[Perbedaan pertama antara kaum Ahmadi dengan kaum muslimin pada umumnya adalah sehubungan dengan kematian Nabi Isa a.s . Rata-rata kaum muslimin percaya bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di langit dengan badan jasmannya, namun para anggota Ahmadiyyah dan juga para Ulama intelektual yang menelaah percaya bahwa – seperti para nabi lainnya – Nabi Isa a.s. telah wafat. Qur’an Suci jelas sekali membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat seperti manusia lainnya dan tidak hidup lagi di manapun. Jelas sekali dinyatakan bahwa Nabi Isa a.s. hanyalah memiliki sifat-sifat kemanusiaan, dan tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, beliau hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Karena itu sejak lahir hingga wafat, dia tunduk pada keterbatasan fisik dan biologi yang telah ditentukan Tuhan untuk manusia.]
Bukti dari Quran Suci
BUKTI PERTAMA: Semua manusia hidup dan mati di bumi ini.
Semua Nabi adalah manusia biasa, oleh
karena itu mereka tunduk kepada undang-undang Ilahi yang tak
berubah-ubah, bahwa manusia hidup dan mati di bumi ini. Qur’an Suci
munyatakan:
-
1. “Ia berfirman: Di sana (yakni di bumi) kamu hidup dan di sana kamu meninggal dan dari sana kamu akan dibangkitkan” (7:25)
-
2. “Dan bagi kamu adalah tempat tinggal di bumi dan perlengkapan untuk sementara waktu” (7:24)
-
3. “Bukankah Kami jadikan bumi sebagai daya tarik, yang hidup dan mati” (77:25,26)
-
4. “Dan dari (bumi) itu Kami menciptakan kamu dan kesitu juga Kami kembalikan kamu. Dan dari bumi itu Kami mengeluarkan kamu untuk kedua kali.” (20:55)
BUKTI KEDUA : Kehidupan jasmani tergantung pada makanan dan minuman.
Tuhan telah menjelaskan bahwa
undang-undang-Nya berlaku bukan hanya untuk orang biasa saja namun juga
untuk para Nabi, bahwa hidup itu sangat bergantung pada makanan dan
minuman:
-
1. “Kami tidak mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad) setiap Rasul kecuali mereka itu makan-makanan.” (25:20)
-
2. “Dan Kami tak membuat mereka (yakni para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan.” (21:8)
Mengenai Nabi Isa a.s. dan ibunya yang tulus
dinyatakan :”Dua-duanya makan, makanan” (5:75). Maka jika Nabi Isa a.s.
tidak makan-makanan – segenap kaum Muslimin berpendapat bahwa Nabi Isa
a.s. tidak makan-makanan lagi di langit – beliau tak akan bisa, dengan
hukum Ilahi yang dinyatakan di atas, hidup dengan badan jasmaninya.
Jasmani itu membutuhkan makanan jadi Nabi Isa a.s. yang tak
makan-makanan lagi pasti sudah mati.
BUKTI KETIGA: Jasmani manusia bisa rusak termakan waktu.
Tak ada satu badan jasmani manusia pun di bumi ini
yang tidak mengalami perubahan. Kehidupan jasmani pasti menglami
perubahan seiring dengan perubahan waktu. Qur’an Suci menyatakan:
-
1. “Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal (Khuld). Apakah jika engkau mati, mereka itu kekal (Khalidun)” ? (21:34)
-
2. “Mereka (yakni para Nabi) itu tidak hidup kekal (Khalidin)” (21:8)
Mengenai arti kata Khulud (yang diterjemahakan di atas dengan kekal selama-lamanya), kamus Qur’an yang terkenal dari Imam Raghib menjelaskan:
“Khulud” artinya ialah sesuatu yang kebal
dari kerusakan, dan tahan terhadap perubahan kondisi. Bangsa Arab
menyebut sesuatu dengan kata Khulud….. yakni terus menerus dalam suatu
keadaan dan tidak berubah (hal 153-154).
Karena itu menurut pengertian bahasa Arab, pengertian Khulud
menunjukan tetapnya suatu keadaan yang tidak mengalami perubahan atau
mengalami kerusakan. Di dalam ayat-ayat tersebut di atas, hukum Ilahi
telah menjelaskan secara jelas bahwa dalam keadaan seperti itu setiap
orang akan menglami perubahan dengan berlalunya waktu. Dia pertama-tama
menjadi anak, kemudian dewasa, kemudian tua dan akhrinya mati ini
diperkuat oleh banyak ayat-ayat lainnya, contohnya
-
1. “Allah ialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, lalu Ia memberi kekuatan setelah lemah, lalu membuat kelemahan dan ubanan setelah keadaan kuat.” (30:54)
-
2. “Dan diantara kamu ada pula yang dikembalikan menjadi pikun (jompo), sehingga ia tak tahu apa-apa setelah ia tahu.” (22:5)
-
3. “Dan barang siapa Kami beri umur panjang, niscaya Kami kembalikan kepada keadaan kejadian yang hina (buruk). Apakah mereka tak mengerti?.” (36:58)
Secara umum undang-undang Ilahi telah dijelaskan
seterang-terangnya di sini, dan tidak ada pengecualian bagi seorang
manusia pun. Sejak dari anak seseorang berkembang secara fisik untuk
mencapai perkembangan yang sepenuhnya setelah itu dia mulai lemah dan
akhirnya sampailah kepada kekanak-kanakan yang kedua kalinya tatkala
dia kehilangan masa-masa yang pernah dicapainya.
Jika demi kepentingan argumentasi itu, Nabi
Isa a.s. akan kembali kedunia ini, dia harus berusia 2000 tahun, dan
dari sinilah,menurut hukum Ilahi di atas beliau sudah terlalu tua untuk
berbuat sesuatu. Pada kenyataanya, sungguh dibawah undang-undang ini
Nabi Isa a.s. sudah wafat sejak dahulu.
BUKTI KEEMPAT: Wafatnya Para Nabi
-
1. “Almasih, ‘Isa bin Maryam, hanyalah seorang Rasul: sungguh telah berlalu para utusan sebelum dia “. (5:75)
-
2. “Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan. Jika ia mati atau dibunuh, apakah kamu akan berbalik atas tumit kamu?.” (3:143)
Ayat yang kedua di sini memperjelas ayat yang
pertama. Kedua ayat itu sama-sama memperingatkan, yang pertama terhadap
Nabi Isa a.s. , yang kedua terhadap Nabi Suci Muhammad. Penjelasan ayat
Qur’an Suci di sini sangat jelas sekali bagi si pencari kebenaran. Ayat
pertama jelas sekali mengatakan bahwa semua Nabi sebelum Nabi Isa a.s.
telah wafat – segenap kaum Muslimin menerima ini. Dalam ayat yang kedua,
kata-kata yang sama digunakan untuk memperjelas bahwa semua Nabi
sebelum Nabi Muhammad saw. telah wafat, dan karena tak ada Nabi yang
dibangkitkan antara Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci, ayat yang kedua pasti
diturunkan khusunya untuk menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat.
Karya-karya klasik tata bahasa Arab menjelaskan kepada kita bahwa,
dengan menggunakan awalan al pada kata para utusan (al-rusul, lit “para-utusan) di dua ayat tersebut di atas jelas-jelas memberi arti seluruh utusan (lih bahr al-Muhit, vol 3, hal 68).
Arti dari Khala
Haruslah diingat bahwa kata khala
(yang diterjemahkan di atas dengan “belalu”) dalam bentuk kata lampau
tanpa kata sandang, ketika ditujukan kepada manusia, bermakna kematian
mereka. (lih Lisan al-Arab dan Aqrab al-Mawarad), juga di dalam Qur’an Suci, mana kala kata qad khalat tanpa partikel ila digunakan untuk orang, maksudnya adalah mereka telah berlalu dan meninggal, dan tak akan kembali lagi. Sebagai contoh:
-
1. “Itulah umat yang sudah berlalu (qad khalat).” (2:134)
-
2. “…Yang sebelumnya telah banyak umat yang berlalu (qad khalat).” (13:30)
-
3. “….dikalangan umat yang telah berlalu (qad khalat).”(46:18)
-
4. “itulah tata cara Allah terhadap orang-orang yang sebelumnya telah berlalu (khalat).” (33:38)
Dalam penafsiran dua ayat tentang seluruh Nabi
sebelum Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci saw. telah berlalu, para mufasir
umunya mengambil arti yang sama:
“Nabi Suci telah meninggal dunia sebagaimana yang
telah terjadi pada Nabi-Nabi sebelumnya, dengan cara kematian yang alami
atau dibunuh” (Qanwa ‘ata Baidawi, vol.3 hal 124).
Sebenarnya ayat-ayat tersebut di atas mengenai Nabi Suci (3:143) itu sendiri telah menjelaskan makna dari khalat
(telah berlalu seluruh Nabi sebelumnya) dengan menggunakan kata-kata
“bila dia meninggal atau dibunuh” atas dirinya. Jelaslah, kalimat “telah
berlalu para Nabi sebelumnya “berarti salah satu dari mati alami atau
dibunuh
BUKTI KELIMA: Semua yang dituhankan itu mati
Semua yang dianggap tuhan selain Allah , dijelaskan oleh Qur’an Suci itu “mati”:
“Adapun orang-orang yang mereka seru selain Allah,
mereka tak dapat menciptakan apa-apa malahan mereka itu diciptakan.
(mereka) mati tak hidup. Dan mereka tak tahu kapan mereka dibangkitkan.”
(16:20-21)
Begitu pula Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan, Qur’an
Suci itu sendiri berkata: “Sungguh kafir orang -orang yang berkata:
“Allah ialah Masih bin Maryam.” (5:72)
Ayat-ayat ini menjadi bukti secara
lengkap bahwa Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan oleh sebagian besar oleh
manusia dan dipanggil “Tuhan Jesus”, pasti sudah mati ketika ayat ini
diwahyukan. Jika tidak, pengecualian itu pasti disebutkan di sini.
Setelah amwaat (mereka itu mati), kata ghairu ahyaa’u
(“tidak hidup”) menjelaskan masalah tersebut lebih mantap, dan kembali
menguatkan tentang kematian terhadap “tuhan-tuhan” tersebut.
BUKTI KEENAM: Kedatangan Nabi Isa a.s. yang kedua bertentangan dengan Khataman-nabiyyin.
Kedatangan Nabi Isa a.s. lagi ke
dunia ini akan menyalahi prinsip Khataman Nabiyyin karena Nabi Suci saw.
adalah Nabi penutup dan Nabi yang terakhir menurut prinsip tersebut.
Qur’an Suci menjelaskan: “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari
kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi.
(33:40)
Nabi Suci menjadi Nabi yang terakhir (Khataman-Nabiyyin)
memastikan bahwa setelah beliau tidak akan muncul lagi Nabi yang lain,
baik Nabi baru maupun Nabi lama. Seperti halnya kedatangan nabi baru
akan merusak Khataman-Nabiyyin begitu pula kehadiran Nabi lama, karena
Khataman-Nabiyyin berarti Nabi yang muncul setelah munculnya seluruh
Nabi. Seandainya Nabi Isa a.s. datang sesudah Nabi Suci dia (Nabi Isa
a.s. ) pasti akan menjadi Nabi yang terakhir, Khataman-Nabiyyin.
Salah sekali jika untuk berdalih
bahwa menurut perkiraannya kedatangannya yang kedua kali, Nabi Isa a.s.
tak akan menjadi Nabi. Karena Qur’an Suci mengatakan: “Ia (Nabi Isa a.s.
) berkata: “sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Ia telah memberikan
kepadaku kitab, dan membuat aku seorang Nabi. Dan ia membuat aku seorang
yang diberkahi di manapun aku berada.” (19:30-31). Jadi manakala dia
kembali ke dunia ini dia harus tetap Nabi. Kedatangannya lagi tanpa
kenabian akan menjadi tak berarti, karena tugas kepemimpinan umat Muslim
(imam) dan keKhalifahan Nabi Suci harus dilaksanakan oleh umat
Muslim itu sendiri. Di sini membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah
wafat, sebagaimana para Nabi lainnya dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah
Nabi yang terakhir.
BUKTI KETUJUH: Qur’an Suci secara khusus menjelaskan kematian Nabi Isa a.s.
Menjelaskan berbagai macam pengertian
umum dalam hal hidup dan mati, adalah tak perlu bila Qur’an Suci itu
sendiri telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s.
Tuhan Yang Maha Kuasa telah menjelaskan secara khusus tentang kematian
Nabi Isa a.s. di dalam Qur’an Suci. Ketika Yahudi berhasil dalam
rencananya menggantungkan Nabi Isa a.s. di tiang salib, Nabi Isa a.s.
berdo’a agar diselamatkan dari penderitaan ini, dan dijawab oleh-Nya
sebagai berikut:
“Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan meninggikan
engkau di hadapanKu dan membersihkan engkau dari orang-orang kafir dan
membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir
sampai hari kiamat.” (3:54)
Di sini Tuhan telah membuat 4 perjanjian dengan Nabi Isa a.s.
-
i. “mematikan engkau” (tawaffa) yakni, Nabi Isa a.s. tak akan dibunuh oleh kaum Yahudi, melainkan beliau akan meninggak secara wajar
-
ii. “meninggikan engkau dihadapanKu” (raf’a) yakni, dia tidak mati disalib, yang mana Yahudi mencoba membuktikan dia itu terkutuk (ul 21:23), melainkan dia akan menerima kedekatan Ilahi.
-
iii. “membersihkan engkau dari orang-orang kafir” (tathir) yakni, dia akan dibersihkan dari semua tuduhan Yahudi, yang mana hal ini telah dilakukan oleh Nabi Suci saw.
-
iv. “membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat”, yakni pengikutnya akan berada di atas para pembangkangnya.
Ayat di atas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah mati, karena raf’a (pengangkatan
ke hadirat Ilahi) hanya bisa dicapai setelah mati, setelah semua
selubung jasmani disingkirkan. Setiap orang tulus akan dianugrahi raf’a dihadapanTuhan
setelah kematiannya. Nabi Suci bersabda:”ketika orang beriman mendekati
kematiannay, para malaikat datang kepadanya. Jadi, bila orang tulus,
mereka berkata:”wahai ruh yang suci! Keluarlah kau dari jasad yang suci,
maka keluarlah ruh yang suci tersebut, lalu mereka membawanya ke surga
dan dibukakanlah gerbang-gerbang surga itu untuknya” (Miskhat).
Karenanya, sewaktu-waktu orang tulus meninggal, para Malaikat membawa ruhnya ke seruga. Begitu pula halnya yang terjadi dengan Nabi Isa a.s. , setelah kematianya, ruhnya diangkat ke surga dan dia bergabung di antara barisan orang-orang tulus yang telah mati.
Dengan demikian Tuhan telah memenuhi
semua janji-janji di atas dengan urutan: Dia menyelamatkan Nabi Isa
a.s. dari tangan-tangan Yahudi, dan kemudian mewafatkannya dengan wajar,
setelah kematiannya Tuhan memuliakan ruhnya dengan kedekatan Ilahi; Dia
membersihkan segala tuduhan Yahudi melalui Nabi Suci saw. dan
memberikan pengikutnya berada di atas kaum kafir.
BUKTI KEDELAPAN: Umat kristiani tersesat setelah Nabi Isa a.s. wafat.
Pernyataan Nabi Isa a.s. pada hari kiamat, bahwa umatnya akan menuhankan dia setelah kematiannya, demikianlah yang tertulis di Qur’an Suci .
“Da0n tatkala Allah berfirman: Wahai Isa Bin Maryam,
apakah engkau berkata kepada manusia: ambillah aku dan ibuku sebagai dua
tuhan selain Allah. Dia menjawab: Maha Suci Engkau! Tak pantas bagiku
mengtakan apa yang aku tak berhak mengatakannya. Jika aku mengatakan
itu, Engkau pasti mengetahui. Engkau tahu apa yang ada dalam batinku,
dan aku tak tahu apa yang ada dalam batin Engkau. Sesungguhnya Engkau
Yang Maha Tahu barang-barang gaib. Aku tak berkata apa-apa kepada mereka
kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku yaitu: Mengabdilah
kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu; dan aku menjadi saksi atas mereka
selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah engkau
mematikan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Yang Maha menyaksikan segala sesuatu” (5-116-117)
Inti bukti ini sebagai berikut:
-
i. Nabi Isa a.s. akan menyangkal telah mengajarkan doktrin kristen yang sesat tentang ketuhannya
-
ii. Dia akan menegaskan ajaran dia yang sebenarnya yang telah ia berikan kepada umatnya.
-
iii. Selama Nabi Isa a.s. berada di tengah-tengah mereka, pengikutnya memegang ajaran yang benar;
-
iv. Setelah Nabi Isa a.s. tawaffa (diterjemahkan di atas dengan “Kau menyebabkan aku mati”) keyakinan mereka menjadi rusak.
Arti dari Tawaffa
Kamus-kamus bahasa Arab memberitahukan pada kita bahwa tawaffa allahu fallanun, yakni Tuhan telah melakukan tawaffa kepada seseorang artinya Tuhan mencabut nyawanya dan menyebabkan dia mati. Arti inilah yang diberikan oleh Taj al-Urus, Al-Qamus, Surah, Asas Al-Balaghah, Al-Sihah, dan Kalyat abi-l-Baqa.
Dalam ayat di atas, Nabi Isa a.s.
berkata dalam dua periode yang berbeda, yang pertama menjelaskan
kata-kata “selama aku berada di tengah-tengah mereka”, dan yang kedua
tatkala hanya “Engkaulah yang mengawasi mereka”, mereka itu adalah umat
Nabi Isa a.s. , Kristen. Dan periode kedua (hanya Tuhan saja yakni bukan
Nabi Isa a.s. yang mengawasi mereka) dikarenakan tawaffaitani atau ketika Engkau mematikan aku (Nabi Isa a.s. )
Sekarang menurut ayat di atas, umat
Kristen memgang keyakinan yang benar dalam perode yang pertama, dan
berpandangan sesat pada periode kedua. Sebagaimana Qur’an Suci
memberitahukan kepada kita berulang-ulang dan seluruh umat Muslimpun
meyakini, bahwa ajaran Kristen telah menjadi sesat (atau dengan kata
lain periode kedua telah dimulai) dengan ditandainya kedatangan Nabi
Suci. jadi Nabi Isa a.s. telah wafat dengan dimulainya periode yang
kedua yang telah datang setelah tawaffaitani atau kematian Nabi Isa a.s.
Ringkasan
Menurut Qur’an Suci, Nabi Isa a.s. memegang tidak lebih dari ketiga posisi berikut ini:
-
i. Beliau hanyalah manusia biasa diantara manusia biasa lainnya
-
ii. Beliau adalah Nabiyullah diantara para Nabi lainnya; dan
-
iii. Beliau adalah di antara mereka yang dituhankan manusia
Yahudi mempercayai Nabi Isa a.s. sebagai manusia
biasa, sementara umat Kristiani menuhankannya. Umat Muslim menerima
beliau sebagai salah satu di antara para nabiyullah lainnya. Qur’an Suci
membuktikan Nabi Isa a.s. telah wafat dalam keadaan ketiga posisi
tersebut.
I. Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa:
Qur’an Suci menyatakan: “Dan tiada Kami menciptakan
manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal, apakah jika engkau
mati, mereka itu kekal?.” (21:34). Ayat ini menunjukan
bahwa tubuh manusia itu tak pernah kebal dari perubahan waktu, dan bahwa
tubuh manusia itu harus hidup dan mati di bumi ini. Sebagaimana Nabi
Isa a.s. itu menusia biasa – dia juga harus tunduk kepada sunatullah
yang telah ditentukan kepada manusia karena menurut ketentuan Qur’an
Suci “setiap jiwa harus merasakan mati” – Nabi Isa a.s.telah wafat.
II. Nabi Isa a.s. sebagai seorang Nabi:
“Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan;
sebelum dia telah berlalu para utusan.” (3:143). Ayat ini membuktikan
kematian seluruh Nabi yang lalu pada waktu diturunkannya wahyu tersebut, dengan demikian Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.
III. Nabi Isa a.s. sebagai yang dianggap tuhan:
Dalam hal semua yang dianggap tuhan selain Allah,
Qur’an Suci memberitahukan kepada kita”mereka mati tidak hidup, dan
mereka tak tahu kapan dibangkitkan.” (16:21). Ini telah diketahui secara
universal , dan ditegaskan oleh Qur’an Suci bahwa umat
Kristiani meyakini Nabi Isa a.s. sebagai tuhan dan menyerunya di dalam
sembahyang mereka. Jadi menurut ayat di atas, Nabi Isa a.s. telah
meninggal; dan “tak akan pernah menjawab do’a mereka hingga hari
kiamat”.
Karena itu secara lengkap dan tuntas
terbukti bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat lama sekali, dan kepercayaan
terhadap kelangsungan hidupnya adalah bertentangan dengan ajaran Qur’an
Suci yang terang benderang.
Bukti dari Hadits
[Telah kami tunjukan bukti-bukti dari ayat
Al-Qur’an ayng menyatakan bahwa Nabi Isa a.s. tidak hidup di langit
melainkan beliau telah wafat di zamannya sebagaimana para nabi lainnya
yang juga telah wafat. Oleh karena itu seharusnya tidak ada lagi
keraguan sedikitpun di benak para orang bijak dan para pecinta kebenaran
tentang masalah ini. Namun untuk lebih memuaskan para pencari
kebenaran, kami akan menghadirkan beberapa hadits dari Nabi Suci saw.,
orang yang menerima wahyu Al-Qur,an, dan sebagai orang yang paling benar
dalam penafsiran Qur’an Suci , untuk masalah ini seharusnya setiap dan
segenap Umat Muslim tunduk sepenuhnya terhadap penafsiran dan keputusan
Nabi Suci saw. ]
Hadits Pertama: arti dari Tawaffa.
“Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa Nabi Suci saw.
Bersabda dalam suatu khotbahnya: Wahai saudara-ssaudara sekalian! Kalian
akan dikumpulkan oleh Tuhanmu (pada hari kiamat)…. Dan beberapa orang
dari umatku akan diambil dan dilemparkan ke neraka. Aku akan berkata ‘Oh
Tuhan, tapi mereka adalah dari umatku’ Akan dijawab:’ Engkau tak tahu
apa yang mereka lakukan setelah kepergianmu”. Lalu aku akan berkata
sebagaimana perkataan hamba Allah yang tulus (yakni Nabi Isa a.s. ): “Aku
akan menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah
mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku (tawaffaitani). Engkaulah
yang mengawasi mereka“…..
(Bukhari, Kitab al-Tafsir, dibawah Surat Al-Maidah)
kalimat terakhir dari sabda Nabi Suci saw. (‘aku
menjadi saksi atas mereka…) diambil dari ayat Qur’an Suci yang mana
telah dijawab oleh Nabi Isa a.s. sebagai suatu sangkalan pada hari
kiamat. Adalah disetujui oleh seluruh umat Muslim, ketika kalimat ini
digunakan oleh Nabi Suci saw. Pada hadits di atas, arti dari tawaffaitani adalah
‘engkau mematikan aku’ jadi jelaslah kalimat tersebut mempunyai arti
yang sama ketika digunakan oleh Nabi Isa a.s. yakni ketika Nabi Isa a.s.
diambil dari umatnya oleh kematiannya bukan diangkat hidup-hidup ke
langit.
Hadits kedua: Semua Nabi pasti mati.
Pada saat menjelang ajalnya, Nabi Suci saw.. masuk ke mesjid dengan dibantu oleh dua orang untuk mengatakan hal ini:
“Wahai saudara-saudara sekalian!. Aku mendengar bahwa
kalian takut akan kematian Nabimu. Apakah para Nabi sebelumku itu ada
yang mampu mempertahankan hidupnya sehingga aku masih punya harapan
untuk bersamamu lagi?. Dengarlah! Sebentar lagi aku akan menemui
Tuhanku, begitu juga dengan kalian. Jadi aku meminta pada kelian untuk
memperlakukan kaum muhajir dengan baik”
(Al-anwar ul-Muhammadiyya min al-Muwahib lil-dinnyya, Egypt, hal 317)
hadits ini diakhirai dengan mengutip tiga ayat Qur’an Suci: “Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia, telah berlalu banyak utusan” (3:143)
“dan tiada kami menciptakan manusia sebelum engkau itu kekal” (21:34); dan Dan Kami tak membuat mereka (para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan, dan tak pula mereka kekal”
(21:8). Bila seandainya ada beberapa nabi yang masih hidup, pastilah
Nabi Suci. tak dapat berkata seperti hadits di atas. Jadi jelaslah bahwa
Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.
Hadits Ketiga: Wafat sebelum Usia 100 tahun
-
1. “Tak ada seorangpun yang hidup hingga kini melainkan akan wafat sebelum seratus tahun berlalu” (Muslim. Kunz al-ummal, vol.7.170)
-
2. “Nabi Suci saw. Bersabda: ‘Allah mengirimkan angin setiap seratus tahun untuk mengambil tiap-tiap jiwa orang Mu’min” (Mustadrak, vol.4, p. 475)
hadits-hadits tersebut menunjukan bahwa setiap orang
yang masih hidup di masa Nabi Suci saw. Akan wafat sebelum seratus
tahun berlalu, bila Nabi Isa a.s. masih hidup ( di langit sebagaimana
yang dikira orang) dia pasti telah wafat dalam perode tersebut.
Hadits keempat: Nabi Isa a.s. berusia 120 tahun
Aishah a.s. berkata bahwa, pada saat menjelang
kematiannya, Nabi Suci saw. Bersabda :’ setiap tahun Jibril biasanya
mengulangi pembacaan Qur’an Suci denganku sekali, namun pada tahun ini
dia melakukan hal tersebut dua kali, dia memberitahukan padaku bahwa tak
ada nabi melainkan hidup selama separuh dari usia nabi yang
terdahulunya. Dan dia juga berkata padaku bahwa Nabi Isa a.s. hidup
selama seratus dua puluh, dan aku menyadari bahwa aku akan meninggalkan
dunia ini diawal usia enam puluhan” (Hajaj at-Kiramah, p. 428: Kanz al-Ummal, vol. 6, p. 160, dari Hadrat Fatima; dan Mawahib al-Ladinya, vol. 1, p.42).
Tabrani berkata tentang hadits ini: Hadits
nya sangatlah dapat di percaya , dan dirawikan dengan beberapa versi:.
Hadits tersebut tak ada keraguannya sedikitpun yang bukan hanya
mengumumkan kematiannya Nabi Isa a.s. malainkan menyatakan usianya yakni
120 tahun. Dan diriwayatkan paling tidak melalui tiga jalur: Dari
Aishah, ibn Umar dan Fatima. Karena itu Hadits tersebut sangatlah jelas
membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat.
Hadits Kelima: Nabi Isa a.s. telah wafat seperti Musa.
-
i. Nabi Suci saw. Bersabda: “seandainya Musa atau Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku (Al-Yawaqit wal-Jawahir, hal. 240; Fath al-Bayan, vol. 2 hal 246; tafsir Ibn Kathir, dibawah ayat 81, surat Ali-Imran)
-
ii. “Seandainya Isa masih hidup dia pasti mengikutiku” (Shrah Fiqh Akbar, Egyptian ad., hal 99)
-
iii. “Bila Musa dan Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku” (Al-Islam, dipublikasikan oleh The Fiji Muslim Youth Organization, vol.4 oct 1974)
Hadits-hadits tersebut di atas jelas menunjukan bahwa baik Musa maupun Isa dianggap telah wafat Oleh Nabi Suci saw.
Hadits Keenam: Makam Nabi Isa a.s.
Nabi Suci saw. Bersabda:” semoga Allah melaknat
Yahudi dan Kristiani yang membuat kuburan nabi-nabi mereka sebagai
tempat-tempat ibadah”. (Bukhari, Kitab as-Salat, hal 296).
Nabi Suci saw. Bersabda seperti demikian di atas
dikarenakan beliau sangat khawatir bahwa umat Muslim yang seharusnya
terhindar dari kesalahan dengan membuat makam dari nabi mereka menjadi
tempat ibadah seperti yang telah dilakukan oleh Yahudi dan Kristiani
terhadap makam nabi-nabi mereka. Yahudi mempunyai banyak nabi
namun nabi yang sangat dikenal oleh umat Kristiani hanyalah satu – Nabi
Isa a.s. .hadits ini menunjukan keyakinan Nabi Suci saw. terhadap
makamnya Nabi Isa a.s. dan sebenarnya tempat inilah (makam tersebut )
dimana Nabi Isa a.s. bersembunyi setelah diturunkan dari salib ( hingga
beliau sembuh dari luka-lukanya), yang mana umat Kristiani memujanya
dengan berlebih-lebihan. Jelaslah menurut hadits ini, Nabi Isa a.s.
tidak diangkat ke langit.
Hadits ketujuh: Nabi Isa a.s. dalam jamaah orang yang telah wafat.
Dalam berbagai hadits tentang Mi’rajnya Nabi Suci saw. Diriwayatkan:
i. “Adam di langit pertama…Yusuf di langit kedua, dan
sepupunya Yahya (sipembaptis) dan Isa sendiri dilangit ketiga, dan
Idris dilangit keempat” (Kanz al-Ummal. Vol.VI, hal. 120)
Nabi Suci saw. melihat Nabi Yahya a.s. dan Nabi Isa a.s. berada ditempat yang sama; dan sebagaimana setiap para nabi yang terdahulu terlihat dalam Mi’raj telah wafat, maka pasti Nabi Isa a.s. pun telah wafat.
ii. Hadits di atas dikuatkan dengan hadits lainnya
yang mengatakan bahwa dalam Mi’rajnya, Nabi Suci saw. menjumpai ruh para
nabi (tafsir ibn Kathir, Urdu ed. Diterbitkan di Karachi. Vol III. Hal. 28).
Hadits kedelapan: “Turunya” Nabi Isa a.s. di malam Mi’raj.
Sebuah hadits tentang Mi’raj mengisahkan:
“lalu Nabi Suci saw. turun di Yerusalem bersama-sama
dengan seluruh nabi. Pada saat sembahyang beliau mengimami mereka semua
dalam sembahyang” (tafsir ibn Kathir, Urdu ed, vol LII hal. 23).
Diantara “seluruh” nabi adalah termasuk Nabi Isa a.s.
. Seandainya dia, berbeda dengan nabi-nabi lainnya, masih hidup dengan
badan wadagnya di langit, maka “turunya” beliau di Yerusalem pasti
dengan badan wadagnya pula. Dalam hal ini, beliau harus diangkat
kelangit dua kali dengan badan wadagnya pula, namun Qur’an Suci
menerangkan hanya sekali raf’ nya(“pengangkatan” yang disalah mengertikan sebagai pengangkatan secara wadag ke langit”) Nabi Isa a.s. !
Kesulitan ini tak akan timbul bila kita meyakini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai hadits tentang Mi’raj,
bahwa Nabi Isa a.s. berada dalam keadaan yang sama (yakni wafat) dengan
para nabi lainnya yang dilihat Nabi Suci saw. dalam ru’yahnya.
Hadits Kesembiilan: Diskusinya Nabi Suci saw. dengan utusan Kristen.
“ketika enam puluh orang utusan (kristen) dari
Najran mendatangi, kepala pendeta mereka mendiskusikan dengan beliau
mengenai kedudukan Nabi Isa a.s. dan menanyakan kepada beliau prihal
ayahnya Nabi Isa a.s. Nabi Suci saw. bersabda: ‘tidakkah engkau tahu
bahwa seorang anak menyerupai ayahnya? Mereka menjawab ‘benar’. Sabdanya
lagi:
A lastum ta’ lamuna anna rabbana layatu wa anna ‘Tsa ata’alaihi-fana’
Artinya:”Tidakkah engkau mengetahuinya bahwa Tuhan kita kekal sedangkan Isa binasa”
(Abab an-nuzul oleh Imam Abu-l0hasan Ali bin Ahmad al-wahide dari Neshapur, di terbitkan di Mesir, hal 53).
Betapa jelasnya pernyataan tersebut bahwa Nabi Isa
a.s. telah wafat dan tak lebih dari apa yang disabdakan oleh Nabi Suci
saw. tersebut.
Hadits Kesepuluh: Dua gambaran Isa.
Di dalam Sahih al-Bukhari, diceritakan dua
penggambaran fisik yang berbeda tentang Isa-satu menunjukan Messiah lalu
dan yang lain menunjukan Messiah yang akan datang di akhir zaman
diramalkan.
-
1. Dalam Mi’raj, Messiah yang terlihat dengan Musa, Ibrahim, dan para nabi lainnyam menggambarkan beliau sebagai berikut:
-
a. “Aku melihat Isa. Beliau adalah seorang yang berkulit agak kemerah-merahan” (Bukhari, Kitab al-ambiya, ch.24)
-
b. “aku melihat Isa, Musa, dan Ibrahim. Isa memiliki kulit yang agak kemerah-merahan, berambut keriting dan dadanya bidang” (ibid., ch 48)
dijelaskan dari kedua hadts tersebut bahwa Isa, yang
terlihat bersama-sama dengan Ibrahim dan Musa, adalah nabinya Bani
Israil. Beliau berkulit merah dan berambut keriting.
-
2. Bukhari meriwayatkan dalam sebuah hadits tentang mimpinya Nabi Suci saw. bekenaan dengan keadaan beliau yang akan datang:
“dalam keadaan tidur aku melihat diriku tawaf di
ka’ba, dan aku melihat seorang lelaki berkulit agak putih dan berambut
lurus. Aku bertanya siapakah ini. Mereka menjawab: ini adalah Masih bin
Maryam (Bukhari, Kitab al-Fitn, ch. 27)
jadi, ketika Isa di jelaskan bersama-sama dengan Abraham dan Musa, beliau digambarkan dengan berkulit agak kemerah-merahan dengan rambut yang keriting;
namun manakala Isa terlihat bersama-sama dengan dajjal dalam mimpi Nabi
Suci saw. terntang masa yang akan datang, beliau dikatakan mempunyai kulit agak putih dengan rambut yang lurus.
Jelaslah, dua penggambaran yang berbeda disini tak mungkin
menggambarkan satu orang Isa, Nabi Bani Israil, yang mana dilihat oleh
Nabi Suci saw. dalam Mi’raj dan Messiah yang dibangkitkan di akhir zaman untuk membasmi kejahatan Dajjal, digambarkan sebagai dua orang yang berbeda.
Messiah Bani Israil, isa, telah wafat, sebagaimana
dijelaskan oleh sabda Nabi Suci saw. dan Messiah akhir zaman yang
diramalkan oleh Nabi Suci saw. berasal dari umat Muslim dan bukan dari
nabinya Bani Israil. Hal ini dikuatkan dengan ketiga hadits berikut ini:
i ‘Ulama’u ummati ka anbiya’i ni Israil, artinya: “para ulama umat ku seperti nabi-nabi bani Israil.”
ii Ala inna-hu Khalili fi ummayi min ba’di artinya: “sesungguhnya dia (Al-Masih yang akan datang) adalah Khalifahku yang datang setelah aku di dalam jamaahku.”
iii Fa amma-kum min-kum, artinya: “Dia akan menjadi imam dari antara kamu
kesimpulan
Dari seluruh kutipan hadits-hadits di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
Hadits pertama: Nabi Suci saw. bersabda tentang kematian atas dirinya dengan menggunakan kalimat falamma tawaffaitani.
Kalimat tersebut juga dipakai oleh Qur’an Suci berkenaan dengan Nabi
Isa a.s., hal ini membuktikan bahwa beliau juga telah wafat.
Hadits kedua: bertanya para sahabatnya bahwa seandainya salah seorang dari
sekian nabi ada yang mempertahankan hidupnya maka beliau juga pasti
dapat hidup lebih lama lagi. Bila Nabi Isa a.s. masih hidup Nabi Suci
saw. tak dapat memakai argument tersebut. Atau sahabat-sahabatn beliau
akan menyangkal bahwa sebagaimana Nabi Isa a.s. masih hidup maka Nabi
Suci saw. juga dapat mempertahankan hidupnya. Hal ini menunjukan Nabi
Suci saw. dan para sahabatnya yakin banwa Nabi Isa a.s. telah wafat
Hadits Ketiga: Nabi Suci saw.
meramalkan bahwa orang-orang yang beriman akan meninggal tak lebih dari
seratus tahun. Maka bila seandainya Nabi Isa a.s. masih hidup dia pasti
telah wafat dalam periode tersebut.
Hadits keempat: sebagaimana usia
para nabi, seperti Musa, Daud, Sulaiman, dan lain sebagainya,
diriwayatkan dalam hadits, Nabi Isa a.s. tertulis dalam Hadits berusia
120 tahun.
Hadits kelima: Bila Nabi Isa a.s. masih hidup maka Nabi Suci saw. tak dapat bersabda “Musa dan Isa akan menjadi pengikutku bila mereka masih Hidup“
Hadits keenam: Nabi Suci saw. telah memberikan petunjuk mengenai makam Nabi Isa a.s.
Hadits ketujuh: dalam malam yang agung Mi’raj Nabi
Suci saw. melihat Nabi Isa a.s. dan Yahya a.s. (John si Pembaptis)
bersama-sama dalam suatu tempat. Yahya a.s. telah wafat, menunjukan
bahwa Nabi Isa a.s. juga telah wafat. Nabi Suci saw. bertemu bukan
dengan badan jasmaninya melainkan dengan ruh para nabi dalam pengalaman Mi’raj.
Hadits kedelapan: Di dalam malam Mi’raj seluruh
nabi, termasuk Nabi Isa a.s. diimami oleh Nabi Suci Muhammad saw di
mesjid Jerusalem. Hal ini menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat,
bila tidak dia pasti turun ke Jerusalem juga dengan badan Jasmaninya,
lalu naik lagi ke langit untuk yang kedua kalinya-suatu hal
yang tak mungkin ada yang mempercayainya. Ru’yah yang mengenai Nabi Suci
saw. mengimami seluruh nabi dalam shalat menunjukan bahwa Nabi Suci
saw. adalah Khataman al-ambiya, dan seseorang yang mana seluruh umat dari nabi-nabi tersebut harus memberikan ketaatan.
Hadits kesembilan: Diskusinya Nabi Suci saw. dengam perwakilan Kristen dari Najran menunjukan bahwa beliau yakin Nabi Isa a.s. telah wafat.
Hadits kesepuluh: Dalam Hadits Bukhari diriwayatkan dua gambaran fisik yang berbeda: yang satu terlihat bersama-sama dengan nabi-nabi lainnya dalam Mi’raj; dan yang lain terlihat thawaf di ka’ba dengan Dajjal didalam ru’yanya Nabi Suci saw. yang berkenaan dengan keadaan akhir zaman, yakni dalam masa yang akan datang.
Hal ini membuktikan Nabi Isa a.s. Nabi bani Israel,
telah wafat, untuk Messiah akhir zaman pasti orang lain. Hendaklah
diingat bahwa ramalan selalu membutuhkan penafsiran dan tak selamanya
harus terpenuhi dalam artian harfiah. Alasannya adalah ketika seorang
nabi atau orang tulus ditunjukan kejadian masa depan oleh Tuhan Yang
Kuasa, adalah dalam bentuk ru’ya dan mimpi yang dilihat dengan mata
rohani mereka bukan dengan mata fisik. Seluruh kitab suci setuju bahwa
kebanyakan mimpi dan ru’ya membutuhkan penafsiran. Hal ini juga berlaku
untuk raemalan Nabi Suci saw. mengenai “turunnya Messiah”Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj Dabbat al-ardh, dan lain-lain.
Dari ramalan-ramalah mengenai kedatangan Messiah,
karena itu tak dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup
sementara banyak ayat-ayat Qur’an Suci dan banyak Hadits yang menyatakan
dengan tegas bahwa Nabi Isa a.s. tidak hidup melainkan telah wafat didalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar