KAADIHUN
(KERJA KERAS)
Allah swt. berfirman dalam Quran Surah Al-Insyiqaaq
(84:6-12)
$ygr'¯»t ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ $¨Br'sù ô`tB ÎAré& ¼çmt7»tGÏ. ¾ÏmÏYÏJuÎ/ ÇÐÈ t$öq|¡sù Ü=y$ptä $\/$|¡Ïm #ZÅ¡o ÇÑÈ Ü=Î=s)Ztur #n<Î) ¾Ï&Î#÷dr& #Yrçô£tB ÇÒÈ $¨Br&ur ô`tB uÎAré& ¼çmt7»tGÏ. uä!#uur ¾ÍnÌôgsß ÇÊÉÈ t$öq|¡sù (#qããôt #Yqç6èO ÇÊÊÈ 4n?óÁtur #·Ïèy ÇÊËÈ
Artinya:
Wahai manusia!
Sesungguhnya kamu bekerja-keras dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka
pasti kamu akan menemui-Nya (6). Adapun
orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya (7), Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan
yang mudah (8), Dan dia akan kembali
kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira (9). Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya
dari belakang (10), Maka dia akan
berteriak: "Celakalah aku" (11). Dan dia akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka) (12).
Ayat-ayat ini
menjelaskan bahwa manusia di dunia ini, baik disadarinya atau tidak adalah
dalam perjalanan menuju Tuhannya. dan mau tidak mau kelak di akhirat dia pasti
akan menemui-Nya untuk mempertanggung-jawabkam amal-perbuatannya yang buruk
maupun yang baik, sehingga ada yang mendapatkan kebahagiaan, ada pula yang
mendapatkan kesengsaraan. Allah Ta’ala berfirman:
¨bÎ) sptã$¡¡9$# îpuÏ?#uä ß%x.r& $pkÏÿ÷zé& 3tôfçGÏ9 @ä. ¤§øÿtR $yJÎ/ 4Ótëó¡n@ ÇÊÎÈ
Artinya: “Segungguhnya
hari kiamat itu akan datang, Aku hampir menampakkannya (merahasiakan waktunya) agar
supaya tiap-tiap jiwa itu dibalas dengan apa yang ia usahakan (Surah Thaa Haa
20:15).
ô`tBur y#ur& notÅzFy$# 4Ótëyur $olm; $ygu÷èy uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù tb%2 Oßgã÷èy #Yqä3ô±¨B ÇÊÒÈ
Artinya: “Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh dan ia adalah seorang mukmin,
Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dihargai (dibalas) dengan baik
(Aurah Al-Israa 17: 19).
`yJsù ö@yJ÷èt ÆÏB ÏM»ysÎ=»¢Á9$# uqèdur Ö`ÏB÷sãB xsù tb#tøÿà2 ¾ÏmÍ÷è|¡Ï9 $¯RÎ)ur ¼çms9 cqç6ÏF»2 ÇÒÍÈ
Artinya: “Maka
barang siapa yang mengerjakan amal saleh, dan ia seorang mu’min, maka tidak ada
pengingkaran terhadap amalannya itu (usahanya tidak akan ditolak), dan
sesungguhnya Kami mencatat amalannya itu untuknya (Al-Anbiya 21: 94).
Dalam menafsirkan
ayat (84:6) tersebut di atas, Hazrat Muslih Mau’ud r.a. bersabda:
“Kaadihun
adalah bentuk isim faa’il
dari kata kadaha, makna kadaha adalah bekerja-keras (puri mihnat
karna), yang dengan mengerjakannya akan bisa berpengaruh terhadap tubuh.
Dikatakan kadaha (yakdahu – kadhan J. kuduuh) ae sa’aa wa ‘amila linafsihi khairan aw
syarran wa kadda artinya, dia berusaha untuk bekerja, apakah
upayanya itu baik atau buruk, bekerja
keras dengan gigih. Wa qiila alkadhu juhdu annafsi fil ‘amali
wa kaddu fiihi hattaa yuatstsira fiihaa. Sebagian ahli bahasa
berpendapat sesuatu yang dikerjakan dengan gigih.
sehingga kesehatan
manusia menjadi rusak akibatnya, tulang-tulangnya menjadi remuk, dan
pengaruhnya sampai merasuk ke dalam tubuhnya (Aqrab). Jadi, makna kaadihun
adalah orang yang bekerja-keras dengan gigih.
Dalam kamus (Al-Munawwir
dan Kontemporer), kata kaddaha sama dengan kadda, yang artinya bekeja-keras membanting-tulang, tekun. Kadaha fil ‘amali artinya bekerja-keras
bekerja; kadaha wa iktadaha li’iyaalihi
artinya mencaari nafkah untuk keluarganya.
Tafsir: (Allah Ta’ala)
berfirman: “Wahai manusia! Sesungguhnya engkau akan bekerja-keras dengan
sungguh-sungguh dan gigih, famulaaqiihi, pergi menuju Rab (Tuhan)mu, dan pada akhirnya engkau akan
berjumpa dengan-Nya.
Di sini, pada
kalimat Yaa ayyuhal insaan atau
dijelaskan kaidah umum, maksudnya hanya merupakan imam waktu, atau juga
maksudnya bahwa: Hai manusia! Sudah terbuka jalan bagimu untuk berjumpa dengan
Allah Ta’ala, syaratnya adalah kamu harus Kadah
(bekerja-keras). Dari sisi ini setiap manusia termasuk di dalamnya atau memang
secara langsung manusia tidak termasuk di dalamnya, tetapi akan termasuk di
dalamnya setelah mengikuti Insaan Kaamil (Rasulullah saw), maknanya adalah “Hai
Insaan Kaamil! Engkau akan melakukan pengorbanan-pengorbanan yang besar untuk
meraih Allah Ta’ala dan pada akhirnya suatu hari engkau akan meraihnya. Ketika
seorang Insaan Kaamil bisa meraihnya (Liqaa illahi), maka menjadi perintah bagi semuanya, bahwa kalian juga berjalanlah
pada jalan itu dan raihlah kedekatan dengan Allah Ta’ala (Qurub Ilahi).
Dalam ayat ini
dikatakan bahwa mendapatkan jalan untuk bertemu dengan Allah Ta’ala bukanlah
hal yang mudah. Untuk tujuan ini, manusia terpaksa akan bekerja-keras, dan
sedemikian kerasnya sehingga bisa berpengaruh pada tulang. Inilah point yang
karena tidak difahami, sehingga manusia menjadi mahrum dari Liqaa illahi.
Mereka menganggap bahwa mereka sudah beriman dan cukup dengan duduk-duduk
(ongkang-ongkang kaki) sebentar, dan dengan merasakan manisnya perkara-perkara
keimanan, lalu mengamalkan shalat dan puasa saja, lantas rohaninya akan menjadi
sempurna, padahal disebabkan kesedihan yang timbul karena kecintaanlah, ruhani
akan menjadi sempurna yang efeknya akan merasuk sampai tulang manusia. Sebelum
kecenderungan, kesedihan, kecintaan dan kasih-sayang kepada Allah Ta’ala ini
timbul di dalam diri manusia, maka baginya tidak akan tersedia maqam mulaaqiihi
(perjumpaan dengan-Nya).
Selainnya, dengan
beranggapan bahwa setelah mendirikan shalat dan berpuasa berarti saya sudah
tegak dalam bekerja-keras, itu bukanlah kadaha. Kadaha adalah lebih hebat lagi
dari yang dilakukan orang-orang yang bekerja keras.
Lihatlah buruh
tukang sapu, betapa gigihnya dia bekerja. Perhatikanlah buruh cuci pakaian,
begitu kerasnya pekerjaan yang biasa dia lakukan. Lihatlah tukang pikul,
bagaimana dia bertahan dari kesulitan yang luar biasa, tetapi dengan pekerjaan-pekerjaan
itu tidak menjadikan tulang-tulang mereka mulai meremuk. Seberapa pun
berpengaruhnya pekerjaan itu, hanya berpengaruh pada badan saja,yang beberapa
saat kemudian akan pulih lagi.
Tapi, di sini
Allah Ta’ala menggunakan kata kaadihun.
Yang dimaksud dengan kadaha adalah
manusia melakukan suatu pekerjaan, yang dengan pekerjaan itu bisa menyebabkan
kesehatannya rusak, tulang-tulangnya akan menjadi remuk, tubuhnya menjadi
hancur. Ketika manusia bekerja dalam corak yang seperti itu, maka dia akan
meraih kesuksesannya. Sebaliknya, kalau tanpa itu, lantas dia mengharapkan
kesuksesan, itu adalah keliru. Untuk maksud
itulah, aku mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah di dalam Jemaatku,
supaya mereka bekerja keras. Dan menciptakan kebiasaan di dalam diri mereka
untuk bekerja keras. Sebelum manusia menyelamatkan waktunya dari kesia-siaan,
dia tidak akan bertemu dengan Allah Ta’ala. Inilah maksud sebenarnya dari
mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah, supaya di dalam Jemaat ini
timbul kebiasaan untuk bekerja keras. Dan setiap orang selalu sibuk dalam
pekerjaan apa saja. Dalam ayat:
$ygr'¯»t ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ
Diberitahukan
bahwa sebelum manusia sibuk dalam bekerja dan memfanakan (membinasakan) dirinya
sendiri, maka Tuhan tidak akan zahir dalam lingkup kaum. Kalau secara
individual, setelah kadaha
(bekerja-keras) tentu manusia bisa meraih Liqaa Ilahi, tapi untuk lingkup kaum,
nikmat liqaa Ilahi akan diraih ketika individu setiap kaum tersebut memfanakan
(membinasakan) dirinya sendiri.
Di dunia ini,
Liqaa Ilahi bisa diraih dengan dua cara: pertama secara individu, kedua secara
kaum. Meskipin (kerohanian – pent.) suatu kaum sudah rusak, tapi secara individu,
manusia bisa meraih Qurub Ilahi. Sebagaimana sebelum diutusnya Hz. Masih Mau’ud
a.s., meskipun pada saat itu kondisi kerohanian umat muslim secara kaum sudah
rusak, tetapi di antara umat Muslim itu dijumpai beberapa orang suci. Misalnya,
berkenaan Hz. Abdullah Ghaznawi, Hz. Masih Mau’ud a.s. sendiri menulis bahwa
beliau adalah orang suci. Begitu juga sebelum Hz. Masih Mau’ud a.s.diutus, Hz.
Mujaddid Shahib Brelwi atau Hz. Maulwi Muhammad Ismail Shahib Syahid, dan juga
beberapa orang suci yang lainnya sudah berlalu. Tapi di antara 400 juta umat
Muslim (data pada zaman ketika tafsir ini ditulis) pada saat itu hanya beberapa
jiwa saja yang telah menemukan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah mengutus mereka
untuk memperlihatkan bahwa Islam masih memiliki kekuatan di dalamnya, dan
sekarang juga dia (Islam) bisa menghidupkan manusia, dia (Islam) bisa
mempertemukan manusia ke hadirat Alah Ta’ala, tapi itu merupakan lingkup kaum, wujud-wujud
mereka itu (beberapa orang suci tadi) tidak memberikan faidah yang khas.
Walhasil, siapa
Hz. Sayyid Ahmad Shahib Brelwi itu? Beliau sebenarnya adalah hujjah bagi
orang-orang yang malas, beliau merupakan hujjah bagi orang-orang yang lalai,
beliau dikirim untuk memberitahukan bahwa Islam di dalamnya masih memiliki
pengaruh untuk menganugerahkan kehidupan. Begitu juga siapa itu Hz. Sayyid
Ismail Shahib Syahid? Beliau merupakan hujjah bagi orang-orang pemalas, beliau
adalah hujjah bagi orang yang lalai, beliau dikirim untuk memberitahukan bahwa
Islam masih memiliki pengaruh untuk menganugerahkan kehidupan di dalamnya,
tetapi untuk lingkup kaum dari wujudnya (orang-orang suci itu) tidak memberikan
faidah yang khusus bagi Islam.
Karena Islam
adalah sebuah nama yang di antara 400 juta umatnya itu sebagian tinggal di
Cina, ada yang di Jepang, ada yang di Sumatra dan Jawa, dan ada juga yang
tinggal di negeri-negeri yang lain. Suara mereka itu tidak sampai di
negeri-negeri ini. Begitu juga Jemaat kita masih kecil, tapi dengan karunia
Allah Ta’ala Jemaat ini tengah menyebar di berbagai negeri. Walhasil, mereka
itu hanya merupakan hujjah bagi orang-orang yang lalai dan merupakan dalil
bahwa sekarang lingkup kaum umat Muslim tidak melihat wajah Allah Ta’ala.
Walhasil, Allah Ta’ala berfirman:
$ygr'¯»t ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ
Maksudnya adalah: “Wahai
setiap individu Jemaat Mu’min (wahai orang-orang Ahmadi)! setiap kalian harus
memfanakan dirinya sendiri di jalan ini. Dengan begitu akan nampak wajah Allah
Ta’ala dalam lingkup kaum, dan kalian
akan meraih nikmat liqaa (pertemuan) dengan-Nya.
Nikmat ini
merupakan nikmat yang hakiki. Jikalau tidak dalam setiap zaman manusia secara
individu terus meraih liqaa Ilahi, tetapi meraih Liqaa Ilahi secara individu
tidak memberikan faedah untuk lingkup kaum. Dalam lingkup kaum, sifat Jalal
Allah Ta’ala akan zahir ketika individu-individu kaum tersebut melihat wajah
Allah Ta’ala dengan matanya sendiri, setiap individu memfanakan dirinya sendiri
di jalan Qurub Ilahi, dan tidak mundur ke belakang sebelum bisa meraih nikmat yang agung itu. (Tafsir Kabir, Jilid 8,
Halaman 336-337)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar