Rabu, 29 Mei 2013

KERJA KERAS


KAADIHUN (KERJA KERAS)

Allah swt. berfirman dalam Quran Surah Al-Insyiqaaq (84:6-12)
$ygƒr'¯»tƒ ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏŠ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmŠÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ $¨Br'sù ô`tB šÎAré& ¼çmt7»tGÏ. ¾ÏmÏYŠÏJuÎ/ ÇÐÈ t$öq|¡sù Ü=y$ptä $\/$|¡Ïm #ZŽÅ¡o ÇÑÈ Ü=Î=s)Ztƒur #n<Î) ¾Ï&Î#÷dr& #YrçŽô£tB ÇÒÈ $¨Br&ur ô`tB uÎAré& ¼çmt7»tGÏ. uä!#uur ¾Ín̍ôgsß ÇÊÉÈ t$öq|¡sù (#qããôtƒ #Yqç6èO ÇÊÊÈ 4n?óÁtƒur #·ŽÏèy ÇÊËÈ
Artinya:
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu bekerja-keras dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya (6).  Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya (7),  Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (8),  Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira (9).  Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang (10),  Maka dia akan berteriak: "Celakalah aku" (11).  Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (12).
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa manusia di dunia ini, baik disadarinya atau tidak adalah dalam perjalanan menuju Tuhannya. dan mau tidak mau kelak di akhirat dia pasti akan menemui-Nya untuk mempertanggung-jawabkam amal-perbuatannya yang buruk maupun yang baik, sehingga ada yang mendapatkan kebahagiaan, ada pula yang mendapatkan kesengsaraan. Allah Ta’ala berfirman:
¨bÎ) sptã$¡¡9$# îpuŠÏ?#uä ߊ%x.r& $pkŽÏÿ÷zé& 3tôfçGÏ9 @ä. ¤§øÿtR $yJÎ/ 4Ótëó¡n@ ÇÊÎÈ
Artinya: “Segungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku hampir menampakkannya (merahasiakan waktunya) agar supaya tiap-tiap jiwa itu dibalas dengan apa yang ia usahakan (Surah Thaa Haa 20:15).
ô`tBur yŠ#ur& notÅzFy$# 4Ótëyur $olm; $yguŠ÷èy uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù tb%Ÿ2 Oßgã÷èy #Yqä3ô±¨B ÇÊÒÈ
Artinya: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh dan  ia adalah seorang mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dihargai (dibalas) dengan baik (Aurah Al-Israa 17: 19).
`yJsù ö@yJ÷ètƒ šÆÏB ÏM»ysÎ=»¢Á9$# uqèdur Ö`ÏB÷sãB Ÿxsù tb#tøÿà2 ¾ÏmÍŠ÷è|¡Ï9 $¯RÎ)ur ¼çms9 šcqç6ÏF»Ÿ2 ÇÒÍÈ
Artinya: “Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, dan ia seorang mu’min, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu (usahanya tidak akan ditolak), dan sesungguhnya Kami mencatat amalannya itu untuknya (Al-Anbiya 21: 94).
Dalam menafsirkan ayat (84:6) tersebut di atas, Hazrat Muslih Mau’ud r.a. bersabda:
Kaadihun adalah bentuk isim faail dari kata kadaha, makna kadaha adalah bekerja-keras (puri mihnat karna), yang dengan mengerjakannya akan bisa berpengaruh terhadap tubuh. Dikatakan kadaha (yakdahu kadhan J. kuduuh) ae saaa wa amila linafsihi khairan aw syarran wa kadda artinya, dia berusaha untuk bekerja, apakah upayanya itu baik atau buruk,  bekerja keras dengan gigih. Wa qiila alkadhu juhdu annafsi fil amali wa kaddu fiihi hattaa yuatstsira fiihaa. Sebagian ahli bahasa berpendapat sesuatu yang dikerjakan dengan gigih.

sehingga kesehatan manusia menjadi rusak akibatnya, tulang-tulangnya menjadi remuk, dan pengaruhnya sampai merasuk ke dalam tubuhnya (Aqrab). Jadi, makna kaadihun adalah orang yang bekerja-keras dengan gigih.
Dalam kamus (Al-Munawwir dan Kontemporer), kata kaddaha sama dengan kadda, yang artinya bekeja-keras membanting-tulang, tekun. Kadaha fil ‘amali artinya bekerja-keras bekerja; kadaha wa iktadaha li’iyaalihi artinya mencaari nafkah untuk keluarganya.
Tafsir: (Allah Ta’ala) berfirman: “Wahai manusia! Sesungguhnya engkau akan bekerja-keras dengan sungguh-sungguh dan gigih, famulaaqiihi, pergi menuju  Rab (Tuhan)mu, dan pada akhirnya engkau akan berjumpa dengan-Nya.
Di sini, pada kalimat Yaa ayyuhal insaan atau dijelaskan kaidah umum, maksudnya hanya merupakan imam waktu, atau juga maksudnya bahwa: Hai manusia! Sudah terbuka jalan bagimu untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, syaratnya adalah kamu harus Kadah (bekerja-keras). Dari sisi ini setiap manusia termasuk di dalamnya atau memang secara langsung manusia tidak termasuk di dalamnya, tetapi akan termasuk di dalamnya setelah mengikuti Insaan Kaamil (Rasulullah saw), maknanya adalah “Hai Insaan Kaamil! Engkau akan melakukan pengorbanan-pengorbanan yang besar untuk meraih Allah Ta’ala dan pada akhirnya suatu hari engkau akan meraihnya. Ketika seorang Insaan Kaamil bisa meraihnya (Liqaa illahi), maka menjadi perintah  bagi semuanya, bahwa kalian juga berjalanlah pada jalan itu dan raihlah kedekatan dengan Allah Ta’ala (Qurub Ilahi).
Dalam ayat ini dikatakan bahwa mendapatkan jalan untuk bertemu dengan Allah Ta’ala bukanlah hal yang mudah. Untuk tujuan ini, manusia terpaksa akan bekerja-keras, dan sedemikian kerasnya sehingga bisa berpengaruh pada tulang. Inilah point yang karena tidak difahami, sehingga manusia menjadi mahrum dari Liqaa illahi. Mereka menganggap bahwa mereka sudah beriman dan cukup dengan duduk-duduk (ongkang-ongkang kaki) sebentar, dan dengan merasakan manisnya perkara-perkara keimanan, lalu mengamalkan shalat dan puasa saja, lantas rohaninya akan menjadi sempurna, padahal disebabkan kesedihan yang timbul karena kecintaanlah, ruhani akan menjadi sempurna yang efeknya akan merasuk sampai tulang manusia. Sebelum kecenderungan, kesedihan, kecintaan dan kasih-sayang kepada Allah Ta’ala ini timbul di dalam diri manusia, maka baginya tidak akan tersedia maqam mulaaqiihi (perjumpaan dengan-Nya).
Selainnya, dengan beranggapan bahwa setelah mendirikan shalat dan berpuasa berarti saya sudah tegak dalam bekerja-keras, itu bukanlah kadaha. Kadaha adalah lebih hebat lagi dari yang dilakukan orang-orang yang bekerja keras.
Lihatlah buruh tukang sapu, betapa gigihnya dia bekerja. Perhatikanlah buruh cuci pakaian, begitu kerasnya pekerjaan yang biasa dia lakukan. Lihatlah tukang pikul, bagaimana dia bertahan dari kesulitan yang luar biasa, tetapi dengan pekerjaan-pekerjaan itu tidak menjadikan tulang-tulang mereka mulai meremuk. Seberapa pun berpengaruhnya pekerjaan itu, hanya berpengaruh pada badan saja,yang beberapa saat kemudian akan pulih lagi.
Tapi, di sini Allah Ta’ala menggunakan kata kaadihun. Yang dimaksud dengan kadaha adalah manusia melakukan suatu pekerjaan, yang dengan pekerjaan itu bisa menyebabkan kesehatannya rusak, tulang-tulangnya akan menjadi remuk, tubuhnya menjadi hancur. Ketika manusia bekerja dalam corak yang seperti itu, maka dia akan meraih kesuksesannya. Sebaliknya, kalau tanpa itu, lantas dia mengharapkan kesuksesan, itu adalah keliru. Untuk maksud itulah, aku mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah di dalam Jemaatku, supaya mereka bekerja keras. Dan menciptakan kebiasaan di dalam diri mereka untuk bekerja keras. Sebelum manusia menyelamatkan waktunya dari kesia-siaan, dia tidak akan bertemu dengan Allah Ta’ala. Inilah maksud sebenarnya dari mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah, supaya di dalam Jemaat ini timbul kebiasaan untuk bekerja keras. Dan setiap orang selalu sibuk dalam pekerjaan apa saja. Dalam ayat:

$ygƒr'¯»tƒ ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏŠ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmŠÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ
Diberitahukan bahwa sebelum manusia sibuk dalam bekerja dan memfanakan (membinasakan) dirinya sendiri, maka Tuhan tidak akan zahir dalam lingkup kaum. Kalau secara individual, setelah kadaha (bekerja-keras) tentu manusia bisa meraih Liqaa Ilahi, tapi untuk lingkup kaum, nikmat liqaa Ilahi akan diraih ketika individu setiap kaum tersebut memfanakan (membinasakan) dirinya sendiri.
Di dunia ini, Liqaa Ilahi bisa diraih dengan dua cara: pertama secara individu, kedua secara kaum. Meskipin (kerohanian – pent.) suatu kaum sudah rusak, tapi secara individu, manusia bisa meraih Qurub Ilahi. Sebagaimana sebelum diutusnya Hz. Masih Mau’ud a.s., meskipun pada saat itu kondisi kerohanian umat muslim secara kaum sudah rusak, tetapi di antara umat Muslim itu dijumpai beberapa orang suci. Misalnya, berkenaan Hz. Abdullah Ghaznawi, Hz. Masih Mau’ud a.s. sendiri menulis bahwa beliau adalah orang suci. Begitu juga sebelum Hz. Masih Mau’ud a.s.diutus, Hz. Mujaddid Shahib Brelwi atau Hz. Maulwi Muhammad Ismail Shahib Syahid, dan juga beberapa orang suci yang lainnya sudah berlalu. Tapi di antara 400 juta umat Muslim (data pada zaman ketika tafsir ini ditulis) pada saat itu hanya beberapa jiwa saja yang telah menemukan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah mengutus mereka untuk memperlihatkan bahwa Islam masih memiliki kekuatan di dalamnya, dan sekarang juga dia (Islam) bisa menghidupkan manusia, dia (Islam) bisa mempertemukan manusia ke hadirat Alah Ta’ala, tapi  itu merupakan lingkup kaum, wujud-wujud mereka itu (beberapa orang suci tadi) tidak memberikan faidah yang khas.
Walhasil, siapa Hz. Sayyid Ahmad Shahib Brelwi itu? Beliau sebenarnya adalah hujjah bagi orang-orang yang malas, beliau merupakan hujjah bagi orang-orang yang lalai, beliau dikirim untuk memberitahukan bahwa Islam di dalamnya masih memiliki pengaruh untuk menganugerahkan kehidupan. Begitu juga siapa itu Hz. Sayyid Ismail Shahib Syahid? Beliau merupakan hujjah bagi orang-orang pemalas, beliau adalah hujjah bagi orang yang lalai, beliau dikirim untuk memberitahukan bahwa Islam masih memiliki pengaruh untuk menganugerahkan kehidupan di dalamnya, tetapi untuk lingkup kaum dari wujudnya (orang-orang suci itu) tidak memberikan faidah yang khusus bagi Islam.
Karena Islam adalah sebuah nama yang di antara 400 juta umatnya itu sebagian tinggal di Cina, ada yang di Jepang, ada yang di Sumatra dan Jawa, dan ada juga yang tinggal di negeri-negeri yang lain. Suara mereka itu tidak sampai di negeri-negeri ini. Begitu juga Jemaat kita masih kecil, tapi dengan karunia Allah Ta’ala Jemaat ini tengah menyebar di berbagai negeri. Walhasil, mereka itu hanya merupakan hujjah bagi orang-orang yang lalai dan merupakan dalil bahwa sekarang lingkup kaum umat Muslim tidak melihat wajah Allah Ta’ala. Walhasil, Allah Ta’ala berfirman:
$ygƒr'¯»tƒ ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏŠ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmŠÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ
Maksudnya adalah: “Wahai setiap individu Jemaat Mu’min (wahai orang-orang Ahmadi)! setiap kalian harus memfanakan dirinya sendiri di jalan ini. Dengan begitu akan nampak wajah Allah Ta’ala dalam lingkup kaum,  dan kalian akan meraih nikmat liqaa (pertemuan) dengan-Nya.
Nikmat ini merupakan nikmat yang hakiki. Jikalau tidak dalam setiap zaman manusia secara individu terus meraih liqaa Ilahi, tetapi meraih Liqaa Ilahi secara individu tidak memberikan faedah untuk lingkup kaum. Dalam lingkup kaum, sifat Jalal Allah Ta’ala akan zahir ketika individu-individu kaum tersebut melihat wajah Allah Ta’ala dengan matanya sendiri, setiap individu memfanakan dirinya sendiri di jalan Qurub Ilahi, dan tidak mundur ke belakang sebelum bisa meraih nikmat  yang agung itu. (Tafsir Kabir, Jilid 8, Halaman 336-337)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar