Laki-laki dan wanita bagaikan siang dan malam
Allah SWT menciptakan laki-laki dan
wanita bagaikan siang dan malam, keduanya sama pentingnya, saling
melengkapi dan tolong menolong dalam menunaikan kewajibannya.
Masing-masing punya kelebihan satu atas yang lainnya. Kelebihan itu
diberikan oleh Allah SWT tidak lain supaya laki-laki atau wanita bisa
menjalankan tugasnya dengan baik. Mahasuci Allah, yang memberikan tugas
tetapi sekaligus memberikan bekalnya sekalian. Sehingga tugas-tugas yang
dibebankan kepada wanita tidak akan berhasil dengan baik, bahkan ada
yang tidak bisa sama sekali digantikan oleh seorang laki-laki. Demikian
juga sebaliknya.
Tugas wanita sebagai ibu misalnya, mana
mungkin seorang laki-laki bisa menggantikan tugasnya untuk hamil dan
melahirkan? Walaupun dalam hal tugas seorang wanita sebagai pendidik
generasi kadangkala ada yang bisa digantikan oleh seorang laki-laki,
tetapi pasti hasilnya tidak optimal sebagaimana apabila tugas itu
dilakukan oleh seorang ibu. Wanita sudah dibekali oleh Allah SWT,
perasaan yang halus, mudah tersentuh, juga ketelatenan dan kesabaran
serta kasih sayang. Bekal itu sangat dibutuhkan dalam mendidik
anak-anaknya, agar mereka memiliki mental yang baja, keras dalam usaha
dan semangat dalam menggapai cita-cita, tetapi di sisi lain dia juga
berperasaan halus dan mudah menerima kebenaran. Sentuhan kelembutan dan
kasih sayang seorang ibu Insya Allah mampu membentuk jiwa yang mulia
itu. Ibaratnya memintal benang/menenun, seorang ibu akan menenun dengan
cermat sabar dan teliti, sehingga hasilnya akan lebih kencang, indah dan
rapi, sehingga nyaman dipakai dan tahan lama.
Demikian juga sebaliknya, saat ini banyak
wanita-wanita yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada di
antara mereka yang bekerja karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarganya. Tapi ada juga yang hanya untuk aktualisasi diri atau
bahkan hanya untuk bersenang-senang saja agar bisa bergaul dengan banyak
orang. Tentunya perlu dilihat manfaat apa yang telah diperoleh dari
bekerjanya seorang wanita. Atau bisa juga dilakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and threats). Dari analisis tersebut akan diketahui, lebih banyak manfaatnya yang mana, bekerja atau tidak.
Dengan melakukan analisis SWOT,
menunjukkan bahwa dia tidak memutuskan sesuatu dengan asal-asalan saja,
tetapi benar-benar sudah dipikir masak-masak. Karena dasar pemikiran itu
yang akan dipertanggungjawabkan di padang Mahsyar nantinya. Oleh
karenanya tiap satu orang berbeda dengan yang lainnya dan tidak bisa
disamakan dalam hal ini. Karena bisa jadi bekerja menjadi keharusan bagi
seorang wanita, tapi belum tentu bagi wanita lainnya, bahkan bisa
sebaliknya.
Skalla Prioritas.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah jangan sampai wanita melupakan tugas utama seorang wanita yaitu sebagai: istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya, juga sebagai anggota masyarakat.
Seorang yang cerdas pasti akan berpikir professional dan akan membuat
skalla prioritas sesuai kadar tanggung jawabnya. Sesuatu yang sifatnya
wajib, maka harus dijadikan perhatian utama karena itulah yang nantinya
pertama akan ditanyakan kepadanya di yaumul akhir. Jangan seperti peribahasa Jawa “Ngoyak uceng kelangan deleg” yang artinya mengejar sesuatu yang kecil tetapi kehilangan yang besar, mengejar pahala sunnah tetapi meninggalkan yang wajib.
Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda: “Al-kaisu man daana nafsahu wa ‘amila li ma ba’dal maut”
yang artinya: “Orang yang pandai adalah orang yang senantiasa
mengontrol hatinya (mengendalikan diri) dan beramal untuk hari setelah
matinya.”
Sesuatu yang sudah menjadi kewajiban tidak akan luput dari pertanyaan Allah di yaumul mahsyar. Oleh karena itu, pastikan ketika akan menghadap Allah SWT, tugas-tugas utama sebagai wanita sudah ditunaikan.
Sudahkan kita menunaikan tugas kita sebagai ibu bagi anak-anak kita?
Sudahkan kita menunaikan tugas kita sebagai istri dari suami kita?
Walaupun wanita jaman sekarang bisa pergi
kemana saja, berperan sebagai apa saja, tetapi fungsinya sebagai
penegak ketahanan keluarga sangatlah penting. Keluarga yang tidak kokoh
lahir dan batin, akan menjadi sumber malapetaka bagi masyarakat.
Bukanlah jumlah anak yang membuat sesak bumi ini, tetapi akhlaq yang
buruklah yang menyesakkan dada.
Peran Wanita
Namun demikian, dunia sangat membutuhkan
sentuhan tangan-tangan wanita. Berbagai sisi dunia ini sangat
membutuhkan peran wanita, seperti tenaga medis, pendidik, dan
tempat-tempat tertentu yang nampaknya akan lebih baik jika dipegang oleh
seorang wanita. Sehingga wanita dituntut memiliki peran ganda atau
lebih. Selain sebagai ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya, wanita
juga bisa berperan sesuai profesinya, seperti dokter, perawat, guru,
psikolog, dll. Oleh karenanya wanita harus membekali diri dengan
berbagai ilmu. Bukan seperti pemahaman kuno yang mengatakan wanita tidak
perlu mendapatkan pendidikan tinggi, karena kerjanya hanya berkisar di
dapur, sumur dan kasur. Semakin tinggi intelektual wanita, diharapkan
akan semakin mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya untuk
berperan dengan baik.
Sebagai seorang ibu, wanita harus bisa
menghantarkan anak-anaknya menjadi manusia yang bertaqwa, dan bermanfaat
bagi sesama. Hal itu tidaklah mudah, sekian banyak wanita gagal
berperan sebagai ibu, terlihat dari anak-anaknya yang jauh dari
nilai-nilai agama, atau menjadi sampah di masyarakat. Tetapi ada juga
seorang ibu yang salah sangka, dia hanya mendidik anak-anaknya agar
menjadi orang yang tampan/cantik, sehat badannya dan kaya raya atau
terkenal. Itu sama saja mendidik anaknya sebagaimana anak binatang.
Bukankah peternak kambing hanya menginginkan kambingnya sehat gemuk dan
mudah dipelihara sehingga menarik hati para pembeli?.. (Selanjutnya akan saya bahas dg judul tersendiri, tunggu ya…)
Sebagai seorang istri, wanita harus bisa
mendampingi suaminya di kala senang maupun duka. Tugasnya adalah
mendukung suami dlm melakukan amal kebaikan, dan mengingatkannya jika
suami menyimpang dari syari’at. Suami dan istri harus bersinergi dalam
melahirkan amal-amal kebaikan. Di balik seorang lelaki yang hebat
biasanya selalu ada wanita yang kuat, entah itu ibunya atau istrinya.
Karena sehebat apapun seorang lelaki, dia adalah manusia biasa.
Terkadang membutuhkan dukungan moral dan spiritual dari orang lain,
khususnya istrinya. Ibarat handphone, seorang suami akan men-charge
dirinya di rumah, bersama istri dan anak-anaknya. Oleh karena itu,
seorang istri harus mampu meyajikan nsuasana rumahnya menjadi rumah yang
siap menerima kedatangan para penghuninya dalam keadaan apa adanya. Di
rumahlah mereka membenahi hiri, mengobati luka, dan menyusun kekuatan
baru. (Selanjutnya akan saya bahas dg judul tersendiri, tunggu ya…)
Wahai wanita,
Ukurlah potensimu, ambillah peran sesuai kemampuanmu, satu, dua, tiga, dst..
Atur skala prioritas, urutkan dari yang
paling tinggi kadar hukumnya. Berperanlah sebagai ibu yang baik, istri
yang baik, anggota masyarakat yang baik..
Kalau potensimu masih tersisa… ambillah peranmu lagi, sebagai dokter, guru, atau yang lain..
Tapi jangan sampai peran utamamu menjadi berantakan gara-gara peranmu yang belakangan kau ambil..
Semoga dengan demikian, wanita selamat di yaumul mahsyar
Sukses dunia akherat.
Disayangi anak, suami, lingkungan sekitar… dan juga yang terpenting mendapat kasih sayang Allah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar