Manusia
memiliki dua unsur penciptaan yang masing-masing memiliki kebutuhan
yang harus dipenuhinya. Kedua unsur penciptaan itu adalah unsur ruh atau
jiwa dan unsur jasad (materi) yang tercipta dari tanah. Jika unsur
materi lebih dominan dari unsur ruh, maka jiwa kita akan dikendalikan
oleh hawa nafsu yang menuntut untuk diperturutkan. Akibatnya akan lahir
sikap tamak dan serakah yang tiada habis-habisnya. Hal ini berimplikasi
kepada kegelisahan serta kegalauan hati. Sedangkan jika unsur ruhani
lebih dominan dari materi, maka kita akan terbimbing ke jalan ketenangan
dan kebahagiaan.
Kegalauan ruhani yang dibiarkan berlarut-larut dapat menjadikan hati
jatuh sakit hingga berujung tragis kepada kematian jiwa atau ruhani.
Oleh karenanya kita harus mencermati dan mengatasinya.Adapun fenomena kegalauan ruhani tersebut adalah:
1. Merasakan keras dan kasarnya hati, bagaikan batu, tak ada yang menembus dan merembes kepadanya serta yang mempengaruhinya.“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (al baqarah: 74)
2. Perangai yang tersumbat, dada yang sempit, kelelahan lelah jiwa, tampak sifat gelisah dan sering mengeluh, enggan peduli terhadap derita orang lain, tidak menyukai seseorang tanpa alasan yang benar.
3. Tidak terpengaruh oleh ayat-ayat al Qur’an, bahkan merasa sesak dengan bacaannya. Tidak menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan al Qur’an, dengan mendengarkan dari orang lain, mentadaburi, dan ia tidak melakukannya dengan khusyu’ dan tenang.
4. Tidak mendapat pelajaran dari peristiwa kematian.
5. Kecintaan terhadap kesenangan duniawi semakin bertambah, syahwat semakin berkobar dalam pikiran dan hatinya hingga terobsesi untuk merealisasikannya. Ia tersiksa dengan kenikmatan dunia yang diraih oleh orang lain terlebih saudara atau sahabatnya, ia menganggap dirinya gagal hingga timbul hasad akan lenyapnya kenikmatan itu dari saudaranya.
6. Kegelapan batin yang meliputi wajahnya dan dapat terbaca oleh mu’min yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah. Setiap mu’min memiliki nur dengan kadar keimanannya dan dapat melihat sesuatu yang tak mampu terbaca oleh orang lain. Keringkihan ruhani yang kronis dapat terbaca oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang lemah sekalipun. Namun kegelapan ruhani yang remang-remang hanya dapat terbaca oleh firasat imaniyah yang kuat.
7. Bermalas-malasan dalam beribadah dan kebaikan yang hal itu terlihat pada kurangnya perhatian dan semangat. Shalatnya hanya sebatas gerakan dan bacaan semata, ibadahnya bagaikan penjara baginya dan ingin segera berlepas darinya.
8. Lupa yang amat sangat kepada Allah, terlihat dengan sedikitnya dzikrullah, padahal selalu berhadapan dengan ayat Allah di sekitarnya serta enggan berdo’a kepadaNya.
Solusinya adalah:
- Selalu dzikrullah dengan hati, akal dan lisan berikut anggota tubuhnya.
- Menghadirkan potret akhirat. Wasilah (sarana) terdekat untuk dzikrul akhirat adalah qubur. Tersebut kisah seorang generasi terdahulu yang menggali qubur di rumahnya, di kala ia merasakan kekeringan ruh ia memasuki qubur tersebut seraya membaca ayat Allah:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (Al Mu’minun: 99-100)
Setelah itu ia keluar dari “qubur” dan berkata, “Wahai jiwa, kini engkau telah kembali ke dunia, maka beramal shalih-lah”.
3. Mengingat kematian lebih dekat kepadanya dari tali sendalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar