Rabu, 29 Mei 2013

MARAH


MARAH ADALAH SETENGAH DARI GILA

  Jemaat saya hendaknya bersikap lemah-lembut dalam menghadapi para penentang kita. Suara kalian jangan sampai lebih tinggi dari suara penentang kalian. Buatlah suara dan cara bicara kalian sedemikian rupa sehinggga tidak ada hati seseorang pun yang terluka karena suara kalian. Ingatlah seseorang yang berlaku kasar dan marah-marah, dari lidahnya sama-sekali tidak dapat muncul makrifat-makrifat dan hikmah. Kalbu yang cepat terbakar di hadapan penentangnya lalu emosinya lepas kendali, akan luput dari hikmah kebijaksanaan. Mulut yang kotor dan lidah yang tidak terkendali, akan luput dan tidak memperoleh mata-air kelembutan. Kemarahan dan hikmah tidak dapat menyatu di satu tempat. Orang yang dikuasai oleh emosi kemarahan, akalnya jadi dangkal dan pemahamannya rendah. Kepalanya di bidang apa pun tidak akan pernah diberikan kemenangan serta pertolongan. Kemarahan itu merupakan setengah dari kegilaan. Apabila ia berkobar lebih banyak, maka dapat menjadi kegilaan penuh. Jemaat saya hendaknya senantiasa menjauhkan diri dari segenap perbuatan yang tidak pantas dilakukan. Dahan-dahan yang tidak memiliki ikatan sejati dengan cabang serta batangnya, tidak akan menghasilkan buah. Jadi, ingatlah, jika kalian tidak memahami tujuansaya yang sebenarnya, dan kalian tidak disiplin terhadap syarat-syarat (yang diajukan), maka bagaimana mungkin kalian dapat menjadi pewaris janji-janji yang telah diberikan allah Ta’ala kepada saya? (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 5, H. 126-127).
Hz. Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Pahala itu terdapat pada kesetiaan, dan diin itu merupakan nama lain dari keitaatan, bukan memperlihatkan emosi dengan mengikuti hawa nafsu (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 5, H. 126-127).
EMOSI MARAH
Perbedaan emosi marah dengan gila adalah, jika hal itu tampil secara ringan, maka dinamakan emosi marah. Dan jika hal itu tampil secara permanen serta kuat, maka namanya adalah gila. (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 6, H. 104).
KEMARAHAN PADA TEMPATNYA
Allah telah menciptakan kemarahan bukan tanpa ketepatan (tidak dengan sia-sia). Penggunaanya yang tidak benar memang tidak tepat. Seseorang bertanya kepada Hz. Umar r.a., “Sewaktu masih kafir, engkau sangat pemarah. Sekarang bagai mana marah engkau?” Beliau menjawab: “Marah itu sampai sekarang pun masih ada, tetapi penggunaannya yang dahulu itu tidak tepat. Sekarang sudah tepat”. Protes itu justru tertuju pada Sang Pencipta, yakni mengapa Dia telah menciptakan kemarahan? Sebenarnya tidak ada satu pun potensi/kekuatan yang buruk. Penggunaannya yang tidak tepatlah yang membuatnya buruk. Alquran Syarif tidak memerintakhan kepada kita seperti injil, yakni tanpa alasan biar saja mengalami pukulan terus-menerus. Syariat kita memerintahkan untuk melihat ketepatan situasi/kondisi. Jika yang dibutuhkan adalah kelembutan, maka terapkanlah sikap merendahkan diri. Jika yang diperlukan adalah kekerasan/ketegasan, maka bersikap keraslah. Jika dengan sikap mema’afkan akan timbul perbaikan, maka terapkanlah sikap mema’afkan itu. Jika ada pembantu yang baik dan sopan melakukan kesalahan, maka ma’afkanlah. Namun, ada orang-orang yang mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga jika hari ini dima’afkan maka keesokan harinya dia akan berbuat dua kali lipat. Nah, di situ diperlukan pemberian hukuman. …  (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 2, H. 316-317).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar