MARAH ADALAH SETENGAH DARI GILA
Jemaat saya hendaknya bersikap
lemah-lembut dalam menghadapi para penentang kita. Suara kalian jangan sampai
lebih tinggi dari suara penentang kalian. Buatlah suara dan cara bicara kalian
sedemikian rupa sehinggga tidak ada hati seseorang pun yang terluka karena
suara kalian. Ingatlah seseorang yang berlaku kasar dan marah-marah,
dari lidahnya sama-sekali tidak dapat muncul makrifat-makrifat dan hikmah.
Kalbu yang cepat terbakar di hadapan penentangnya lalu emosinya lepas kendali,
akan luput dari hikmah kebijaksanaan. Mulut yang kotor dan lidah yang tidak
terkendali, akan luput dan tidak memperoleh mata-air kelembutan. Kemarahan dan
hikmah tidak dapat menyatu di satu tempat. Orang yang dikuasai oleh emosi
kemarahan, akalnya jadi dangkal dan pemahamannya rendah. Kepalanya di bidang
apa pun tidak akan pernah diberikan kemenangan serta pertolongan. Kemarahan itu
merupakan setengah dari kegilaan. Apabila ia berkobar lebih banyak, maka dapat
menjadi kegilaan penuh. Jemaat saya hendaknya senantiasa menjauhkan diri dari
segenap perbuatan yang tidak pantas dilakukan. Dahan-dahan yang tidak memiliki
ikatan sejati dengan cabang serta batangnya, tidak akan menghasilkan buah. Jadi,
ingatlah, jika kalian tidak memahami tujuansaya yang sebenarnya, dan kalian
tidak disiplin terhadap syarat-syarat (yang diajukan), maka bagaimana mungkin
kalian dapat menjadi pewaris janji-janji yang telah diberikan allah Ta’ala
kepada saya? (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 5, H. 126-127).
Hz.
Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Pahala itu terdapat pada kesetiaan, dan diin itu merupakan nama lain dari
keitaatan, bukan memperlihatkan emosi dengan mengikuti hawa nafsu (Malfuzhat,
Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 5, H. 126-127).
EMOSI
MARAH
Perbedaan
emosi marah dengan gila adalah, jika hal itu tampil secara ringan, maka
dinamakan emosi marah. Dan jika hal itu tampil secara permanen serta kuat, maka
namanya adalah gila. (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 6, H.
104).
KEMARAHAN
PADA TEMPATNYA
Allah
telah menciptakan kemarahan bukan tanpa ketepatan (tidak dengan sia-sia).
Penggunaanya yang tidak benar memang tidak tepat. Seseorang bertanya kepada Hz.
Umar r.a., “Sewaktu masih kafir, engkau sangat pemarah. Sekarang bagai mana
marah engkau?” Beliau menjawab: “Marah itu sampai sekarang pun masih ada,
tetapi penggunaannya yang dahulu itu tidak tepat. Sekarang sudah tepat”. Protes
itu justru tertuju pada Sang Pencipta, yakni mengapa Dia telah menciptakan
kemarahan? Sebenarnya tidak ada satu pun
potensi/kekuatan yang buruk. Penggunaannya yang tidak tepatlah yang membuatnya
buruk. Alquran Syarif tidak memerintakhan kepada kita seperti injil, yakni
tanpa alasan biar saja mengalami pukulan terus-menerus. Syariat kita
memerintahkan untuk melihat ketepatan situasi/kondisi. Jika yang dibutuhkan
adalah kelembutan, maka terapkanlah sikap merendahkan diri. Jika yang
diperlukan adalah kekerasan/ketegasan, maka bersikap keraslah. Jika dengan
sikap mema’afkan akan timbul perbaikan, maka terapkanlah sikap mema’afkan itu.
Jika ada pembantu yang baik dan sopan melakukan kesalahan, maka ma’afkanlah.
Namun, ada orang-orang yang mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga jika hari
ini dima’afkan maka keesokan harinya dia akan berbuat dua kali lipat. Nah, di
situ diperlukan pemberian hukuman. …
(Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jld. 2, H. 316-317).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar