan Allah. Berdasarkan keadaan
itu, secara gamblang, mereka menyadari bahwa perbuatan tersebut adalah yang
paling mulia, sungguh-sungguh dan ikhlas, serta sejalan dengan tuntunan
Al-Qur`an. Maka dari itu, Allah berkehendak meningkatkan ganjaran dan pahala
mereka karena pengorbanan diri yang mereka lakukan kapan pun, baik itu balasan
di dunia maupun di akhirat. Allah menyebutkan pahala yang akan diberikan untuk
orang-orang yang melaksanakan ajaran moral yang demikian dalam firman-Nya,
"Jika
kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan
(ganjarannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi
Maha Penyantun." (at-Thaghaabun [64]: 17)
Tidak Tertipu oleh Godaan Hawa Nafsu
Jika
seseorang memikirkan hal tersebut dengan jujur, sepanjang harinya, ia akan
melihat bahwa ia sedang dihadapkan pada dorongan hawa nafsu yang kuat.
Dorongan-dorongan hawa nafsu inilah yang mendorongnya untuk tidak mengenyahkan
kecondongan pada dunia. Sebagai suatu perumpamaan, Allah telah menyatakan dalam
salah satu firman-Nya bahwa menafkahkan harta yang dicintai merupakan amalan
yang terbaik. Hanya dengan cara inilah, dapat dilihat apakah seseorang itu
benar-benar bisa menjadi bertaqwa,
"Kamu
sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan
maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Ali Imran [3]: 92)
Walaupun
dapat mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki, seseorang mungkin masih
memiliki hasrat yang melekat terhadap harta yang dimiliknya, sehingga masih ada
keengganan untuk menafkahkan harta tersebut. Atau, ketika ia membagikan hartanya
kepada saudara muslimnya, bisa jadi ia lebih mengutamakan dirinya sendiri
daripada saudaranya. Ia menyimpan harta yang paling berharga untuk dirinya
sendiri dan memberikan yang tersisa bagi saudaranya. Meskipun demikian, hati
kecilnya mengingatkannya bahwa dengan menafkahkan apa-apa yang dicintainya
adalah jauh lebih berharga dan lebih baik. Akan tetapi, hasrat seperti ini yang
ada dalam dirinya, akan menghambat perilaku yang sesuai dengan kebaikan
akhlaqnya dan menghambatnya untuk beramal dengan ikhlas dan tulus.
Meski
demikian, kebaikan yang sejati adalah dengan segera menyedekahkan hartanya yang
paling berharga ketika ia melihat orang lain lebih membutuhkan. Jika hartanya
itu begitu berharga baginya, orang lain pun dapat menikmati dan bersukacita
dengan harta tersebut sama seperti dirinya. Karena itu, menyimpan harta yang
paling berharga untuk diri sendiri dan memberikan harta yang kurang berharga
kepada orang menunjukkan bahwa jiwanya belum benar-benar bersih dari egoisme.
Karena itu, Allah telah meminta kita untuk memperhatikan kenyataan bahwa sikap
inilah yang lebih dulu harus dibangun sebelum seseorang berharap memperoleh
kebaikan.
Jika
seseorang mengutamakan kebaikan orang lain melebihi kebaikan yang ia miliki
serta selalu tanggap terhadap perbaikan, kesehatan, dan kebahagiaan orang lain,
ia dikatakan sudah ikhlas. Misalnya, jika ada sebuah tugas yang sulit dan
membutuhkan tenaga untuk menyelesaikannya, ia akan maju ke depan dan dengan
sukarela menyelesaikannya. Adapun menghindari sebuah tugas yang sulit dan
berharap orang lain yang akan menyelesaikannya adalah buah dari ketidaktulusan
hati. Yang selayaknya dilakukan seorang muslim adalah menyelesaikan tugas
tersebut diam-diam tanpa seorang pun berterima kasih kepadanya. Sebagaimana
dinyatakan dalam sebuah ayat, "berlomba-lombalah kalian dalam
kebaikan," yang sesungguhnya mewakili keikhlasan adalah segera
melaksanakan tugas dan menyelesaikannya sebaik mungkin. Perbuatan seperti itu
juga menjadi sebuah tanda bahwa orang tersebut mengutamakan saudaranya daripada
dirinya sendiri. Ia lebih memilih kesulitan daripada kenyamanan dan kemudahan
karena berpikir untuk mengorbankan diri, seperti: "biarkan aku yang lelah
sebagai pengganti saudara muslimku", "biarkan aku terbebani dengan
kesukaran tugas ini, sementara ia beristirahat", atau "biarkan
diriku, bukan dia, yang menghabiskan waktu melakukan tugas ini". Dengan
cara ini, ia berharap dapat menggapai ridha Allah dengan ikhlas beramal.
Dalam
salah satu karyanya, Badiuzzaman Said Nursi menggarisbawahi kebaikan dalam
memberikan keistimewaan kepada saudara muslim lainnya sehingga ia tidak
melakukan kesalahan dan berubah menjadi manfaat yang tidak merugikan. Hal ini
dilakukan agar jiwa kita terbebas dari sifat mementingkan diri sendiri. Ia
mengatakan, "Pilihlah saudara-saudaramu yang menjiwai jiwamu dalam
kemuliaan, derajat, dan sambutan, pada hal-hal yang jiwamu menikmati manfaat
jasmaninya. Bahkan, dalam keuntungan yang paling bersih dan tidak merugikan,
seperti memberitahu seorang mukmin yang miskin tentang salah satu yang tidak
diketahuinya, kebenaran iman yang baik. Jika memungkinkan, menyemangati salah
seorang sahabatmu yang tidak ingin memberitahukan, untuk memberitahukan muslim
yang miskin itu apa-apa yang tidak dia ketahui. Dengan demikian, jiwamu tidak
menjadi angkuh. Jika kamu memiliki keinginan seperti 'Biarkan aku mengatakan
kepadanya tentang hal yang menyenangkan hatinya saja, dengan begitu aku akan
memperoleh hadiah', sebenarnya hal ini bukanlah sebuah perbuatan dosa dan tak
ada yang merugikan di dalamnya, namun maksud dan arti dari keikhlasan dalam
dirimu mungkin akan ternoda." 24 Jadi, Badiuzzaman Said Nursi mengingatkan setiap muslim
bahwa mengorbankan hal-hal yang menyenangkan jiwa seseorang, seperti kemuliaan,
reputasi, kekuasaan, harta benda, dan kasih sayang, akan menjadi sebuah cara
dalam memperoleh keikhlasan. Sebagai contoh, seseorang yang beriman dapat
berperan di belakang layar dengan membiarkan salah seorang saudaranya menjadi
pusat perhatian jika saudaranya itu dapat memberikan nasihat yang baik atau
menyampaikan sesuatu yang penting.
Setiap
manusia yang berusaha menjauhkan diri dari hasutan-hasutan jiwanya dan berjuang
untuk mendapatkan nilai keikhlasan dan ridha Allah, akan disambut dan menjadi
orang yang sukses dalam usahanya. Allah memberikan kabar gembira kepada
orang-orang beriman dalam firman-Nya,
"Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, aka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)"
(an-Naazi'aat [79]: 40-41)
Menghalau
Kekikiran dan Kecemburuan
Allah
memberitahukan kita dalam ayat berikut ini bahwa jiwa manusia dikuasai oleh
sifat kikir.
"...
manusia itu menurut tabiatnya kikir dan jika kamu menggauli istrimu dengan baik
dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh) maka sesungguhnya Allah
adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (an-Nisaa` [4]: 128)
Jadi,
sama halnya dengan sifat jahat lainnya, kita semua menurut tabiatnya selalu
bergelut dengan perasaan-perasaan kecemburuan dan kekikiran yang berasal dari
dalam diri kita sendiri. Orang akan berjuang menyucikan dirinya dari perasaan
tersebut. Namun sebaliknya, ia tidak akan pernah mampu mengamalkan nilai ajaran
moral yang ada di dalam Al-Qur`an dengan sepenuhnya dan tidak akan pernah mampu
sepenuhnya meraih ridha Allah. Demikian pula halnya pada ayat Al-Qur`an
lainnya, yang menyatakan bahwa manusia berselisih antara satu sama lainnya dan
tersesat dari jalan yang lurus hanya kerena rasa iri. Mereka merasa
bertentangan satu sama lainnya, meskipun mereka telah menerima Kitab yang
membimbing mereka ke jalan yang lurus.
"Manusia
itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus
para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah
menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberikan keputusan di
antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih
tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab,
yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena
dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang
beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang
lurus." (al-Baqarah [2]: 213)
Perumpamaan
yang digambarkan dalam Al-Qur`an ini memiliki pengaruh yang besar dalam
membantu manusia untuk memahami betapa besarnya bahaya yang disebabkan oleh iri
hati. Walaupun sadar dan melihat dari jalan yang benar, seseorang dapat saja
mengambil keputusan yang salah, hanya karena iri hati. Iri hati dan kikir
mencegah seseorang untuk berpikir rasional dan mengevaluasi setiap peristiwa dengan
benar. Ketika dihadapkan pada situasi tertentu, seseorang yang tengah mengatasi
rasa tersebut, mungkin tidak bisa bersikap sesuai dengan nilai-nilai ajaran
Al-Qur`an. Ia tidak dapat berbicara tentang apa yang diperkenankan Allah atau
berlaku ikhlas dan tulus. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak akan bisa diatur
oleh pikiran dan hati nuraninya, tetapi diatur oleh hawa nafsunya, mendengarkan
bujukan dan rayuan setan. Hawa nafsu mengarahkan dirinya kepada tingkah laku
setan.
Agar
tersucikan dari kekotoran ini, seseorang seharusnya lebih dulu dan lebih utama
untuk dapat memahami bahwa iri hati dan kikir itu bertentangan dengan agama. Ia
harus menyadari bahwa perasaan ini muncul dari nilai-nilai duniawi. Manusia
menjadi iri hati atas harta dan kebaikan akhlaq orang lain, yang kemudian
menjadikannya bersaing melawannya. Padahal, seorang mukmin sejati adalah mereka
yang mampu menahan diri dari keterikatan pada harta benda duniawi yang terlalu
berlebihan. Pada intinya, mereka hanya menginginkan akhirat. Seorang mukmin
sejati mengetahui pasti bahwa kenikmatan duniawi itu adalah titipan dari Allah
dan akan diambil kembali oleh-Nya ketika saatnya tiba. Walaupun ia dapat
memperoleh kesenangan tersebut dengan cara yang diridhai Allah, ia tidak
bernafsu mencurahkan seluruh tenaga untuk mendapatkannya dan tidak menjadi
orang yang terlalu berambisi. Ia bersyukur kepada Allah atas segala yang telah
dianugerahkan kepada dirinya dan dia mengetahui cara menjadi bagian dari apa
yang telah ia miliki. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut, apabila Allah
menganugerahkan lebih banyak berkah-Nya atas orang lain, ia tahu bahwa ini
memiliki maksud.
"Kepunyaan-Nyalah
perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang
dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu." (asy-Syuura [42]: 12)
Berpikir tentang Akhirat Dapat Melenyapkan Iri Hati Dan
Kikir
Setiap
orang sedang diuji melalui karunia dari Allah berupa kecukupan dan kebaikan
untuknya. Dengan demikian, dapat terlihat perbedaan antara mereka yang berusaha
mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh syukur dan kerendahan hati dan
mereka yang tidak memiliki rasa terima kasih dengan meninggalkan ajaran moral
Al-Qur`an. Karena itu, seseorang tampaknya tidak mungkin menjadi kikir atau iri
hati atas keberkahan dunia yang dimiliki orang lain jika ia memahami bahwa
kehidupan duniawi hanyalah tempat sementara yang semata-mata diciptakan Allah
untuk menguji manusia. Misalnya, iri hati terhadap orang lain hanya karena
kekayaan, ketampanan, atau dikaruniai kekuasaan. Sifat ini bertentangan dengan
akhlaq yang terkandung dalam Al-Qur`an. Seseorang yang hidup dalam tingkatan
akhlaq Al-Qur`an yang tinggi akan mengetahui dengan jelas bahwa Allah akan
menganugerahkan keberkahan atas dirinya di akhirat kelak. Jadi, ia hidup dengan
ketenangan pikiran dari kesadaran atas kebenaran yang dibawa Al-Qur`an. Akan
tetapi, mereka yang gagal memahami takdir, kenyataan alamiah dari kehidupan
dunia ini, kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan
memerintahkan mereka agar beriman kepada-Nya, terbawa oleh sifat iri hati dan
kikir. Mukmin mana pun yang sadar akan kebenaran itu, menahan dirinya untuk
melakukan perbuatan yang salah.
Walaupun
ini adalah sifat yang mencerminkan kemuliaan akhlaq Al-Qur`an, orang yang
beriman akan berhati-hati dalam menjauhkan diri dari rasa iri hati. Sebagai
gantinya, ia ingin bisa mencontoh kebaikan akhlaq dari saudara muslimnya.
Harapannya untuk selalu "terpelihara" tidak membawanya kepada
kekikiran. Dalam kaitannya dengan ayat Al-Qur`an yang menyatakan
"Berlomba-lombalah satu sama lainnya menuju kebaikan", ia berjuang
dengan ikhlas untuk menjadi salah satu di antara hamba-hamba yang dicintai oleh
Allah, serta melaksanakan kebaikan yang terkandung dalam Al-Qur`an dengan sikap
yang sangat ideal. Sekalipun demikian, perlombaan ini tidak dilandaskan atas
perasaan iri hati atau persaingan. Perlombaan ini ditujukan untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah daripada mendekatkan diri kepada manusia. Sama
halnya seperti seseorang yang juga berdo'a demi mukmin yang lain agar menjadi
salah satu di antara hamba-hamba yang paling dicintai oleh Allah, dan ia pun
berdo'a untuk dirinya sendiri. Ia tidak hanya berdo'a dengan ikhlas, namun juga
berjuang untuk mendapatkan apa yang dimintanya itu.
Orang-orang
mukmin sadar akan hal itu, sebagaimana semua makhluk lainnya, mereka lemah.
Mereka takut kepada Allah dan mengakui kelemahan-kelemahan diri ketika
berhadapan dengan Tuhannya. Pada salah satu ayat Al-Qur`an dijelaskan tentang
kebenaran ini,
"Katakanlah,
'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang
gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (al-A'raaf [7]: 188)
Seseorang
yang lebih mengutamakan kepentingan akhirat daripada hal-hal yang bersifat
duniawi, tidak pernah mengambil contoh akhlaq yang berdasarkan pendapat orang
lain. Ia hanya berusaha mencapai ridha Allah. Jadi, ia tidak pernah mencoba
agar menjadi lebih baik daripada orang lain (dalam hal keduniawian), mencari
penghargaan atau untuk mengamankan posisi mereka, serta menginginkan pengaruh
penting dalam pergaulan. Sebagaimana dipahami dari masalah yang telah
disebutkan di atas pada bagian ini, jika seseorang mengetahui kecenderungan dan
penurunan yang ada pada dirinya, ia seharusnya sadar bahwa ia sedang melakukan
perbuatan moral yang pada akhirnya akan membahayakan keikhlasannya dan
mencegahnya untuk mendapatkan ridha Allah.
Dalam
karyanya, Badiuzzaman Said Nursi membahas secara mendalam tentang persoalan ini
dan lebih menekankan pada beberapa bagian penting, agar dapat memandu
orang-orang yang beriman. Dalam komentarnya tentang keikhlasan, ia
menggambarkan persaingan yang terjadi di antara orang-orang beriman,
"Dalam
masalah yang berkaitan dengan agama dan akhirat, seharusnya tidak ada
persaingan, iri hati, atau kecemburuan. Semua itu tidak benar. Alasan untuk
merasa iri hati dan cemburu adalah ketika kita mencoba meraih suatu tujuan,
ketika beberapa pasang mata terpaku pada satu posisi tertentu, ketika ada
perut-perut lapar akan satu kerat roti saja. Pada awalnya, iri hati muncul
sebagai akibat dari adanya konflik, perselisihan, dan persaingan yang kemudian
berkembang menjadi kecemburuan. Ketika banyak orang memiliki keinginan yang
sama di dunia ini, dan karena dunia ini sempit dan merupakan tempat sementara
yang tidak dapat memuaskan keinginan manusia yang tak kunjung habis, manusia
kemudian menjadi pesaing satu sama lain. Namun sudah jelas, tak ada hal yang
dapat menyebabkan terjadinya persaingan di akhirat atau memang tidak ada
persaingan di sana. Dalam hal ini, tak ada persaingan untuk mendapatkan pahala
di akhirat. Tak ada tempat untuk cemburu. Seseorang yang cemburu salah satunya
mungkin adalah orang munafik yang mencari keuntungan dunia dengan bepura-pura
melakukan amal saleh atau pura-pura ikhlas, namun sebenarnya ia adalah orang
awam yang tidak mengetahui tujuan amal saleh yang ia lakukan. Ia tidak memahami
bahwa keikhlasan merupakan semangat dan dasar dari segala amal saleh. Dengan
melakukan persaingan dan permusuhan terhadap kesucian Allah, ia sebenarnya ragu
akan keluasan kasih sayang Allah.
Wahai
orang-orang yang berada di jalan yang lurus! Melaksanakan kebenaran adalah
seperti memikul dan memelihara sebuah harta benda yang berat dan besar.
Orang-orang yang memikul kepercayaan tersebut pada pundaknya akan merasa bahagia
dan bersyukur bilamana tangan-tangan kuat datang menawarkan bantuan. Jauh dari
rasa cemburu, seseorang seharusnya dengan bangga menghargai kekuatan,
kedayagunaan, dan kemampuan orang yang unggul, yakni mereka yang dengan kasih
sayang yang tulus datang untuk menawarkan bantuan. Lalu, mengapa mencari
saudara-saudara dan penolong yang mengorbankan dirinya dalam semangat
persaingan hingga kita kehilangan keikhlasan." 25
Di
sini, Badiuzzaman telah memperingatkan orang-orang beriman bahwa rasa cemburu
dan persaingan tidak memiliki tempat di surga. Demikian pula halnya dengan
perilaku amal saleh yang bertujuan untuk mendapatkan surga, ia tidak akan
pernah bisa dinodai oleh rasa cemburu atau persaingan. Orang-orang beriman
adalah sahabat, pelindung, dan saudara satu sama lainnya, baik dalam kehidupan
dunia maupun akhirat. Setiap kali ada yang melakukan amal kebaikan dengan
tujuan yang sama, saat itu pula yang lainnya mendukung. Dengan demikian, hal
ini akan membuat Allah senang. Untuk alasan inilah, apa yang pantas dilakukan
oleh orang-orang beriman adalah membantu dan saling membanggakan satu sama
lain. Ini lebih baik daripada cemburu akan kemuliaan amal saleh yang
dikerjakannya dan kemudian bersaing dengannya. Dalam semua kondisi, inilah
bagian terbaik yang mencerminkan nilai keikhlasan. Rasulullah memberitahukan
kepada kita akan pentingnya persatuan, kasih sayang satu sama lain, dan
persahabatan di antara orang-orang beriman,
"Kamu
akan melihat bahwa orang-orang beriman itu seperti bagian tubuh yang
berhubungan satu sama lainnya, dalam urusan kebaikan hati, cinta, dan kasih
sayang. Ketika satu bagian dari tubuh tersebut ditimpa kesulitan, seluruh
bagian tubuh tersebut akan ikut merasakannya; ia akan sulit tidur dan demam di
sekujur tubuhya." 26
Pada
salah satu karyanya yang lain, Badiuzzaman Said Nursi mengingatkan kepada
setiap muslim bahwa seorang mukmin sejati harus mampu mengatasi rasa cemburu
dan persaingan, dengan cara membanggakan sifat-sifat orang yang lebih unggul
daripada dirinya. Ia juga menekankan bahwa setiap orang yang mengamalkan akhlaq
tersebut akan mampu merendahkan kepribadiannya untuk kemudian ikut larut dalam
kepribadian seluruh umat muslim. Jadi, setiap amal mulia yang dikerjakan akan
disifatkan kepada setiap diri mereka.
"Ini
merupakan cara untuk membayangkan kebaikan dan jasa saudaramu di dalam dirimu
sendiri, dan dengan penuh terima kasih serta bangga akan kemuliaan mereka. Para
sufi memiliki istilah yang mereka gunakan di kalangan mereka sendiri, yakni
'penghapusan shekh, penghapusan Rasulullah'. Saya bukan seorang sufi, namun
prinsip-prinsip yang mereka gunakan memberikan kebiasaan baru bagi kita, yakni
dalam bentuk 'penghapusan saudara muslim'. Di antara saudara muslim, hal ini
disebut 'tafani' atau dengan kata lain disebut 'penghapusan satu sama lainnya'.
Ungkapan tersebut bermakna bahwa untuk melupakan perasaan dari nafsu seseorang adalah
hidup dalam pikiran seseorang dengan kebaikan dan jasanya. Pada peristiwa apa
pun, dasar yang kita gunakan adalah persaudaraan. Persaudaraan ini bukan
berarti persaudaraan antara ayah dan anak atau pemimpin dan pengikutnya, namun
persaudaraan ini memiliki arti persaudaraan yang sejati. Yang paling sering
adalah campur tangan seorang guru (ustadz). Cara kita adalah persahabatan yang
paling erat. Persahabatan ini memaksa kita untuk menjadi sahabat karib, teman
yang paling banyak berkorban, saudara yang paling mulia. Intisari dari
persahabatan ini adalah keikhlasan yang sejati. Seseorang yang menodai nilai
keikhlasan sejati ini akan jatuh dari puncak persahabatan. Ia mungkin akan
terjerumus ke dasar ketertekanan batin yang dalam, tidak ada tempat pegangan untuk
bersandar." 27
Kecemburuan dan Persaingan akan Menghancurkan Kekuatan Orang
Mukmin
Badiuzzaman
juga menekankan tentang bahaya yang ditimbulkan dari perselisihpahaman yang berkembang
di antara orang-orang beriman. Ia juga mengungkapkan bahwa sama halnya dengan
perselisinpahaman dan persaingan yang mengakibatkan kehancuran orang-orang
beriman, kesepahaman dan kesatuan akan memberikan mereka kekuatan.
"...
Bagi orang-orang yang ingkar dan sesat, agar mereka tidak kehilangan keuntungan
yang kepadanya mereka tergila-gila, dan agar tidak menghina para pemimpin dan
sahabat yang mereka puja demi keuntungan sendiri--dalam rasa malu, penghinaan,
dan kurangnya keberanian--mereka bersekutu denga cara apa pun dengan
teman-temannya dalam apa pun yang mungkin diperintahkan oleh keinginan mereka
bersama. Sebagai hasil dari kesungguhan ini, mereka benar-benar mendapatkann
keuntungan yang diinginkan." 28
Sebagaimana
dipahami dari ungkapan Said Nursi tersebut, mereka yang ingkar kepada Allah
atau pada hari akhirat, dapat melupakan persaingan yang terjadi di antara
mereka dan membangun kesatuan satu sama lainnya hanya untuk tujuan mendapatkan
kekuatan, kenikmatan, dan manfaat duniawi. Kegandrungan mereka yang tiada tara
terhadap kenikmatan-kenikmatan ini dapat melenyapkan kecemburuan dan persaingan
di antara mereka, dan mereka dengan segera menjadi sahabat karib. Mereka mengharapkan
keuntungan yang dapat diperoleh dari persekutuan mereka tersebut sehingga
mereka dapat memperoleh hasilnya.
Walaupun
orang-orang yang ingkar kepada Allah dapat membentuk persekutuan yang hanya
bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan penghargaan itu, sangatlah tidak
mungkin bagi mukmin sejati yang semata-semata bertujuan menggapai ridha Allah
itu, mengalami kegagalan dalam membuang rasa cemburu dan persaingan serta
kemudian membangun persekutuan seperti itu. Kegembiraan mereka untuk meraih ridha
Allah dapat dengan mudah mengatasi rasa cemburu dan persaingan yang dibisikkan
oleh hawa nafsu dalam diri mereka. Masalah yang terpenting adalah mereka
memahami bahwa perselisihpahaman tersebut dapat membahayakan diri dan keyakinan
mereka. Mereka diingatkan bahwa pertengkaran dan perselisihpahaman menjadi
penyebab lemahnya kekuatan yang mereka miliki.
Rasulullah
juga telah mengungkapkan bahwa umat Islam seharusnya mampu saling melengkapi
kekurangan yang mereka miliki dan menutupi kekeliruan yang pernah mereka
lakukan, sebagaimana haditsnya, "Jika seseorang berusaha menutupi aib
(dosa) saudaranya di dunia, Allah akan menutupi aib (dosa)nya di akhirat
kelak." 29 Namun jika yang terjadi sebaliknya, kesatuan dan persatuan
di antara mereka akan sirna dan kekuatan mereka akan menjadi lemah. Ketika
kekuatan umat muslim melemah, kekuatan orang yang kafir kepada Allah akan
menjadi kuat. Tak ada seorang muslim pun bersedia bertanggung jawab terhadap
hal tersebut, hanya karena ia memenuhi keinginan hawa nafsunya. Sesungguhnya,
umat Islam diharapkan mampu mengamalkan kebenaran yang terkandung di dalam
Al-Qur`an dengan segala kemampuan terbaik yang mereka miliki. Ia harus menjadi
contoh bagi umat muslim lainnya dan mendorong semangat agar mereka hidup sesuai
dengan tuntunan Islam. Ini membuktikan bahwa seseorang yang belum berhasil
mengatasi kecemburuan dan persaingan yang ada pada dirinya, ia tidak akan mampu
memenuhi tanggung jawab ini dengan sebenar-benarnya. Karena itu, ia berbuat
sesuatu yang melemahkan kekuatan orang-orang beriman dan menguatkan orang yang
ingkar kepada Allah. Sebagai akibatnya, orang seperti ini tidak hanya menjadi
contoh buruk bagi teman dan keluarganya, tetapi ia juga memikul kesalahan dan
dosa besar. Karena itu, ia seharusnya dengan segera berhenti melakukan
kebiasaan seperti itu dan mencontoh akhlaq yang lebih mulia. Hanya dengan
begitu, ia mampu mendapatkan keikhlasan dan mencapai tingkatan akhlaq yang
diridhai Allah. Sebagaimana yang diungkapkan Badiuzzaman, apa yang pantas bagi
seorang muslim adalah "membangun kesatuan yang murni dengan sesama
muslim" sesuai dengan ayat yang menyatakan, "Tolong-menolonglah satu
sama lainnya dalam kebaikan dan amal saleh," dan memelihara semangat
keikhlasan agar tetap hidup.
"Obat
yang dibutuhkan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh pertengkaran yang
terjadi di antara orang yang beriman adalah untuk membuat seseorang patuh
terhadap larangan-larangan Allah. Seperti yang terkandung dalam firman-Nya,
'... dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatanmu...,' (al-Anfaal [8]: 46) dan perintah Allah
tentang kehidupan sosial terkandung dalam firman-Nya, '... Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan...."
(al-Maa`idah [5]: 2) Seseorang seharusnya menyadari lebih jauh betapa
berbahayanya perselisihan di dalam Islam dan alangkah bermanfaatnya
perselisihan tersebut bagi orang-orang yang sesat atas orang-orang beriman.
Seseorang seharusnya dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan diri bergabung
dengan barisan orang-orang beriman, dengan perasaan akan kelemahan dan
ketidakmampuan dirinya. Pada akhirnya, seseorang harus melupakan dirinya
sendiri, menyingkirkan kemunafikan dan kepura-puraan, serta berpegang teguh
pada keikhlasan." 30
Menyingkirkan Kesombongan
Pada
bab ini, kita akan membicarakan sifat-sifat yang mengurangi keikhlasan seorang
mukmin dan melihat kecenderungan yang dimiliki nafsu jiwa, seperti persaingan,
ambisi, dan mengutamakan diri sendiri daripada orang lain. Seluruh ciri pada
hawa nafsu yang terdapat pada diri seseorang ini didasarkan pada besarnya
godaan setan berupa kesombongan.
Kesombongan
dapat ditemukan pada diri orang yang meremehkan ibadah kepada Allah, dengan
melupakan kelemahan-kelemahannya, memandang rendah orang lain, dan bangga akan
dirinya sendiri. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang lemah. Ia bergantung
pada kekuasaan Allah untuk dapat hidup dan menyokong kehidupannya. Allah adalah
Zat Yang Mahakuasa yang telah menciptakan manusia dari ketiadaan. Zat yang
telah meniupkan ruh ke dalam tubuhnya, menaungi, dan memberi rezeki kepadanya,
yang menyebabkannya dapat bernafas. Ia adalah Zat yang memberikan berkah yang
tak terhitung atas diri manusia. Allah adalah Tuhan semesta alam. Kedengkian
atas kemurnian kebenaran ini adalah ketika seseorang berpikir bahwa dirinya
adalah orang yang tidak bergantung kepada Allah dan percaya akan kemampuan
serta kecakapan yang muncul dari dalam dirinya, namun sesungguhnya ia adalah
orang yang menderita karena khayalan dirinya.
Seseorang
tidak berhak untuk sombong. Sesungguhnya, Allah dapat menarik kembali seluruh
rahmat dan berkah yang dianugerahkan atas dirinya ketika telah datang bukti dan
keterangan yang cukup kepadanya. Dari waktu ke waktu, kita telah mengetahui
bahaya yang disebabkan sikap sombong atas kecantikan atau ketampanan fisik,
pengetahuan, kecerdasan, harta atau status sosial yang dimiliki. Kita juga
dapat melihat hal-hal yang terjadi pada manusia ketika mereka kehilangan segala
kelebihan yang pernah dimilikinya untuk alasan apa pun. Jika hal ini terjadi
dikarenakan tingkah laku yang diperbuatnya, tidak alasan baginya untuk bersedih
karena kehilangan kelebihan tersebut. Allah menciptakan kemalangan dan
kesulitan dalam hidup di dunia agar membantu manusia memahami kenyataan hidup.
Allah menguji umat manusia dengan memberikan banyak kelemahan, seperti ketuaan
dan penyakit.
Orang
yang menyadari bahwa Allah telah melimpahkan rahmat atas segala yang ia miliki
dan juga menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuasaan tanpa bantuan serta
pertolongan Allah, ia senantiasa berpulang kepada kebijaksanaan Allah dalam
penciptaan-Nya, dan dengan segala kerendahan hati, ia mengakui kelemahan yang
dimiliki. Menurut Badiuzzaman, langkah terpenting yang harus diambil untuk
memperoleh keikhlasan hati adalah dengan menyingkirkan sifat sombong.
"Dengan
menjaga kebenaran dari kebohongan, dengan menyingkirkan sifat mementingkan diri
sendiri dan pasrah pada kesalahpahaman dari keangkuhan, serta menahan diri dari
segala perasaan tidak berarti yang timbul akibat persaingan (jika pemahaman ini
melekat pada dirinya), maka keikhlasan akan terpelihara dan manfaatnya akan
diwujudkan dengan sempurna." 31
Ini
merupakan hal terpenting agar kita taat pada ajaran moral tersebut dalam rangka
memperoleh keikhlasan. Keangkuhan menyebabkan seseorang bertingkah laku sesuai
kehendaknya sendiri daripada bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Keangkuhan
berarti lebih mencintai dan menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain,
lebih mendengarkan dirinya daripada mendengarkan nasihat orang lain, dan
melindungi apa-apa yang dimilikinya dengan segala daya dan upaya. Karena itu,
seseorang yang terhanyut dan lalai dari kesombongannya, nuraninya akan
tertutupi dari segala peringatan. Karena ia tidak dapat mendengarkan bisikan
suara hatinya, ia tidak akan mampu beramal dengan hati ikhlas.
Dalam
kitab suci Al-Qur`an, Allah menegaskan pengaruh dan akibat yang ditimbulkan
oleh kesombongan,
"Dan
apabila dikatakan kepadanya, 'Bertaqwalah kepada Allah,' bangkitlah
kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya)
neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang
seburuk-buruknya." (al-Baqarah [2]: 206)
Apa
yang sesungguhnya pantas bagi seorang mukmin adalah membuang kesombongan dan
menundukkan hawa nafsunya serta melakukan amalan-amalan yang membuat Allah
ridha.
"Dan
di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan
Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (al-Baqarah [2]:
207)
Dalam
surah al-Qashash, Allah menjelaskan kepada kita tentang pertemuan terakhir oleh
umat-umat yang bersikap takabur terhadap rasul Allah,
"Qarun
berkata, 'Sesungguhnya, aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada
padaku.' Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah telah membinasakan
umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan
harta? Dan tidak perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang
dosa-dosa mereka." (al-Qashash [28]: 78)
Menyadari akan Kerugian yang Ditimbulkan oleh Kesombongan
Kita
mungkin dapat melihat lebih jauh tentang kerugian yang disebabkan oleh
kesombongan atas keikhlasan seseorang dalam setiap fase kehidupan yang
dialaminya. Seseorang yang menyatakan dirinya lebih unggul daripada orang lain,
ia akan menolak segala macam kritikan, peringatan, atau nasihat yang datang
dari mereka. Meski ada orang lain yang mengingatkan dirinya akan hal yang belum
ia pertimbangkan, ia akan sangat terpengaruh oleh perasaan unggul dalam
dirinya. Ia akan tetap mempertahankan pendapatnya daripada tunduk pada
kebenaran tersebut, walaupun ia tahu bahwa ia berada dalam posisi yang salah.
Dengan begitu, ia menjadi tidak ikhlas dan diatur oleh hawa nasunya. Meski
demikian, apa yang menjadi contoh keikhlasan adalah menuruti apa yang dikatakan
orang lain (bila ia salah, sedangkan orang lain benar, Ed.) serta berserah diri
tanpa perlu merasa lebih unggul dari orang lain.
Untuk
dapat mencapai tujuan tersebut, yang pertama dan terpenting adalah
keharusmampuan meninggalkan perasaan egois yang menjadi penyebab timbulnya
kesombongan serta menahan diri dari sifat keras kepala dalam diri kita. Hanya
dengan demikian, kita diharapkan mampu memenuhi ruh Al-Qur`an dan beramal
dengan ikhlas. Badiuzzaman Said Nursi juga mengingatkan mukmin sejati bahwa
penangkal yang tepat melawan ambisi untuk merasa lebih unggul dan paling benar
dari orang lain adalah dengan melawan kesombongan dan mengakui bahwa mukmin
sejati tidak selalu menuruti pikirannya sendiri.
"Satu-satunya
obat penyakit ini adalah dengan menyalahkan jiwamu sendiri sebelum orang lain
menyalahkannya dan tuntutlah dirimu. Dan dengarkan nasihat sahabatmu, bukan
hanya nasihat dari dirimu sendiri. Aturan dari kebenaran dan kewajaran ini
dikuatkan oleh sarjana ahli debat, yang berisi, 'Barangsiapa yang ingin berdebat
tentang masalah apa pun, menginginkan kata-benar, siapa saja yang ingin benar
dan lawannya salah dan keliru, orang yang demikian telah berlaku tidak adil.'
Tidak hanya itu, orang yang demikian, ketika ia memunculkan kemenangan dalam
perdebatan tersebut, ia belum mempelajari segala sesuatu yang sebelumnya tidak
ia ketahui dan kemungkinan rasa kebanggaanya akan menyebabkan dirinya kalah.
Akan tetapi, apabila lawan bicaranya benar, ia akan belajar sesuatu yang
sebelumnya tidak ia ketahui dan dengan demikian ia mndapatkan sesuatu tanpa
sedikit pun merasa kalah. Itu sama baiknya seperti terpelihara dari
kesombongan. Seseorang yang adil sehubungan dengan kegemarannya pada kebenaran,
akan mempersoalkan keinginan jiwanya untuk menuntut sesuatu dari kebenaran tersebut.
Jika ia melihat lawannya berada pada posisi yang benar, ia dengan rela akan
menerima kekalahannya dan mendukungnya dengan sukacita." 32
Keberhasilan
seseorang hanya dapat dicapai bila ia mampu melawan kesombongan yang merusak
keikhlasan. Allah adalah Zat yang telah menganugerahkan atas diri umat manusia
pikiran dan kemampuan. Sebagaimana dinyatakan pada ayat di bawah ini, manusia
tidak mengetahui apa-apa kecuali yang telah Allah hidayahkan kepadanya,
"Mereka
menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang dapat kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha
Mengetahui dan lagi Mahabijaksana.'" (al-Baqarah [2]: 32)
Manusia
adalah makhluk lemah yang telah diciptakan Allah dari ketiadaan menjadi ada.
Segala kemampuan manusia merupakan hasil pemberian, kemurahan, dan kebaikan
Allah. Ketika dibawa ke dalam kebijaksanaan tiada akhir, kekuasaan yang tiada
batas, dan pengetahuan yang dimiliki Allah, jelaslah bahwa orang yang
beranggapan telah mendapatkan kemampuan tersebut dengan sendirinya,
sesungguhnya ia berada pada jurang kesalahan. Ia terbuai oleh kesombongannya
kemudian lalai akan kenyataan ini dan berpikir bahwa keberhasilan yang
diperolehnya berasal dari prestasi yang dimilikinya. Hal ini lantas membuatnya
sombong dan tidak ikhlas. Apa yang pantas bagi seorang mukmin sejati adalah
tidak pernah menganggap bahwa keberhasilan yang didapatnya adalah karena
kemampuan yang dimilikinya, meski sesungguhnya ia adalah seseorang yang sangat
mampu, cerdas, dan merupakan manusia yang paling sempurna yang pernah ada di
bumi. Kesombongan tidak akan pernah menguasai dirinya kalau saja ia bersikap
santun untuk mengakui kelemahan diri yang menghalanginya dari semua keberkahan
tersebut, bahkan kemudian Allah akan melimpahkan kemurahan, bahkan lebih, atas
dirinya. Allah akan membawa dirinya menggapai ridha, kasih sayang, serta masuk
ke dalam surga-Nya sebagai balasan atas keikhlasan serta ketulusan hatinya.
Sekalipun begitu, banyak orang yang lalai dan lupa bahwa kehidupan dunia adalah
fana dan hanya merupakan sebuah ujian bagi orang-orang beriman. Mereka akan
ingat kepada Allah tatkala ditimpa kemalangan. Akan tetapi, mereka tidak
bersyukur ketika keberuntungan serta kenikmatan datang kepadanya. Mereka juga
melakukan kesalahan besar, dengan meyakini bahwa keberkahan dan keberuntungan
yang diperolehnya itu merupakan hasil jerih payah yang dikerjakannya. Mereka
yakin bahwa keberhasilan hanyalah milik mereka semata. Dalam surah az-Zummar,
Allah berfirman,
"Maka
apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan
kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, 'Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu
hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, namun kebanyakan
mereka itu tidak mengetahuinya." (az-Zumar [39]: 49)
Kecenderungan
lain yang sering ada di antara orang yang berada di bawah pengaruh kesombongan
adalah "ambisi untuk menjadi pemimpin". Hawa nafsu menggoda manusia
agar berambisi meraih cita-citanya tersebut, bahkan sambil menunjukkan
amalan-amalan saleh dan berusaha merusak keikhlasannya dengan memberikan
alasan-alasan yang dapat diterima oleh akal. Said Nursi menegaskan,
"Keikhlasan dan ketaatan pada kebenaran membutuhkan orang yang seharusnya
berkeinginan agar setiap muslim dapat memperoleh keuntungan dan manfaat dari
siapa pun dan di mana pun mereka bisa. Berpikir, 'Biarkan mereka mengambil
pelajaran dari diriku. Dengan begitu, aku akan mendapatkan pahala,' merupakan
tipu muslihat dari nafsu dan diri sendiri." 33
Pada berbagai keadaan, sebagian
orang melakukan tindakan dengan mangambil keputusan, "Aku akan menjadi
orang yang menyelesaikan tugas ini," tanpa meminta balasan atas hasil atau
manfaat yang dapat diraih sebagai konsekuensinya. Watak seperti ini, dikuasai
oleh keinginan untuk memimpin dan rasa sombong, dan hal ini sangat merusak
keikhlasan.
Sebagaimana
diungkapkan Badiuzzaman, "Jika kita mengatakan kepada diri sendiri,
'Biarkan diriku yang mendapatkan pahala tersebut, biarkan diriku yang memimpin
orang-orang ini, biarkan mereka mendengarkan diriku,' maka pikiran ini
menciptakan persaingan terhadap saudara-saudaranya yang ada di hadapannya dan
saudaranya yang benar-benar butuh kasih sayang, pertolongan, persaudaraan, dan
bantuan. Mengatakan pada diri sendiri, 'Mengapa murid-muridku datang kepadanya?
Mengapa aku tidak memiliki murid sebanyak yang ia miliki?' ini akan
menjatuhkannya menjadi korban keegoisan, kecenderungan penyakit ambisius yang
menggebu, ia kehilangan segala keikhlasan, dan terbuka peluang menuju
kemunafikan." 34 Seseorang yang memiliki tabiat buruk akan menganggap
saudara muslimnya sebagai saingan bagi dirinya. Rasa tidak rela jika orang lain
ditugasi tanggung jawab penting dan berhasil menyelesaikan tugasnya, dapat
dipahami sebagai keinginan untuk tidak mengharapkan siapa pun mendapatkan
pahala surga atau menerima sebuah tanggung jawab yang membuatnya masuk ke dalam
surga.
Sifat
yang paling mulia menurut Al-Qur`an adalah yang paling ikhlas, dengan
membiarkan orang lain memperoleh jalan masuk ke surga dan menumbuhkan semangat
mereka agar memulai tugas-tugas yang membuat Allah senang.
Seorang
muslim seharusnya berharap agar orang lain memperoleh pahala-pahala surga dan
melakukan tugas-tugas mulia yang membimbing mereka kepada pertolongan di hari
kiamat. Seperti halnya ia ingin melakukan amal saleh untuk keuntungan dirinya
sendiri. Mengubah perilaku baik seseorang demi kepentingan ambisi duniawi,
dengan mengatakan, "Aku adalah orang yang paling mampu menyelesaikan tugas
ini", "Biarkan mereka melihat betapa aku mampu mengurus tugas
tersebut dengan baik dan melihat betapa unggulnya kelebihan-kelebihan yang aku
miliki", "Aku akan melakukan pekerjaan ini agar dapat meraih status
dan martabat di antara orang-orang beriman", adalah bertentangan dengan
keikhlasan. Yang bahkan seharusnya dilakukan seseorang adalah memberikan yang
lebih dia sukai kepada mukmin lain. Ia dapat menunjukkan bahwa ia juga memiliki
keunggulan yang membuat dirinya mampu mengamalkan perbuatan baik dan berlaku
ikhlas. Agar dapat mengalahkan kesombongan dan ambisinya atas kekuasaan,
Badiuzzaman said Nursi memberikan nasihat,
"Obat
dan penyembuh bagi penyakit hati yang serius ini adalah dengan membanggakan
sahabat atau teman seperjuangan dalam menempuh jalan yang lurus. Ini berkaitan
dengan prinsip mencintai karena Allah. Selain itu, dengan mengikuti mereka
serta menolak menjadi pemimpin mereka dan menganggap orang yang berada di jalan
Allah mungkin lebih baik dari dirinya sendiri. Dengan demikian, sifat egois
diharapkan dapat hancur dan keikhlasan diperoleh kembali. Penyakit hati ini
juga bisa dihindari dengan mengetahui bahwa sebuah perbuatan kecil yang
dilakukan dengan ikhlas lebih disukai daripada perbuatan besar yang dilakuakan
tanpa keikhlasan, serta menyukai status sebagai pengikut daripada pemimpin,
dengan segala bahaya dan tanggung jawab yang harus dipikul. Jadi, keikhlasan
harus dimiliki setiap orang dan merupakan tugasnya dalam rangka mempersiapkan
diri untuk hari kiamat yang kedatangannya pasti akan terjadi." 35
Dengan
ungkapan ini, Said Nursi--sekali lagi--telah menegaskan betapa pentingnya
keikhlasan dan ia mengingatkan orang-orang beriman bahwa mereka yang ingin
menikmati kehidupan surga di akhirat harus membersihkan dirinya dari sifat
mementingkan diri sendiri, seperti egoisme, persaingan, dan ambisi untuk
menjadi pemimpin.
Said
Nursi juga memberikan catatan tentang pentingnya memberikan sesuatu yang lebih
didambakan oleh mukmin lainnya sebagai sebuah bentuk keikhlasan. Memperkenankan
saudara mukmin lainnya untuk memimpin dan gembira dengan apa yang dicapainya.
Said Nursi juga mengingatkan orang-orang beriman bahwa yang sesungguhnya
mencerminkan keikhlasan adalah dengan berkeyakinan bahwa orang lain juga mampu
lebih unggul dari dirinya dan mengakui keunggulannya itu.
Menahan Diri dari Kemunafikan
Kemunafikan
adalah salah satu kecenderungan yang didorong oleh hawa nafsu. Ia bertentangan
dengan ketentuan dan aturan yang terdapat dalam Al-Qur`an. Kemunafikan
mengandung arti bahwa maksud sebenarnya yang tersembunyi dalam diri seseorang
berbeda dengan sifat lahiriahnya. Dengan kata lain, orang tersebut bermuka dua,
tidak berkelakuan sesuai dengan yang ia yakini. Jadi, kemunafikan merupakan
sifat buruk yang merusak keikhlasan. Kenyataan yang membuktikan bahwa seseorang
yang dapat berlaku tidak ikhlas dan melakukan dua sikap yang berbeda dalam
lahir-batinnya, menunjukkan bahwa ia sepenuhnya belum memahami arti keimanan
serta tidak menghargai kebesaran kekuasaan dan kebijaksanaan Allah.
Allah
Maha Menguasai segala sesuatu, Dia Maha Mengetahui sesuatu yang dirahasiakan,
Maha Mengetahui sesuatu yang terlintas dalam pikiran manusia, dan Maha Melihat
di mana pun mereka berada. Jika seseorang berusaha menyembunyikan perasaan
sebenarnya dan berusaha menunjukkan kebalikannya, berarti ia telah melupakan
sifat-sifat Allah. Walaupun ia berhasil menyenangkan orang lain yang berada di
sekelilingnya melalui perbuatan dan kata-katanya, Allah Maha Mengetahui apa
yang tersembunyi di lubuk hatinya.
Orang
yang takut kepada Allah akan menjauhkan diri dari sikap dan perbuatan yang
membuat Allah murka. Manusia dapat menyanjung orang lain di dunia ini karena
kemunafikannya, namun ia tidak akan pernah mendapatkan kesenangan di akhirat.
Harus diingat bahwa kenikmatan yang diraih selama hidup di dunia adalah fana
jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkan di akhirat. Allah
mengingatkan kita tentang kebenaran ini sebagaimana firman-Nya dalam surah
at-Taubah,
"...
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?
padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat
hanyalah sedikit." (at-Taubah [9]: 38)
Seseorang
yang memiliki sifat munafik adalah orang yang bermuka dua dan orang yang
sombong. Dengan kehendak Allah, mukmin sejati akan mampu mengetahui tabiat
seperti itu. Kenyataan menjelaskan bahwa para rasul Allah diberi pengetahuan
yang ditanamkan dalam diri mereka oleh Allah. Mereka mampu mengenali dan
mengetahui orang-orang munafik yang menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka
pikirkan dengan bersikap munafik serta menampilkan jati diri yang berbeda dari
yang sebenarnya. Orang-orang munafik menunjukkan kemampuan bicaranya dan
penampilannya. Meskipun orang-orang seperti ini tidak dapat dikenali oleh
mukmin sejati, Allah mengetahui kepura-puraan dan ketidaktulusannya. Dia Maha
Mendengar setiap ucapan dan kata-kata, dan Dia Maha Melihat setiap tingkah
lakunya. Allah menjelaskan lebih lanjut tentang pengetahuan-Nya ini dalam salah
satu firman-Nya,
"Dia
mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu
rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi
hati." (ath-Thaghaabun [64]: 4)
Seorang
mukmin sejati tidak perlu bersandar pada kemunafikan untuk membuat orang lain
mau mengasihi dan menerimanya. Hal ini karena hanya Allahlah yang mampu
menanamkan kasih sayang di antara manusia. Tiap-tiap mukmin lazimnya mambantu
dan mengasihi mukmin yang berjuang dan berusaha menggapai ridha Allah.
Merupakan dasar keyakinan orang-orang beriman untuk mencintai seseorang yang
sopan, ikhlas, jujur, dan murni. Memperoleh ridha Allah akhirnya juga akan
membawa kita pada keridhaan para mukmin sejati. Perbuatan yang dilakukan
semata-mata untuk mendapatkan ridha manusia akan menjadi tidak berguna dalam
usaha untuk menggapai ridha Allah.
Karena
itulah, seseorang seharusnya tidak mendengarkan hasutan nafsunya. Ia seharusnya
menyucikan diri dari segala macam sifat dan pemikiran yang mengarah pada
kemunafikan untuk memperoleh keikhlasan.
Meninggalkan Ambisi untuk Memperoleh Kekuasaan dan Jabatan
Penyebab
lain yang mencegah manusia dari keinginan menggapai ridha Allah dan berjuang
dengan ikhlas demi memperoleh surga adalah kesenangan yang berlebihan akan
nilai-nilai kehidupan duniawi, seperti kekuasaan, status sosial dan nama baik.
Nilai-nilai duniawi seperti itu sama sekali tidak ada artinya untuk akhirat.
Allah memberitahukan bahwa kelebihan manusia ditentukan bukan berdasarkan
kekuasaan atau status, melainkan berdasarkan tingkat kebajikannya. Sebagaimana
firman-Nya,
"Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal." (al-Hujurat [49]: 13)
Dalam
salah satu karyanya, Badiuzzaman Said Nursi menegaskan kenyataan ini,
"(Rintangan
kedua yang merusak keikhlasan) adalah menyanjung diri sendiri dan mengutamakan
bujukan nafsu setan dengan menarik perhatian diri dan perhatian serta sambutan
orang lain, yang digerakkan oleh keinginan akan ketenaran, kemasyhuran, dan
pangkat atau jabatan. Ini sungguh-sungguh merupakan penyakit hati yang serius,
yang membuka peluang menuju kemunafikan dan mementingkan diri sendiri. Hal ini
disebut 'penyekutuan Allah yang tersembunyi' dan ini merusak keikhlasan." 36
Keyakinan
bahwa kekuasaan dan jabatan termasuk sebuah kelebihan, adalah tipuan yang lazim
terjadi di kalangan orang-orang awam. Siapa pun mukmin sejati yang memahami
makna keimanan, ia tidak akan berada pada kecenderungan godaan-godaan hawa
nafsunya. Ia bahkan akan mencari kelebihan melalui keikhlasan. Karena itu,
orang yang menyucikan jiwanya dari keinginan-keinginan tersebut akan
mendapatkan sesuatu yang jauh melebihi apa yang ada di dunia ini. Ia akan
dilimpahi ketenaran dan kehormatan sejati. Umat manusia diingatkan akan kenyataan
ini dalam salah satu ayat kitab suci Al-Qur`an,
"Jika
kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang
kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (an-Nisaa`
[4]: 31)
Agar
layak mendapatkan tempat mulia tersebut, kita harus memahami kebenaran di bawah
ini,
"Barangsiapa
yang menghendaki kemuliaan maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya.
Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh
dinaikkan-Nya...." (Faathir [35]: 10)
Allah
adalah satu-satunya pemilik kemuliaan. Salah satu cara untuk mendapatkan
kemuliaan adalah melakukan amalan-amalan saleh dengan ikhlas.
Dalam
karyanya, Badiuzzaman Said Nursi memberikan perhatian khusus pada masalah ini.
Ia menyoroti betapa fana kekuasaan duniawi, seperti status dan nama baik, jika
dibandingkan dengan tempat mulia yang dapat diperoleh di akhirat. Ia mengutip
ayat Allah, "Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah,"
dan ia menyatakan,
"Kita
sangat perlu belajar dengan sungguh-sungguh tentang keikhlasan dalam diri kita
sendiri. Dengan kata lain, apa yang telah kita capai sejauh ini dalam
pengorbanan dan pengabdian kita yang suci akan menjadi bagian yang hilang dan
tidak akan bertahan selamanya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban
atasnya. Kita akan membuktikan ancaman keras yang terkandung pada larangan
Tuhan, "Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang
rendah," (al-Baqarah [2]: 41) dan perusakan keikhlasan, yang akan
mengancam kebahagiaan abadi demi kepentingan yang tiada arti, tiada penting,
berbahaya, menyedihkan, mementingkan diri sendiri, menjemukan,
perasaan-perasaan yang berdasar pada kemunafikan, dan keuntungan yang tidak
berarti. Dan perbuatan-perbuatan tersebut juga akan melanggar hak-hak saudara
kita, mengingkari tugas yang ditugaskan oleh Al-Qur`an, dan menjadi tidak
hormat terhadap suci dan benarnya keimanan." 37
Keinginan
untuk mendapatkan status dan kekuasaan mencegah seseorang untuk tidak ikhlas
dalam beramal serta menjadikannya tidak jujur. Sebagian orang yang ingin
menggapai ridha Allah dan ganjaran surgawi, mungkin juga ingin mendapatkan
kemuliaan dan nama baik di dunia ini. Secara tidak sengaja, hal ini akan
menjadi penyebab menurunnya amalan-amalan yang dikerjakannya. Setiap mukmin
sejati harus memperhatikan peringatan Al-Qur`an ini dan membersihkan jiwanya
dari keinginan-keinginan untuk mendapatkan nama baik dan kemuliaan di dunia. Ia
harus berusaha untuk menggapai keagungan dan kemuliaan bersama Allah.
Sebaliknya,
seseorang akan dilalaikan oleh "persaingan satu sama lainnya untuk saling
mengungguli" hingga akhir hayatnya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat,
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam
kubur." (at-Takaatsur [102]: 1-2) Ia hanya akan memahami bahwa ajalnya di
akhirat adalah hasil dari menghabiskan tahun demi tahun untuk memenuhi hasrat
hawa nafsunya yang sia-sia. Segala daya dan upaya yang dilakukannya tidak akan
berguna. Lebih baik bagi seorang mukmin untuk menyucikan diri dari keburukan
jiwanya semasih ada waktu untuk memperbaikinya di dunia. Ia akan memperoleh
keikhlasan, yakni sebuah tingkatan akhlaq yang diridhai Allah.
Tidak Cemas akan Kekayaan dan Hidup Seseorang
Kecenderungan
buruk hawa nafsu adalah cinta yang berlebihan terhadap harta benda dan
keindahan jasmani. Karena itu, hawa nafsu akan terus-menerus menyemangati
seseorang agar lebih berambisi untuk mendapatkan dua hal tersebut. Akan tetapi,
harta benda dan keindahan fisik tidak diciptakan untuk dicintai secara
berlebihan, tetapi sebagai ujian bagi manusia dalam kehidupan dunia ini.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran,
"Kamu
sungguh-sungguh akan di uji terhadap hartamu dan dirimu...." (Ali Imran
[3]: 186)
Allah
menjanjikan balasan surga bagi mereka yang lebih suka mengorbankan hartanya
demi menggapai ridha Allah daripada terobsesi mengejar harta dunia. Allah
menjelaskan kepada umat manusia bahwa mereka sebaiknya bersikap demikian demi
memperoleh kebahagiaan dan keberhasilan di akhirat sebagaimana firman-Nya,
"Sesungguhnya,
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan
itu, dan itulah kemenangan yang besar." (at-Taubah [9]: 111)
Karena
itu, mukmin sejati dengan hati-hati akan menahan diri untuk mencintai harta dan
diri mereka secara berlebihan. Nafsu akan terus-menerus merayu manusia untuk
mendapatkan dua hal tersebut. Akan tetapi, seorang mukmin sejati yang sadar dan
yakin kepada janji Allah, tidak akan mengikuti kecondongan hawa nafsunya.
Dengan demikian, tidak ada yang dapat diraih melalui harta dan usaha pribadi
dalam kehidupan dunia jika dibandingkan dengan keberkahan di akhirat. Karena
itu, Allah memerintahkan manusia untuk "bergembira dengan jual beli yang
telah kamu lakukan itu".
Manusia
ditakdirkan untuk menikmati keberkahan di dunia ini hanya dalam waktu singkat.
Pada saat kematian, seseorang tidak hanya akan dipaksa meninggalkan jasadnya,
tetapi juga harta yang telah dikumpulkannya selama hidup di dunia. Keberkahan
yang dilimpahkan Allah di akhirat adalah makna sebenarnya bagi pencapaian
kebahagiaan dan keberhasilan. Badiuzzaman mengutarakan keadaan mereka yang
sangat terikat pada harta dan kehidupannya, dan kemudian memahami kagagalannya,
"Jadi,
dalam tubuh manusia ada banyak emosi. Tiap-tiap bagiannya memiliki dua
tingkatan, yang satu merupakan kiasan dan yang lain adalah keadaan sebenarnya.
Sebagai contoh, emosi kegelisahan akan masa depan telah ada dalam diri setiap
orang. Seseorang yang sangat gelisah akan masa depan, ia melihat bahwa dirinya
tidak memiliki apa-apa yang menjaminnya akan meraih masa depan yang ia
cemaskan. Juga dalam menghormati pemeliharaan, ada sebuah usaha darinya. Masa
depan adalah singkat dan tidak bemanfaat untuk sangat cemas seperti itu. Jadi,
ia akan berpaling dari masa depan menuju masa depan di alam baka yang akan
berlangsung lama. Bagi yang tidak memperhatikan, ia tidak berusaha ke arah
sana." 38
Pada
karya yang sama, Badiuzzaman Said Nursi mengemukakan kegagalan nafsu manusia
akan harta benda dan pribadi mereka sendiri,
"Manusia
juga menunjukkan ambisi yang kuat akan harta benda dan jabatan, kemudian ia
memahami bahwa kekayaan yang telah diamanahkan untuk sementara waktu di bawah
kontrolnya adalah fana dan tidak abadi. Ketenaran serta jabatan yang
mencelakakan, membahayakan, dan menjerumuskan manusia ke dalam jurang
kemunafikan adalah tidak berguna dalam berambisi seperti itu. Ia kemudian
berpaling dari hal-hal yang demikian menuju tingkat dan derajat rohani dalam
pendekatan diri kepada Allah, yang mengangkatnya ke tingkatan/derajat yang
sejati dan pembekalan diri menuju hari kiamat, dan amalan-amalan saleh yang
merupakan harta yang sebenarnya. Ambisi metaforis yang merupakan hal buruk
diubah menjadi ambisi sejati, sebuah sifat yang ditinggikan." 39
Jika
seseorang cemas akan harta benda dan kehidupannya, tidak mungkin baginya
mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang tulus, menundukkan dirinya di
hadapan Allah. Nafsu-nafsu yang tersembunyi dalam jiwanya akan mengarahkannya
secara sembunyi-sembunyi dan menyebabkannya bertindak demi kepentingan dirinya
sendiri daripada berusaha menggapai ridha Allah. Sebagai perumpamaan, ketika ia
menemukan seseorang yang membutuhkan, ia lebih suka menyimpan kenikmatannya
sendiri daripada menyedekahkan dan membantu orang yang lebih membutuhkan. Namun
sebagaimana yang Allah jelaskan pada ayat di bawah ini, yang lebih mewakili
keikhlasan adalah rela memberikan atau menyedekahkan hartanya kepada orang
lain, sekalipun dengan ini berarti ia tidak akan memiliki apa-apa,
"Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah
kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa
yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang
mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka
itulah orang-orang yang beruntung." (al-Hasyr [59]: 9)
Begitu
pula keinginan pribadinya yang akan memalingkan perhatiannya demi menggapai
ridha Allah. Allah menjelaskan kepada kita dalam kitab suci Al-Qur`an bahwa
pilihan seperti itu hanya akan mendatangkan aib,
"Katakanlah,
'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara- saudara, istri-istri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di Jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasik." (at-Taubah [9]: 24)
Sebagaimana
telah diuraikan oleh Allah, kekayaan seseorang tidak akan berguna di akhirat,
"Dan
Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa." (al-Lail [92]:
11)
Hanyalah
mereka yang ikhlas yang akan diganjar dengan keberkahan yang tiada akhir dan
kekal,
"Dan
kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan
hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun
memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan
itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia
benar-benar mendapat kepuasan." (al-Lail [92]: 17-21)
Al-Qur`an
menceritakan berbagai contoh keadaan orang-orang yang sangat cemas akan
kehidupan dan harta mereka. Dengan demikian, mereka kehilangan keikhlasannya
dan tidak sanggup meraih ridha Allah. Ketika Rasulullah saw. mengajak
orang-orang untuk berjihad dengan diri mereka demi kepentingan Allah, beberapa
di antaranya mengatakan, "Jika kami sanggup tentulah kami berangkat
bersama-samamu," (at-Taubah [9]: 42) sedangkan yang lainnya berkata, "Janganlah
kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." (at-Taubah [9]:
81) Karena itu, mereka melebihkan diri mereka sendiri dengan menguraikan
alasan-alasan selanjutnya. Sambil mencari-cari alasan, sebagian mereka pergi
keluar dengan melafalkan sumpah atas nama Allah untuk menunjukkan bahwa mereka
mengatakan yang sesungguhnya. Akan tetapi, Allah menegaskan bahwa Dia
mengetahui kebohongan yang mereka lakukan. Mereka telah memberikan jiwa mereka
kepada hukuman atas ketidakikhlasannya. Sikap yang dimiliki para mukmin
sejati--sebagaimana dilukiskan pada ayat yang dikutip di bawah ini--adalah
bahwa yang mewakili keikhlasan sesungguhnya adalah,
"Tetapi
Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta
dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan
mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung." (at-Taubah [9]: 88)
Orang-orang
beriman akan berjihad dengan harta dan dirinya demi mendapatkan ridha Allah.
Pada salah satu ayat-Nya, Allah mengabarkan berita gembira bagi orang-orang
beriman bahwa mereka yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka
dan mereka yang mengakui adanya kepentingan besar demi ridha Allah, akan
mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Sebagaimana dinyatakan dalam
surah an-Nisaa`,
"Tidaklah
sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak memiliki
uzur dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala
yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang
yang duduk dengan pahala besar." (an-Nisaa` [4]: 95)
Kekuatan Orang Beriman Berasal dari Keikhlasan yang Mereka
Miliki
Secara
umum, persekutuan orang-orang yang kafir kepada Allah dan hari akhirat
dilandaskan pada sebuah kepentingan, yakni keterikatan mereka pada harta benda
dan pengharapan atas balasan di dunia. Melalui persekutuan tersebut, mereka
menghasilkan sebuah kesepakatan demi terpenuhinya kepentingan bersama.
Tiap-tiap kelompok saling mendukung satu sama lain. Dengan demikian, mereka
berharap dapat memperoleh keuntungan satu dengan yang lainnya. Tanpa perlu
disebutkan, mereka yang membentuk persatuan seperti itu mengetahui bahwa
persekutuan mereka tidak dilandaskan pada adanya rasa saling memercayai satu
sama lainnya dan tidak didasarkan pada persahabatan, dan mereka pun mengetahui
bahwa keikutsertaannya pada kelompok tersebut bersyarat. Ketika salah satu
kelompok tidak lagi memberikan keuntungan bagi yang lainnya, persekutuan itu
dihentikan. Kelompok yang menentang akan bersikap acuh tak acuh terhadap
kebutuhan kelompok lawannya yang berada dalam kesulitan. Karena persekutuan
seperti ini hanya meningkat kekuatannya melalui meningkatnya jumlah dan
perolehan keuntungan duniawi belaka, persekutuan seperti ini akan dapat
terpecah-belah dan hancur sesegera mungkin setelah perolehan keuntungan duniawi
tersebut sirna. Sebagaimana Allah jelaskan kepada umat manusia di dalam
Al-Qur`an, nurani orang-orang yang kafir kepada Allah tidak condong kepada yang
lainnya, meskipun dari luar mereka terlihatan sebagai satu kesatuan,
"...
Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu
sedang hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka
adalah kaum yang tidak mengerti." (al-Hasyr [59]: 14)
Untuk
alasan inilah, persatuan yang dibentuk di antara orang yang kafir terhadap
Allah di dunia ini selalu rawan akan perpecahan. Hanya ada satu hal yang mampu
menjamin terjalinnya kesatuan sejati, yakni persahabatan dan persatuan di
antara orang-orang yang memiliki keyakinan. Ketika orang-orang yang memiliki
keimanan, yang takut akan hari pembalasan, bersatu di dunia ini, mereka
meletakkan dasar-dasar persatuan dakwah yang akan kekal di akhirat dan saling
mangasihi serta saling menolong satu sama lainnya semata-semata hanya karena
Allah. Mereka bersatu dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan keuntungan apa pun.
Persatuan ini bermula dari adanya rasanya cinta dan takut kepada Allah yang
merupakan satu-satunya sumber terbentuknya persatuan tersebut. Karena itu,
tidaklah mungkin persatuan tersebut dapat dimusnahkan kecuali jika Allah
berkehendak demikian. Orang-orang beriman membentuk sebuah kekuatan yang
menyerupai "dinding yang kokoh" yang tidak dapat ditembus.
Sebagaimana kutipan ayat surah ash-Shaff di bawah ini,
"Sesungguhnya,
Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
(ash-Shaff [61]: 4)
Mereka
yang memiliki keimanan, yang ikhlas, diberikan kebulatan tekad serta semangat
untuk menang walaupun musuh berjumlah miliaran. Hal ini dinyatakan dalam salah
satu ayat-Nya,
"...
Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa
banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak
dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.'" (al-Baqarah
[2]: 249)
Mereka
mendapatkan bantuan Allah dengan selalu bersikap ikhlas. Karena Allah adalah
Yang Mahaperkasa (Al-Aziz), mereka pada akhirnya berhasil menang. Mereka sadar
dan paham akan rahasia yang dijelaskan dalam ayat-ayat Allah, sebagaimana
firman-Nya, "... padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran [3]: 139)
Hasilnya, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa ulet dan kuat, yang
memiliki kemampuan untuk menyelesaikan perselisihan, pertentangan, dan kecurigaan
yang diciptakan oleh pihak asing.
Setiap
mereka yang membentuk kesatuan karena ketakutannya kepada Allah dan penyerahan
dirinya yang tanpa syarat kepada ayat-ayat yang terkandung di dalam
Al-Qur`an--sebagaimana mereka berjuang semata-mata demi meraih ridha Allah dan
tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah--tiap- tiap mereka adalah tentara
Allah.
Keikhlasan Mereka adalah Penyebab Timbulnya Solidaritas yang
Mereka Miliki
Sebagaimana
mereka mencari ridha Allah dengan keikhlasan yang terpatri di dalam jiwa, mereka
tidak pernah dihadapkan pada kekacauan, perselisihan, atau pertengkaran yang
terjadi di antara mereka. Karena firman Allah adalah satu dan ayat-ayat yang
terkandung dalam Al-Qur`an adalah suci, di mana seluruh mukmin yang taat dengan
tanpa syarat kepada Al-Qur`an dan beramal hanya demi menggapai ridha Allah akan
memberikan keharmonisan dan rasa tenteram. Sebagaimana semua orang beriman
patuh kepada Allah dan Al-Qur`an dengan ikhlas, segala urusannya akan
dimudahkan tanpa adanya perpecahan. Ketika persoalan-persoalan bermunculan
karena kepentingan dirinya, tiap-tiap dari mereka senang akan kebaikan orang
lain dan selalu mengutamakan kepentingan agama. Mereka mendambakan kebaikan
yang dimiliki saudaranya, agar dapat menjadikannya contoh bagi dirinya, karena
rasa solidaritas yang tinggi, kesatuan, dan adanya saling membantu yang
terbentuk di antara mereka. Tidaklah selalu dibutuhkan, orang mukmin
dikumpulkan bersama dalam rangka membentuk kesatuan tersebut. Yang menjadi hal
penting bagi mukmin sejati adalah membentuk solidaritas dakwah dan moral yang
kuat, walaupun masing-masing mereka terpisah jarak satu sama lainnya, berbeda
bahasa, dan berbeda di negara mana mereka tinggal.
Sebagaimana
orang-orang yang bertujuan menjalin persahabatan yang kekal di akhirat, mereka
menyayangi satu sama lainnya dengan cinta, penghormatan, dan kesetiaan yang
mendalam. Karena itu, mereka tidak pernah menginginkan adanya persaingan,
perselisihan, dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Meskipun mereka
dihadapkan pada permasalahan dan penderitaan, mereka tidak terhanyut oleh
kecurigaan, kelemahan, dan hilangnya kebulatan tekad, dikarenakan ketakutannya
kepada Allah dan keikhlasannya. Bilamana salah seorang di antara mereka
melakukan kekeliruan, yang lainnya--dengan keyakinan dan
keikhlasannya--membimbing saudaranya itu ke jalan yang benar. Sebagaimana
halnya mereka yang dengan terus-menerus mengumpulkan kebaikan dan mengahalau
keburukan, keyakinannya akan bertambah kuat. Dengan demikian, keikhlasan dan
kekuatan mereka akan terus meningkat. Badiuzzaman Said Nursi merujuk kepada
kekuatan luar biasa dari keikhlasan orang mukmin yang berbagi tujuan, usaha,
dan pengorbanan yang sama, dengan memberikan perumpamaan,
"Sama
halnya dengan tangan seorang manusia yang tidak dapat melebihi anggota tubuh
yang lain, bisakah salah satu matanya mengecam yang lain, ataupun bisakah
lidahnya menyatakan keberatan atas pendengarannya, ataupun bisakah hatinya
melihat kesalahan jiwanya? Tiap-tiap pancaindranya memperbaiki kekurangan yang
lain, menyelubungi kesalahan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, dan mengulurkan
tangan menyelesaikan tugas mereka. Sebaliknya, kehidupan manusia akan
terpadamkan, semangatnya akan hilang lenyap, dan tubuhnya dihamburkan. Sama
halnya seperti onderdil mesin yang berada di sebuah pabrik tidak dapat berlomba
antara satu dan yang lainnya dalam sebuah persaingan. Lebih didahulukan
daripada yang lain atau mendominasi satu dengan yang lainnya. Mereka tidak
dapat mengawasi kesalahan yang lain lalu mengecamnya, membinasakan keinginan
yang lain untuk bekerja lantas menyebabkannya jadi tidak berjalan. Mereka lebih
baik menolong pergerakan antara satu dan yang lainnya dengan segala dayanya
dalam rangka meraih tujuan yang sama. Mereka bergerak ke arah tujuan
penciptaannya dalam solidaritas dan kesatuan sejati. Bahkan serangan yang
paling meremehkan atau hasrat untuk campur tangan, akan menjadikan pabrik
tersebut berada dalam kekacauan, membuatknya tidak memiliki hasil dan produksi
apa pun. Dengan demikian, sang pemilik pabrik merobohkannya secara keseluruhan
pabrik tersebut. Jadi, wahai siswa Risalah an-Nur dan hamba Al-Qur`an, kau dan
aku adalah anggota kumpulan kepribadian seperti itu. Orang yang berjasa
walaupun sedikit adalah orang yang sempurna. Kita bisa dikatakan adalah seperti
bagian-bagian dari mesin tersebut yang menghasilkan kebahagiaan abadi di dalam
kehidupan abadi. Kita adalah tangan yang bekerja pada kapal yang akan
mendaratkan umat Rasulullah di alam yang damai, di pantai keselamatan." 40
Perumpamaan
yang diberikan Badiuzzaman ini adalah penting dalam menolong manusia memahami
makna solidaritas dan persatuan, yang dibutuhkan di antara mukmin sejati.
Sebagaimana mereka disucikan dari segala jenis perasaan yang kemungkinan
merusak keikhlasannya, mereka meraih sebuah kekuatan moral yang tak
terkalahkan, menyerupai roda-roda pabrik yang berkumpul menjadi satu untuk
membentuk kekuatan yang sungguh besar.
Pada
karyanya yang lain, Said Nursi menceritakan bagaimana mukmin sejati mendapatkan
kekuatan yang lebih besar. Mereka sadar dan paham akan rahasia keikhlasan. Ia
menjelaskan perumpamaannya sebagai berikut.
"Jadi,
kita sangat membutuhkan solidaritas dan kesatuan sejati, yang diperoleh melalui
keikhlasan-karena rahasia keikhlasan akan menyelamatkan 1.111 orang melalui
empat orang saja. Sungguh, kita berusaha mencapainya.
Benar.
Jika 3 alif tidak bersatu, nilainya hanya 3, sedangkan jika mereka bersatu,
melalui rahasia jumlah, 3 alif itu akan bernilai 1.111. Jika 4 kali 4 tetap
terpisah, nilainya 16, tetapi melalui rahasia persaudaraan, kesamaan tujuan,
dan tugas bersama, kesatuan mereka akan muncul bahu-membahu. Mereka memiliki
kekuatan dan bernilai 4.444. Seperti halnya sejumlah peristiwa sejarah yang membuktikan
bahwa kekuatan moral dan nilai 16 saudara yang mengorbankan dirinya lebih besar
dari 4.000.
Alasan
misteri ini adalah bahwa setiap anggota kesatuan sejati yang ikhlas dapat juga
melihat dengan mata saudaranya dan mendengar dengan telinganya. Sebagaimana
jika setiap orang dari 10 kesatuan sejati memiliki nilai dan kemampuan melihat
dengan 20 mata, berpikir dengan 10 pikiran, mendengar dengan 20 telinga, dan
bekerja dengan 20 tangan." 41
Apa yang Dihasilkan dari Keikhlasan
Keikhlasan
adalah kekuatan besar yang dilimpahkan kepada mukmin sejati untuk memungkinkan
mereka menghasilkan keberkahan abadi, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana dikatakan Badiuzzaman, "Merupakan prinsip yang terpenting
dalam amalan-amalan yang berkenaan dengan keterangan-keterangan Akhirat. Ini
adalah kekuatan terbesar dan terkuat dari dukungan dan kemampuan yang tertinggi
serta ibadah yang tersuci," tidak ada keraguan lagi bahwa keberkahan terbesar
yang dilimpahkan kepada manusia, baik di dunia maupun di hari kemudian, adalah
meraih ridha Allah.
Rahasia
untuk mencapai ridha Allah dan penerimaan yang baik, ada dalam keikhlasan.
Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang takut kepada Allah bahwasanya
balasan termulia di akhirat adalah keridhaan Allah, sebagaimana firman-Nya,
"Katakanlah,
'Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?'
Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka
dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah; dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Ali Imran [3]: 15)
Ini
merupakan tujuan akhir dari usaha mukmin sejati selama hidup di dunia. Dalam
banyak ayat-Nya, Allah memberi kegembiraan bagi mukmin yang ikhlas, yang
beriman kepada Allah dan hari pembalasan, dan yang melakukan amalan saleh untuk
mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan syafa'at dari rasulullah
saw., mereka itulah orang-orang yang akhirnya akan memperoleh ridha Allah dan
mendapatkan kenikmatan serta kebahagiaan di surga, sebagaimana firman-Nya,
"Di
antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai
jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do'a
Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk
mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak, Allah akan memasukkan mereka ke dalam
rahmat (surga)Nya; sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara
orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
(at-Taubah [9]: 99-100)
"Dan
didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada
jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap
hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-Nya).
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak
kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat." (Qaaf [50]:
31-33)
"Barangsiapa
yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang
yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya
walau sedikit pun." (an-Nisaa` [4]: 124 )
Keindahan Hidup di Dunia
Sebagai
tambahan bagi keberkahan hidup yang abadi, Allah menganugerahi mukmin yang
ikhlas dengan pahala yang besar di dunia. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat
Al-Qur`an berikut ini, Allah membimbing orang-orang yang bertobat kepada-Nya
menuju jalan yang lurus.
"...
Sesungguhnya, Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki
orang-orang yang bertobat kepada-Nya." (ar-Ra'd [13]: 27)
Dalam
surah lain, Alah berfirman bahwa Dia akan membantu dan menolong mukmin yang
ikhlas,
"Dengan
kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (al-Maa`idah [5]: 16)
Sebagaimana
dijelaskan dalam Al-Qur`an, Allah juga melimpahkan rahmat yang tak terhitung
kepada mukmin yang ikhlas selama hidupnya di dunia. Ia memelihara mereka dari
kesengsaraan, kesulitan, dan kegagalan hidup dari orang-orang yang kafir kepada
Allah. Ia membolehkan mereka untuk menempuh hidup yang mulia,
"Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan." (an-Nahl [16]: 97)
Seseorang
yang bertobat kepada Allah dengan seluruh kerendahan hati, ia akan dijauhkan
dari segala permasalahan dan kesulitan hidup di dunia. Ia dapat menempuh
hidupnya dengan penuh kedamaian dan dengan penuh kepercayaan karena ia takut
kepada Allah. Selama ia tidak takut pada kecaman orang lain, ia tidak perlu
khawatir terhadap urusan dunia. Selama ia hanya ingin memperoleh ridha Allah,
tak seorang pun dapat mengecewakan atau menyengsarakannya. Karena ia ingin
mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat, ia tidak terobsesi pada
harta benda dan kekayaan dunia meski kerugian atau keuntungan akan harta
membuatnya khawatir, tetapi ia selalu tunduk, percaya, yakin, murah hati, kasih
sayang, sabar dan penuh kesederhanaan.
Dalam
amalan yang dilakukan dengan ikhlas, hanya keridhaan Allahlah yang menjadi
tujuan utama, bukan untuk mendapatkan ridha orang lain atau penghargaan dunia,
atau untuk memenuhi hasrat dan ambisi yang harus dikesampingkan. Dengan
demikian, hasil yang didapatkan diharapkan akan selalu membawanya kepada
keberhasilan. Allah menegaskan kepada orang-orang beriman bahwa siapa saja yang
tidak menyekutukan Allah, yang bertobat kepadanya dengan tulus, yang menyucikan
diri dari keinginannya untuk mendapatkan ridha manusia dan penghargaan duniawi,
maka ia termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang beruntung. Sebagaimana firman
Allah yang berhubungan dengan hal tersebut,
"Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan)
mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik." (an-Nuur [24]: 55)
KESIMPULAN
Allah telah
menjadikan Nabi Ibrahim a.s., Ishaq a.s., dan Ya'qub a.s. sebagai suri teladan
bagi mukmin sejati, sebagaimana firman-Nya,
"Dan
ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai
perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami
telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang
tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat." (Shaad
[38]: 45-46)
Allah juga
menegaskan bahwa Nabi Musa a.s. telah mencapai tingkat kesucian yang tinggi,
sebagaimana dinyatakan dalam surah Maryam,
"Dan
ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab
(Al-Qur`an) ini. Sesungguhnya, ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul
dan nabi." (Maryam [19]: 51)
Kita harus
merenungkan dengan dalam ketinggian akhlaq nabi-nabi Allah dan berjuang seperti
mereka agar menjadi hamba-hamba-Nya yang suci.
Al-Qur`an
memberitahukan bahwa mereka yang buta dan tuli tidak akan mendapatkan
keuntungan dari peringatan dan ayat-ayat Allah. Sebaliknya, mukmin sejati
adalah, "Orang-orang yang apabila diberi peringatan
dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai
orang-orang yang buta dan tuli." (al-Furqaan [25]: 73) Mereka yang
takut kepada Allah dan berlindung dari godaan setan, mampu merasakan
kebijaksanaan ayat-ayat suci Al-Qur`an. Mereka menarik pelajaran dari ayat-ayat
Allah tersebut. Dengan demikian, mereka dapat memperoleh keikhlasan. Karena
itu, orang-orang beriman tidak akan pernah bisa mengabaikan peringatan Allah.
Meskipun jika kemudian seseorang gagal memahami makna pentingnya keikhlasan,
hanya dengan sesaat ia menghabiskan waktu untuk melihat niatnya, cukuplah itu
untuk menyucikan dirinya. Dengan izin Allah, perbaikan tersebut akan mengubah amalan-amalan
sebelumnya menjadi suatu amalan saleh dan dirinya dianugerahi kemulian sebagai
"makhluk yang terbaik" dalam pandangan Allah.
Namun sebaliknya,
jika seseorang menodai amalan-amalan yang telah dikerjakannya karena ridha
Allah, dengan membiarkan ambisi duniawi mengacaukan dan merusak dirinya, dan
dia tidak mengarahkan dirinya kepada keikhlasan, ia akan berperilaku tidak
bermoral. Manusia seperti ini mungkin akan berusaha sepanjang siang dan malam
untuk meyakinkan dirinya bahwa ia berada pada jalan yang lurus. Akan tetapi, ia
tidak akan termasuk di antara orang-orang yang bertobat kepada Allah dan ia
tidak berusaha untuk meraih keikhlasan. Dalam surah al-Kahfi, Allah memberikan
perumpamaan bagi para pecundang yang demikian, dengan firman-Nya,
"Katakanlah,
'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya." (al-Kahfi [18]: 103-104)
Ketika ia menoleh
ke belakang pada kehidupannya yang lalu, ia akan menyadari bahwa tidak ada satu
pun yang tersisa untuk menyatakan bahwa ia telah menggunakan waktu
bertahun-tahun lamanya hidup di dunia ini. Tidaklah orang-orang yang keridhaannya
ia perjuangkan, tidak juga tujuan duniawi yang dikejarnya, dan tidak pula
keangkuhan serta iblis yang menipunya untuk merusak keikhlasannya, yang akan
membelanya di akhirat. Ia akan berdiri sendiri di hadapan Allah tanpa adanya
pembelaan, karena ia gagal bertobat kepada Allah dengan hati yang suci. Ia
telah mengurangi keikhlasannya dengan mencampuradukkan keyakinan, pengabdian,
dan ibadahnya dengan kekotoran-kekotoran yang lain. Dalam surah al-Hadiid,
Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia adalah tiada arti kecuali sebuah tipu
daya yang besar,
"Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu." (al- Hadiid [57]: 20)
Apakah seseorang
bersedia memahami bahwa ia telah berjuang dalam kesia-siaan, dalam kedengkian
atas usahanya yang besar, karena ia telah gagal memperoleh keikhlasan, dan
hidup tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an? Atau apakah seseorang ingin
menjadi salah satu dari "makhluk-makhluk terbaik yang dirahmati, yang
tidak pernah gagal" dengan menyucikan niat, hati, dan batinnya serta
bertobat kepada Allah dengan pengorbanan sepenuh hati, memeluk Allah dengan
erat, dan tidak berkeinginan mendapatkan apa pun selain keridhaan Allah?
Jelaslah sudah bahwa bagi siapa pun yang cinta kepada Allah dan yang memiliki
harapan untuk menjadi sahabat-Nya, dan untuk bertobat kepada-Nya, maka pilihan
terakhir merupakan pilihan mutlak yang harus diambil.
Karena itu,
melalui buku ini, kami mengajak seluruh kaum mukminin yang ikhlas, yang
mencintai Allah, yang berharap untuk menjadi sahabat-Nya, dan yang bertobat
kembali kepada-Nya, agar mencari rahasia yang membimbing kita menjadi salah
satu di antara orang-orang yang beruntung. Sebagaimana Badiuzzaman sebutkan,
sebuah amalan yang dikerjakan dengan ikhlas mungkin akan menjadi lebih berharga
daripada ribuan amalan yang dikerjakan tanpa keikhlasan. Agar selalu diingat,
jika niatmu tulus ikhlas dan amalan-amalanmu merupakan amalan saleh hanya untuk
Allah semata, meski amalan itu paling remeh sekalipun, hal itu akan
diperhatikan oleh-Nya. Sebagaimana Allah jelaskan kepada kita di dalam
Al-Qur`an dengan firman-Nya, "Tuhanmu lebih mengetahui
apa yang ada dalam hatimu...," (al-Israa` [17]: 25)
dan "... Allah Maha Mengetahui orang-orang yang
bertaqwa." (Ali Imran [3]: 115)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar