Assalamu'alaikum Wr.Wb
Para Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian,
Pada kesempatan ini saya mengajak kepada hadirin sekalian, terutama
kepada teman-teman sejawat untuk selalu merasa takut kepada Allah. Sebab
sebagai seorang muslim yang beriman telah meyakini bahwa Allah itu
berkuasa memberi siksa kepada kita jika kita telah durhaka atau berbuat
maksiat kepada-Nya.
Sedangkan jika di dalam hati kita sudah ada rasa takut kepada Allah,
maka hal itu merupakan bekal untuk mencapai keselamatan. Artinya, dengan
memiliki rasa takut kepada Allah, maka kita akan takut berbuat dosa.
Jika kita takut berbuat dosa, maka akan selamat dari siksa Allah.
Seorang yang merasa takut terhadap laknat dan siksa dari Allah, maka ia
mempunyai keyakinan bahwa perintah Allah jika tidak dilaksanakan maka ia
akan menjadi durhaka. Kalau sudah durhaka, maka tentu Allah
mengancamnya dengan siksa. Dengan demikian sedapat-dapatnya, ia menjauhi
semua larangan-larangan Allah. Sebab dia menyadari bahwa suatu yang
dilarang itu dibenci Allah. Segala yang dibenci Allah namun tetap saja
dilaksanakan, maka Allah pasti marah dan memberi siksa.
Para hadirin yang dirahmati Allah,
Rasa takut kepada Allah hendaknya kita tanamkan di dalam hati. Begitu
juga rasa harap harus pula ditanamkan dalam hati. Rasa harap ialah ada
harapan pahala dan rahmatNya apabila kita menjalankan
perintah-perintahNya. Kedua faktor itu jika sudah kita miliki dan
berpengaruh kuat pada jiwa kita, maka akan mudahlah kita untuk
menjalankan ibadah.
Orang yang merasa takut kepada Allah tentu sangat risau jika mengingat
kematian. Bukan karena takut mati atau enggan meninggalkan dunia ini.
Bukan pula enggan berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kerisauan
yang dirasakan karena dia menyadari bahwa dirinya banyak dosa dan
khawatir sewaktu-waktu ajal menjemputnya. Perasaan yang demikian itu
dipengaruhi pula bahwa amal kebaikan, yaitu amal taat kepada Allah yang
dilakukan masih belum sempurna. Rasa takut yang demikian itu adalah
ciri-ciri orang beriman.
Sebaiknya, orang yang merasa aman dari Allah ialah mereka yang tidak mau
tahu terhadap kematiannya. Ia lupa mengingat mati karena tenggelam
dalam kesenangan dunia dan tenggelam dalam kemaksiatan. Dia merasa bebas
berbuat apa saja sesuai dengan keinginan hatinya. Sesungguhnya orang
yang di dunia merasa aman dari siksa, maka kelak di hari akhirat ia akan
merasakan ketakutan yang luar biasa.
Berbeda dengan orang beriman, jika ia mengingat dosanya, meskipun dosa
itu kecil, tetapi ia merasa ketakutan. Kemudian mendorong dirinya untuk
memperbaiki amal ibadah dan menyegerakan taubat. Sikap yang demikian
inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi saw. "Ketika hati seorang
mukmin bergetar karena takut kepada Allah, maka berjatuhanlah
dosa-dosanya seperti daun kering yang berguguran dari tangkainya."
Dalam hadis lain diterangkan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya,
tentang siapakah yang termasuk dalam kerabatnya? Beliau saw. menjawab, "Keluargaku
ialah setiap mukmin yang bertaqwa, yaitu yang memiliki rasa takut dan
rasa harap sampai di hari kiamat. Sedangkan wali-waliku ialah para
mutaqin, dan masing-masing mempunyai kelebihan, kecuali taqwa kepada
Allah."
Para hadirin yang saya hormati,
Hendaknya kita dapat membedakan antara perasaan takut kepada Allah
dengan takut kepada sesama makhluk. Kalau takut kepada sesama makhluk
maka kita mempunyai kecenderungan untuk menghindari atau menjauhi.
Karena menghindari terhadap yang kita takutkan akan dapat menyelamatkan
diri. Namun tidak demikian makna rasa takut kepada Allah. Takut kepada
Allah bukan menjauhi atau menghindariNya. Bukan berarti enggan
melaksanakan perintahNya dan tak menghiraukan laranganNya. Bukan itu!
Takut kepada Allah adalah taat. Jika kita sudah taat maka tak akan
pernah melanggar ketentuan Allah, tapi dengan istiqomah dan ikhlas kita
selalu menunaikan perintah dan menjauhi laranganNya. Jika kita melanggar
laranganNya, sama artinya dengan berbuat durhaka kepada Allah.
Hendaknya kita betul-betul menyadari bahwa setiap detik kita selalu
digoda hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan musuh jiwa beragama, musuh jiwa
orang-orang beriman. Sedetik saja kita terlena, maka akan
diombang-ambingkan oleh hawa nafsu tersebut sehingga rasa takut kepada
Allah menjadi berkurang. Bahkan menjadi sirna. Kalau sudah demikian,
jalan untuk berbuat maksiat begitu lapang dan mudah untuk kita lakukan.
Hawa nafsu tidak pernah mendorong kita agar menjalankan kebaikan. Tetapi
selalu menjerumuskan kepada perbuatan dosa, misalnya menghasut orang
lain, dengki, bertengkar, dendam dan sebagainya. Hawa nafsu berbeda
dengan kata hati, sebab hawa nafsu membuat seseorang tidak merasa takut
sedikitpun kepada Allah. Sedangkan kata hati, mempunyai rasa malu dan
rasa takut untuk melakukan perbuatan maksiat. Jika ada dorongan untuk
berbuat maksiat, maka hati kita akan berkata perbuatan itu tercela.
Tetapi jika hawa nafsu di dada kita lebih kuat, maka dorongan berbuat
maksiat akan lebih kita pilih.
Orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat, karena hatinya telah dikuasai
hawa nafsu. Setiap saat diombang-ambingkan pendirian dan setan pun
mengambil kesempatan dengan cara membisikan sesuatu yang jahat. Jika
kita hendak beramal taat dan beramal baik, maka nafsu selalu mencegah
setan membisikan rasa malas. Karena itu jika hati kita telah tidak ada
perasaan takut kepada Allah, maka sulitlah untuk melaksanakan ibadah dan
amal taat.
Jika di dalam hati kita sudah tertanam rasa takut, maka untuk berbuat
maksiat atau dosa tidak akan terjadi karena kita selalu ingat Allah.
Kita selalu ingat akan siksa yang diancamkan untuk kita. Dengan
demikian, kitapun mengurungkan niat untuk melakukan perbuatan dosa
tersebut. Di mana saja, sendiri atau bersama orang lain, kita selalu
mengekang prilaku buruk dengan alasan takut bahwa Allah melihat dan
mengancam siksa.
Bilahit taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuhu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar